
Kara berjalan pelan dibantu Ayu dan Ica.
"Gua tilep juga nih duit kartu ujian, kalo ga takut emak gue ngamuk, trus lempar gue pake gelas sama mangkok !" ucap Ica membentangkan uang dua lembar berwarna merah, terlihat matang menggiurkan, lihat saja si bapak proklamator yang tersenyum meledek pada Ica. Seakan ngajakin jajan bakso dan ngajak nonton.
"Se*tan loe lagi keluar ya Ca?" tanya Kara memegang lengan Ayu.
"Se*tan dia mah kapan ga keluarnya, Ra ?!" seru Ayu.
"Untung ka Kean baik, gue bisa cash bon dulu buat bayar kartu ujian," lanjutnya lagi.
"Ciee...gajian awal nih, pak bos nya baik plus ganteng ya Yu? bikin betah ?" Ica menyenggol kencang bahu Ayu tanpa perhitungan, membuat Kara yang sedang memegang dan bertumpu pada lengan Ayu ikut tersenggol.
"Ca, gue timpuk juga loe !" sarkas Kara. Sedangkan Ica tergelak, menggema di koridor.
"Ra, ngapain sih loe mesti keluarin duit sendiri buat bayar kartu ujian, secara loe kan dapet beasiswa terus ada ka Milo juga ?! kalo gue sih tinggal ngelus dada, nangis dikit pasti dibayarin !" tawa Ica.
"Dih loe nya aja yang matre ! Kara ga sepicik loe !" toyor Ayu pada Ica.
"Iya temen gue mah nanggung bar barnya ! kalo loe jadi sugar baby pun muka loe mumpuni Ra !" usul jin ivritttt.
"Cih, jin ivriitt ga usah di dengerin Ra !" jawab Ayu. Bukannya marah Ica malah tertawa semakin puas.
"Saran loe boleh juga, Ca !" jawab Kara sama gilaknya. Keduanya bertos ria.
"Dih, sama sama ga warasnya !" decak Ayu.
Baru saja Kara menyodorkan uangnya dari dalam saku kemeja seragamnya. Dan menyerahkan uangnya pada petugas TU.
"Bu, Caramel Violin Paramitha X 4!" lirih Kara. guru Tata Usaha itu melihat namanya,
"Sudah dibayar, dan ini kartu ujiannya !" ucapnya menyerahkan kartu ujian milik Kara. Sontak ke tiganya saling berpandangan kebingungan.
"Lunas bu? tapi kan saya baru saja akan membayar?!" ucap Kara.
"Sudah dilunasi oleh Armillo, " jawab si ibu.
"Ka Milo ? kan apa gue bilang !" gumam Ica.
Kara mencari dimana Milo, ia melihat sosok Milo tengah bersama anak anak ekskul taekwondo di ruangannya.
"Sutt, Mil !" tunjuk Arial menggunakan dagunya. Milo melihat ke arah luar ruangan, yang menampilkan Kara sedang menuju ke tempatnya seraya berjalan terpincang.
"Bentar !" Milo langsung keluar dan menjemput Kara.
"Baby, aku kan udah bilang jangan kemana mana. Di kelas aja, kan makanan sudah diantar ke kelas !" ucap Milo, membantu Kara.
"Sengaja pengen nyari kamu," jawab Kara.
"Astaga baby, segitu ngangeninnya kah aku? baru juga tadi ketemu, belum ada 2 jam !" Kara mengulum bibirnya, kepedean level dewa begini, hanya milik Milo seorang.
"Aku cuma mau balikkin ini, " Kara merogoh uang dari kantung sakunya dan menyerahkannya pada Milo.
"Apa ini?" tanya Milo.
"Struk belanja, ya uang lah ! katanya tadi kamu yang bayarin aku, sayang... aku masih mampu buat bayar kartu ujian sendiri."
Bukan bermaksud menghina ataupun tak menghargai pemberian, Kara hanya tidak mau di cap sebagai gadis matre, mengandalkan dan memanfaatkan Milo untuk kebutuhan pribadinya.
"Oke, aku terima !" Milo mengambil uangnya. Milo sangat paham dengan sikap Kara. Ia mengecup uang dari Kara,
"Lumayan, buat traktir cewek jajan es cendol !" ucapnya membuat Kara tergelak. Tak ada drama saling memarahi yang satu tak mau terima dan yang satu merasa tak dihargai.
