
Tas besar layaknya backpacker, orang yang hendak camping ke gunung sudah siap. Padahal semua sudah dipersiapkan di sekolah elite itu.
Kara menunggu jemputan pribadinya, disaat sibuk seperti ini sudah dipastikan Iwan lah yang akan menjemputnya.
"Ka Iwan makasih ya, udah mau jadi jemputan pribadi, hehe !" Kara terkekeh.
"Sama sama, lagian sebanding juga sama upahnya, hahahaha !" jawab Iwan.
Jika sedang mode senior junior begini, Milo dan Kara selalu profesional, tak pernah mencampur adukkan hubungan pribadi mereka.
"Sutt, Ca ! senior galak, kaya lagi bilang watch me !" bisik Kara menunjuk Milo dengan dagunya.
"Bukan Ra, gue lahap loe, katanya" keduanya cekikikan, ghibahin orang di belakang memang mengasyikan, keduanya mengakui itu, terlebih itu kekasihnya sendiri. Dan percayalah keduanya kini memang berada di barisan paling belakang. Ban motor Iwan kempes terpaksa ia harus menambalnya tadi, sedangkan Ica tadi kebablasan tidur siang. Matahari mulai condong ke barat, kira kira mereka berkumpul pukul 3 sore.
"Gue colok mata loe !" kikik Kara. Selama ini mereka jarang berghibah tentang Milo seperti siswi yang lain.
"Loe berdua, ngapain cekikikan ?!" tanya Jihad dari samping kanan sebagai anggota OSIS dan pengamanan.
"Apa? cuma ketawa aja !" ucap Ica mencebik.
"Ampun suhu !" Kara membungkuk, sekarang mereka sedang menjadi junior yang mengesalkan.
"Udah kaya mos lagi ya Ra ?!" tanya Ica, Kara mengangguk.
"Padahal cuma lagi memperingati hari pramuka se Indonesia. Kalo berbau camping dan kegiatan begini, selalu terselip mode senioritas.
Milo dan kawan kawan memakai pakaian pdl dan t shirt, karena pramuka dipakai saat upacara besok pagi.
"Gue mah mau ka Raka, Ra ! ka Milo juga boleh. Badannya wes..wes...nyamuk aja betah rebahan disana !" bisik Ica, Ayu terkikik.
"Hahahah, gue mah mau daddy kita tercinta aja, kalo engga ka Erwan juga hawt !" jawab Kara.
"Emoh lah, nyi blorong mah galak !"
"Gue mah ka Arial aja lah !" jawab Ayu.
"Kalian bertiga mau ngomong disitu apa di depan ?" tanya Raka.
"Nah kan mamposss loe tetot !" ujar Vanya.
"Siap, engga kak !" jawab Kara.
"Katanya siap tapi engga Ra, gimana sih ?!" tanya Ica bingung.
"Sue anj*ayyy, pusing deh gue kalo nobita ikutan ngomong !" jawab Ayu.
" Loe bisa diem ga dudul !" bisik Kara menggertakan mulutnya. Milo sebenarnya ingin tertawa, memacari duo sengklek.
Akhirnya, hanya 45 menit mereka kini sedang mendirikan tenda di lapangan.
"Halah kalo masang kaya begini doang mah kecil !" jawab Ica.
"Masaaa ?!" Kara tak percaya. Satu tenda terdiri atas 5 orang, Kara masih dengan grup putrinya.
"Nih liat anak pramuka, mau unjuk gigi !" Ica memegang salah satu tali untuk di pasangkan di paku yang sudah ditancapkan dan disediakan oleh OSIS.
"Oke guyssss, mundur master mau beraksi !" ucap Kara.
Dengan kepayahan Ica memasangkan tali. Namun karena tangannya yang licin tali itu malah lepas, alhasil tenda malah hancur.
"Ica !!!!" pekik mereka.
"Sorry, sorry guys ! kesalahan teknis !"
"Gimana sih Ca, malu maluin aja, mana gue udah bilang master lagi !" omel Kara.
Di sudut sana Milo cs sudah tergelak melihat ulah Ica dan Kara.
"Loe berdua ga salah pilih cewek kan ?!" tanya Arial pada Milo dan Jihad. Milo menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan kekonyolan Kara. Ia menghampiri dan membantu.
