
"Hah??! berantem ??!" tanya Ica tak percaya. Dunia memang kejam, sekejam guru kimia kalo murid ga hafal tabel periodik zat, minta disiram pake asam sulfat.
"Berantemin apa?!" Ica dengan keponya.
"Liat aja napa sih Ca, nanya mulu.. kaya lagi survei motor ! " omel Ayu, pandangannya tak konsen, karena dari tadi makhluk yang ada di sampingnya banyak bertanya.
Para pembalap sudah bersiap, seorang pemuda dengan gaya premannya, berada di tengah dengan sebuah scarf berwarna merah. Lelaki berkucir satu ini mengibarkan scarfnya. Milo, Jihad, Kean, Raka, Arial dan yang lainnya sudah siap. Saat scarf itu jatuh ke jalanan, motor melaju melewati garis start dengan kencangnya. Kara nampak tak tenang, di sebuah sudut bersama ketiga orang lainnya.
Milo melaju sangat cepat, untuk kali ini ia akan serius, karena taruhannya adalah Kara. Ia menatap tajam ke arah lawan lawannya di belakang. Pemuda itu sedikit lega, karena di belakangnya posisi ditempati oleh Jihad dan yang lain.
Rayhan melesat tanpa di duga, melewati Kean dan Arial. Raka menghalangi laju motor Rayhan. Begitupun si licik Ivan, segala cara akan ia halalkan, demi merebut Kara dari seorang Armillo, mengalahkan Armillo adalah suatu kepuasan tersendiri untuknya.
Rayhan tengah beradu kencang dengan Raka, kakinya menendang motor Raka dari samping.
"Shittt !" umpat Raka.
"Mau main kasar, oke gue layani !" Raka menggeber motornya hampir mendekati batas maksimal. Rayhan yang terpacu mengikuti jejaknya.
"Ga akan gue biarin cs cs Milo menang, gue bakalan sikat habis satu persatu."
Untuk saat ini Rayhan berdamai dan menjadi sekutu Ivan. Sementara Ivan, sudah mendekati posisi Jihad dan Milo.
Jihad sedikit melirik ke arah samping belakangnya.
"Ivan," gumamnya, ia menyamakan laju dengan motor Milo yang melaju tak terlalu jauh.
"Ivan di belakang, siap siap !" ucap Jihad membuka kaca helmnya, Milo mengangguk.
Tangan kekar itu memutar gas hingga batas maksimal. Suara deru berat mesin motor saling bersahutan. Malam ini begitu ramai, oleh sorakan para muda mudi, juga panasnya persaingan. Belokan tajam di depan di lahap habis oleh Milo, gerakan yang mengundang decak kagum penonton, sudah sering Milo lakukan, dan ini yang membuat Ivan semakin tidak suka. Ivan melihat celah kelemahan Jihad. Hanya dengan sedikit bumbu kecurangan, ia akan menyingkirkan Jihad. Ivam tersenyum licik, ia sengaja menyamakan laju dan posisi motornya dengan Jihad, setelah bersampingan Ivan seolah menggiring motor Jihad ke arah samping hingga hampir menabrak pembatas jalanan.
"Heh, sekali kacung tetep aja kacung ! ga cape terus terusan jadi bayangan Milo?!" ucapnya sarkas.
"B@nk*s@t !!" Jihad yang kecolongan karena tak begitu fokus pada rencana Ivan, hanya bisa mendengus geram, saat ia harus menghentikan motornya, karena di depannya adalah besi pembatas jalan. Membuatnya tertinggal dari Ivan, Jihad kembali melajukan motornya meskipun ia berada di belakang Ivan.
Hanya tinggal selangkah lagi Ivan mampu menyusul Milo, Milo dan Ivan saling menyusul. Meskipun Ivan berulang kali ingin menyalip, tapi kembali posisinya yang sedikit jauh, membuatnya kepayahan menyusul Milo.
Milo menyunggingkan senyumnya, "sampai kapanpun loe ga akan pernah menang lawan gue !" gumam Milo. Ia melesat hampir tak terkalahkan. Sadar kemungkinannya kecil, Ivan mencoba menyerang Jihad,
"Dugghhh !!" kakinya menendang badan samping motor Jihad berkali kali, Jihad melawan tapi rupanya perkelahian diatas motor itu dimenangkan Ivan.
