Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Om Susu


__ADS_3

Rial menjemput di depan rumah Cia.


"Loh, ko om nya yang ini !" ujar gadis kecil itu.


"Om Susu mana?!" sontak saja Arial tertawa.


"Om Milo, lagi ada urusan sayang, jadi ga bisa main kesini !" jawab Kara membungkukkan badannya.


Hebat sekali Milo, dari berandalan jalanan sekaligus titisan Hittler. Dan sekarang beralih profesi jadi baby sitter. Seram seram ngangenin. Pelet apa yang dipakai olehnya, sampai sampai anak manis bak permen kapas begini sampai nempel padanya.


"Oh gitu, Ka Ra..besok besok kalo kesini jemputnya sama om susu ya ! om yang ini ga asik, ga tau caranya tos, jelek pula ! " Kara tertawa. Cara bicara Cia sangatlah meledek dan itu murni isi hati seorang anak kecil, yang terkenal tak pernah bohong.


"Buset nih bocah, mulutnya pedes kaya si Ica, " gumam Arial mencebik.


Tak lama Arial mendapatkan panggilan dari Kean, bahwa mereka sedang berada di club malam, padahal ini masih sore.


"Hah?! oke gue kesana sekarang !" ia menutup sambungan telfon.


"Ra, kayanya obrolan om susu harus disudahi dulu deh, kita harus cepetan pulang !" ucap Arial memberikan helmnya pada Kara.


"Kenapa ka?"


"Gue mau nyusulin yang lain !" jawabnya buru buru.


"Ada apa ?!" tanya Kara, Arial tampak diam bingung, bagaimana caranya menjelaskannya, Kara tau pasti ada yang tidak beres, gadis itu langsung mengambil kunci motor Arial.


"Bilang atau kunci ini gue lempar ke got ?!" ancam Kara.


Ia membuang nafas kasar, "Milo sama yang lain lagi di Paradise club, nanti aja loe liat !" jawab Arial.


"Buruan sini kuncinya !"


"Cia, ka Ra pulang dulu ya ! jangan lupa di hafal ya !!" ucap Kara, gadis kecil itu mengangguk.


"Gue ikut !" titah Kara.


"Mau ngapain ?!" tanya Arial.


"Pokonya gue ikut, Milo udah janji ga akan datang ke tempat kostan s3tan, sekarang dia telen ludahnya sendiri !" jawab Kara. Akhirnya mau tidak mau Arial membawa Kara. Kalau tidak mau bumi gonjang ganjing karena murkanya.


Arial seakan memiliki akses tersendiri bisa bebas masuk dan keluar sesuka hati tanpa harus bersitegang dengan pihak keamanan, seperti Kara waktu itu.


"Brother !!"


"Hey bruh, ada Milo sama yang lain di dalem. Siapa ? cewek?" tanya seorang berambut 2 cm, layaknya potongan rambut security, menunjuk Kara dengan dagunya.


"Cewek Milo, " jawab Arial.


"Ka Rial seriusan, masuk?? ini kita masih pake seragam?!" Arial mengangguk seraya tersenyum.


Kara mengekor Arial di belakang. Mereka masuk ke dalam hingar bingar musik, namun tempat ini masih terbilang sepi, karena hari masih sore.


Kara tak suka dengan bau tempat ini. Bau bau dimana jika ia mencicipinya maka gerbang neraka sudah siap terbuka untuknya, tiket untuk nyemplung ke waterboom api neraka pun banyak tersedia disini. Di tempat yang seperti diistimewakan di pojokan, Kara melihat beberapa orang yang dikenalnya. Ia menyipitkan matanya.


Seorang pemuda memakai jaket kulitnya dan t shirt, juga celana levisnya sedang duduk di depan meja dengan botol minuman yang kadar alkoholnya tak terlalu tinggi. Kara duduk di depannya, aura gelap langsung menyergap kelima pemuda lainnya, saat Kara datang. Bukan karena sebentar lagi akan turun hujan. Mamah dedeh versi anak muda masuk kesini. Sekali saja bibirnya berucap, maka semua makhluk disini akan mati kutu dibuatnya.