__ADS_1
"Sini aku tolong, " Milo meraih tali dari tangan Kara. Milo berjongkok wajahnya tersorot matahari senja.
"Uhh kerennya !" bisik Amel.
"Makasih kaka !" Kara terkekeh.
"Sama sama sayang, " bisiknya di telinga Kara membuat Kara blushing, mereka sudah lama berpacaran, dan sering melewati moment romantis, tapi Kara selalu blushing dengan perhatian perhatian kecil.
"Muka mu merah by, " Kara melotot menatap tajam bak elang, sementara Milo terkikik sambil berlalu.
Sambil menghabiskan sore, mereka menyiapkan makan malam dibimbing guru guru.
****************
Kara sudah memakai kuvluk di kepalanya, malam malam di luar begini memang dingin. Besok aktivitas fisik dimulai.
"Ca, Ra siapkan mental dan tenaga. Besok kita pbb, dan acara pramuka lainnya !" ucap Ayu, jangan ditanya Ica dan Kara sudah hampir hampiran terjungkir karena ngantuk, mereka saling bersandar. Kara bersandar di pundak Ayu, sedangkan Ica di pundak Kara.
"Loe berdua ko bisa sih dimanapun ngantuk ?!" jika keduanya sudah setengah watt, tak peduli dimanapun beda halnya dengan Ayu dan yang lain. Jangankan untuk terpejam, mata mereka malah semakin segar.
Tak ada jawaban dari keduanya, ternyata di depan api unggun membuat keduanya malah nyaman dan pulas.
"Astaga, woyyy ! loe berdua dah merem aja, ini gue gimana ngangkatnya berat !" pekik Ayu.
Anggota OSIS sedang breafing untuk acara esok, sementara para peserta camping sedang menikmati malam dan bercengkrama.
Jihad melihatnya, ingin membantu mengangkat tapi tak enak oleh guru. Para anggota OSIS dan pramuka sudah keluar,
"Ji, tolongin gue dong !" ucap Ayu.
"Astaga," Jihad mendekat.
Ia mencolek colek Ica.
"Ca oyy, loe ga sadar badan segede apa ?! tuh si Ayu berat ditempelin Kara sama loe !" jika bukan di depan banyak orang dan guru mungkin ia sudah mengangkat dan menyeret kedua gadis ini.
"Tenda ke arah mana sih ?!" tanya nya.
"Kesini nih !!" Jihad menunjuk lubang hidungnya.
Ica terkekeh, "lubang idung loe gede banget Ji, bisa dimasukkin 5 orang buat tidur !" Ica mengigau.
"Dih, ni anak kaya abis mabok komix aja ! abia berapa bungkus loe?"
"Apanya ?" tanya Ica yang tak sadar. Jihad menuntun Ica masuk ke dalam tenda, begitupun Kara.
"Ra, kalo ngantuk masuk tenda, kesian si Ayu, badan loe kecil tapi berat loe ngalahin berat dosa koruptor !" ujar Jihad menarik tangan Kara.
Milo celingukan diantara peserta camping, mencari keberadaan gadisnya. Sedangkan pembina sudah memberikan intruksinya untuk jadwal kegiatan esok.
"Kara mana Ji?!" tanya Milo.
"Cewek loe udah tumbang di dalem ! kaya ga tau Kara aja, dia mah k3bo !" jawab Jihad.
Subuh Kara sudah bangun. Mumpung yang lain belum bangun dan pastinya akan berebut kamar mandi ia akan duluan mandi.
Kara meraih alat mandi dan baju pramuka nya. Dengan wajah malas nya Kara membuka resleting tenda, terlihat Milo masih terpejam dan berjaga, sedangkan Arial dan Kean sudah terbangun.
"Loe udah bangun Ra ?!" tanya keduanya.
"Udah ka Ri, gue biasa bangun jam segini !"
"Ini baru jam 4 loh !"
"Iya, gue mau mandi duluan biar ga rebutan kamar mandi," Kara mendekat dan menghampiri, ia malah berjongkok di samping Milo yang rebahan di atas tikar berbantalkan tas.
"Oh, ga bangunin Milo dulu ?"