"Mamposss loe !!!" Jihad oleng dan terjatuh. Motor yang masih melaju, terguling menyeret badan Jihad di jalanan beraspal.
__ADS_1
Milo yang mendengar suara ban berdecit dan sesuatu yang terjatuh, melirik ke belakang.
"Jihad !!! " lirihnya, membuka kaca helm. Tapi Milo tak bisa berhenti begitu saja tanpa menyelesaikan balapannya. Ia kembali melajukan motornya, melihat Ivan sudah semakin mendekat.
"Jihad !!!" Kara, Ica dan Ayu refleks ingin berlari, melihat Jihad jatuh di jalanan beraspal. Tapi Erwan menahan ketiganya.
"Bahaya ! loe bertiga tenang aja, ada yang lain disana !" jawab Erwan.
"Wahhh !! si@lan tuh cowok curang banget ! main kasar !! minta ditabok pake sapu emak," pekik Ica, si mulut bar bar.
"Tapi itu Jihad jatuh kak, " tambah Kara khawatir.
"Loe bertiga tenang aja, ini sudah hal yang lumrah !" jawab Erwan. Kalau tau akan sekeras ini, besok besok Kara akan merantai kelima lelaki ini agar tidak datang ke balapan liar lagi. Tak ada hukum yang memayungi setiap pelanggaran disini.
Jihad dibantu Raka dan Arial, sementara Kean masih berada di arena. Kabar buruknya, Rayhan menyusul dari arah belakang.
"Loe ga apa apa Ji?" tanya Raka.
"Gue ga apa apa," jawab Jihad membuka helmnya.
"2 lawan 1, boleh juga !" gumam Milo.
Rayhan maju bersama Ivan. Keduanya mengapit Milo dari sisi kanan dan kiri. Keduanya mengambil ancang ancang, ingin menjepit dan menabrak Milo. Keduanya menjauhi posisi Milo, tapi dengan cepat kembali merapatkan posisi.
"B@jink*@n ga akan mati semudah itu !" jawab Milo menyeringai. Untung saja rem mereka pakem, hingga tak harus ada drama tercebur ke sungai. Milo mendengus puas, ia kembali melajukan motornya ke jalanan hingga garis finish.
Kali ini ia tak menuruti emosinya, padahal sudah sejak tadi tangannya ini ingin memberikan pukulan pukulannya pada Ivan dan Rayhan. Milo melaju seorang diri sampai batas finish, tepukan tangan terdengar mengiringi kedatangan Milo, tidak hanya sampai di batas finish, Milo meneruskan laju motornya sampai tepat ke depan dimana Kara berdiri.
Kara yang sudah terlihat pucat karena tegang, masih melongo. Milo membuka helmnya, ia membuka pula jaketnya, berjalan ke arah Kara, lalu melingkarkan jaketnya di pinggang gadis ini.
"Lain kali, kalo keluar ga usah berpenampilan kaya gini, cukup jadi cupunya aku aja ! cantiknya kamu cuma boleh di depanku !" ucap Milo. Ivan dan Rayhan, datang dan mendengus kesal. Keduanya menepuk helm kasar.
Jihad yang di bantu Raka dan Rial mendekat. Namun, Kean datang dengan menatap tajam. Ia bukannya berjalan ke arah teman temannya, ia malah langsung menyerang Ivan dan memberikan pukulan pukulan telak.
"Br3nk*s3k !!!!"
Milo dan yang lain sontak terkejut, berlari menahan Kean, yang membabi buta menyerang Ivan.
"Sabar Kean ! loe kenapa?" tanya Milo, menahan tubuh temannya yang biasanya paling kalem dan pendiam ini.
"Loe make barang haram??! terus maksud loe apa, nyelipin barang haram itu di motor Milo ??!! gue tau dari Vian loe telfon polisi, loe mau jeblosin Milo dengan nuduh dia make barang haram??! loe pikir gue ga liat ??! bank*s@t !!" geram Kean, ia kembali menyerang Ivan, yang sontak memancing amarah yang lainnya. Kondisi mulai tak kondusif, Erwan dan Arial menahan Kean, begitupun pembalap lainnya menahan Ivan dan teman temannya. Kean menghampiri motor Milo, ia merogoh sesuatu dari badan samping motor Milo, rupanya ada bungkusan kecil berisi serbuk putih yang diselipkan Ivan tadi sewaktu balapan. Kean menunjukkannya di depan semua orang
__ADS_1
"See !!! kamvreeett !!! " ia membuangnya kasar ke arah jalanan. Raka memungutnya dan memberikannya pada Vian untuk diurus.
