
Kara menanggalkan kacamatanya,namun dengan segera Milo menahan tangan Kara. Ia menarik Kara ke lain tempat dahulu.
"Apa sih mas ?" sarkas Kara.
"Sini !!" Milo menarik tangan Kara, tangannya terampil merapikan rambut Kara, jemarinya menyisir helaian helaian rambut hitam nan panjang gadis manis itu. Jujur Milo tak rela membagi kecantikan Kara dengan orang lain.
" Aku bisa sendiri !!" jawab Kara sinis, tapi Milo tetap kekeh melakukannya. Membuat Kara yang asalnya kesal dan marah mendadak salting.
"Aku ga rela wajah cantikmu diliat banyak orang !" Kara blushing disebut cantik oleh Milo.
"Apaan sih, ga usah gombal. Ga mempan !!" Kara menepuk bahu Milo yang terkekeh,
"Aku balik dulu ke ruang OSIS, ka Raka manggil kan," jawab Kara.
.
.
Bibirnya mengerucut gemas, seperti bibir ikan fugu. Kara saling menatap silet dengan Nina. Sepertinya jika ada bebek di tengah tengah mereka, bebek itu mati.
"Gue minta kalian ga berulah lagi, ini terakhir kalinya gue ngurusin masalah loe Nin.." ucap Raka.
"Tapi cewek ini duluan !!" tuduh Nina. Kara melotot, disaat banyak saksi pun perempuan ini masih sempat sempatnya memfitnah, apa dia tak pernah belajar pendidikan agama islam, di dalamnya ada pelajaran jika fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Benar benar minta disambelin nih mulut perempuan.
Yang tak di duga dan tak diinginkan akhirnya terjadi, ada beberapa siswa yang menyebarkan kejadian barusan hingga sampai ke pihak sekolah.
"Ka, loe, Nina sama Caramel dipanggil ke ruang kepsek !!" ucap Firman wakil ketos. Kara menghela nafasnya pasrah, sedangkan Nina tertawa puas, akhirnya rencananya memberi pelajaran berharga untuk Kara berhasil.
"Tunggu, apa ini masalah barusan?" tanya Raka. Firman mengangguk.
Ketiganya masuk ke dalam ruang kepsek, Milo yang ikut menemani hanya menggelengkan kepala. Ia menyuruh Erwan dan Arial untuk menyisir seluruh ponsel siswa sebelum pulang.
"Wan, rial ! gue minta sisir semua ponsel siswa yang belum pulang, hapus video kejadian barusan !!" Milo kesal, karena imbasnya pasti pada Kara.
Milo tak tinggal diam, ia mendatangi Jihad dan beberapa lainnya untuk menjadi saksi kejadian barusan.
__ADS_1
Di ruangan kepsek.
"Baru saja kamu di berikan penghargaan beasiswa, tapi kamu sudah berulah Caramel !" ucap pak kepsek kecewa.
"Tapi pak, bukan saya yang memulai, apa salah saya melawan, mencoba membela diri. Karena kejadiannya pun tidak seperti yang dilihat dalam potongan video !" bela Kara.
"Bohong pak, yang terjadi memang seperti apa yang ada di video, justru dia yang terlebih dahulu mengganggu saya," Nina tetap bersilat lidah.
"Apakah kamu tau dengan adanya kejadian yang membuat sekolah geger ini, nama kesiswaan akan dipertanyakan, siswa frontal kah yang mendapatkan beasiswa?? dengan berat hati, untuk sementara namamu ditangguhkan dari daftar beasiswa Caramel," bagai di hantam ombak, kapal Caramel menuju masa depan cemerlang hancur berkeping keping, dadanya sesak.
"Tapi pak !!" seru Kara.
"Pak, apa tidak bisa dibicarakan baik baik? Nina, sebaiknya kamu jujur saja !!" Raka mulai meradang, ia memang belum tau kebenarannya, namun ia yakin Caramel tak mungkin seperti yang dikatakan Nina.
"Kalau begitu saya permisi pak, "Kara sudah tak ingin mendengar lagi, dadanya terlalu sesak, ia langsung pamit dari kantor kepsek.
Kara adalah gadis kuat, tapi entah kenapa mengetahui namanya ditangguhkan dari daftar beasiswa ia tak bisa terima, terlebih ia tak salah. Yang ia ingat adalah wajah kedua orangtuanya. Bahkan untuk beasiswa ini tak mudah, Kara mencantumkan beberapa lembar rapotnya beberapa semester selama masih di SMP, juga setiap ulangan yang diadakan tempo hari nilainya selalu bagus.