"Ceweknya aku bukan?" tanya Kara.
"Emhhhhh," Milo berfikir.
"Dih !" Kara manyun, membuat Milo mengacak rambutnya, ia mengantarkan Kara ke kelasnya.
Di sebuah Mall
"Maaf bu, kartu anda sudah ditolak," ucap seorang kasir pusat perbelanjaan. Betapa terkejutnya, bak di sambar bebek entok di bagian mata kaki.
Belanjaan yang banyak dan di depan orang orang banyak, membuatnya malu bukan kepalang.
"Sayang, yang benar saja..." bisik si pria bernama Helmi.
" Sebentar mbak, coba yang satu lagi !" ia mengeluarkan ke sepuluh kartu kreditnya. Sejak kejadian Kara dicelakai oleh Vio, Milo memblokir semua kartu kredit milik ibu tirinya.
"Shitttt !!! ini pasti kerjaan anak tak tau diri itu !" gumamnya mengumpat.
"Maaf bu, semuanya ditolak !"
"Sayang bagaimana ?" tanya Helmi.
"Pakai debit saja mbak !" ia menyerahkan kartu debit yang isinya mungkin dipakai satu kali membelanjakan barang barang lelakinya ini akan habis.
"Si*@l !!! dia coba coba melawan Marsya rupanya, oke...! kita liat, kamu membangunkan singa betina, Milo !"
"Sayang, ini tidak bisa dibiarkan.."
"Gue akan peralat mas Braja, jika sudah begini caranya ! mas Braja terlalu percaya pada anak itu !" gerutunya sambil mengaduk aduk minumannya. 3 gelas ice coffe sudah habis diminumnya, tapi tak jua mendinginkan otaknya.
.
.
"Sayang, aku harus ke rumah Cia hari ini, acara minum es cendolnya nanti saja ya !" ucap Kara.
"Yaaaa....penonton kecewekk...." ucapnya.
"Maaf, "
"Kalo gitu aku temenin, " jawab Milo bersemangat.
"Bukannya kamu harus ke pabrik?" tanya Kara.
__ADS_1
"Engga, besok saja !" jawabnya.
"Guys...gue duluan ya ! kalian bisa ga sih sehari aja ga kaya kucing sama guguk?" memisahkan kedua temannya yang saling mengeteki.
"Nyi Blorong Ra, ngajakin gelut mulu ! masa dikatain jomblo abadi, emang dia engga ?!" Ica merapikan rambut semrawutnya.
"Apaan ? loe duluan yang ngatain gue ga laku ! cowok keren, ganteng, tajir mah mau comot cewek di jalanan juga jadi !" jawab Jihad.
"Cewek kaya Ica maksud loe, Ji?" goda Kara.
"Dih, emang gue gelandangan ??! Gue mah tukang cangcimen !" jawab Ica.
"Di jalanan bukan berarti harus gelandangan, Ca !" jawab Ayu.
"Apa yang di jalanan cobak? " sewot Ica.
"Sampah plastik?!" timpal Ayu.
"Tanaman liar ??!" jawab Kara.
"Njirrrr, loe berdua...eh bertiga, makhluk terkamvreeett yang gue kenal !" gerutu Ica.
"Dan loe gurunya !" jawab Kara.
"Udah ah, gue mau nemuin anak gue dulu ! baik baik loe berdua, kalo masih berantem gue panggilin penghulu !" ucap Kara masuk ke mobil Milo.
"Anak siapa Ra ???!!!" tanya Ica.
"Anak gue dari bapaknya yang kabur !!" jawab Kara kencang.
"Hah??! si cupu dah punya anak ??!" gumam Vio menatap tak percaya, dan menyipit. Ia lalu menelfon supirnya untuk mengikuti mobil Milo.
Gerbang rumah Cia sudah terlihat. Anak itu sedari tadi menunggu, guru les belajarnya sambil sepedaan.
"Cia !!!" Kara membuka jendela mobilnya. Anak itu menghambur berlari. Cia memang sedekat itu dengan Kara.
Milo masuk ke rumah Cia dan memarkirkan mobilnya.
"Hai sayang !!"
