Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Keluarga Bahagia


__ADS_3

"Kalo kita ajak liburan bareng gimana?" tanya Kara pada Milo.


"Nanti kucoba," jawabnya. Milo menceritakan semuanya pada Kara, tentang apa yang terjadi pada Juwita dulu, saat ia terjerat pergaulan bebasnya bersama Rayhan. Pergaulan bebas remaja jaman sekarang semengerikan datangnya dakjal.


Kekayaan tidak menjamin kebahagiaan seseorang, buktinya Juwita dan Milo, keduanya mencari kebahagiaan di luar. Karena kesibukan kedua orangtuanya. Beruntunglah Kara memiliki ibu dan ayahnya yang perhatian dan peduli.


"Apa jangan jangan kamu juga kaya gitu??!" Kara menyipitkan matanya menginterogasi Milo.


"Gitu gimana? ga usah ambigu !" Milo memajukan wajahnya pada Kara menggodanya, membuat gadis itu memundurkan wajahnya dan bergidik. Ia juga malu sendiri jika harus menjawabnya.


"Ya gitu...kaya Ka Juwi sama Ray !" tuduhnya.


"Kamu mau uji keperjakaanku?!" tanya Milo menggoda Kara lagi, sontak saja wajahnya langsung memerah, obrolan 18+ di tengah hari bolong begini malah membuat Kara merinding.


"Dih !" Kara menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Ogah !!" Kara mendorong pelan wajah Milo. Lalu mengibas ngibaskan tangan di depan wajahnya.


"Tau gini nyesel aku nanya !! panas !!" Kara pergi meninggalkan pemuda yang masih duduk di bangku taman kota.


Milo tertawa melihat tingkah konyol Kara, jangankan hal tabu begitu, dulu di pegang saja, Kara sudah panas dingin.


Sesuai janji, Jihad membawa voucher hotel menginap di salah satu hotel keluarga Milo, yang sedang dipegangnya.


"Yeee !!!! jadi liburan gue !!! bukan ke Ancol Ra, bukan mau momong bocil !!!" seru Ica, sebahagia itu Ica. Seperti kuda yang baru saja lepas dari kandangnya.


"Eits ! ini buat tim futsal cewek bukan loe doang !" jawab Jihad.


"Iya bawel ! mendadak kaki gue sembuh, Ra !!" serunya.


"Be*go !" gumam Kara dan Ayu.


"Temen loe Ra, "


"Temen loe Yu !"


"Ini kalo udah dibagi rapot kan, Ji?" tanya Ayu, Jihad mengangguk.


"Emang dibagi rapot kapan sih? ko lama ! udah suruh besok aja deh, usulin ke kepsek !" pinta Ica.


"Seenak udel, emang nih sekolahan punya babeh loe Ca !" jawab Kara.


"Kan bokapnya Milo komite Ra, bisa kali di ghosting dikit biar majuin pembagian rapot !" ujar Ica.


"Loe aja sendiri yang minta ! kalo pengen udahnya di kutuk jadi batu sama kepsek," Kara mengambil tasnya lalu pergi, hanya tinggal beberapa hari lagi sekolah akan masuk masa liburan.


***********************


Kara masih bergelung dengan selimut ungu nya, hari minggu harinya bersantai ria, hanya mungkin nanti aga siang ia akan mengajar ke rumah Cia.


Jika hari minggu begini, Milo sudah pasti berada di arena track motor trailnya. Semalam Milo meminta Kara untuk ikut, tapi Kara menolaknya dengan alasan ia harus bersiap siap untuk ke rumah Cia dan mencuci seragam.


Ayam sudah berkokok sampai suaranya serak, tapi gadis ini masih saja anteng berkencan dengan bantal dan guling.


Dengan berleha leha, kelopak matanya saja susah untuk terbuka, seakan ditempeli oleh lem satu ember. Ia lantas pergi ke kamar mandi, mengambil detergent, lalu menuangkan air dan memasukkan seragamnya selama seminggu ini. Lagu dangdut dari pemutar musik milik tetangga sebelah menggelegar sampai ke rumahnya, sudah terbiasa untuk Kara, kalau bukan dangdut pasti lagu melayu, karena tetangganya ini maniak lagu lagu merakyat. Gadis ini mengambil bangku kecil, sejak kecil ia sudah terbiasa mencuci pakaiannya sendiri, tak mengenal kata mesin cuci. Meskipun begitu, tangannya tetap saja lembut karena sering memakai lotion. Dengan mulut yang menggumamkan lagu yang tengah diputar, ia menggelung rambutnya dan mulai mencuci satu persatu seragamnya. Hiburan gratis agar tak jenuh.


Kara mengibaskan pakaian yang sudah bersih, hingga mencipratkan air lalu menggantungnya di jemuran yang tersorot matahari. Punggung lengannya mengusap peluh di pelipisnya.


