
Kara dan Ica sudah sibuk memilah milih cemilan,
"Ca, jangan yang itu !!" tepis Kara.
"Napa Ra?" Ica manyun.
"Jangan terlalu banyak makan gorengan juga, kolesterol Ca !" Kara menyimpan gorengan yang sudah dipilih Ica.
"Itu kesukaan gue, Ra !!" menatap nanar bakwan udang yang masih hangat. Kara menjiwir kerah baju Ica layaknya anak kucing, membawanya kembali ke tempat duduk.
"Kenapa nih anak Ra?!" tanya Ayu, melihat Ica manyun.
"Ini jajannya jorok banget, segala masuk !! gorengan mulu !" kritik Kara, tak tau saja Ica, jika temannya ini pakar kesehatan pribadi Milo.
"Trus masa gue jajannya jus doang Ra !" omelnya.
"Loe kan bisa pesen nasi goreng kek, atau roti bakar kek, biar loe kenyang !!"omel Kara, Ica mengangguk paham, Jihad dan Ayu tertawa, jika pasal makanan Kara memang selalu memperhatikan, setidaknya jika hidup melarat harus bisa jaga kesehatan, biar ga keseringan masuk RS di masa tua.
Akhirnya pilihan Ica jatuh pada roti bakar.
"Padahal enak tuh Ra, pakein saos !!" ucap Ica.
"Ga usah banyak timbun sampah Ca, itu perut bukan tong sampah ! sekali kali boleh tapi jangan keseringan !" jawab Kara, Kara memang mungil tapi setidaknya ia sehat. Milo dan kawan kawan duduk, di meja dimana Kara dan teman temannya berada.
"Tumben Ca, biasanya kalo ga keripik pedes, gorengan ?!" tanya Arial.
"Tuh !! ada bu dokter !" tunjuk Ica dengan dagunya pada Kara.
"Cocok !!" setuju Milo, yang sudah kena omel Kara sebelumnya gara gara keseringan makanan kantin, Kara mengeluarkan bekalnya, dan menyimpan di depan Milo, sudah seperti anak Tk saja. Baru juga duduk dan ingin menyantap makannya, Firman masuk ke kantin untuk memanggil Raka dan Kara.
"Sorry, Ka. Gue ganggu bentar, loe sama Kara dipanggil bu Mira !" ucap Firman.
"Oh oke thanks Man, "
"Oh oke !" jawab Kara.
"Sayang makan aja dulu sendiri !" Milo mencebik kesal, dirinya seperti orang ketiga diantara Raka dan Kara. Apalagi dari matanya Raka dan Kara tampak berjalan serasi. Mood nya sudah menguap ke atas awan untuk makan.
"Kean, bilang Jo gue dateng malam ini ! gue pasang 1 juta !" ucap Milo.
"Loe yakin Mil ?!" tanya Kean.
"Sangat yakin, nanti gue transfer duitnya !" jawab Milo.
Jihad menghela nafas lelah, seraya menggelengkan kepalanya. Saling menatap dengan Ayu.
"Ada apa sih?!" Ica kebingungan.
"Tuyul ga usah kepo, makan aja !" jawab Jihad. Ica mendengus, "Gue tuyul, loe buto !"
"Mana ada tuyul makannya banyak banget, " kekeh Arial.
"Gue tuyul cantik ka Rial !" jawab Ica tersenyum manis.
"Dih so manis si tuyul !" decih Jihad.
Keberangkatan Kara dipercepat, karena ternyata sebelum lomba dimulai Kara harus sudah disana untuk mengonfirmasi pendaftaran.
"Besok kita berangkat," ucap bu Mira.
"Tiket, dan fasilitas sudah ditanggung sekolah !" lanjut bu Mira.
"Baik bu, " jawab Raka, Kara, Titis dan Firman. Titis adalah teman senagkatan Raka, satu kelas dengan Firman.
"Tis, nanti loe gue jemput aja !" ucap Firman, Titus, Tisya Syahputri.
"Siapkan otak, dan good luck Ra, Tis !"
.
.
