Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Tiga gadis bar bar masuk pesta


__ADS_3

Ica dan Ayu sudah menunggu di pinggir jalan dekat rumah Kara.


"Berasa kaya emak emak mau kondangan, nungguin charteran angkot !!" ujar Ica. Ayu hanya mengulum bibirnya. Apapun selalu jadi bahan kritikan gadis di sebelahnya, tetangga lagi karokean saja ia omeli.


"Gaya gue kaya wanita malam ga sih, Yu?" tanya nya pada Ayu. Hanya ini gaun pesta miliknya, itu pun entah bajunya abad mana, ia sampai lupa. Biasa beli baju sekali dalam setahun, itupun lebaran, membuatnya lupa baju kapan hari yang ia pakai.


"Loe cantik Ca, coba barengin sama mulut loe yang kalem, mulut loe anteng kalo di sumpel makanan doang !"


Tit...tit.... ! Juwita membuka kaca jendela mobilnya,


"Ca, Yu..masuk !!"


"Weitss kapan lagi gue naik mobil bagus, ke pesta horang kaya pula !" seru Ica, terakhir kali ia mendatangi sebuah acara, yaitu acara kondangan saudaranya yang menikah, naik mobil bak terbuka pula.


"Ya Allah Kara !!!! cantiknya jodoh orang !! ah ini mah Kate middleton ! " seru Ica heboh, membuat Kara mencebik.


"Bukan ! ini personel blackpink !" jawab Ayu.


"Ga usah lebay loe ! jujur banget ! berarti kemaren kemaren gue ga cantik gitu ?!" Kara menoyor kepala Ica.


"Bener, ini Kara temen gue, soalnya main noyor pala !" kekeh Ica.


"Ra, pangling gue !" jawab Ayu menimpali perkataan Ica.


"Wahhh idung gue terbang tuh nembus ke genteng rumah ! loe berdua sableng, ya ini gue lah ! Kate middleton ketuaan, personel blackpink mukanya oriental, asli Korea, gue mah asli betawi, anak ondel ondel ! puas loe berdua ! " jawab Kara.


Seperti apapun penampilan mereka, tetap tak akan menutupi sifat asli gadis gadis ini yang nyablak.


"Weh.. loe berdua udah cantik, malu sama penampilan. Cantik cantik bar bar !" omel Ayu. Hanya sekali ia minta teman temannya kalem.


"Hooh, Ra..mau ketemu calon mertua, ga usah nyablak ! malu sama sepatu loe !" jawab Ica. Juwita sudah tergelak dari tadi.


Beberapa pihak sekolah, dan partner bisnis ayah Milo hadir disana.


"Aduh deg degan gue, Ca !" ucap Kara.


"Mau ketemu calon mertua ya??!" goda Ica.


"Bukan, gue takut hak sepatu gue patah ! kira kira berapa gantinya ka Juwi?" tanya Kara, Ica tertawa mengejek.


"So so an pake wedges, biasa juga pake sendal jepit Ra !" jawab Ayu.


"Gue juga deg degan, kira kira disana ada cowok ganteng ga, ka Juwita?" tanya Ica, mendapat toyoran dari Ayu dan Kara.


"Sans oyyy ! " omel Ica.


Mobil Juwita sampai di parkiran, ketiga gadis bar bar ini sampai. Mata Kara mengedar, ia menghembuskan nafas gugup, dari kaca mobil saja, Milo sudah tampak gagah dan tampan menunggu di depan hotel.


Jam tangan Rolex dan stelan jas tuxedo tampak keren, sudah cocok jadi CEO muda, walaupun tak mengurangi sisi badboynya.


"Ko nyali gue tiba tiba ciut, ya ?!" ucap Kara.


"Udah ga usah so cantik ! yu turun !!" ajak Ica dan Ayu.


"Yu, Ra..pangeran loe dah nunggu tuh !" ajak Juwita.


Kara menurunkan kakinya dari mobil Juwita, Milo sedang bersama seorang lainnya. Melihat Juwita turun ia segera mendekat, bersama seorang laki laki yang tak kalah gagah dan tampannya. Gadis dengan surai sepunggung bergelombang di bagian ujungnya, hanya ditambah sentuhan jepitan mahkota swarovski kecil di belakang, yang mengapit sisi sisi rambutnya, agar tak menghalangi kecantikan wajahnya. Make up yang dipakai tidak berlebihan, malah membuat wajah cantik kesayangan Milo itu, semakin memancarkan auranya.


Milo menyunggingkan senyumannya, memang tak salah ia memilih gadis, ia selalu tampak istimewa dibandingkan yang lainnya. Malam ini dia begitu memukau setiap mata yang memandang.


"Udah gue bilang kan, Caramel itu gadis istimewa. Dia itu berlian yang tersembunyi !" ucap pemuda di belakangnya.


Degupan jantung Kara semakin tak menentu.


"Baby, you are so beautiful !!" ucap Milo,


"Thanks !" jawab Kara tersenyum. Keduanya saling memandang kagum, melupakan orang orang sekitarnya.


