
Gladys segera mengatasi dan mengontrol air mukanya. Daebaek !!! pintar sekali ia berakting, harusnya Kara memberinya penghargaan, bahkan mungkin Amanda Mano*p. saja kalah jika harus beradu akting dengan Gladys. Percayalah orang diam lebih menyeramkan dibanding yang jahatnya terang terangan macam Nina, rupanya ini juga yang terjadi di diri Gladys. Lugu..cupu..pendiam..seolah olah tertindas, tapi menyimpan sejuta misteri dan sikap mengejutkan.
"Maksudnya?" tanya Gladys.
"Santai aja atuh dys, kaya abis ngelakuin kejahatan aja !" Kara mengibaskan tangannya.
Milo melirik Jihad, ada yang aneh dengan Kara. Tak biasanya gadis ini bertingkah aneh seperti ini.
"Ca, coba botol sambel, rasanya pengen yang pedes pedes. Biar lebih pedes lagi nyambelin kelakuan orang !" ucap Kara. Ica yang tau jika sasaran Kara memanglah Gladys, menggosoknya biar lebih sip. Entah apa yang direncanakan Kara.
"Jangan kaya gitu nyonggg, sambel mahal...termasuk harga diri loe ! jangan sampe mulut dan kelakuan loe sejatoh harga tomat sekarang !" jawab Ica menyerahkan botol sambal.
"Apaan sih loe berdua ga jelas !" jawab Ayu.
"Diem Yu, loe sugar baby gue yang paling anteng. Nih ibu ibu lagi ngomongin masalah dapur !" jawab Jihad. Gladys menyimak seraya hatinya sudah kesal. Ia sangat paham jika Kara dan Ica sedang memancing amarahnya.
Mulut keduanya memang nyinyir, dibalik tampilan rakyat jelatanya. Jika diadakan lomba nyinyir dan debat, maka Ica dan Kara lah yang akan menyabet medali emas.
"By, awas jangan kebanyakan. Nanti ada tragedi lagi, " lirih Milo mengingatkan tragedi sebelumnya, saat Kara sampai harus masuk klinik.
"Engga yank, ini mah nuanginnya pake akal sehat, " jawab Kara.
"Hay eplibadih, " Arial datang. Lirikan Arial tertuju pada Gladys.
"Dys, "
"Hay ka Rial, gue gabung sini boleh kan ?!"
"Boleh banget, disini mah bebas syaratnya cuma ga boleh bermuka dua aja !" jawab Ica polos.
"Bwahahahahahaha !" Kara tertawa.
"Tos !!" ajak Kara bertos ria.
"Saravvv, si Ica," jawab Jihad. Dada Gladys sudah naik turun, emosinya sudah sangat diambang batas, rasanya ingin segera mengajak Kara berduel saja diatas arena tinju.
"Gue udah abis, gue duluan ya !" ucap Gladys.
"Mau gue anterin ga?" tanya Kara.
"By, " larang Milo.
"Oh ga jadi deh, pacar gue posesif..maklumlah sayang !" ucap Kara duduk kembali. Sungguh Kara ingin muntah, sejak kapan cewek kalem berubah jadi lambe turah, bukan dia banget !
Gladys menyimpan mangkuk mienya lalu pergi dari kantin dengan rasa kemarahan yang amat sangat.
Kara segera meraih gelas jusnya sepeninggal Gladys.
"Mulut gue mesti dicuci !" ucapnya meneguk jus di depannya. Jihad, Ica dan Ayu tergelak puas. Sedangkan kelima lelaki ini memandang aneh.
"Enak ga Ra? mulut nyinyir?" tanya Ica.
"Sepet sepet ada manisnya!" jawab Kara, kembali ketiganya tertawa. Semua yang berada disitu menyadari sikap aneh Kara. Meskipun bermulut pedas, tapi Kara bukanlah tipe gadis yang dengan sengaja menyerang orang lain.
"Sejak kapan mulut kamu jadi lambe nyinyir by, " tanya Milo mengerutkan dahi, sejak kapan pacarnya bermulut Feni Mawar.
"Sejak...tadi," jawabnya nyengir.
"Jadi bener, dia yang nyiram kamu?" tanya Milo.
"Tadi sih aku liatnya gitu, dia bayar siswa lain yang nyiram aku," jawab Kara.
__ADS_1
"Ini alasannya, kenapa aku ga mau kamu sendirian. Aku ga bisa main langsung seret Gladys dan menyerangnya, tanpa ada bukti..dia pintar membalikkan fakta, seperti dulu. Pintar pula bermuka dua," jelas Milo.
"Aku ga apa apa yank," Kara memegang tangan Milo, seakan memberi konfirmasi jika dia baik baik saja.
"Kayanya memang urusan ini, kita perlu Kara sama yang lain, Mil !" ucap Raka.
"Iya, urusan begini butuh cewek, " timpal Kean.
"Gue ga mau Kara kenapa napa, " jawab Milo mengaduk jusnya dengan sedotan. Milo menatap Kara lekat, jika sampai terjadi apa apa dengan gadisnya ini, ia berjanji akan mengejar siapapun itu sampai ke ujung dunia sekalipun.
"Ga pengen tau, kemanapun kamu pergi, harus ditemenin !" titah Milo sudah turun.
"Hm, turun deh surat perintah !" decak Arial.
"Curang, " jawab Kara.
"Tadi kamu sendiri. Pake dipeluk peluk lagi !" ucap Kara.