"Cia kangen banget !!!" jawabnya, sudah beberapa bulan terakhir Cia mudik karena neneknya sakit.
"Hay Cia ??!" seru Milo, ini kali kedua Milo ke rumah Cia.
"Hay om !" jawab Cia.
"Tos dulu dong ?!" pinta Milo.
"Tos??" tanya Cia.
Milo menunjukkan tosnya yang tak lazim. Dan Cia malah tertawa lucu tapi mengikutinya, membuat Kara tergelak.
"Ka Ra...ko om ini ngikut mulu sama ka Ra?" tanya Cia.
"Om ini calon suami ka Ra !" jawab Milo berjongkok di hadapan Cia, menyamakan tingginya dengan Cia.
Milo memegang kedua bahu anak berponi sealis ini, "suami, kaya papahnya Cia sama mamah Cia. Papahnya Cia suami, mamahnya Cia istri !" jelas Milo, mata Kara sudah mengilat pada Milo.
"Oh !!" anak ini mengangguk angguk.
"Terus yang jadi Cia nya siapa?? berarti itu adek Cia, boleh kan ka Ra?" tanya Cia. Kara mati kutu dihadapkan pertanyaan ini, secara ia belum pernah mengalami.
"Yang jadi Cia nya masih proses !" jawab Milo.
"Kan kalo kepengen punya Cia, kalo kata mamah perutnya ka Ra harus gede dulu kaya balon !" Kara semakin melotot mendengar jawaban Cia. Milo tertawa,
"Iya, nanti om bikin perutnya ka Ra gede !" Kara menginjak kaki Milo sekencangnya memakai kaki yang tak sakit.
"Cia masuk aja yu, jangan dengerin om om gilakkk ini !" ucap Kara.
"Yu masuk, om juga masuk yu !!" Cia mengajak Kara dan Milo masuk.
"Ka Ra, kaki sama tangannya kenapa?" tanya Cia.
"Iya sayang, Ka Ra..jatoh !"
"Dari sepeda?? Cia juga Ka Ra, nih !!" anak itu menunjukkan luka kecil di lututnya.
"Cia juga??!!" seru Kara.
"Sakit??? nangis ??!" tanya Kara semangat, ia memang suka anak kecil. Karena hanya dengan mereka lah Kara berteman sejak dulu.
"Sakit ! sampe berda*r@h satu ember !" jawab anak itu. Milo tertawa mendengar jawaban anak itu.
"Masa iya, satu ember ?!" tanya Milo ikut bergabung dalam obrolan absurd ini.
" Iya om, kan kata ka Ra..kalo pengen disebut jagoan ga cemen, bilang aja kalo jatoh, berd@*rah satu ember !" jujurnya, Kara tergelak.
"Tos dulu !" Kara menyodorkan tangannya yang masih terplester.
"Pantesan aja, gurunya sablengg !" gumam Milo.
"Sableng tuh apa om?" bingung Cia. Kara mencubit Milo, karena sudah mengucapkan kata kata yang jelek untuk Cia.
"Sableng itu cantik sayang !" jawab Kara.
"Oh, Ka Ra sableng ya ??!" tanya Cia, Milo tergelak mendengar pengakuan Cia.
"Eh, ga boleh sayang. Kalo Cia, berhubung masih kecil ga boleh ucapin itu ya, soalnya sableng masih belum dibolehin sama pak Rt !" jawab Kara. Cia mengangguk saja, ia tau jika yang berhubungan dengan pak Rt pastilah penagihan uang ke rumahnya, karena setaunya jika orang yang disebut pak Rt ke rumahnya, pastilah ibunya akan memberikan sejumlah uang.
"Harus bayar ya kak ?!" Kara mengangguk saja. Entah mereka ini nyambung darimana, Milo menggelengkan kepalanya.
.
.
__ADS_1
"Assalamualaikum tante, " Kara bertemu ibu Cia, yang menyambut mereka hangat.
"Waalaikumsalam, nih Cia Ra..nungguin kamu dari sebelum dzuhur tadi."
"Iya, tante Kara masih sekolah !"
"Eh, ada om om ganteng lagi Cia, udah salim belum?" tanya ibunya.
"Udah ! iya kan om, "
"Iya, gimana tos kita?" tanya Milo.