"Roman romannya, emak tiri mau ngamuk !" ucap Jihad.


"Se frustasi inikah kamu? semarah ini kah kamu, sampai sampai harus lari kesini?" tanya Kara. Gadis ini melipat kedua tangannya rapi, sepperti saat guru datang. Melirik jam biru langit di tangan kirinya, akhir akhir ini ia selalu pulang terlambat.


"Kara??!" Milo melirik Arial tajam bak elang, gadis baik baiknya diajak ke tempat seperti ini.


"Enak ya jadi orang kaya, kesel dikit clubing, ada masalah buang buang uang, padahal nyarinya sampe harus jumpalitan ! coba gue ? kesel dikit, mogok makan ya udah ga usah makan ! nasi awet ! mau numpahin kekesalan, ga ada duit, mendingan tidur aja yang gratis !" ledek Kara, Jihad mengulum bibirnya. Inilah cara unik Kara menegur orang lain.


Raka mengkode yang lain agar pindah tempat, atau bahkan meninggalkan keduanya.


"Kalo gitu ayo minum !! kalo masih kurang aku pesenin lagi, sekalian aku yang bawain, sampai kamu kembung !" tantang Kara, tapi Milo malah diam.


"Kalau menurut kamu minuman minuman ini bisa bikin kamu tenang dan damai, yuu aku temenin, sekalian aku mau coba juga, gimana sih rasanya minuman magic yang kata orang bisa ngilangin stress, yang katanya bisa bikin terbang tanpa harus naik pesawat ! buat jadi anak nakal !" Kara bahkan tak segan segan meraih gelas sloki dan menuangkan cairan yang jika setetes saja 40 hari ibadah shalat orang muslim tak akan diterima.


Minuman yang baunya harum tapi membuat mabuk kepayang ini, hampir menyentuh bibir lembab Kara. Milo langsung menepis dan menyimpan kembali minuman itu.


"Kita pulang, " ajak Milo, dengan keadaan yang masih sadar meskipun sudah meneguk beberapa mili liter air itu.


"Aku ga mau ! yang ada nanti kita celaka !" jawab Kara.


"Aku masih sadar by, " jawabnya.


Milo memaksa Kara, untuk naik ke atas motornya. Namun mereka berhenti di tengah tengah, karena Kara yang memintanya.


Gadis ini turun di sebuah warung, ia membeli air mineral.


"Minum, "


"Tapi aku ga haus !" jawab Milo.


"Minum !!" titah Kara dengan tegas, mau tidak mau Milo meminumnya.


"Enak ga?" tanya Kara, Milo hanya diam tak mengerti.


"Enak mana sama minuman yang tadi?" tanya Kara. Milo tetap diam, mereka duduk di pinggiran jalan, dekat dengan sebuah warung.


"Sama kaya yang sekarang kamu alami, air putih itu ga enak dibanding air yang tadi, tapi itu baik untuk kamu. Begitupun rasa pedih yang sekarang kamu rasakan."


Kara memegang tangan Milo, "Kepedihan yang kamu rasakan sekarang, akan membentuk sifat dewasamu, anggap aja.. Tuhan sedang mengujimu, untuk jadi pribadi yang lebih baik. Dengan kepedihan ini, sifat kekanakanmu dan sifat emosional yang ada di diri kamu sedang diuji dan di bersihkan. Anggaplah semua yang terjadi di dalam hidupmu ini positif thinking aja, satu langkah untuk mendewasakan diri kamu, bersyukurlah.. Tuhan masih mengujimu, itu tandanya ia masih peduli, bersyukurlah...masih banyak yang sayang sama kamu !"


Tiba tiba saja Milo memeluk Kara hingga gadis ini tersentak kaget, "setelah ini ga ada pergi pergi lagi ke kostan s3tan, atau... !" ujar Kara mengusap lembut punggung Milo, yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Atau apa?!" tanya Milo mengurai pelukannya.


