
Tap..tap..tap....
Pak Rian selaku wali kelas membawa secarik kertas, berisikan pengumuman partisipasi, untuk setiap kelasnya ikut andil dalam setiap upacara pengibaran bendera merah putih setiap hari senin, diharapkan setiap kelas bergantian menjadi petugas upacara setiap seninnya, untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan pengetahuan dasar kewarganegaraan.
"Khusus hari ini pelajaran bapak, diganti saja dengan penetapan para petugas upacara, buat nanti tugasnya di pr kan saja, " pak Rian membetulkan letak kaca matanya, batik mega mendung yang dipakainya kontras dengan warna kulitnya yang putih.
"Ji, kira kira disini siapa saja yang mengikuti ekskul paskibraka?" tanya pak Rian.
"Dion pak ! iya kan Di?" tanya Jihad melirik ke belakang, ke arah bangku Dion.
"Iya pak !" jawab Dion.
"Kalo gitu atur aja gimana baiknya, siapa saja yang menjadi petugas upacara disini, sisanya nanti jadi paduan suara ! nanti biar yang urus guru kesenian, bu Wilam sama ekskul paskibraka, bapak tunggu daftarnya !" jelas pak Rian.
Jihad bangkit dari duduknya, ia berdiri di depan papan tulis.
"Mi, catat !" suruhnya pada sang sekertaris. Pak Rian menopang dagunya menyimak, para remaja tanggung ini mengatur pasukan.
"Bagusnya yang jadi pengibar yang tingginya rata Ji, " ucap Dion.
"Bapak tuh mau pengibar yang 9 orang itu Ji, Di !" ujar pak Rian menginterupsi.
"Disini kebanyakan cewek pak, paling cowok yang tingginya sama cuma beberapa," jawab Jihad.
"Ya engga apa apa, nanti bisa dilatih sama paskibraka, ya Dion ?" tanya pak Rian, Dion mengangguk.
***************
"Njirrr kenapa jadi gue !" ujar Kara.
"Tinggi loe samaan sama 8 lainnya !" jawab Ica, merasa jumawa sedikit tinggi dari Kara.
"Makanya tumbuh tuh ke atas jangan kesamping !" jawab Jihad.
"Sat ! gue ga gendut ! tuh Ica tumbuh ke samping !"
"Gue juga ga gendut, "
"Udah ga usah pada bawal !" ujar Ayu
"Bawelll !" pekik Ica dan Kara, membuat Ayu meringis.
"Biasa aja dong !" kekehnya.
"Nanti siang jangan dulu pulang, mulai latihan, kelas kita kebagian jadi petugas upacara hari senin depan," pak Rian mewanti wanti.
Di tengah matahari yang pas tepat di atas kepala, disuruh panas panasan pbb, yang benar saja.
Kara menatap ke langit, "balik balik gue siap di goreng !" gumamnya.
"Kerupuk !" tawa yang lain.
Ica dipilih sebagai dirigen paduan suara. Dan beberapa lainnya sebagai pembawa naskah UUD dan pancasila, dan Jihad sebagai pemimpin upacara.
"Ra, gue dong teduh !" pekik Ica.
"Oyy yang paduan suara ati ati ! kalo dirigen nya Ica ntar lagunya malah jadi Iwak peyek !" jawab Kara.
"Njirrr ! si Kara ! " gumam Ica saat yang lain tertawa.
"Kagak lah gue mah masih waras, ntar paduan suara gue mah lagunya we are the champions !" jawab Ica.
"Lagu siapa tuh ?!" tanya Kara menyunggingkan bibirnya, mana tau Ica lagu lagu luar.
__ADS_1
"Lagunya....michael jackson kan ?!" polosnya. Tawa Kara pecah bersama yang lain. Mereka yang mulai oleng karena cuaca panas semakin oleng dibuat keduanya.
"Loe berdua jangan mulai deh ! ini lagi panas, jangan bikin kita gagal fokus !" pekik Ayu.
Kelas Milo sudah keluar, mengetahui kelas Kara yang dipilih sebagai petugas upacara mereka ingin melihat, terlebih Milo. Milo mendekat.
"Kamu ga bawa topi apa by ?" tanya Milo, melihat Kara yang kepanasan, peluhnya sudah bercucuran, Milo mengusap keringat Kara ganpa canggung dengan punggung tangannya.
"Basah, jangan pake tangan ! ada tissue di tasku," jawab Kara.
"Tanggung, pake topiku ya ! muka kamu udah merah by, " jawab Milo, Kara mengangguk. Milo mengambil topi SMA miliknya dari dalam tas dan dipakaikan di kepala Kara.
"Semangat by !" Milo mengusap pipi Kara lalu kembali duduk di pinggiran lapang.
Kara dan ke 8 lainnya mengikuti arahan dari tim paskibraka sekolah.
Raka ikut bergabung mengecek, bagaimana pun ia adalah ketua OSIS.
"Oyyy cewek yang berkacamata, yang bener latihannya ! jangan lirikin senior mulu ! ka Milo ga akan diembat orang !" pekik Ica.
"Kurang aj4r si Ica !" Milo cs menertawakan kelakuan mereka.
"Interupsi ka Raka !" Kara mengangkat tangannya.
"Kenapa Ra?"
"Boleh saya timpuk ga tuh dirigennya ?! jengkelin !" Raka menyunggingkan senyumnya.
"Tuh anak berdua ga dimana dimana, " decak Kean yang menatap layar ponsel sibuk bermain game online, tapi kupingnya pengang mendengar Kara dan Ica berdebat.
"Boleh Ra !"
"Oyyy loe berdua, diem atau mau gue karungin, gue kirim ke kutub ?!" pekik Jihad.