"Ga usah, kasian ngantuk kayanya. Dia tidur jam berapa ka?" tanya Kara menatap wajah lelap Milo, tangannya terulur mengusap lembut rambut Milo.
__ADS_1
"Jam 2. Kita gantian jaga," jawab Kean. Kara berohria.
"Ya udah kalo gitu, gue mandi dulu !" jawab Kara hendak beranjak, tapi ternyata tangannya ditahan oleh tangan Milo, pemuda itu malah membawa tangan Kara ke pipinya sebelum mengecupnya.
"Disini aja dulu by, kangen. Kalo udah pada bangun ga bisa manja manjaan, " ucapnya dengan mata terpejam.
"Hemm, nyamuk kita Ri.." ucap Kean.
"Aku mau mandi yank, nanti keburu penuh kamar mandinya, " jawab Kara, sesaat Milo membuka matanya, melihat wajah Kara yang menurutnya cantik saat bangun tidur, membuat awal harinya cerah.
"Ya udah sana mandi, biar wangi !" Milo melepaskan tangan Kara setelah mengecupnya lagi.
"Kalo masih ngantuk tidur aja lagi, tapi jangan sampe kebablasan," jawab Kara, ia tau memang jadi senior tidak mudah. Kurang istirahat sudah jelas. Kara masuk ke dalam kamar mandi, selang 20 menit ia sudah keluar. Para peserta satu persatu mulai bangun. Kara kembali, ternyata Milo sudah masuk ke tendanya.
Ica masih terpejam, Kara meraih mukenanya dan memakainya, bersiap shalat subuh berjamaah, ia meraih Al qur'an kecilnya.
"Ica belum bangun Ra, " ucap Ayu.
"Biar nanti gue yang bangunin Yu, kalian duluan aja ke kamar mandi takut antri !" jawab Kara. Ayu dan yang lain keluar.
Kara mengguncang guncang tubuh Ica untuk bangun.
"Ca, udah subuh, buruan ntar antri terus loe telat shalat subuh berjamaah !" ucap Kara.
Ica menggeliat, ditengah masih gelapnya subuh matanya baru saja ingin terbuka, dilihatnya sosok putih putih di sampingnya, Ica melotot dan refleks terbangun.
"Sat !!! hantu !!!!!" Ica keluar tenda dengan tunggang langgang, pagi pagi sudah dihebohkan dengan Ica yang berteriak hantu. Kara tertawa tergelak. Milo dan yang lain yang sedang tertidur sontak terbangun.
"Ji ! ada hantu di dalem tenda gue !!" Ica bersembunyi di balik badan Jihad, malah ia memeluk Jihad.
"Apa sih Ca ?!" tanya Raka.
"Kenapa? mana hantu ?" tanya Milo.
"Loe ngaco ! mana ada hantu disini ! yang ada hantu takut sama loe," sarkas Jihad.
Kara menggelengkan kepalanya, ia keluar dari tenda dengan tangan yang masih memegang Al qur'an kecilnya.
Gadis itu tergelak, "sue ! gue dibilang hantu ! buka mata oyy !" jawab Kara tertawa. Milo dan yang lain tertawa.
"Ica, ya Allah !! bikin kaget pagi lagi !" Bu Mira mengelus dadanya.
"Cewek cantik gini dibilang hantu, gue ga yakin mata loe sehat Ca, masa iya hantu pegang beginian ?!" Kara menunjukkan Al qur'annya.
"Masyaallah, cantiknya hamba Allah !" ucap Milo.
"Syukron abi, " kekeh Kara.
"Cieeeee !!!!" cuitan mereka menggema di hari yang masih subuh.
"Pletak !!"
Jihad menjitak kepala Ica.
"Makanya kalo mau tidur tuh baca do'a dulu, Ca !" Jihad mencubit pipi Ica gemas. Ia tertawa melihat rambut dan wajah Ica.
"Sono mandi !" titah Jihad.
"Si Kara, gue pikir tante kun...!!" Kara mengalungkan tangannya di pundak Ica.
"Makanya buka mata dulu, udah subuh bebs..mandi cayangkuhhh, kamu bau acemm !" ucap Kara pada Ica.
"Iya bebebs, mandiinnnn !" Ica dan Kara tergelak.
"Sengklek mereka !" gelengan kepala Erwan.
.
.
__ADS_1