Kara berjalan bersama Raka, ia merasa galau, "aduh, gue ngomong sama ka Milo gimana ya Ka??" tanya Kara.
__ADS_1
"Ngomong aja baik baik !" jawab Raka. Tau sendiri kemarin saja, pemuda itu tau Kara akan pergi, malah ingin menyusul, apalagi sekarang dipercepat. Keberangkatannya dimajukan.
"Oke deh, " Kara menarik nafas panjang.
"Gue duluan ya Ka, " pamit Kara ingin mencari Milo. Raka mengangguk "Milo beruntung dapetin loe, Ra !"
"Sayang, " sapa Kara melihat Milo masih berada di kantin dengan yang lainnya. Melihat wajah Milo yang suntuk, Kara mengajaknya untuk bicara berdua.
"Sayang, bisa ikut aku sebentar !" ajak Kara.
"Dih tumben banget, manisnya temen gue !" omel Ica.
"Dari dulu kali, Ca !!" kekeh Kara.
Milo sebenarnya melayang dengan sikap manis Kara, tapi ia pun curiga.
"Coba kaya gitu lagi !!" pinta Milo saat keduanya tengah jalan berduaan, dengan Kara yang menggelayuti lengan Milo. Kara mencebik, tapi tak urung melakukannya.
"Sayanggg !!" sambil mengedip manja, membuat Milo tertawa.
"Ada apa by ?" tanya Milo duduk di sebuah bangku gazebo.
"Sayang janji ga akan macem macem??" Kara menunjukkan jari kelingkingnya, membuat Milo mengernyitkan dahinya.
"Apa?" tanya nya.
"Janji dulu !" pinta gadis manis ini.
"Oke, "
"Jadi gini mas sayang, keberangkatan ku buat olimpiade dipercepat, " Milo hampir saja melepaskan jari kelingkingnya, tapi Kara menahannya.
"Apa?! ga bisa gitu dong, kita belum ngabisin waktu bareng !" jawab Milo.
"Kaya mau berangkat jadi tkw aja ! cuma 4 hari juga !" omel Kara, gadis manis berubah lagi jadi penggerutu.
"Oke, terserah ! " jawab Milo, dibalik kata terserah ada sesuatu yang Kara tidak tau.
"Jangan marah ya, janji !!! aku ga bakal macem macem !!" ucap Kara.
" Coba buktiin janji kamu ??!" pinta Milo, mungkin Milo sudah berlebihan, tapi hatinya sudah diliputi rasa kesal, kesal pada mulut netizen yang membandingkan dirinya dan Raka, kesal dengan keputusan sekolah yang memuluskan jalan keduanya untuk sering bersama, padahal ayahnya adalah komite sekolah, tapi tak mungkin hanya masalah sepele begini, ia harus sampai terlibat.
"Gimana caranya?" tanya Kara mengerjap lucu.
"Kiss me !" pinta Milo. Kara membelalak, jangankan mencium Milo menggelayutinya begini saja bak gadis gadis haus akan kasih sayang ia sudah demam.
"Hah??!" Kara menganga. Dengan wajah angkuhnya Milo bertanya, "kenapa?" tanya nya.
"Seriusan?!" tanya Kara. Milo mengangguk, Kara menghela nafas banyak banyak, ia celingukan layaknya maling kotak amal.
Kara memajukan wajahnya dan mengecup pipi Milo. Tek terlalu lama tapi mampu membuat Milo melayang, jangan ditanya jantung Kara, rasanya jiwanya sudah dicabut dari raganya oleh malaikat Izrail.
"Udah kan?" tanya Kara.
"Janji ga macem macem, ga usah terlalu akrab sama Raka !" ucap Milo.
"Iya, " jawab Kara cari aman saja. Inilah Milo kekasihnya dengan sejuta perintah, dan invasi. Kara berdiri, bel masuk sudah berbunyi. Tapi tiba tiba Milo menarik tangannya dan memeluk gadis ini.
"Semangat by, good luck !" ucapnya.