"Loe semua jangan so suci !! asal loe tau Ra, cowok yang sekarang sama loe pun, sama b@ji*ng@nnya !!" Milo menutup telinga Kara dari ucapan kotor Ivan. Ayu dan Ica pun, sudah berlindung di belakang Raka dan Jihad.
Milo maju dan hampir mendaratkan kepalan tangan kekarnya di wajah Ivan, tapi Kara menahannya.
"Si@*lan loe ngomong !!" jawab Milo.
"Sekali lagi loe ngomong kotor di depan cewek gue, abis loe hari ini juga !" ucap Milo dingin. Tanpa di duga Rayhan yang hanya menyimak, ikut ambil andil.
"Ooo..jadi cewek loe ga tau sebr3nk*s3k apa cowoknya, biar gue kasih tau Ra..Milo..."
"Sepatah kata lagi loe b@*cot, jangan salahkan gue kalo besok, loe ga bisa lagi makan pake tuh mulut !" jawab Milo memotong ucapan Rayhan. Kara menoleh pada Milo, apa yang ia tak tau lagi tentang pemuda di sampingnya ini.
"Loe pikir kita br3ngks3k ? berarti loe belum mengenal seorang Armillo !" jawab Rayhan mengompori.
"Bughhhh !!!" Milo benar benar mendaratkan bogemannya di wajah Rayhan. Hanya dengan sekali pukulan saja, pemuda itu tersungkur.
"Mil !!" Raka menahan Milo bersama Kara.
"Udah, kekerasan ga akan menyelesaikan masalah ! sudah selesai kan? aku mau pulang !" ucap Kara. Milo menurut.
"Kita pulang !" jawab Milo. Belum juga melangkah jauh,
"Loe hanya korban selanjutnya setelah Gladys, Ra !!" Milo benar benar sudah di ambang batas kesabaran, ia berbalik dan berlari, tak ada ampun untuk Rayhan, Milo menonjok dan menendang Rayhan yang sudah terjatuh di bawah.
"Milo !!" teman temannya ingin melerai, tapi saat ini Milo seperti kese*tanan. Kara sampai terkejut, Milo sungguh menakutkan, bahkan permohonan ampun Rayhan saja tak digubrisnya.
"Milo stop !!! dia udah mohon mohon, " Kara hampir menangis, entah kenapa ia mengingat kejadian saat dulu sering dibully teman temannya sejak smp karena cupu, Kara trauma.
"Milo udah !!!" Kara menengahi dan mendorong tubuh atletis Milo sekuat tenaga, membangunkan Rayhan yang sudah babak belur. Kara melihat Milo, dengan urat yang masih menunjukkan kalau emosi masih menyelimutinya dan wajah merahnya, sedang ditahan oleh Jihad dan Arial, membuat Kara sedikit takut pada pemuda itu.
Kara menyeka air matanya, "loe ga apa apa?" tanya Kara pada Rayhan.
"Kamu tanya dia, by ?!" tanya Milo. Tapi Kara tak menghiraukannya.
"Stop ucapanmu, apa yang kamu harapkan?? Milo menghabisimu?" tanya Kara lembut. Ia ingat dulu ia tak pernah melawan jika sudah seperti ini. Hanya akan memperburuk keadaan.
Kara mengeluarkan tissue, "nih pake buat lap dar*@h loe ! gue rasa, loe kuat buat masuk klinik atau sekedar obatin diri loe sendiri ! jangan bangunin singa yang lagi tidur ! atau loe sendiri yang bakalan mati," tambah Kara.
"Si Kara pake bawa bawa singa lagi, " gumam Ica mengundang decakan Ayu dan Jihad.
__ADS_1
"Kita pulang !" ucap Kara menyentuh tangan Milo dan mengajaknya pulang.