" Atau aku cari om baru buat Cia, Cia ga boleh punya om yang suka mabuk !" jawab Kara.


"Makasih, " kecupnya di kening Kara.


"Apa yang terjadi?" tanya Kara.


"Selama ini benar kecurigaanku, mamah itu meninggal ga wajar, ternyata memang tante Marsya yang melakukannya, ia memasukkan racun ke dalam infusan mamah. Ia sudah menghancurkan keluargaku by, " tangan gadis itu meraih tangan Milo.


"Jenguk mamah yu !!" ajak Kara.

__ADS_1


"Udah mau maghrib by, " ucap Milo.


"Emang kenapa? toh kita bukan mau zina di kuburan kan?" tanya Kara.


"Kamu ga takut ?" tanya Milo.


"Ngapain harus takut, toh nanti kita juga berakhir disana, anggap aja kita sedang melihat rumah masa depan !" jawab Kara. Hanya dengan gadis ini Milo merasa nyaman, hanya dengannya pula hal hal yang tak pernah ia lakukan, kini mereka lakukan.


*************


"Ko malam malam, den Milo?!" tanya penjaga makam.


"Iya pak, maaf ya..rindunya ga bisa ditahan lagi !" kekehnya. Dengan menggandeng tangan Kara, mereka masuk ke dalam kompleks pemakaman keluarga Milo.


"Assalamualaikum, mah !"


"Assalamualaikum calon ibu mertua !" seru Kara.


"Ibu mertua, hari ini anaknya nakal ! masa masuk club terus minum minum !" adu Kara, seraya tangannya membersihkan makam, hal ini membuat hati Milo terharu.


"Eh, disuruh minum di depan Kara malah ga mau ! padahal kan Kara juga mau rasain, minuman yang kata orang bisa bikin terbang tanpa harus punya sayap !" cerocosnya. Milo tak berkutik mendengar ocehan Kara, gadis ini tulus, seperti sedang mengadu pada seorang yang bernyawa.


"Oh iya, ibu mertua juga bisa liat kan, pasti ibu juga sedih deh kalo liat anaknya bandel ! soalnya itu yang Kara rasain sekarang, kalo dia kaya gitu !" ucapnya lagi.


"Berasa kaya pengen lempar golok sama dia, pengen sambit pake clurit !" tambah Kara, Milo mengangkat kedua alisnya.


"Sadis !!" decak Milo.


"Harus !" jawab Kara.


"Kamu ga pengen curhat sama mamahmu sayang?" tanya Kara.


"Mah, udah kali kedua Milo bawa Kara kesini, mamah suka kan sama cewek bawel satu ini, cewek galak tapi bikin Milo ga bisa buat ga kangen !" jawab Milo, matanya menatap Kara.


"Bawel, galak ??" gumam Kara mencebik tak terima tanpa bersuara, membuat Milo tertawa.


"Kalau nanti Kara jadi mantu mamah, mamah restuin kan?" tanya nya lagi.


"Mamah yang tenang disana, pembunuh mamah sudah masuk ke tempat seharusnya dia berada !"jawab Milo lagi penuh kesal, Kara memegang tangan yang sudah terkepal itu.


"Ikhlas memang susah, tapi dendam hanya akan menjadi penyakit hati ! dan aku ga mau punya pacar penyakitan," jawab Kara.


"Kalau memang aku bisa menjadi obat penenang mu, maka bawa kemanapun kamu pergi !" ucap Kara. Jika bukan Milo, mungkin sudah menangis terharu, tapi Milo tau Kara bukanlah tipe gadis yang suka dengan melow drama.


"Makasih by, "Milo balik menggenggam tangan Kara.


"Udah selesai kan ngadu sama mamah mertuanya? sekarang kita pulang, nanti aku yang diomelin sama camerku, karena bawa anak gadisnya sampe malem, apalagi kalo sampe tau bawa kamu ke kuburan," kekeh Milo.


