
Kara mengerjap, matanya kelilipan, mungkin lumpur yang dilewati barusan masuk ke dalam matanya.
Ia hampir saja mengucek matanya, jika Milo tidak melihat.
"Jangan dikucek, " pinta Milo. Milo meraih mencuci tangannya dan tangan Kara.
"Sini, cuci dulu matanya ! trus aku tiupin." Kara menurut, ia seperti anak kecil yang sedang diurus emaknya.
Semilir angin, yang ditiupkan pada mata Kara membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali.
"Gimana, masih perih?" tanya Milo khawatir.
"Udah engga, " jawabnya.
"Kacamata ku kotor, yank ! mau liat soal kuis jadinya ga clear," keluh Kara. Memang jika belajar, Kara harus memakai kacamata.
"Ya udah biar aku bacain, anggap aku matamu.." jawabnya.
"UWUUUUU !!!" seru mereka. Kara dan Milo menoleh, rupanya adegan ini supported by anak anak regunya. Bahkan si bapak tentara ganteng saja, meringis...tega betul anak anak ini, melakukan adegan uwu di depan seorang pria matang nan jomblo. Jiwa jomblo om om tentara meronta ronta. Apalah daya, yang hanya bisa memegang senapan berteman ransel sepaket stelan kacang hijau. Menunggu musuh dan menjaga perbatasan.
"Suttt !! sirik aja loe pada !!!" sarkas Ica.
"Om tentara ga sirik kan, om?? kalo om masih jomblo adek setia menunggu !!" ucap Ica kembali melancarkan serangan udaranya, untung saja tentara tampan ini baik, lebih galak pak Dahlan dibanding om tentara. Sepertinya guru satu itu lebih cocok jadi tentara atau mafia.
"Takkk !!!" jidat Ica ditepuk Jihad keras.
"Sat !!! eh astagfirullah !!" ralat Ica di ddpan om tentara, kisaran umurnya sekitar 25. Tentara muda gitu lah, yang baru netes dari telor. Yang masih fresh from the oven kaya roti, luka luka baretnya menandakan patriotisme yang besar untuk bangsanya. Bukan luka abis tawuran ataupun luka karena kejedot pintu.
"Om..om..!! sejak kapan bapak tentara kawin sama tante loe ? " ucap Jihad.
"Sudah..sudah...jadi apa jawabannya ?" tanya om tentara, yang sudah pusing menghadapi anak anak jaman now, modelan mereka.
Setelah selesai menjawab, maka mereka bisa lanjut. Stage berikutnya adalah yang paling berat, selain karena rintangannya tentang kekompakkan, juga bapak tentara yang berjaga, memang tegas, berotot besar dan sangar.
"Gue mau balik ke tempat tadi aja, ahh !!" gumam Ica.
"Tuh, loe kadalin ! berani ngga ??!" tanya Ayu.
"Wah kalo itu mah selera Kara," tuduh Ica.
"Njirrr !! kenapa jadi bawa bawa gue ?!"
Selain keterampilan, kerja sama juga di perlukan. Mereka membagi bagi bagian,
"Yang badannya kecil kecil, bisa gesit ambilin potongan puzzlenya, sama ambilin bahan bahan tandu !" pinta Raka. Akhirnya Kara, Vio, Jihad dan beberapa lainnya yang melewati sebuah dinding kayu, dan lubang drum yang hanya muat orang orang berbadan kecil.
"Oke ! siap Ra ??!" Kara mengangguk, lalu ia berlari bersama lainnya, Kara begitu gesit, jangankan hanya rintangan begini, pohon dekat rumah saja sering ia panjat.
"Noh, wonder women gue !" tunjuk Milo. kegiatan bela negara ini benar benar menguras tenaga seorang kaum rebahan seperti Kara.
__ADS_1
"Gilaakkk !! si Kara keseringan gaul sama tarzan !" ucap Vanya. Tali terikat dipinggangnya, agar tetap safety.
"Bukan tarzan, kelamaan gede di hutan !" jawab Ica.
"Lebih gampang kalo banjir dadakan, Ca !" ujar Ayu. Berbeda dengan Vio yang anak manja, ia terlihat kepayahan, dan sering meminta bantuan Jihad.
"Elahhh ! si Vio beban banget sih, idupnya !" cela Ica manyun.
Disaat yang lain sudah mendapatkan bagian bagiannya, mereka mulai mencocokkan dan membuatnya.
Vio menyeringai, ia punya maksud dan tujuan tertentu, ikut andil disini.
Vio dan Kara secara bersamaan memanjat climb wall, tapi di tengah tengah, Vio mengeluh capek.
"Aduh, udah ahh gue capek !!" ucapnya padahal ia baru saja sekali memanjat.
"Tanggung, cuma lewatin ini..loe nanti bisa gantian sama yang lain."
"Bo*do ! gue mau turun aja !" jawabnya.
"Ya udah sini gue bantu !" ucap Kara meraih tali Vio agar turun dengan perlahan. Tapi bukannya turun Vio malah mendorong Kara. Membuat pegangan Kara terlepas dari dinding.
"Kara !!!" punggung Kara menabrak dinding keras, dan talinya terulur cepat hingga ia terjatuh. Tapi Vio lupa bahwa talinya sedang dipegang Kara, ia pun ikut terjatuh. Milo dengan cepat, segera berlari melompati halang rintang bersama bapak tentara.
Gdebuk !!!!
Grekkk !!!
Ini bukan adegan superhero, yang datang terlambat tapi bisa menangkap si korban, karena si korban jatuh dengan slow motion.
