Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Mandi bareng ??!!!


__ADS_3

Kara beranjak menuju toilet, ia melepaskan kaca matanya, dan mencuci wajahnya. Melihat pantulan wajahnya yang ayu di cermin. Kenapa ia harus menyiksa dirinya sendiri, ia tak kalah cantik dengan Juwita, percaya dirinya. Ia menatap botol air mineral dari Jihad yang belum sempat ia minum. Teringat kata kata teman teman kompornya. Kara ingin berada disana walaupun hanya beberapa detik saja. Malu ataupun tidak biar menjadi masalahnya nanti.


"Oke !!" Kara mengangguk, ia membuka ikatan rambutnya, dan merapikan dengan jarinya. Membuka kancing seragamnya satu pada bagian kerah, memasukkan kacamata bulatnya ke dalam tas. Setelah dirasa cukup rapi, ia berjalan keluar toilet, bukan tribun penonton yang ia tuju. Melainkan koridor menuju lapangan. Langkah kakinya masuk ke dalam barisan official. 2 kata percaya diri...


Raka mengangkat alisnya sebelah, "itu Caramel?" gumamnya bertanya.


"Weitsss si bar bar kesayangan mas sayang boleh juga nih, berani datang kesini !!" Erwan bertepuk tangan disahuti Arial, sontak saja semua yang ada disitu memandang, termasuk Milo yang tengah duduk menenangkan Juwita.


Senyumnya manis dan mengembang layaknya gula kapas menyihir adam yang melihat, Kara nekat juga untuk turun ke bawah menemuinya, sejak kapan ia jadi se berani ini. Ahh Milo lupa, ini gadis nya.. Kara memang gadis berani, bar bar dan pandai mendebat.


"Cieee !! ekhem ekhem !!" sorak Arial. Wajah Nina kaya makanan sisa kemarin, basi dan kecut. Baru saja bertengkar dengan Juwita sudah datang musuh lainnya. Tentunya status Kara lebih kuat disini. Milo yang terkejut berganti menjadi tatapan tajam dan kesal, ia menarik tangan Kara ka tempat sedikit tertutup.


"Kacamata mu mana? kenapa rambutnya digerai? mau tebar pesona sama cowok lain?! atau aji mumpung karena lagi disini, banyak cowok dari sekolah lain? " cerocosnya seperti petugas sensus. Belum juga mulut Kara mangap, Milo sudah mencercanya dengan keposesifan sikapnya, menjungkir balikkan mood Kara yang sudah dirancangnya. Pacar yang begini nih minta di dorong ke tengah rel kereta api.


"Ko gitu, jadi ga seneng nih aku kesini? nih cuman mau ngasiin ini doang, kali aja nanti kurang air. Soalnya air punyamu dipake buat ruqyah tuh cewek 2 !!" tunjuk Kara pada Nina dan Juwita, tau begini mendingan ga usah turun, pikirnya. Kara berbalik dan hendak kembali, tapi Milo menahannya.


"Eh, tunggu ! kamu cemburu?" tanya Milo. Laki laki ini malah berlaga naif. Kaya minta di washing otaknya, dan minta di raut kepekaannya biar lebih tajam lagi.


"Engga ! cuma mau jadi wasitnya ka Nina sama ka Juwita, kali aja sampe masuk arena tinju gara gara rebutin pacar orang!" Kara bingung menjabarkan perasaannya. Meskipun begitu, ia selalu saja memiliki jawaban yang membuat Milo mengulum bibirnya, Milo mengacak rambut yang sudah susah payah di rapikan oleh Kara meski hanya bermodal jemari tangan.


" Udah ga usah so belaga kuat gitu nanti di belakang nangis guling guling, tuh bibir dah manyun gitu tanda mau di cium depan umum. Sini minumnya aku haus !" Milo merebut botol air mineral dari tangan Kara, lalu membuka dan meminumnya. Bukankah tadi ia melihat kalau Milo sudah minum.


"Bukannya barusan baru minum ya?" tanya Kara.


"Tapi aku pengen minum air yang dikasih kamu, ini buatku kan?" tanya Milo, dan Kara mengangguk.


"Emang beda ya?? perasaan sama sama air minum !" jawab Kara.


"Beda dong, ini kan dari pacar sendiri.. berasa ada manis manisnya !!" Milo menaik turunkan alisnya menggoda Kara.


