Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Mengawali hari


__ADS_3

Seharusnya sih bab yang ini dulu ya guys tapi ternyata pas review jadi ngaco...sebelum bab coklat panas..


Kara membuka matanya, inilah hari pertamanya di London setelah ia sampai semalam.


Beruntung om Braja adalah the guardian angelnya, memenuhi semua kebutuhannya, jadi ia tak usah repot repot mencari cari tempat untuknya tinggal. Beliau pun sudah memenuhi isi kulkas milik Kara dengan kebutuhan untuknya makan. Ia akan rindu dengan makanan Indonesia, ia akan rindu dengan masakan ibunya, ataupun jajanan gerobak kaki lima di Indonesia.


Kepalanya masih berdenyut karena mengalami jetlag.


Ketukan pintu membuatnya harus bangun dan membuka pintu, kalau tidak si tamu akan lebih kencang mengetuk dan merobohkan pintu apartmentnya.


Kara bangun dengan masih memakai swetter rajutnya, udara disini memang lebih dingin dibanding Indonesia.


"Iya, sebentar !"


Senyum lebar menampilkan gigi gigi rapi menyambut Kara di ambang pintu.


"Hey mahasiswa ! pagi pagi udah ganggu apartment orang ! ga tau ya penghuninya lagi kena jetlag !" sarkas Kara memijit pelipisnya yang masih berdenyut.


"Kamu sakit by, masih pusing ?" tanya Milo ikut masuk ke dalam ruangan apartment Kara. Gadis itu mengangguk, dan duduk di sofa. Ia menyenderkan kepalanya di sandaran sofa, sementara ka Tara sedang tidak di apartment. Milo duduk di sebelahnya, menarik dan menaruh kepala Kara di dadanya mengambil alih fungsi sandaran sofa.


"Sampaikan sama papah kamu, makasih padahal kost kostan kecil cukup ko buatku, ga usah mewah mewah, " ucap Kara.


"Ga apa apa, lagipula kalo di kost kostan ga bebas mau keluar masuk, kalo disini kan aku sama Jihad bisa ngawasin, ka Tara juga !" Tara adalah anak buah om Braja, apartment Kara, Jihad dan Milo saling bersebelahan.


"Aku bikinin teh panas ya ?!" tawar Milo yang tangannya memijit mijit kepala Kara lembut.


"Gini aja dulu, kamu berbakat sayang, kalo nanti gagal jadi CEO, kamu bisa jadi tukang pijet, " tawa Kara.


"Ga apa apa kalo yang aku pijetnya kamu, ga dibayar juga ga apa apa," kekeh Milo, saking nyamannya Kara sampai kembali tertidur di dekapan Milo.


Jihad masuk ke dalam apartment Kara, setelah mengetuk pintu dan mendapatkan jawaban dari Milo.


"Loe ngapain disini ?" tanya Jihad.


"Abis ngelonin calon bini, husssh ! loe ganggu Ji !" usir Milo.


"Gue kesini takut loe khilaf, macem macemin Kara, soalnya ka Tara lagi ada urusan ke luar, " jawab Jihad yang langsung menuju dapur untuk menyimpan beberapa bumbu dapur, mungkin saja om Braja lupa, disini Jihad sudah lebih pengalaman dibandingkan Kara dan Milo.


"Kara sakit ?" tanya Jihad.


"Jetlag, " jawab Milo.


"Loe pindahin ke kasur sana, gue empet liatnya peluk pelukan gitu !" decak Jihad yang duduk di sofa sebrang Milo.


"Bo* do amat ! anget, " Milo malah semakin memeluk Kara erat, ingin membuat jomblo yang ada di depannya panas.


"Kamvreett !" Jihad melempar Milo dengan tissue yang ia gulung gulung.

__ADS_1


"Loe salah Ji, harusnya loe pepet si Ica, jangan kasih ruang buat nolak loe ! kaya gue nih, dapet kan !" ujar Milo sesekali menatap Kara yang pulas di dekapannya seperti anak bayi yang di dekap ibunya.


"Gue ga mau dia nerima gue karena terpaksa, " jawab Jihad meminum kopinya.


"Tapi Ica juga suka sama loe, mewek dia, loe tinggalin. Jadi cowok sadis amat, ga pengen loe kejar apa ?!" Jihad hanya menggidikan bahunya acuh, sebenarnya perkataan Milo ada benarnya, tapi ia sudah terlanjur memutuskan, jika memang jodoh ia pasti akan bertemu kembali, dan mengejar Ica.


"Gue boleh minta tolong ?!" tanya Jihad.


"Apapun !" jawab Milo.


"Gue cuma minta loe suruh Ayu ataupun Arial buat pantau Ica, " jawab Jihad.