"Capek ?!" tanya seseorang yang ternyata sedang memperhatikan Kara sambil menyenderkan bahunya di tiang rumah.


Kara menoleh, dan mengangkat alisnya sebelah. "Asik bener pak, liatinnya ! ga sekalian mau ditemenin kopi atau ar4k?" ledek Kara. Milo tertawa mendengarnya.


"Mau sapa, tapi liatnya asik bener, sampe nyanyi nyanyi segala !" Kara mendekat dengan ember hitam masih ditangannya.


"Hiburan gratis biar ga stress, udah lama?" tanya Kara.


"Sejak kamu nyanyi sambil goyangin badan !" kekeh Milo, Kara mencebik kesal.


"Dih, tontonan gratis !"


"Harus bayar?" tanya Milo.


"Biduannya aus, traktir minum !" tagih Kara.


"Oke, mau berapa puluh cup minuman? atau mau sama gerainya sekalian?" tanya nya jumawa.


"Udah ga usah pamer kekayaan, aku siap siap dulu, tunggu aja di dalem. Ibu abis bikin kue !" tentu saja Milo berseru gembira.


"Ayah, ibu, Kara pergi dulu. Sopir Kara juga udah kenyang kayanya !" pamit melirik ke arah Milo, ibu dan ayahnya tertawa.


"Tunggu sebentar saja dulu, biarkan nasinya suruh turun dulu ke perut, " ujar ibu.


"Kalo nunggu nasinya sampe ke perut, nasi di rumah juga ikut abis !" jawab Kara. Senang sekali tuan muda ini makan disini.

__ADS_1


"Perbaikan gizi pak?" tanya Kara.


"Iya, " jawabnya enteng.


"Ck, buruan ! " Kara mencebik.


"Ga denger kata ibu mertuaku, tunggu bentar nasinya belum turun ke perut," ucap Milo.


*****************


Mobil Milo melesat ke arah kompleks rumah Cia.


"Om susu !!!" pekik Cia.


"Hay princess !! tos !!" balas Milo.


"Ka Ra, nenek Cia sakit !" adu gadis kecil itu.


" Oh ya? terus?!" tanya Kara.


"Kara, maaf ya sepertinya hari ini lesnya diliburkan saja. Ibu saya sakit, " ucap ibunya Cia.


"Oh iya ga apa apa tante, "


"Ga mau mah, Cia mau sama Ka Ra ! ga mau ikut ke rumah dokter !" jawab anak itu menyembunyikan badannya di balik Kara.


"Eh, Cia..jangan repotin Ka Ra sama om nya dong !" jawab ibunya.


"Memangnya anak kecil bisa dibawa masuk ke ruang perawatan ya tante?" tanya Milo.


"Paling nanti Cia kita titipkan di tempat bermain anak," jawabnya.


"Gimana kalo sama kita aja tante," tawar Milo. Kara sampai mengangkat kedua alisnya, seorang Armillo Dana Aditama, mau menjadi nanny Cia. Are you serious?


Kara menautkan alisnya menoleh pada Milo, "seriusan?" gumamnya.


"Ah, nanti Cia malah merepotkan kalian !" ucap ayahnya.


"Engga ko om, Cia anaknya baik !" jawab Kara.


"Cia mau kan jalan bertiga sama Ka Ra sama om susu?" tanya Milo.


"Mau !!!" seru anak itu,


Kedua orang di depan mereka saling mengkode, "terimakasih banyak sebelumnya, Kara, Milo..kalau begitu Cia, ga boleh nakal ya nak, ga boleh repotin om sama ka Ra !" ucap ibunya mewanti wanti.


"Let's go ke mobil !!" ajak Milo pada Cia, anak itu sangat bersemangat.


"Wahhh !!! mobil om susu bagus !!" seru Cia.


Akhirnya ketiga manusia ini pergi bersama menghabiskan hari minggu mereka, "Cia mau beli es krim?" tanya Milo.


"Mau om !!" ketiganya masuk ke salah satu pusat perbelanjaan lalu berjalan menuju gerai es krim.


"Cia mau rasa coklat !" pekiknya.


"Oke, ka Ra sukanya strawberry kan?" tanya Milo.


"Iya om susu !!" jawab Kara.


"Om susu, mau rasa apa?" tanya Kara melihat lihat varian rasa.


"Rasa yang tak pernah hilang, " jawabnya.


"Ck ! ada anak kecil yank ! kalo mau gombal liat liat situasi dulu !" decak Kara.


"Kalo om susu rasa apa?" tanya Cia.


"Kalo om maunya Ka Ra !" jawabnya, Kara sudah berdecak kesal, sedari tadi entah dorongan ke berapa kalinya di bahu Milo.