"Karungin aja Ji !" jawab Ayu. Keduanya terkikik dan diam.
"Oke sudah bagus, istirahat dulu !" ucap senior paskibraka.
Kara segera duduk dan menyandarkan punggung ke tembok, Milo adalah pacar yang pengertian, ia datang dengan membawa sebotol minuman dingin yang ditempelkan langaung ke pipi Kara.
"Minum dulu," Kara yang baru saja melepas penat dan merasai teduh langsung membuka matanya, meraih minuman dari tangan Milo.
"Makasih, " jawab Kara.
"Ngantuk ya ? capek ?" tanya Milo, Kara mengangguk. Siapa yang tak tau jika Kara memang secinta itu dengan tidur siang, Milo membawa kepala Kara untuk bersandar di bahunya.
"Kalo di tembok tuh keras, sini bahuku aja !"
"Heran, jam tidur kamu tuh berapa lama sih by sehari ? kuat banget tidur," tanya Milo.
"Tergantung, tapi kalo siang emang biasa merem bentar, kata ibu tidur siang memang dibutuhkan, biar otak ga oleng !" jawab Kara sekenanya. Meskipun cuaca panas, angin masih terasa sepoi sepoi.
"By, nanti kalau aku lulus. Kayanya aku kuliah dulu disini. "
"Iya, daripada kamu nganggur, mendingan kuliah sambil bantu papah !" jawab Kara.
"Aku udah cari cari universitas yang cocok dan hampir dekat dengan universitas kamu, " ucap Milo.
"Masih lama sayang, baru juga mau kelas 2 masih ada setahun lagi disini, " jawab Kara. Karena diajak mengobrol Kara akhirnya membuka matanya.
"Ya engga apa apa, biar nanti semua udah siap, sambil cari kost kost an yang cocok juga disana !"
"Bukannya udah dikasih tau Jihad ya?" tanya Kara.
__ADS_1
"Terus bukannya nanti kamu dimasukkin ke universitas yang sama kaya Jihad, biar bisa ngawasin kamu ?!" tanya Kara.
"Engga, aku udah mutusin. Tapi kalo masalah kost memang aku satu kost sama Jihad."
"Dan aku juga udah pilih kost kostan putri buat kamu !" tambahnya.
Kara mengiyakan saja, lagipula ia tak tau menau dengan LN, sudah mendapatkan bantuan saja sudsh bersyukur.
Ica tengah berlatih dengan kelompok padus, Kara seketika segar.
"Bu, awas kalo dirigennya Ica nanti mengheningkan cipta malah jadi kopi dangdut, " pekik Kara.
"Sat ! si be*go, " gumam Ica.
"Ga usah di dengerin bu, dia kalo abis obat kaya gitu !" jawab Ica.
Semuanya sudah selesai, wajah wajah suntuk dan capek terlihat jelas, melihat seorang kaka kelas tim paskibra membawa gitar. Kara meminta Milo meminjamnya.
"Buat apa by, kamu mau aku nyanyiin?" tanya Milo.
"Engga, mau mancing Ica !" jawab Kara. Milo hanya mengangguk saja, tak tau rencana apa yang akan dilakukan Kara.
"Bro, boleh gue pinjem sebentar !" pinta Milo, siswa itu mengangguk dan memberikannya pada Milo. Selanjutnya Milo memberikannya pada Kara.
"Mau ngapain Ra?" tanya Arial.
"Mau konser ! mau ngamen ! buat beli minum !" jawab Kara.
Ica mulai melirik temannya itu.
"Neng Ica mainkan !!!" pekik Kara, di pinggir lapangan ini.
Kara memetik gitar memainkan lagu dangdut koplo. Milo dan yang lain tercekat, ingin tertawa ada, kagum juga ada.
"Njirrr si Kara !!" pekik Amel.
"Ini lagu kalo ada hajatan di rumah gue !" jawab Vanya.
Tiba tiba Ica sang biduan mengeluarkan suara emasnya. Lagu perbezaan kasta menjadi lagu hiburan untuk membuat yang lain kembali tertawa.
"Perbezaan kasta yang jauh, aku tau siapalah diriku ! terlalu dalam jurang pemisah, kasih sudah berakhir disini saja...." lantunan syair yang Ica nyanyikan dengan cengkoknya seraya memegang botol minum kosong sebagai mic nya. Bahkan guru musik saja, bu Wilam memperhatikan aksi mereka, dan bertepuk tangan.
Gelak tawa terdengar riuh sekaligus tepukan tangan, konser pengamen dadakan mengundang penonton dari kalangan murid dan guru.
"Cewek loe tuh Mil !" tunjuk Jihad yang sama tertawanya.
"Si Ica tuh !" jawba Milo.
Arial dan Erwan ikut berdiri berjoget, bersama sang biduan dadakan memang terkesan jauh dari kata mewah, Ica dan Kara tak perlu menjadi orang lain untuk berteman dengan siapa saja termasuk Milo cs, mereka cukup menjadi diri mereka sendiri. Buktinya mereka yang malah ikut merakyat.
"Daddy sawer gue dong !" ucap Ica pada Jihad.
"Kamvrett si Ica, " gumamnya. Jihad mengeluarkan selembar uang birunya dan menempelkannya di jidat Ica yang sedikit lengket karena peluh.
"Asikkk mayan buat beli bedak !" jawab Ica.
"Saravvv !" tawa Milo dan Raka.
"Gue ??? gue ??? gue mana ???!" tanya Kara ikut maju.
"Gue apa??!!" tanya Milo sudah menatapnya killer. Kara mengatupkan mulutnya.
.
__ADS_1
.
.