"Takut kan loe, si Ica digaet orang !" tawa Milo renyah.


Kara menggeliat mendengar suara tawa Milo.


"Eh by, berisik ya ? mau pindah ke kamar ?" tanya Milo, Kara menegakkan duduknya dan menggeleng.


Tanpa permisi ia menarik gelas kopi Jihad dan meneguknya.


"Bagi ya Ji, " ucapnya setelah meminumnya.


"Dih, abisin aja Ra..." ledek Jihad.


"Gue laper ! mau bikin makan !" jawab Kara yang bangun.


"Kamu mau kemana?" tanya Kara saat Milo mengekor.


"Mau ke dapur kan, masak??" tanya Milo membeo.


"Aku mau ke toilet dulu, mau ikut ?!" tanya Kara.


"Kalo boleh, " Kara mencubit pinggang Milo.


******************


"Disini market yang halal dimana Ji?" tanya Kara.


"Ada, entar barengan aja."


"Ka Tara juga pengalaman by, nanti kalo ga ada aku atau Jihad, kamu bisa minta tolong sama ka Tara, " seorang perempuan yang masih sekitar umur 27 tahunan tersenyum pada Kara, Kara tidak tinggal sendiri di apartment ini.


"Oh iya, ka Tara maaf kalo nanti aku banyak nyusahin ya, " ucap Kara.


"Tak apa nona, memang sudah tugas saya disini, " jawabnya.


"Bisa ga kata nona nya ilangin aja, berasa kaya merk susu kaleng !" jawab Kara. Gadis ini tak mau ambil pusing, jadinya hanya membuat mie instan saja. Niat hati masak masakan rumah, tapi karena badannya yang capek, jadi ia hanya memasak mie instan.

__ADS_1


"Kalo mie gini jadi inget si Ica gue, tuh anak mewek sampe matanya sembab," Kara baru ingat terakhir ia photobox bersama Ica.


"Iyalah, duo kamvreettnya nyungseb di rumah ratu elizabeth, " jawab Jihad.


Kara berkuliah di kampus yang berbeda dari Milo dan Jihad.


"Belajar yang bener, nanti ku jemput, tunggu sampe aku datang !" ucap Milo bersama Jihad.


"Iya, sayang...hati hati !" Kara melambaikan tangannya pada Milo. Ia berjalan masuk ke dalam halaman luas universitas, tak menyangka saja, nasib anak miskin sepertinya bisa juga mencicipi mengenyam pendidikan di negri three lions ini.


Bukan lagi wajah Asia yang ia temui, kebanyakan wajah wajah Eropa, meskipun beberapa kali ia bertemu dengan orang Indonesia yang sama dengannya.


Setelah bertemu dengan rektor dan dosennya, Kara masuk ke dalam ruang kelasnya, beberapa pasang mata menatapnya, mungkin karena jarangnya orang Indonesia masuk kesini makanya mereka sedikit asing.


" Hay, gue Kenzo !" sapa seorang mahasiswa asal Indonesia juga.


"Hau, gue Caramel. Alhamdulillah, akhirnya nemu temen dari Indonesia juga di kelas, " senyum Kara.


Kenzo tersenyum, "iya, cuma kita disini yang orang Indonesia, gue juga seneng ketemu temen dari negara yang sama, " jawabnya.


"Caramel, nama loe semanis wajah loe !" senyumnya penuh arti.


Kara hanya tersenyum kaku, oke untuk yang ini Kara harus menjaga jarak, ia ingin berteman dengan Kenzo dengan tanpa ada masalah. Ia butuh Kenzo, tapi ia pun tak ingin menaruh duri dalam hubungannya bersama Milo.


***************


"Caramel, see you !" mata Milo mengikuti arah kemana Kenzo pergi. Baru seminggu disana Kara sudah mendapatkan mangsa untuk Milo santap.


"Siapa?" tanya Milo.


"Hah? yang mana? " tanya Kara mengangkat kedua alisnya.


"Itu yang barusan," Milo bersidekap melipat kedua tangannya sepaket wajah yang diap menelan mangsa.


"Yang barusan ada dua sayang, yang cewek bule namanya Catherine, yang cowok namanya Kenzo asli Indonesia juga loh !" seru Kara.


"Besok besok ga usah senyum manis gitu kalo sama Kenzo, " jawab Milo, Kara hanya memasang senyum kecut. Alarm warning Milo terdengar di telinganya. Yup ! pemuda ini sedang cemburu dan posesif.


.


.


.


.


Tadinya aku mau end kan sampai episode ini, tapi berhubung banyak request minta lanjut, aku lanjutin deh ceritanya masa masa mereka kuliah sampe mereka nikah dan mp nya ya guys...

__ADS_1


__ADS_2