"Ohhh, " ia mengulum bibirnya, padahal minum itu Jihad yang membelikan. Ia hanya membawakannya saja. Begini nih cowok playboy cap Le mine*ral.


"Maaf baru turun kebawah, ngumpulin dulu nyali !" cicit Kara.


"Ga apa apa,makasih usah datang buat dukung ! udah sembuh? " ujar Milo. Kara melihat ke belakang badan Milo, " Udaah cuma lemes dikit, bukannya semangat karena ada dia !" tunjuk Kara memakai dagu pada Juwita.


Milo terkekeh, "Kamu 100 kali nya dia !" Milo mengajak Kara dan menggandeng tangannya menuju barisan official.

__ADS_1


"Lain kali ga usah lepas kacamatanya !" pinta Milo. Kara yang diajak sedikit menunduk malu, jika ujungnya malah diomelin kenapa juga ia harus so so kecantikan dan merapikan diri, toh Milo lebih menyukainya saat penampilannya jelek, bahkan saat Kara baru bangun tidur dan belum ke toilet pun tetap dibilang cantik, dasar cowok aneh. Semua mata melihat Kara yang baru hadir dibawa Milo, kubur saja ia hidup hidup, ingin rasanya Kara membuat lubang sangat dalam dan bersembunyi dibawahnya bersama cacing. Si pipi merona tanpa pemoles buatan ini duduk di bangku, Milo menunduk mengurung badan Kara, bertumpu tangannya di bangku samping kanan kiri Kara, menyatukan kening mereka, "kamu tunggu disini sampai aku selesai main, biar aku ga jauh jauh cariin wajah penyemangatku !" ucapnya , meskipun berkeringat aroma tubuhnya tetap harum menembus indra penciuman. Mereka bersorak melihat adegan sweet ini, walaupun kebanyakan para gadis merasa marah dan kecewa, jika idola mereka ternyata memiliki seseorang yang spesial. Dan berharap bisa menjadi Kara, patah hati berjamaah.


"Itu Kara kan !!" tunjuk Ica. Ayu mendorong bahu Ica pelan.


"Terus loe pikir siapa? artis korea?" ucap Ayu. Beda dengan Jihad yang sudah heboh.


"Wooaahhh, itu temen gue tuhhh,hohoho anak didik gue tuh...!!!! berani juga Kara turun, dah sadar ternyata !! " ucap Jihad.


"Ra, gas Ra...jangan sampai lolos, singkirin cabe cabe jalapeno !!" pekik Jihad. Milo tertawa mendengar ocehan Jihad yang memekik bak toa dari tahu bulat.


"Cihh malu maluin !" decih Kara.


"Temenmu !" gumam Milo.


Kara mendorong pelan jidat Milo, "ga usah terlalu deket, kamu bau !" padahal Kara tengah menutupi kegugupannya.


"Ya udah, aku main dulu. Do'ain aku menang ya !" ucapnya.


"Iya, semangat !" jawab Kara memberikan senyuman sejuta volt yang bisa langsung membuat Milo kejang kejang. Juwita mendekati Kara dan duduk di sebelahnya.


Rambut Milo naik turun saat berlari, membuatnya semakin kece badai. Ia kembali bertatapan dengan Ray. Rayhan teman lamanya saat di smp, pernah menjalin kasih dengan sepupu perempuan Milo. Tapi rasa cemburu akan kehidupan Milo membuat Ray menganggap Milo adalah kecoa yang harus disingkirkan, semua impian Ray, Milo selalu mendapatkannya. Ray membalas itu pada sepupunya.


"Mil, ga usah kepancing. Kalau mau kita selesaikan di luar saja !" lirih Raka, bahkan seorang Raka pun tak tahan melihat sikap angkuh Ray.


Hanya satu yang membuat Milo menahan amarahnya, seseorang yang kini sedang berada di bangku official yang tengah menatapnya, jika tidak, mungkin saat ini Ray sudah babak belur olehnya, lapang basket tempat bertanding pun sudah berubah jadi arena gulat MMA. Pertandingan dilanjutkan, Milo kembali menyemangati teman temannya, dan mengatur strategi, mengalahkan Rayhan dan timnya bukan perkara sulit baginya, ia sudah mengetahui basic permainan Rayhan sejak dulu.


Kembali tim Milo mengambil alih permainan, ia mendominasi beberapa shotting shotting epic. Menambah poin poin triplenya. Rayhan merasa terpojok, tak perduli apapun caranya, sekolahnya haruslah menang.


