
"Sayang, kita beli buah buahan dulu buat papah kamu, oh iya..papah kamu suka apa?" tanya Kara.
"Papah mah apapun suka, tapi kalo kue, papah tuh suka sama kue kue jajanan tradisional, " jawab Milo.
"Ahh, aku tau toko kue yang enak ! mampir dulu ke toko kue yang di perempatan sana ! " tunjuk Kara.
"Kamu ga tanya, aku sukanya apa?? masa papah doang yang kamu tanya !" seakan tak mau kalah saing oleh orang sakit.
"Aku tau kamu kaya aku, suka jus jeruk, nasi goreng, eh engga deh..kamu mah apapun suka, apapun dimakan !" jawab Kara berseru. Milo menggeleng, "salah !"
"Terus??!" Kara bengong. Setaunya memang Milo menyukai makanan itu.
"Kamu," jawab Milo. Kara memutar bola matanya malas. Siang siang sudah disuguhi gombalan buaya campuran ayam kampus.
Mobil Milo berhenti di sebuah kios buah buahan pinggir jalan, yang tak jauh juga dari toko kue. Cuaca terik siang ini, sepertinya tak mengganggu Kara. Gadis ini sudah terbiasa dan bukan hal yang besar untuknya. Milo melihat Kara yang telaten memilih buah buahan, hingga membaui nya. Bibit bibit emak emak kompor mleduk. Yang kalo beli buah sekilo, milihnya bisa sampe 2 jam.
Milo menyerahkan sejumlah uang pada Kara, Kara mengangkat alisnya sebelah.
"Apa?" tanya Kara.
"Buat bayar buah," jawab Milo. Kara mendorong tangan Milo pelan.
"Kamu pikir aku ga punya duit ? kalo kamu mau beli juga buat papahmu silahkan, tapi kalo aku..pake uangku sendiri. Kalo pake uangmu, judulnya kamu yang kasih, bukan dariku !" jelas gadis ini. Kemudian mereka masuk ke dalam toko kue.
Kara memilah milih beberapa jenis kue yang menurutnya enak. Sedangkan Milo mengambil satu kue cheescake berukuran kecil, berhiaskan strawberry dan coklat diatasnya. Ia membayar dan membawanya diam diam tanpa sepengetahuan Kara.
"Udah??" tanya Milo.
"Udah ! yu ke rumah sakit !" ajak Kara.
Dengan satu paperbag dan keranjang buah di tangannya, Kara bersemangat menemui pria paruh baya yang tengah terbaring di rumah sakit ini.
Ceklek...
"Assalamu'alaikum om, " sapa Kara, pada papahnya Milo, yang tengah serius menatap layar laptop.
"Waalaikumsalam, eh ada si cantik kesayangan om," jawabnya mengesampingkan laptopnya dari pangkuannya.
"Papah ngapain? kerjaan biar jadi urusan Milo pah," Milo menyimpan tas dan tas milik Kara di sofa. Tak suka jika ayahnya masih saja memikirkan pekerjaan di tengah sakitnya.
"Hanya mengecek saja, Mil. Kali aja kerjaanmu ga beres !" kekehnya.
"Hemm, orang sukses beda ya om. Kalo kaya Kara sih, kalo sakit justru jadi ajang buat santai sama rebahan ! " jawab Kara jujur.
"Om gimana kabarnya?" tanya Kara menyimpan kue dan buah buahannya.
"Ko, om ? "
"Iya papah, asikk... Kara punya papah baru ! papahnya ganteng lagi, lebih ganteng dari anaknya " kekeh Kara salim. Wajah om Braja terlihat terhibur dan senang dengan kedatangan Kara. Lihatlah kini Milo, yang jadi bahan godaan Kara dan papahnya, sudah memanyunkan bibir seperti si donald.
"Alhamdulillah sudah baik. Papah sehat ko, dokter saja yang lebay. Masa orang sehat gini harus dirawat !" jawabnya, sudah tak sabar ingin pulang.
"Duduk by,"
"Iya, udah bisa nyalahin dokter berarti udah sehat nih !" Kara duduk di kursi yang sudah dibawa Milo untuknya.
"Pah, sudah makan?" tanya Milo.
"Nah, ini dia dokter lain, yang lebih galak Ra, " bisik om Braja, sontak Kara tertawa.