"Bisa bisa restu dicabut !" goda Kara.


"Yahhh, jangan dong by, nanti aku gantung diri di bawah pohon toge !" jawab Milo.


"Aku nangis deh sambil tahlilan !" jawab Kara lagi.


"Aku gentayangan deh, karena urusanku belum selesai !"


"Aku gentayangin balik pemburu hantunya !" kembali Milo membalas.


"Aku suruh mereka masukkin kamu ke dalam botol, kaya jin aladdin !"


"Ada yang buka sambil usap usap botol, aku keluar deh !" Milo melenggokan lehernya seperti jin dari botol. Bahkan suasana sepi pekuburan tak membuat Kara takut, karena mereka malah tergelak karena lelucon yang mereka buat sendiri.


"Aku kabulkan 3 permintaan buatmu !" lanjut Milo.


"Ahh aku buang ke laut aja ! biar dimakan ikan hiu !" jawab Kara.


"Aku keluar deh, dari kentutnya hiu !" jawab Milo.


"Sejak kapan hiu kentut ?!" tanya Kara.


"Sejak nenek moyangku memutuskan menjadi seorang pelaut !" keduanya tertawa.


.


.


"By, makasih banyak !" ucap Milo merapikan rambut Kara.


"Sama sama, ya udah kamu pulang, kasian papah di rumah cuma berdua sama bi Asih, " jawab Kara.


.


.


.


"Selamat pagi, cabelita, fernando, dan bulgoso sekalian !!!" pekik Ica.


"Njirrr !!! dibilang bulgoso sama cabelita !" decak Kara.


"Sejak kapan X4 jadi keluarga telenovela?!" tanya Ayu.


Jihad memegang jidat Ica sedikit kencang,


"Wah sakit nih anak !! kesambet jin Ivritzz !!" ucapnya.


"Sat !! megang sih megang tapi ga usah nepok kekencengan juga ! tangan loe lengket Ji ! bekas apaan sih ?!" Ica mengomel karena jidatnya jadi sedikit lengket.


"Gue lupa, abis makan coklat !"


"Kamvrettt !!! nyi blorong !!!" pekik Ica.


Karena masih dalam suasana hari jeda dan pertandingan lainnya, maka hari ini masih bebas untuk siswa.


Basket putra, sedang berlangsung. Mereka sudah tak akan menyangkal lagi, karena sudah pasti pemenangnya XI IPA 2 kelas Milo cs. Semua bintang basket ada disana.


"Daddy !!! ayo daddy !! semongkoh !!!" pekik Ica menyemangati Jihad dan teman kelas lainnya.


"X4 ayo pasti bisa !!!" pekik mereka. Untung saja saat ini X4 bukan sedang melawan XI IPA 2, jika tidak Kara akan kebingungan mau mendukung yang mana.

__ADS_1


"Daddy !!!! ntar gue beliin loe cilok kalo menang !!" pekik Kara.


"Daddy gue bantu do'a dari sini, mau gue bacain surat berapa juz !" pekik Ayu.


Diantara semua suporter, hanya kelas X4 lah yang suporternya paling rusuh.


"Cih, anak anak gue tuh !!" tunjuk Jihad.


"Aa Hafiz, ayo semangat !!!" ujar Ica lagi.


"Nanti kalo sesek neng Ayu kasih nafas buatan !" kekeh Ica lagi.


"Njir !!! kamvrett si Ica !" ujar Ayu.


"Cie aa Hafiz !!!" seru Kara mengompori yang lainnya, mendapat jitakan dari Ayu bersama Ica.


"Yu, sakit Yu...!!" aduh keduanya.


Bahkan suporter lawan saja kena mental dengan kekompakkan mereka, apalagi kata kata mengundang perhatian Ica, Kara dan Ayu. Ibu ibu kampung Karet Barokah dilawan, pikir mereka.


"Daddy gue emang keren !!" sorak Kara, saat Jihad memasukkan bola ke dalam ring.