"Sini kamu yang kupeluk !" Milo merentangkan tangannya. Kara menggidikan bahunya.
"Aku ga mau barang bekas !" jawabnya. Raka dan Kean tertawa.
"Bekas siapa Ra?" tanya Ica.
"Bekas hello kitty, " jawab Kara.
"Itu belakangnya by, lagian ga mungkin aku sengaja mau dipeluk peluk orang !" jawab Milo sewot.
******************
Jika bukan Arial, sudah pasti Iwan, atau Erwan yang bersama Kara, kalau Milo sedang tidak bersama Kara.
"Udah kaya tahanan kpk !" omel Kara.
"Ka Rial, gue mau tanya dong?!" tanya Kara.
"Bentar, posisi gue ko takut kejengkang gini sih !" dumel Kara. Milo mewanti wanti pada Kara dan Arial, dengan siapapun itu, Kara dilarang menempel saat berboncengan. Perlu diketok magic otak Milo, bagaimana bisa berboncengan motor tidak menempel. Bagaimana jika Kara terjengkang dan jatuh.
"Pegangan aja Ra, toh orangnya juga udah ga ada ! posesif juga ga segitunya, kebangetan si Milo !" tawa Arial.
Kara sedikit memajukan posisinya dan memegang sisi jaket Arial.
"Ka, emang beneran Gladys dibiayain om Braja?" tanya Kara.
"Yap ! sebagai bentuk tanggung jawab beliau, atas perlakuan bullying putranya, tapi sebatas pendidikan saja."
"Aneh ya, bukannya setau gue Gladys itu dari keluarga, maaf..biasa biasa aja ?" tanya Kara lagi.
"Iya Ra, "
"Terus darimana dia bisa dapetin mobil dan yang lainnya, " tanya Kara.
"Ini yang lagi ditelusuri Milo sama Raka. Masih kemungkinan sih, kita curiga dia dapet duit dari kerjaan yang ga halal !" jawab Arial.
"Maksudnya?" Kara tak mengerti.
"Nanti juga loe tau, kalo sudah saatnya tau. Selama ini Milo bukan diam, Ra..dia memantau Gladys, apalagi dengan tiba tiba Gladys datang dan bersekolah disini, bukankah aneh?? terlalu tiba tiba !" jawab Arial.
"Masuk deh, udah sampe !" ucap Arial, gadis itu turun dari boncengan.
"Makasih ka Rial, gue masuk ya !" pamit Kara.
__ADS_1
Kara merebahkan badannya di atas kasurnya.
Ting !
"Udah nyampe by ?"
"Udah sayang, "
"Maaf, aku ga anterin pulang hari ini ya, "
"Ga apa apa om susu ! semangat rapatnya mas sayang, "
"Peluk dan sun jauh buat baby Ra 😘!"
Kara tertawa dan menggelengkan kepalanya, ia memandang langit langit kamarnya. Padahal tak ada apapun, hanya cicak yang saling berkejaran, tinggal dikasih lagu kuch kuch hota hai saja, Kara sudah seperti orang ketiga diantara mereka.
Mata Kara lama lama berat dan tertutup.
*****************
Sayup sayup terdengar suara cekikikan ibunya bersama seseorang dari arah ruang tengah. Kara bangun dan mengucek matanya, menajamkan pendengarannya. Ia lalu beranjak, lupa jika seragamnya belum diganti.
"Bu, " panggil Kara.
Baru saja Kara mengumpulkan nyawanya, ia sudah harus dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tengah duduk di ruang tamu bersama ibunya.
"Hay Ra !" sapanya.
"Kara, kamu tidur pules banget nak, kasian temennya dari tadi malah ditinggal tidur..udah ngaler ngidul sama ibu..ya kan dys?" ucap ibu.
"Iya bu, eh Ra..maaf ya tadi kebetulan lewat sini, jadinya mampir !" ucap Gladys.
Kara masih dengan segudang pertanyaan.
"Loe tau rumah gue dari mana?" tanya Kara.
"Tau dong, semua yang berhubungan tentang Milo, aku tau..kemana dia selalu pergi..meskipun nanti tujuan pulangnya tetap ke rumahku !" senyumnya. Ibu merasa canggung dengan keadaan ini.
"Ibu ke dalam dulu ya, kan Karanya sudah bangun !" Ibu mengusap pipi Kara tersenyum getir.
"Iya bu, "
"To the point aja, mau apa loe kesini ?!" Kara duduk di depan Gladys.
"Berapa yang loe butuh buat jauhin Milo ?!"
Kara mendengus, pertanyaan seperti ini sudah sering ia dapatkan.
"Gue ga mau menyakiti loe Kara, gue masih baik..tapi loe harus tau Milo yang sebenarnya!" ucap Gladys.
Mulai lagi, apakah sekarang Kara harus membawa kacang dan soda, untuk menonton drama kekasih yang tak dianggap, dan mungkin akan menguras air mata. Apa harus Kara menyediakan kanebo, jaga jaga kalau ia bersimbah air mata mendengar kisah memilukan seorang gadis.
"Emangnya Milo yang sebenernya kaya apa?? dia bertaring kah? dia suka makan daging manusia kah? atau dia bisa berubah jadi kuyang kah?" tanya Kara.
"Milo udah merenggut kesucian gue !"
"Apa??!" pertanyaan itu bukan datang dari Kara, tapi bu Hani, ibunya Kara.
.
.
__ADS_1
.