"Ekhemmm, sugar baby gue udah pada dateng !!" ucap pemuda dari belakang Milo. Ketiganya menganga.


"Jihad !!!" ketiganya tercekat kaget.


"Ca, gue ga lagi mimpi kan ??!" Kara melongo.

__ADS_1


"Tabok gue Ra, tabok gue !!"


"Plak !!" Kara benar benar menampar pipi Ica.


"Awww !! sakit peak !!" aduh Ica.


"Katanya suruh tabok !! padahal gue mau lepas sepatu buat tabok loe !" jawab Kara.


"Jangan keras keras lah Ra, "


"Kalo sakit berarti ini beneran Ca !" jawab Kara, keduanya malah berdebat.


Jihad menghela nafasnya, sudah waktunya ia jujur pada ketiga sahabatnya ini.


"Loe berdua mau ribut apa mau masuk?? nanti gue jelasin, tapi ga sekarang ! dan loe Ca, jangan malu maluin ntar di dalem. Loe sama gue sama Ayu aja, jangan sampe kelayapan sendiri !" ancam Jihad.


Milo memberikan lengannya untuk dirangkul Kara, "yang lain udah nunggu di dalem, " Kara mengangguk.


"Lahhh !! gue gandengan sama siapa?!" tanya Ica, gadis berpipi chubby ini pun tak kalah manis, Ica bukan tipe gadis kampung dengan seribu gaya, ia sama seperti Kara, tak senang yang berlebihan.


"Tuh gandengan sama tiang listrik !!" jawab Kara.


"Kejam !!" Ica mengerucutkan bibirnya, Juwita sudah terlebih dahulu menggandeng Jihad.


"Anak anak daddy, malam ini daddy gandengan sama calon mamah baru dulu !" ujar Jihad membuat Juwita terkekeh.


"Sedih gue, nasib jomblo ! gue mau cari ka Raka aja kalo gitu !"


"Udah loe sama gue aja Ca !" jawab Ayu.


"Ga asik, jeruk makan jeruk !" omel Ica, mereka berada di tengah tengah pasangan Jihad dan Juwita, juga Kara dan Milo.


Mata mata pengunjung disana menatap kedatangan Milo dan Kara, Kara nervous..ia mendongak ke arah Milo, tangannya pun sudah mengeratkan cengkaramannya di jas Milo.


"It's okey baby... ada aku disini, " ucap Milo menenangkan. Maklum saja, Kara tak pernah datang ke acara resmi kaum kaum kelas atas.


"Ck ck ck !! busett yu !!! ini dekor begini kira kira berapa ya?? kalo gue ultah kaya begini,.bagus kali ya ?!" ucap Ica.


"Ga usah mewah mewah, ntar loe sawan...ga biasa dikasih yang mewah, bisa bisa mati mendadak kaya ayam kena flu burung !" bisik Kara.


"Ca, Ra..kalian ga usah macem macem deh Ra ! "


"Ka Milo, bisa bawa Kara jauhan dikit dari Ica ngga? " pinta Ayu, jika Kara bersama Ica disatukan, bukan tidak mungkin acara resmi dan formal ini akan menjadi panggung lenong, untung saja Jihad tau tempat, Ayu sudah mengira Jihad memang bukan orang sembarangan.


"Baby, mau ketemu papah?!" Kara sedikit ragu, jika ada om Braja sudah tentu ada tante Marsya disana.


"Tapi sayang, apa ga apa apa?!" tanya Kara.


"Kenapa? tante Marsya??!" tanya Milo tepat sasaran.


"Jangan khawatir, dia tidak akan mengacaukan acara ultah papah !" jawab Milo meyakinkan. Akhirnya Kara mengangguk.


"Guys gue tinggal bentar ya, " pamit Kara.


"Salam sama camer Ra !" ucap Ica.


Keduanya berjalan menuju dimana papah Milo berada.


"Pah, Caramel datang !" om Braja menoleh, ia tersenyum melihat gadis cantik yang sedang digandeng putranya.


"Waw..Caramel, akhirnya papah bisa ketemu lagi sama kamu, apa malam ini kamu sengaja cantik untuk papah??" kekehnya.


"Iya om ! om selamat ulang tahun ya, semoga om panjang umur, sehat selalu. Dan selalu dikelilingi orang orang tersayang !" Tanpa di duga om Braja memeluk Karamel layaknya seorang ayah.


"Terimakasih cantik, hey.. jangan panggil om, saya calon mertuamu !" coleknya di hidung Kara, membuat Kara merasa hangat di dekatnya, gadis ini tak merasa canggung.


"Iya papah !" Om Braja, Kara, dan Milo tertawa, terkecuali perempuan di sampingnya, ia tampak jengah melihat kedekatan Kara dan suami kaya nya ini.