"Galak banget pah, Kara aja sampe mau diterkam kalo deket deket orang lain !" jawab Kara berbisik. Kedua orang lintas generasi ini tertawa, sedangkan Milo sudah cemberut dan berasap dari tadi.
"Lucu banget sih kalo cemberut, kaya boneka santet !" Kara mencubit gemas pipi Milo, celotehan Kara tak hentinya membuat om Braja tertawa.
"Pah, tadi Kara ada bawa kue sama buah, mau coba ga?? katanya papah suka kue kue tradisional, sama kaya Kara dong kalo gitu !" seru Kara membuka paper bag dan kotak berisi kue. Tangan itu telaten mengupas buah dan bungkusan kue.
"Wah, suka banget. Tapi jadi repotin nih !"
"Papah mau yang mana? kalo saran Kara sih yang ini dulu coba deh ! Kara juga suka !" tunjuk Kara.
"Oke papah coba ! tapi mau disuapin Kara, " pinta om Braja merengek. Sontak Milo melotot.
"Pah, apaan sih ?!" sewotnya.
"Wahhh ! cowoknya marah ya Ra ?!" kekeh om Braja menggoda putranya.
"Nah kan, papah liat kan, kalo Kara suapin papah jangan bilang bilang ya sama pacar Kara ! nanti bisa bisa dunia ancur ! " bisiknya menggoda Milo.
"Diapain tuh ?!" tanya om Braja.
"Di grogotin kaya rayap !" kekeh Kara.
"By, bukan bilang lagi..aku liat ! bukan di grogotin, aku bejek bejek ! " jawab Milo.
"Ya udah ga apa apa, aku bisa makan sendiri ! awas aja kalo keluar dari sini ! aku gandeng kamu ke pelaminan !" ucap Milo jumawa.
Interaksi Kara dan om Braja tampak manis seperti ayah dan anak, Milo dapat melihat itu. Kedatangan Caramel di hidupnya memberikan kebahagiaan, bukan hanya untuknya tapi untuk papahnya.
"Manis kan pah?? kaya Kara ngga?" tanya Kara tertawa.
"Manis, tapi lebih manis calon menantu papah ini !" Kara tersenyum.
"Terimakasih Kara, sudah repot repot kesini !" ucap om Braja memegang tangan Kara dan mengusap bahunya.
"Sama sama pah, jangan bilang bilang pacar Kara ya pah, takut nanti dia ngacak ngacak tong sampah kalo tau Kara deket deket cowok lain !"
"Bukan cuma tong sampah by, kalo perlu rumah sakit ini ku acak acak !" jawab Milo dari belakangnya.
"Siap ! uhhhhh galaknya pacarnya Kara ! " jawab om Braja.
Seorang suster memberikan obat siang pada om Braja. Beberapa butir obat sudah masuk ke dalam perutnya.
__ADS_1
"Kalian sudah makan? makanlah dulu, jangan sampai sakit. Kara ajaklah Milo makan, dia susah buat disuruh makan. Bilangin juga jangan terlalu memforsir tenaganya !" pinta om Braja, Kara mengangguk.
"Sayang, makan dulu yu !" ajak Kara.
"Kamu lapar by ?" tanya nya, Kara mengangguk.
"Ya udah aku anter kamu ke kantin ya !"
"Ko anter, barengan lah ! aku mau makan bareng kamu !" pinta Kara memaksa, tak mendengar dahulu jawaban Milo, Kara langsung saja menggandeng pemuda ini keluar.
"Belum jawab udah main gandeng aja !" kekeh Milo.
"Siapa gurunya? Armillo Dana Aditama !!" seru Kara.
Kara menggandeng Milo dan makan bersama di kantin.
"Aku mau disuapin !" pinta Milo.
"Dih, bocah !"
"Kamu yang maksa aku buat makan kan? kamu harus ikutin mau aku !" jawab Milo bersidekap.
"Ck, iya bawel !"
"Masa papah aja kamu suapin terus aku??" rupanya Milo ingin membalas yang tadi.
"Oh iya, tunggu sebentar !" Milo ke basemment lalu mengambil paper bagnya.
"Perfect !" gumam Milo.
Milo tersenyum melihat gadis yang masih duduk di kursi kantin RS. Milo membuka kotak kue lalu menyimpan kue cheescake berukuran mangkuk baso itu.