"Tapi ka Ra ga dijual om, " jawab Cia polos, membuat Milo tertawa.


"Ya sayang, padahal kayanya enak !" Milo terlihat frustasi di depan Cia.


"Dih sengklek ! anak orang itu jangan diajarin macem macem !" ujar Kara.


Bibir Cia dan Kara nampak kemerahan memakan es krim yang dingin. Kedua gadis beda generasi ini sesekali saling mencolek dan mencicipi es krim masing masing.


"Cia mau main itu ?!" tanya Milo. Tentu saja Cia mengangguk cepat, anak kecil dan game station adalah jodohnya.


"Tau banget apa yang anak kecil suka?!" ujar Kara.


"Belajar by, makanya tengoklah cowok tamvan di samping kamu ini ! calon imam masa depanmu by, kurang apa coba??!" jawabnya.

__ADS_1


"Kurang waras !" jawab Kara.


Dimulai dari bermain tembak tembakan, lalu balapan motor, dan memasukkan bola basket, itu semua adalah keahlian Milo. Tak sekalipun Cia tidak tertawa.


"Cia laper ga sayang?" tanya Kara berjongkok di depan gadis kecil yang menggandeng tangannya dan tangan Milo.


Cia menggeleng, "tapi ini udah masuk jam makan siang, sayang ! nanti Cia sakit, " jawab Kara membujuk Cia, agar mau makan. Tapi anak itu tetap menggeleng. Kini Milo yang berjongkok di depan Cia.


"Cia, om susu lapar..tapi om susu maunya makan ditemenin Cia, " bujuknya.


"Tapi Cia cuma nemenin om aja ya, Cia belum mau makan !" jawab anak itu.


"Jadi Cia mau tetep kecil gini badannya? kalo Cia ga makan, Cia bakalan jadi anak kecil terus !! kapan gedenya dong?!" anak itu berfikir, penjelasan Milo ada benarnya juga.


"Kalo udah gede bisa apa om?" tanya Cia.


"Emhhh, bisa apa ya??! pacaran !! kaya om susu sama ka Ra !" serunya bingung.


"Sutt ! " Kara membekap mulut Milo,


"Om susu ga usah di dengerin Cia, dia ngomongnya becanda !" Kara melotot pada Milo, sedangkan si pelaku hanya tertawa.


"Oke deh om, tapi dikit aja ya !" jawabnya. Akhirnya ketiganya masuk ke dalam gerai makanan.


"Ka Ra !" Cia menarik narik baju Kara.


"Kenapa sayang?!"


Cia menarik Kara agar menunduk lalu ia berbisik di telinga Kara.


"Cia kebelet, " bisiknya malu nika bilang di depan Milo.


"Oh Cia mau ke toilet? yu ka Ra temenin !"


"Sayang, kamu pesen aja dulu. Aku anter Cia ke toilet dulu !" pamit Kara, Milo mengangguk.


"Om susu jangan nyusulin ya, kata mamah kalo pipis ga boleh diintip, nanti Cia dewasa sebelum waktunya katanya !" ucap Cia, sontak saja Milo dan Kara mengulum bibirnya. Bibir mungilnya lucu saat mengatakan itu, padahal tau artinya pun tidak.


"Astaga !" Kara sampai menutup mulutnya.


"Udah udah ! yu nanti keburu pipis disini !" ajak Kara.


Kara menyuapi anak itu dengan telaten, pasalnya Cia masih terbiasa disuapi oleh ibunya. Milo menarik senyumannya.


"Kita udah cocok ya by, " ucapnya.


"Cocok apanya?" Kara mengangkat alisnya sebelah.


"Kaya nyonya sama supirnya?" goda Kara.


"Ck, kaya keluarga bahagialah by, !" jawabnya.


"Sutt !! ga usah bawa obrolan beginian, kalo kata Cia nanti dewasa sebelum waktunya !" jawab Kara, membuat Milo terkekeh.


"Om, Cia capek !" ujar gadis itu.


"Cia mau digendong ?" tanya Milo, anak itu mengangguk. Milo mengangkat tubuh Cia di pundaknya, membuat anak itu berseru.


Ponselnya berbunyi, "by, tolong ambilin ponselku !" Kara mengambil ponsel milik Milo.


"Apa sandinya?"


"Caramel !" jawab Milo. Ponselnya kembali berbunyi, kini panggilan yang masuk.


"Hallo, "


"Hallo, Kara?!"


"Iya ka Rial, ka Milo lagi bareng gue !"


"Sini gabung, kebetulan disini lagi pada ngumpul, di cafe Keanu !" pintanya. Milo mengangguk setuju.


"Iya ka, kita kesana !" jawab Kara.


"Seriusan bawa Cia?" tanya Kara.


"Tentu !" jawab Milo.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2