Anak itu bertos ria dengan Milo, lalu saling menunjukkan giginya seperti singa yang mengaum. Sontak saja ibunya Cia tergelak.
"Cia, yu belajar dulu !" pinta Kara, Cia lantas mengambil peralatan belajarnya.
"Om, bantuin Cia om !!" ajaknya.
"Ayukk !!" Milo bersemangat, taukah kalian, bermain bersama anak kecil adalah terapi untuk me refresh kan otak yang sudah penat, dan Milo mengakui ini.
Ketiganya duduk melantai, dengan bermacam macam alat belajar.
"Neng Kara, aden..ini minumnya !" seorang asisten rumah tangga membawa nampan dengan dua buah gelas berisi jus dan sepiring cemilan.
"Makasih bu !" ucap Kara.
"Baby, nikah yu...punya anak, seru kayanya !"
"Tuk !!" Kara mengetukkan penggaris di kepala Milo.
"Dipikir mainan !!" gerutu Kara.
"Kara, tante tinggal sebentar ya ke supermarket depan !" ucap ibunya Cia.
"Ah, iya tante," jawab Kara.
"Tante mau kemana? biar Milo anter ?" tanya Milo.
"Ah ga perlu Mil, tante naik ojek saja !" jawab ibu Cia.
"Ga apa apa tante, biar Milo anter, disini ada satpam kan? jadi Kara sama Cia aman !"
"Kalo tante kan ga ada yang anter, udah mendung juga tan," tawar Milo. Akhirnya Milo mengantar ibunya Cia. Milo pada dasarnya adalah orang yang sangat baik, jika menemukan orang orang yang baik. Kara tersenyum melihatnya.
"By, aku anter dulu tante ya sebentar !" ijin Milo dan Kara mengangguk.
"Cia, jagain ka Ra ya, nanti kalo nakal pukul aja ! " ucap Milo.
"Siap om, ka Ra ga pernah nakal ko..paling suka liatin bang Yudi !" jujur anak itu, Kara melotot mendengar pengakuan Cia yang kelewat ember. Milo mengerutkan dahi.
"Siapa bang Yudi ?!" tanya nya, ibu Cia tertawa.
"Huss ! Cia nih, bang Yudi nanti kupingnya panas kalo diomongin !"
Mata Milo menajam sinis pada Kara, "kalo matanya ka Ra masih liatin bang Yudi, usapin perutnya ka Ra,,, do'ain semoga dedeknya Cia dari om Milo cepet jadi !" bisik Milo pada gadis kecil itu. Kara menepuk punggung Milo keras.
"Oke, om !" mereka kembali bertos ria.
"Apa sih !" sarkas Kara, ibu Cia mengulum bibirnya melihat tingkah absurd putrinya dan Milo.
Keduanya pergi, Kara dan Cia kembali belajar.
.
.
Sebuah mobil memasukki rumah, dan itu mobil papahnya Cia.
"Papah, ka Ra !!!" Cia langsung berlari meninggalkan Kara dan pelajarannya.
"Papah !!!" seru Cia menghambur memeluk dan digendong papahnya.
"Cia, anak papah !!!"
Kara ikut keluar menyambut sopan si empunya rumah.
"Om, " Kara membungkuk.
"Eh, ada Ka Ra..." tanya papahnya pada Cia yang mengangguk.
"Gimana kabarnya, Ra??" tanya papah Cia.
"Alhamdulillah, om " Kara mendekat dan salim pada papah Cia, yang memang sudah kenal dekat juga.
"Selamat ya, katanya Kara juara olimpiade tingkat nasional?? om bangga Cia diajari Kara, semoga nanti Cia bisa kaya gurunya, ya !"
"Alhamdulillah om, makasih !"
"Yu masuk pah, Kara lagi belajar sama ka Ra !"
"Ya sudah, teruskan lagi belajarnya kalo gitu !!" mereka masuk,
Sebuah mobil tepat di sebrang rumah Cia, mengamati mereka semua.
"Gilaakk !! si cupu dah merit, dah ada anak lagi !!! si@*lan !!" umpatnya kesal.
"Hemm ! das@r cewek mur@han !" kembali umpatnya.
"Pak, jalan...ke rumah tante Marsya !" pintanya pada supirnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.