"Happy 5 months !!" ucapnya, menaruh nya di depan Kara. Gadis itu mendongak dan terkekeh kecil.
"Masa sih??!!" tanya nya tak ingat, rasanya baru kemarin mereka memutuskan untuk menjalin suatu hubungan.
"Iya kalo diitung dari kata deal itu !" jawab Milo.
Lucu sekali kue cake itu bertuliskan kata love you, juga strawberry dan coklat di atasnya.
"Makasih," jawab Kara.
"Tapi aku ga punya apa apa buat kamu," sesal Kara.
Milo menggeleng, "kamu sudah memberikan semuanya buatku, itu semua ada di kamu !" jawab Milo.
"Hmm, ga usah gombal siang siang. Perutku udah kenyang !" jawab Kara.
"Kalo bisa aku mau bikin kamu sampe gumoh saking kenyangnya makan gombalan ku !" tawa Milo.
.
.
"Siap nyonya Milo !" jawab Milo.
Kara ingat, di kantin sekolah tadi ia membeli sebatang coklat, tidak mahal dan besar, memang. Ia merogoh tasnya, lalu mengambil coklat kecil berbungkus ungu itu.
"Met 5 months sayang !" seru Kara tertawa, Milo mengangkat kedua alisnya,
"Ga mahal sih, cuma coklat murah !" jawab Kara.
Milo meraihnya lalu menarik Kara dan memeluknya.
"Thanks, aku sayang kamu by, " ucap Milo.
"Sayang kamu juga," balas Kara.
.
.
"Kaki kamu udah ga apa apa kan?" Sudah beberapa hari yang lalu, Kara sudah melepas perbannya.
"Ga apa apa, udah baikan ko.." jawab Kara.
"Mil !! buruan rapat !" pekik Kean.
"Iya ahh ! ntar gue nyusul !"
" Baby, istirahat barengan Ica sama Ayu aja dulu ya, Bang Raka maksa rapat mulu !" ijin Milo.
"Oke, "
"Ya udah, aku pergi dulu !" Milo mengusap pipi Kara dengan jempolnya, dan Kara kembali ke kelasnya.
Ujian sudah berjalan 3 hari dan hampir segera berakhir.
"Loe liburan mau kemana?" tanya Ayu.
"Hah, palingan ngajakin ke Ancol doang liat aer, atau ga Ragunan liat buyut !" jawab Ica ditertawai Kara. Wajah memelasnya, menandakan rasa malas Ica.
"Dasar manusia yang ga bersyukur, nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan wahai hamba kurang asem !" jawab Kara.
Ayu tergelak, "au, nih ! mestinya tuh loe banyak banyakin bersyukur, masih bisa liburan tanpa mikirin biaya hidup. Ga kaya gue yang mesti kerja banting tulang !" jawab Ayu, tapi tak ada raut kesedihan di wajah manis Ayu, ia melakukan semuanya dengan ikhlas.
"Tuh, dengerin bu ustadz ngomong !" timpal Kara.
"Gue bukannya ga bersyukur girls, gue mah ga apa apa, ga pergi. Lah ini.. gue pergi barengan keluarga besar pake mobil bak terbuka yang isinya kaya angkot 75, udah gitu.. disana malah jadi baby sitter nya ponakan ponakan gue yang nakalnya naudzubillah ! kalo bukan ponakan, udah gue lelepin ke laut, kalo ngga udah gue empanin singa !" dumel Ica, sontak Kara tertawa bersama Ayu.
"Rame ya kayanya keluarga loe Ca ?!"
__ADS_1
"Bukan lagi rame, Ra. Bikin malu, orang pergi liburan kaya mau pergi takziyah, rame rame alias keroyokan, di rumah juga tiap hari ribut terus, bikin pala pusing. Gue tuh pinginnya liburan bareng temen temen gitu, seumuran sama gue, bukannya malah momong bocil kaya emak emak kurang piknik, sambil cekikikan pas kaki kena air laut. "
"Tuh kan ciri ciri orang kufur nikmat nih !" tuduh Kara.
"Jadi liburan kali ini, loe berencana buat ga ikut ?" tanya Ayu.
"Kayanya gue pengen di rumah aja, dengan dalih mau ke rumah kalian aja !" jawab Ica. Jika Ayu sudah dipastikan bekerja.
