Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Moonlight club night


__ADS_3

Milo dan yang lainnya sudah sampai di tempat Kara tadi, tapi sayangnya Kara dan Gladys sudah tak disana.


"Si@l!!!" pekik Milo.


"Kara mana Ji?!" tanya Ica panik. Jihad menggeleng, hanya melihat bekas bekas air dan tomat saja, juga bekas perkelahian Kara dan preman yang tadi. Ponsel Milo kembali berdering. Ica mengangkatnya.


"Hay guys, sudah gue duga kalian bakalan tau dan susulin. Tapi sayangnya gue sama Kara udah ga disitu, kalian mau tau kisah gue selanjutnya?" tanya Gladys.


Kini Kara dipaksa Gladys untuk lompat dari atas bangunan salah satu rumah sakit.


"Disinilah gue Ra, sempet mencoba untuk bunuh diri, saat dokter bilang gue diperkos4 dan mendapatkan perlakuan kasar, mental gue kena Ra !" tawanya menyayat hati. Kara melihat Gladys, ia sebenarnya adalah korban, korban yang merubahnya menjadi mental seorang pelaku.


"Kalo gue jadi loe gue ga akan ngelakuin ini dys, masa depan loe masih panjang. Ga sampai disini..ga perawan bukan berarti hidup loe juga hancur, " jawab Kara, pakaian Kara yang basah hampir kering kembali, hanya saja memang kotor di bagian tertentu dan luka lebam yang ia dapatkan dari tamparan preman tadi.


"Gladys, balikkin Kara sekarang. Jangan sampai gue ketemu sama loe. Loe habis !!!" jawab Milo sudah sangat diambang batas kesabaran.


"Lompat Ra !" titah Gladys.


"Jangan Ra !!!" pekik Ica dan Ayu.


Kean menyerahkan sebuah data pada Milo, jika ternyata kejiwaan Gladys terguncang. Gadis itu terdaftar di salah satu klinik psikiater ternama sebagai pasien tetap, data tersebut Kean dapatkan dari ayah Gladys.


"Gue tau rumah sakit itu Mil, yu cabut !!" jawab Juwita. Mereka kembali pergi mencari Kara.


"Loe ga harus kaya gini dys, kalau loe lebih terbuka dan baik sama orang pasti loe punya temen, " ucap Kara.


Gladys mematikan ponselnya lalu menarik Kara untuk kembali mengikutinya. Hari sudah mulai sore, Gladys membanting stir ke arah jalanan pusat kota.


"Ganti baju kotor loe Ra !" Gladys memberikan paper bag berisi pakaian.


"Gue ga mau !"


"Oke, jangan salahkan gue kalo ibu..."


"Oke...oke !!" Kara menurut.


"Nepi dulu, gue mau ganti !"


"Loe ganti aja disini, di mobil..toh cuma ada kita doang !" titahnya.


Entah akan dibawa kemana ia sekarang oleh Gladys. Kara membuka pakaiannya lalu mengganti dengan pakaian yang dibawa Gladys, sebuah dress pink baby, dengan model sabrina.


"Gue jamin setelah ini, gue ataupun loe ga akan bisa milikin Milo !" jawab Gladys.


"Apa maksud loe ?!" tanya Kara mulai cemas.


Milo yang sampai di tkp harus kembali menelan pil pahit. Kara sudah tak disana,


"B4ngks4t !!!! dimana kamu by, "


"Gue ko punya feeling kalo kali ini kita bakalan bener bener kehilangan Kara, " Ica sudah berurai air mata dan tatapan kosong.


"Ca, jangan bilang gitu !" sarkas Jihad dan Ayu.

__ADS_1


"Ga, kita masih bisa !" Milo langsung turun dari atas gedung.


"Mil, kayanya gue mesti minta tolong sama Rayhan !" jawab Juwita.


"Apa?!" tanya Milo.


"Kayanya Rayhan tau rencana Gladys, "


"Bener Mil, kita coba !" jawab Raka. Juwita akhirnya menghubungi Rayhan, untung saja Rayhan tak jauh dari sana.


"Ray, gue mohon sama loe !" ucap Juwita mengesampingkan rasa takut dan sakitnya.


"Ray, untuk kali ini gue minta tolong sama loe ! sebagai cowoknya Kara, sebagai orang yang sayang sama Kara !" ucap Milo. Baru kali ini Rayhan melihat Milo sampai sebegitunya pada seorang gadis. Ia sampai rela memohon mohon.


"Woww ! baru kali ini gue liat seorang Armillo Dana Aditama mohon mohon, " ucap Rayhan.


"Ray, kita sudah tak punya waktu banyak !" ucap Raka dan Jihad.


"Njirrr !! kelamaan ! buruan bilang, si Gladys bawa Kara kemana?!" Ica tak sabar.


"Ca, sabar !" Ayu menahannya.


"Ray, " Juwita memegang tangan Rayhan.


"Setau gue Gladys pernah bilang, dia iri sama Caramel, dia juga pengen balas dendam sama loe tapi dia juga pengen milikin loe Mil, " jawab Rayhan yang menyesap vape di sebuah cafe.


"Kalo dari cerita loe, itu persis sama kejadian Gladys dulu. Dari mulai dia di bully, diperkos4, terus bawa Kara ke RS buat bunuh diri, itu semua yang terjadi sama dia. Selanjutnya...." Rayhan menjeda ucapannya.