"Iya, tapi meluknya jangan kekencengan, aku sesek !" cicit Kara, membuat Milo tertawa kecil, dan semakin mengeratkan pelukannya, seakan tak ingin melepas Kara.
.
.
.
Kara membereskan barang barang yang perlu ia bawa,
"Awas ada yang kelupaan !" ibu masuk dan duduk di tepian ranjang.
"Engga bu kayanya !" jawab Kara.
__ADS_1
"Hati hati disana, berusaha semaksimal mungkin, ibu do'ain yang terbaik buat Kara !" Kara meraih tangan ibunya, dan membawa ke pipinya.
"Makasih bu, Kara takut kalah bu, " jawab Kara.
"Kara sudah bisa mewakili dan ikut bertanding saja ibu dan ayah sudah bangga ! semua bangga sama Kara, kalah menang bukan soal, yang penting Kara sudah berusaha !" Kara memeluk ibunya,
"Tok...tok..tok....!"
"Bu, ada tamu !" ucap Kara.
"Iya, biar ibu yang buka ! Kara selesaikan saja beres beresnya," ibu berjalan menuju pintu depan.
Tiba tiba terdengar suara petikan gitar dan orang bernyanyi, dari arah depan.
"Masa iya, jam segini orang ngamen !" gumam Kara. Ia mengambil uang logam recehan di atas meja tv, bermaksud memberikannya.
"Bu, ini Kara ada uang receh...." Kara menganga, melihat lelaki yang ia kenal di depan sedang bernyanyi sambil gitaran.
Ibu mengulum bibirnya ingin meledakkan tawanya,
"Anak ganteng gini dikira pengamen, " gumam ibu.
Milo tersenyum lebar memberikan sekuntum mawar untuk Kara.
"Makasih !" Kara menghirup aroma bunga.
"Semangat ya by, jangan mikir kalah menangnya," ucap Milo.
"Ya udah, ibu masuk aja. Mau cari ayah !! jadi kepengen di nyanyiin juga !" ujar ibu. Kara jadi salah tingkah, sekaligus ingin tertawa, karena tak mengenali suara pacarnya sendiri.
"Dikirain pengamen !" seru Kara tertawa. Milo mencubit pipi Kara.
Kara duduk di kursi depan, melihat penampilan Milo, "mau kemana yank?" tanya nya.
"Ini by, aku lagi ada perlu setelah ini," ucap Milo. Kara berohria.
"Jangan pulang malem malem, " ucap Kara.
"Iya by, "
"Mau kemana sih? rumah ka Raka? ka Kean? " tanya Kara.
Tapi Milo menggeleng, tak ingin memaksa, sekalipun ia sangat penasaran, Kara hanya mengangguk dan mengucapkan oh saja, ia tidak akan mengganggu privasi Milo.
"Hati hati yank, akhir akhir ini banyak anggota genk motor yang keliaran, pada balapan liar, bikin resah warga ! aku takut kamu diapa apain, kalo bisa jangan sendirian !" ucap Kara, sontak tamparan keras untuk Milo.
"Semenakutkan itu ya?" tanya Milo. Kara mengangguk.
"Sebenernya apa sih yang ada di otak mereka, mbok ya kalo anak muda itu, belajar yang bener, ga usah banyak gaya, kalo emang mau balapan kan ada tuh jalur balapan yang legal. Kadang anak anak gitu tuh ujungnya suka kriminal ! aku ga suka !"
Deg....
Milo terdiam seketika. Melihat wajah Kara yang tidak bersahabat saat mengucapkan ketidaksukaannya, membuat Milo semakin takut untuk jujur.
"Kalo seandainya aku salah satu diantaranya?" tanya Milo pada Kara. Gadis itu menoleh dan mengangkat alisnya.
"Ga tau, mungkin aku bakal ruqyah kamu, biar set*@n nya pada keluar dari otak kamu !" jawab Kara ngasal.
"Kalo sudah hobby dan susah keluar?" tanya nya lagi.
"Kalo gitu siap siap aku atau hobby kamu yang mundur !" jawaban Kara membuat Milo tersentak.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1