"Salah apa sih gue !! hidup gue gini banget !!" Kara berjalan lemas menuju kelas mengambil tasnya, lalu ia berjalan menuju gerbang, ia ingin pulang saja. Mood nya seketika drop, ia hanya butuh pelukan hangat ibunya.
"Kara," panggil Arial mengernyit melihat wajah kusut Kara, wajah yang biasanya bersemangat dan berapi api jika membalas keusilan Milo.
"Gue balik dulu ka, bilang ka Milo gue duluan !!" ucap Kara.
"Tapi, Ra..mening loe tunggu Milo sebentar," jawan Arial.
"Gue pengen pulang sekarang, ka !" tolak Kara, sekuat mungkin menahan matanya yang sudah berat menahan air mata.
Erwan segera menelfon Milo. Milo yang tengah berada di ruang kepsek segera pamit undur diri meninggalkan beberapa orang disana.
"Ka, gue titip masalah ini sama loe, gue mau susul Kara."
Milo segera berlari menuju gerbang, untungnya Arial dan Erwan berhasil menahannya.
Jika biasanya Kara akan sewot dan sarkas, tapi kini ia tidak banyak bicara. Milo yang melihat dari arah belakang gadis ini ikut merasakan sedih dan kecewa yang Kara rasakan.
__ADS_1
"Kamu mau kemana baby??!!" pekik Milo.Kara menoleh, melihat Milo seketika ia mengingat kembali semua penderitaannya di sekolah ini.
Milo mendekat, tapi Kara terpundur.
"Apa masih kurang?" tanya Kara, Milo menautkan kedua alisnya.
"Semenjak kenal loe, gue selalu apes...dimulai dari bullyan loe, sekarang bullyan cewek loe apa harus sampai beasiswa gue dicabut ?? gue bukan orang berada kaya loe, kaum borjuis yang bisa semalaman abisin uang, atau ga perlu beasiswa hanya untuk bisa bersekolah di sekolah favorit !!" air matanya mulai meleleh.
"Apa buat loe hidup gue cuma sebuah lelucon ??!" Kara semakin jauh masuk ke dalam kesalahpahaman pada Milo.
Milo mengernyit, "maksud loe ??" ia pun mulai terpancing emosi, bisa bisanya gadis manis ini menganggap jika kejadian ini disengaja olehnya. Ini di luar kehendaknya.
Arial dan Erwan menahan Milo agar tidak menuruti emosi termasuk Kara,
"Mil, gue minta loe berfikir jernih, Kara salah paham sama loe," ucap Arial.
"Ra, Milo sama sekali ga tau menau masalah ini, loe tau sendiri kan Nina memang menyukai Milo."
Milo yang sudah sangat menekan egonya, melihat mata kebencian sepaket dengan kecewa teramat dari Kara untuknya. Ia menarik Kara kasar, lalu membawanya ke motornya. Tak ada mata yang meneduhkan disana, Milo benar benar kesal dengan gadis keras kepala ini.
"Gue ga mau !!! mau ngapain lagi???!!" sarkas Kara.
"Ikut atau gue cium loe di depan semua orang !!!" ancam Milo jauh dari kata ramah, malah seperti seorang baj*ing@n.
Milo memebawa motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Kara mengeratkan pegangannya.
Sebuah gedung yang baru setengah pembangunannya dan mangkir dari tempo, menjadi tempat yang biasa Milo gunakan untuk menyendiri. Bangunan rangka berlantai 9 itu berada sedikit di tepian kota. Tangan Milo tak pernah lepas dari tangan Kara, menarik Kara untuk mengikutinya.
Pikiran Kara sudah kemana mana,
"Mau ngapain kita kesini ?? apa biar lebih gampang loe bunuh gue??" tanya Kara.
"Iya !!" jawab Milo, sontak Kara langsung berontak.
"Loe udah gilaa ya !!!" jawab Kara, langkah mereka menyusuri tangga tangga yang menghubungkan antar lantai. Semak belukar tumbuh menempeli rangka bangunan.
__ADS_1
"Iya, gue udah gila. Loe takut?? sebaiknya loe pikirin lagi untuk dendam sama gue !! gue lebih rela mati dibanding harus loe benci !!" jawab Milo.
deg....Jantung Kara terasa berhenti dengan ucapan Milo.