"Emang dia ngapain?" tanya Ica masih saja bertanya.


"Jual diri !" jawab Rayhan kembali mengepulkan asap beraroma mocca. Milo segera berlari keluar, ia tak menunggu lama, tapi sebelum benar benar pergi ponselnya berdering.


"Hay guys...sampai deh di titik balik seorang Gladys, Tadaaaa !!!" Galdys menunjukkan ruangan dalam club malam dengan banyak penari gadis dengan pakaian terbilang minim, malahan beberapa nya memakai bikini one piece.


"Astaga ! ck ck ck !" decak Erwan.


"Ga nyangka gue maenannya di club malam ginian !" timpal Arial.


"Dys, kalo sampe Kara kenapa napa. Gue bersumpah bakalan kejar dan seret loe ke neraka !" ucap Milo.


Gladys memperlihatkan Caramel yang sudah cantik, dengan dress sabrinanya, rambut bergelombang di bagian bawah. Riasan tipis sensualnya. Gladys memaksa Kara untuk masuk.


"Gue ga mau !!!" pekik Kara, tenaganya sudah hampir habis terkuras, ditambah dari siang ia belum makan.


Kara menggigit lengan Gladys yang mencengkram tangan Kara. Hingga ponsel pun mati, karena tak sengaja terlempar.


"Aaaaa !!! cewek bar bar !" ucap Gladys melepas cengkramannya. Tapi disana Gladys tidak sendiri, seperti janjinya pada sang G3rm0, ia membawakan gadis baru dan yang pasti akan menjadi keuntungan besar untuk si G3rm0. Kara berlari tapi ditangkap oleh para pesuruh G3rm0 itu.


"Mau kemana?"


Milo sudah melajukan motornya kencang bersama yang lain, melesat membelah jalanan kota. Beberapa kali ia menyalip kendaraan di depannya. Bunyi klakson bersahutan. Milo mengendarai motor seperti kes3tanan.


"Bughhh !!!" tengkuk Kara di pukul hingga gadis itu tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Bawa dia langsung ke kamar saja ! " pinta si perempuan yang menyesap rokok dengan bibir merah menyalanya, pakaiannya seksi, namun tak menutup usianya yang sudah kepala 4.


Tubuh Kara dibawa masuk ke dalam kamar VIP, di dalam club malam kelas Internasional itu. Musik keras perlahan sayup sayup menghilang seiring hilangnya kesadarannya. Gadis kuat nan tangguh itu akhirnya tumbang tak berdaya. Beberapa luka yang tergores di tubuhnya, menandakan perjuangannya menghadapi dan mempertahankan kehormatannya. Gladys tersenyum senang.


"Gue jamin pak Wendi pasti puas mih, dia perawan, galak galak manis !" ucap Gladys pada perempuan itu.


"Pak Wendi customer kelas kakap, jangan sampai loe kecewain dia !" ujar perempuan itu, kembali menyesap rokoknya dan meminum minuman di gelas slokinya.


Kara di letakkan di atas ranjang king size dengan sprei merah, dan kedua bodyguard itu meninggalkannya dan mengunci kamarnya.


"Beres mih, ini kuncinya !" ucap si lelaki berkepala plontos ini.


Seorang pengusaha batubara berjas hitam memasuki club malam ini, ia menghampiri perempuan paruh baya dengan gaya nyentriknya ini.


"Pak Wendi !!" serunya, aroma parfum maskulin tercium dari lelaki ini, tanda parfum mahal yang dipakainya.


"Hay Gladys !" sapa pak Wendi, lelaki berumur 45 tahun ini memanglah pelanggan setia mamih Eni, tapi ia tak mau mendapatkan lont3 kelas teri, ia hanya mau gadis gadis yang memang membuatnya terpukau.


"Hay om !" jawab Gladys.


"Jadi dimana?!" tanya pak Wendi.


"Kamar 7, ini kuncinya pak !" jawab mamih Eni.


"Kenapa harus dikunci?!" tanya pak Wendi.


"Dia sedikit nakal, suka melawan pak !" jawab mamih Eni.


"Hahahaha, mamih selalu tau selera saya !" jawab pak Wendi.


Caramel mengerjapkan matanya beberapa kali, ia memegang tengkuknya yang sakit.


"Ini gue dimana?!" tanya Kara meneliti sekitarnya.


"Baju gue ??!" ia melirik tubuhnya, ternyata baju yang dipakainya masih melekat. Ia segera beranjak dan turun menuju pintu. Beberapa kali Kara membuka handle pintu, tapi pintu itu terkunci.


"Woyyy bukain pintunya !!!" Kara menggedor gedor pintu tapi tak ada yang menyahut. Bahkan ia sampai menubruk nubruk pintu dengan maksud dan tujuan agar pintu tersebut terdobrak. Sepatu yang dipakai tadi siang pun sudah berubah jadi high heels, Kara mencopotnya.


"Ahhh, pegel kaki gue !!" ia memukul mukul pintu dengan heelsnya.


"Oyyy buka !" pekik Kara.


Suara langkah sepatu pantofel mendekat ke arah Kara, gadis itu tergelonjak kaget saat suara kunci diputar dan pintu terbuka.


"Cantik !" gumamnya. Kara membukatkan matanya dan terpundur. Kembali pintu di tutupnya dan dikunci, kunci itu di simpan diatas meja.


"Celaka gue !!!" gumam Kara.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2