Rayhan menyenggol Milo,


"Gimana kalo gue sebarkan kalo sepupu loe itu udah ga perawan sama gue !!" bisiknya. Milo melempar bolanya ke arah Kean yang berada di dekatnya, dengan mata yang tak melihat, tapi bola itu tersampaikan.


"Loe mau ancam gue??" tanya Milo, "sebaiknya loe pikir pikir dulu, " Milo berlari sambil menyeringai, menatap Kara dengan wajah yang menyejukkannya, seakan peredam amarahnya.


"Si*@l !!! loe berdua ga bisa jagain Erwan, cuma curut satu gitu aja loe berdua ga bisa !!" bentak Ray pada kedua teman lainnya. Melihat Erwan yang lolos dari cekalan kedua temannya dan mengoper bola pada Raka hingga Raka dapat mengeksekusinya dengan baik, skor semakin menjauh.


"Go Milo !!! Go Raka !!! Go SMA xxxxx" pekik Juwita. Kara meringis, telinganya sedikit berdengung mendengar teriakan Juwita di sebelahnya. Sudah cocok jadi pemimpin demo mahasiswa, atau jadi tukang baju di T*anah Ab*ang, pikir Kara.

__ADS_1


"Eh iya, loe Caramel kan?? gue Juwita !!" Juwita mengulurkan tangannya, Kara melihat lalu membalas uluran tangan Juwita.


"Iya, ka !" jawabnya singkat.


"Udah lama deket sama Milo?" tanya nya, pertanyaan pertanyaan ini apakah usaha Juwita untuk mendekatinya, jangan jangan seperti adegan di film yang pernah ia lihat di tv, jika si calon madu sedang mengambil hati si istri tua.


"Engga juga, semenjak masuk sekolah aja !" jawab Kara.


"Loe mungkin bingung belum pernah liat gue, gue abis ijin cuti ke luar kota, nyokap sakit !" jelasnya.


"Ga nanya !" batin Kara berbanding terbalik dengan ekspresinya yang tersenyum menjadi pendengar yang baik.


"Milo tuh baik ko, dia tanggung jawab, dia juga orangnya kocak seperti yang loe liat ! ya walaupun orang orang taunya dia cool dan terkesan jutek !" Apa harus Kara juga menyebutkan satu persatu sifat Milo yang ia tau, sebagai tanda kalau ia pun mengenal Milo. Apa gadis ini tengah memuji Milo di depan pacarnya.


"Oh, kaka udah lama kenal sama ka Milo?" tanya Kara.


"Banget, sejak kecil !" jawabnya tersenyum, tak tau kenapa rasanya itu seperti ginjalnya di cubit cubit.


"Lama juga ya !" jawab Kara.


"Iya, malah pernah mandi bareng juga !" kekeh Juwita mengingat masa lalu, layaknya moment moment manis yang sayang dilupakan.


"Hah??!!" Kara terkejut, dadanya terasa sesak, sedekat itu mereka. Lalu disebut apa Kara diantara mereka?? cicak cicak di dinding ?? atau cuma nyamuk yang nemplok terus tinggal tunggu di tabok??


Semangat 45 yang telah berkobar langsung padam dan mengepulkan asap kekalahan kala Juwita menyiramnya pake air got.


Apa harus Kara menyerah di kala ia baru saja mengibarkan bendera, untuk mempertahankan miliknya. Di tengah kegalauan Kara, Juwita malah sedang asyik asyiknya menceritakan kedekatan mereka pada Kara, tak melihat jika gadis di sampingnya ini sudah hampir menangis meraung raung. Kara tak fokus menyaksikan pertandingan ini. Yang ia tau dan dengar semua sudah bersorak kegirangan merayakan kemenangan tim basket sekolahnya. Bahkan di tengah lapang sana, Milo sedang berselebrasi dengan teman satu tim basketnya dan official tak lupa tim cherrs juga, Kara ikut senang.


Milo berlari dan menyongsong Kara, karena terlalu semangat dan senang, ia sampai memeluk dan mengangkat tubuh Kara, memutarnya.


"By, menang by !! makasih ya udah ada disini !! kehadiran kamu sangat berarti !!" ucapnya tertawa. Kara sontak terkejut dan menepuk nepuk pundak pemuda ini.


"Sayang, udah !! malu !!! nanti aku jatuh !" pekik Kara. Ada segaris senyuman di sana mslihat keduanya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2