"Jihad kalo diliat liat keren juga ya ?!" goda Ayu.


"Keren !!" setuju Ica.


"Tapi mulutnya lemes !" tambahnya.


"Engga juga, lemes tuh gimana lawan bicaranya ! kalo sama loe kan emang halal dilemesin !" jawab Kara.


"Loe ga suka gitu Ca?" tanya Kara lagi.


"Apaan?!" Ica mengangkat sebelah alisnya.


"Ga kepikiran gue sampai situ !" lanjut Ica.


Permainan berakhir, dengan skor X4 yang menang.


"Kantin yu guys, laper gue !!" ucap Ica. Mereka cekikikan di lorong menuju kantin, langkah mereka dihadang Vio.


"Heh cewek cupu ! ga nyangka gue !! semuanya gara gara loe !! loe tuh bawa si@*l, semua masuk penjara, termasuk papah gue !!" matanya sembab hidungnya pun memerah, karena terlalu lama menangis.


"Eh, apaan !! kenapa jadi salah gue ?!" tanya Kara tak terima.


"Kalo bukan karena loe, Milo ga mungkin masukkin papah gue ke penjara, puas loe sekarang ?!" Kara mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Gue ga ngerti ya apa yang loe omongin, kenal juga engga sama bokap loe ! tiba tiba gue yang disalahin. Kalo bokap loe masuk bui, itu berarti bokap loe punya salah ! " jawab Kara berbalik menunjuk Vio, jangan dipikir ia akan gentar.


Vio hendak menampar Kara, tapi tangannya ditahan Milo, "stop Vio, Kara tak tau apa apa. Kalo kamu mau salahkan, silahkan kamu salahkan papahmu !" jawab Milo.


"Ini ada apaan sih ?!" bisik Ica pada Ayu, Ayu menggidikan bahunya tak mengerti.


"Loe juga jahat Mil, tega loe sama bokap gue !!" Vio berlari.


Kara mengerutkan dahinya, "ada apa sih? kenapa ayahnya Vio masuk bui ?!" tanya Kara.


"Ga etis kalo kita bahas disini, intinya ayahnya memang masuk bui, tapi memang karena kesalahannya !" jawab Milo singkat.


"Mau ke kantin kan?! yu !" ajaknya, cukup sudah pembahasan ayah Vio.


**********


"Hebat daddy nya gue !!" Ica menepuk nepuk pundak Jihad.


"Sekarang loe muji muji, tadi pagi nyebut gue nyi blorong !" jawab Jihad yang santai meminum jusnya.


"Ah, kapan ??!" tanya Ica tak merasa.


"Dih amnesia !!" gumam Kara.


"Tuh kan temen loe Ra !" ujar Jihad.


"Oh iya Ra, anak kecil kemaren siapa namanya?!" tanya Arial.


"Cia?!" tanya Kara.


"Nah, cocok jadi titisan si Ica ! pedes banget mulutnya !" mendengar nama Cia disebut Milo mendongak.


"Kenapa Cia ?!" tanya Milo.


"Noh, cs loe ! nanyain om susu nya !!" jawab Rial.


"Pffftt !! uhukkk !!" Raka dan Kean terbatuk mendengarnya. Sedangkan Erwan sudah tergelak.


"Hah??!! susu ??!!" tanya Ica.


"Anak gue sama Kara itu !! " jawab Milo.


"Dih, ngaku ngaku !" jawab Kara.


"Anak kita by, " kekeh Milo.


"Kalian punya anak?" tanya Ayu.


"Anak didik les gue Yu," jawab Kara.


"Iya tapi tuh anak udah deket sama Milo, kan namanya Armillo, nah suka dipanggil Milo, tuh anak korban produk makanya manggil Milo, om susu !" jelas Kara. Mereka semua tertawa.


"Sayang, ko aku ga liat Juwita??!" tanya Kara. Milo menatap Kara seperti ada sesuatu yang ingin dijelaskan.


"Ada," jawabnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2