Kaki Kara yang menjadi tumpuan terkilir, sedangkah Vio jatuh menimpa Kara.
"Aaa !!! loe !!! kurang aj@*r banget sih !! dia narik tali gue !!!" tuduh Vio pada Kara yang sudah jatuh. Jihad segera turun, ikut menolong Kara bersama Milo dan bapak tentara. Teman temannya yang terkejut, menghentikan aktivitasnya, Raka juga ikut khawatir, karena ialah ketua regu.
"Adek tidak apa apa? sebaiknya kita ke barak kesehatan !" Kara mengangguk bersama Milo.
"Ji, urus cewek se*tan ini !" ujar Milo menatap tajam, belum selesai urusannya dengan Milo.
"Dia ko yang kepeleset ! narik tali gue !!!" alibi Vio.
"Eh gue liat ya, apa yang loe lakuin Vi... gue cuma bisa bilang selamat, setelah ini jangan harap loe bisa lepas dari Milo !" jawab Jihad menunjuk Vio dan berlalu. Vio kembali bergabung dengan regunya.
"Heh !! loe jadi cewek jahat banget sih !! gue liat ya apa yang udah loe lakuin sama Kara !!" Ica nyolot, ia ditahan Ayu dan Arial yang berada di dekatnya
"Apa??? justru temen katro loe yang narik tali gue sampe jatoh, gue ga terima dan pastinya ortu gue juga ga terima, gue bakal tuntut tuh anak !!" pekik Vio tak kalah sewot.
"Vio, ikut gue !!!" ajak Raka, Jihad mengekor.
"Tuntut aja !!!! Kara ga salah !!" pekik Ica, berkacak pinggang.
__ADS_1
Di dalam barak, Kara yang dipapah Milo, masuk dan duduk di sebuah velbed, tim kesehatan mengobati kaki Kara. Seorang dokter tentara perempuan mendekati.
"Ini kenapa bang?" tanya nya pada laki laki berseragam loreng yang berjaga di pos, yang menjadi penjaga regu Milo dan Kara.
" Tadi jatuh dari climb wall, sepertinya kakinya yang cedera, dok !" ucap si bapak.
"Oke kita lihat, " dokter perempuan itu memeriksa kaki Kara.
"By, tahan ya !" ucap Milo, ia senantiasa di samping Kara.
"Saya tekan kan dan betulkan dulu posisisnya, ya, " ucapnya.
"Ya??!" beo Kara bengong, tak mengerti apa yang akan dilakukan dokter tentara itu.
"Tahan ya, sakit sebentar !" ucapnya ramah.
Kara mengeratkan pegangannya pada baju dan tangan Milo.
"1, 2, 3..." hitungan dokter tentara itu.
"Grekkkk !"
"Aaargghhh !!" pekik Kara, ia hampir saja mengeluarkan air matanya. Milo ikut meringis, merasakan ngilunya juga.
"Apalagi yang terjadi??" tanya dokter perempuan itu.
"Punggung saya nabrak dindingnya dok, sama mungkin ini lecet lecet dikit," jawab Kara menunjukkan telapak tangannya, yang justru menahan tali Vio, agar tak tertarik terlalu kencang.
"Astaga by, ini tanganmu nahan tali si Vio??!" seru Milo melihat telapak tangan yang biasanya mulus itu, kini memerah, dan terluka karena gesekan tali tambang secara cepat. Rahang Milo mengeras.
"Sini biar saya obati lukanya, dan kakinya mungkin harus diperban dulu ya. Nanti di cek juga. Apa punggungnya ada terasa sakit?" tanya dokter itu.
"Engga terlalu, cuma sakit dikit karena benturan mungkin !" jawab Kara.
"Ka Milo," panggil Kara di depan dokter yang sedang membersihkan lukanya dan mengobatinya, Kara menggeleng, ia tau apa yang akan dilakukan Milo setelah ini. Milo diam tak menjawab sebagai bentuk penolakan.
"By, tunggu sebentar disini. Nanti kujemput lagi !" ucap Milo dingin. Kara mengangguk, Milo meninggalkan Kara di barak kesehatan berama dokter dan tentara lain.
"Ka Milo, gimana Kara??!" seru Ica dan Ayu, juga lainnya. Milo menghampiri gadis yang tengah mengipasi wajahnya, duduk tak nyaman di rerumputan.
"Loe !!!! loe tunggu setelah acara ini usai. Jangan harap loe bisa lepas dari gue !! dan oh ya, gue denger loe mau tuntut Kara, silahkan dengan senang hati, tapi jangan menyesal, jika sampai nanti lo sendiri yang akan merasakan penderitaan ! gue tunggu surat panggilan untuk Kara, atau loe yang tunggu, surat panggilan buat loe !!" ucap Kara, Vio mendengus kesal.
"Kara gimana Mil?" tanya Raka.
"Pergelangan kakinya sedikit bengkak, karena tadi bergeser dari posisinya, telapak tangannya luka karena menahan tali Vio, dan punggungnya, entah harus di cek..."
"Astaga !! temen gue !!!! si@*lan tuh cewek !!!" Ica geram dan ingin menjambak rambut kuda Vio.
Nina tersenyum sambil mendengus, "ga harus pake tangan gue, ternyata tuh cewek beg*onya kebangetan, ga bisa main cantik buat celakain Kara ," gumamnya.
__ADS_1
"Si@*l !!! gimana kalo Milo beneran nuntut gue? mana ada si Jihad lagi !! bo*do banget sih gue, kenapa ga nunggu si Jihad turun dulu !" ia mengomeli dirinya sendiri.