"By the way, terimakasih ucapannya, do'a papah ga muluk muluk ko, hanya minta diberi kesehatan agar dapat melihat anak papah satu satunya sukses dan mendapatkan pendamping yang memang cocok !" jawabnya, Kara tersenyum, mungkin ini masih terlalu jauh, mereka pun masih sama sama muda.


"Insyaallah, Kara do'ain semua do'a do'a terbaik di kabulkan !" jawabnya.


"Aamiin ! oh ya, papah dengar kemarin kamu mendapatkan runner up olimpiade tingkat nasional?" tanya nya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, pah..berkat do'a semuanya juga !" Kara tak henti hentinya tersenyum.


"Wahh, selamat ya ! papah turut senang, ajarkan anak papah, biar pinteran dikit !" bisik om Braja namun keras.


"Pahh !! Milo denger !! ini juga udah pinter, pinter cari cewek yang cocok buat Milo !" jawab Milo.


Dari kejauhan datang 1 keluarga,


"Hey, jeng !!! hay sayang !!" tante Marsya mulai mengambil bagiannya,


"Sayang ada pak Ridwan dan keluarga !" ucapnya membuat papah Milo teralihkan. Milo dan Kara pun ikut menoleh, Vio bersama ayah dan ibunya hadir juga disini. Mereka tak mau kalah mencuri perhatian om Braja.


"Hay om, selamat ulang tahun, Vio ada bawa sesuatu buat om !" ucap gadis itu. Tentu saja om Braja menyambut siapapun tamunya, ia memang orang yang ramah dan hangat.


"Hay Mil, " ucap gadis itu, Milo bersikap cuek.


"Milll..." tegur om Braja.


"Hay ! baby, lebih baik kita bergabung dengan teman yang lainnya," ajak Milo menarik Kara untuk menjauhi para ular yang sedang menjilati papahnya, akan ada saatnya Milo membuka kebusukan semuanya.


Ica sudah mengitari stand makanan yang ada di ruangan ini, dan naasnya Ayu yang ditarik kesana kesini olehnya hanya bisa mengikuti.


"Astaga si Ica, ck ck ck !" kekeh Arial.


"Tapi tuh cewek manis juga ko ! cuma nyablak aja sih " jawab Erwan.


"Astaga Ica !!!" Kara yang baru saja bergabung bersama teman teman Milo, berdecak dan menggelengkan kepalanya.


"Kara, waww !!" ujar Arial.


"Cewek gue !" Milo mengusap kasar wajah Arial yang memandangi Kara kagum.


"Hm, posesifnya keluar nih !" gumam Keanu.


"Sayang, aku ke Ica sama Ayu sebentar !" ijin Kara.


"Oke, jangan lama lama, kalo ada yang ngajak kenalan ga usah dilayanin, pura pura gagu aja, kalo maksa tonjok aja sekalian !" ucap Milo, pepatah dan nasihat yang menyesatkan.


"Wah mas sayang makin kesemsem nih, " ujar Arial.


"Ga akan gue lepas sampai kapanpun ! " ucap Milo.


"Ih ngeri !" gidik Kean.


"Raka mana?" tanya Erwan.


"Raka lagi ngobrol sama klien papahnya," jawab Milo. Acara ini sekaligus menjadi ajang bertukar obrolan sesama pebisnis. Tak lama Milo pun dipanggil papahnya.


"Ca, jangan malu maluin napa ! kalo loe kekenyangan loe minta boker kan malu !" Kara menyimpan kembali makanan dari piring Ica.


"Tau nih anak, gue ampe capek Ra, kaki gue pegel !" keluh Ayu.


"Abisnya gue ngenes, daripada ga dapet cogan mendingan gue makan kan? nih makanan melambai lambai, sayang nanti mubadzir !" kilahnya.


"Tapi ga gini juga Ca, cogan.. cogan ! yang ultah tuh papahnya Milo, dah sepuh. Mana ada cogan, yang ada pria pria bau minyak angin !" jawab Kara.


"Kalo loe mau, cari sugar daddy Ca ! baru loe nemu ! lagian sugar daddy mana yang mau sama loe ! loe nya aja nyeremin gini, belum apa apa mungkin dah loe marahin " tambah Ayu.


"Guys !" dari belakang ketiganya, Jihad memanggil.


Kara, Ica dan Ayu baru ingat jika disini ada Jihad, saking sibuknya Jihad, ia sampai melupakan ketiga sahabatnya ini.


"Masih inget loe, kita disini ?!" tegur Ica, ia sudah tak berselera makan lagi, selama ini ia sudah curiga pada Jihad, rupanya ini yang ia tutupi, selama ini.


"Ca, " tegur Ayu.


"Miris ya Ca, like brother like sister !!!" tambah Kara.


"Sudah waktunya gue jelasin semuanya sama kalian, " jawab Jihad, ia berharap teman temannya mau mengerti, terutama Ica dan Kara.


"Bisa kita cari tempat yang ga terlalu rame? loe bertiga ikut gue !" Jihad menarik Kara dan Ica, dan menyuruh Ayu mengekor.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2