"Pas Ayu libur, jalan bareng yu girls !" ajak Ica.
"Boleh," jawab Ayu.
"Ayo aja, kalo dapet ijin !" semua orang tau Milo seperti apa.
Jihad yang baru selesai rapat OSIS masuk ke kelas.
"Wan Kawan...!!! minta perhatiannya bentar !" ucapnya lantang di depan kelas.
" Setelah ujian berakhir, masih ada masa tenang, atau biasanya kita sebut hari jeda. OSIS dan pihak sekolah mengadakan pekan olahraga, maka setiap kelas, wajib menyumbangkan tim nya !" ucap Jihad.
"Bentar Ji, tim apa dulu nih ?!" tanya Kara, diangguki yang lain.
"Kalo tim mukbang, Ica jagoannya !!" Kara menepuk nepuk pundak Ica.
"Ntar gue yang adain kalo itu, ngadain mukbang nasi kemaren !" jawab Jihad.
"Sat !! dikira gue ayam tetangga, makan nasi kemaren !" omel Ica.
"Voli, Futsal cewek cowok, sama basket,"
"Terus kapan Ji, diselenggarakannya?" tanya Topan.
"Minggu besok, setelah beres ujian ! jadi guru guru sibuk menilai dan ngisi rapot. Nah siswanya ngadain porak !"
"Putu, nanti catat ya setiap timnya ! terus kasih ke gue, buat seterusnya gue daftarin ke pihak OSIS !" pinta Jihad, Putu mengangguk.
"Hadiahnya apa Ji?" tanya Ica.
"Kalo cuma buku pensil gue ogah ahh, udah banyak hadiah dari lomba 17an taun kemaren !" jawab Ica.
"Kalo gitu khusus buat loe gue kasih paket liburan ke kandang buaya !" jawab Jihad.
"Kamvreeett ! serius bambankkkk !"
"Ntar ada hadiah dari sekolah, sama khusus dari OSIS, supported by Armillo dan cs nya !" jawab Jihad.
"Uhhhh, pasti bombastis deh !" jawab Ica.
"Ra, kaki loe udah ga apa apa kan?" tanya Jihad.
"Aduh, mendadak kaki gue ngilu, nyut nyutan lagi Ji, " Kara meringis, padahal jelas jelas pemuda itu melihat kaki Kara sudah tak apa apa.
"Ga usah ngeles, ucapan adalah do'a !" Kara nyengir.
"Kalo buat tim voli putri, gue rasa disini banyak anak yang ikut ekskul voli, Amel ! bentuk tim voli ya !" pinta Jihad.
"Siap, Ji !"
"Futsal cewek biar gue yang bentuk !" tawanya jahat.
.
.
Kara dan Ica menganga, tak sangka si titisan nyi Blorong memasukkan nama mereka ke dalam tim futsal putri.
"Loe yang bener aja Ji !" sarkas Kara.
"Wah, minta di sleding nih anak !" ucap Ica.
"Udah terima nasib aja, gue juga masuk ko, masuk tim voli juga malah guys !" ucap Ayu.
"Loe berdua ga bisa basket kan? kalo cuman nendang bola doang pasti bisa kan?" Jihad menaik turunkan alisnya.
"Gue ga bisa ahh ! bisanya nendang kaki oramg, Ji ! gue ga suka olahraga ! ayolah Ji !" rengek Kara.
"Ck, pasti bisa Ra ! Ayu masuk lagi ko !"
"Ayu masuk?" tanya Ica.
"Elah Ca, tadi kan gue udah ngomong !" kesal Ayu pada Ica yang harus mengulang lagi.
"Iya, Ayu malah masuk voli ma futsal kaya Amel sama Vanya !" jawab Jihad.
"Futsal itu 5 orang, nah loe berdua tambahannya ! kalo yang lain basket putri !" ucap Jihad.
"Tapi Ji, gue ga tau aturannya !!" ucap Kara diangguki Ica.
"Kalo loe berdua mau ikut, gue kasih liburan gratis di hotel om Braja yang gue pegang deh..!" tawar Jihad.
"Hah??! beneran??!" seru Ica.
"Kapan gue pernah boong Ca, "
"Ayo Ra, ikutan Ra !! gue bosen ke Ancol !" rajuk Ica.
"Ya udah, gue ikut !" jawab Kara.
.
.
__ADS_1
.
.