
Kara hanya bisa cemberut, hatinya dongkol bukan kepalang, setelah pulang nanti, ia akan membeli tali tambang, mengikat lelaki yang kebanyakan janji manis di pohon asem dekat rumahnya. Biar di kerubutin ulet bulu sekalian.
"Cih, pembohong !!" ucapnya, melihat ponselnya menyala, dan menampilkan wajah tampan Milo dan dirinya.
"Ga usah senyum, ga ada yang lucu !!" sarkasnya menghakimi foto, galau membuat seseorang memiliki penyakit mental, ternyata galau juga tak pandang bulu, Raka menggelengkan kepalanya, tak habis fikir, gadis seperti Kara bisa galau dan semenyedihkan ini.
"Percuma itu foto disalahin, toh orangnya ga akan denger !" jawab Raka menatap lurus ke arah supir, tanpa ekspresi. Kara yang malu, mengalihkan pandangannya keluar jendela dan memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas. Jalanan yang rata dan tak banyak pemandangan selain marka jalan, tampak lebih bagus untuk kesehatan matanya saat ini. Mungkin saja dengan melihat jalanan begini memberikannya ide, bagaimana caranya menghukum Milo, nantinya.
.
.
Kara dan yang lain sudah sampai di hotel megah, tempat diselenggarakannya olimpiade tingkat Nasional. Kara mendongak, tak menyangka ia akan sampai ke tempat seperti ini.
"Bu, ayah, do'ain Kara !" mantapnya dalam hati.
"Ayo masuk, kita sudah memiliki tempat. Hanya tinggal mengkonfirmasi pendaftaran saja !" ujar bu Mira. Kara melihat banyak peserta lain dari sekolah sekolah lainnya, kebanyakan memang bermata empat seperti dirinya, alias berkacamata. yang tipis ada, yang super tebal juga ada. Anak anak dengan otak super cemerlang berkumpul disini, kalo kata Ica, tempatnya keturunan Einstein, tidak akan nyambung dengannya yang keturunan Johnie Chaplin.
"Kamar 392 dan 393 ?!" tanya bu Mira pada resepsionis.
.
.
Mereka berjalan dan masuk lift, mencari dimana kamar mereka, Kara masuk bersama Titis dan bu Mira. Sepanjang waktu, Kara hanya menghabiskan waktunya untuk belajar seraya melamun, seperti pengangguran yang baru saja di phk, padahal peserta lainnya asyik asyikan berjalan keliling hotel dan sekitarnya.
Raka melihat ke arah taman hotel, menampilkan seorang gadis cantik dengan buku di tangannya, tapi pikiran dan hatinya sepertinya bukan pada rumus aljabar di depannya, jiwanya seperti hanyut terbawa aliran sungai dan nyangkut di rumahnya Milo.
"Tuh buku kalo cuma buat dipegang doang nangis tuh ! percuma juga ga akan masuk ke otak ilmunya," ucap Raka mendekat, membuat Kara tersentak menoleh, lalu mengalihkan pandangannya ke arah buku.
"Engga, mau gue bakar terus gue seduh sama kopi ! biar hafal !" jawab Kara asal. Membuat Raka tertawa renyah, serenyah wafer seribuan di warung.
"Kasian, nanti dia jadi sasaran amukan Milo ! karena udah berani berani di pegang pegang sama ceweknya, " tambah Raka.
"Milo siapa? ga kenal tuh !" jawab Kara sebal.
"Bener nih?? mau gue aduin, ada cewek amnesia, yang lupa nama pacarnya sendiri !" jawab Raka merogoh ponselnya.
"Tuh anak belum telfon ?!" tanya Raka ikut duduk di samping Kara. Ia sudah lupa pesan Milo, untuk tak dekat dekat dengan miliknya.
"Mau ngapain juga, udah lupa kali dia ! dia kan ceweknya banyak, kalo diitung itung kayanya bisa bikin satu negara yang isinya pacar, mantan, gebetan dan fansnya dia semua !" sarkas Kara. Rasa bencinya meningkat menit menit ini. Raka terkekeh, lucu sekali gadis ini, pantas saja Milo senang menggodanya. Mungkin jika Milo belum memilikinya, Raka sudah mengejarnya mati matian.
"Milo setia Ra, kalo dia ga datang berarti dia lagi ada urusan penting yang ga bisa ditinggal !" jawab Raka. Kenapa Kara merasa marah dan kesal, saat tau jika Milo menomor sepuluhkan dirinya dibanding urusannya itu.
Janji adalah hutang, Milo sudah berjanji padanya..maka nanti sepulang dari sini, Kara akan melipatgandakan hutang Milo layaknya lontah darat yang menjerat mangsanya.
Di tempat lain, seorang pemuda ingin sekali meraih ponselnya dan memesan bom pada *******, agar ia bisa keluar dari tempat ini.
Mungkin Karanya sudah menangis dan bersiap mencincangnya hidup hidup saat bertemu nanti.
"Gue udah janji sama Kara, si*@l !!! " akhirnya pengacara papahnya datang, membawa kabar gembira. Milo bisa pulang saat ini juga.
Milo segera meraih jaket, dan mengambil ponselnya dari tangan polisi, ditahan beberapa jam membuat notif di ponselnya berjibun seperti warga yang rebutan sembako, "thanks om !" ucapnya pada pengacara keluarganya.
"Sama sama, Mil !" jawabnya, memberikan berkas pada polisi. Selama ini jika Milo terlibat kasus hukum om Mukti lah yang membantunya. Rata rata selama ini kasusnya hanya kenakalan remaja seperti bullying, tawuran dan balapan saja. Tak mungkin seorang Armillo mencuri ayam atau kotak amal di masjid.
"Mil !!" Arial dan Kean yang ikut menjadi saksi dan mengurus masalah ini, turut serta menunggui Milo.
"Kara dah berangkat?" tanya Milo pada Kean.
"Udah Mil, tadi jam 8 !" jawab Kean.
"Shittt !" umpatnya. Ia memutar otak, sepertinya ia akan kembali melanggar janjinya pada sang kekasih.
"Apa ga mau pulang bareng menemui papahmu?" tanya om Mukti sang pengacara.
"Engga om, Milo capek !" pekiknya segera memakai helm fullfacenya, bersama dengan Arial dan Kean.
"Thanks guys, oh iya Raka ada bilang nama hotelnya?" tanya Milo.
"Hotel Star Rofftop !" jawab Kean.
"Oke thanks !" jawab Milo.
__ADS_1
"Gue balik lah Mil, ngantuk gue ! mana hari ini bokap nyokap taunya gue sekolah," jawab Arial.
"Ya udah kalian ke basecamp aja " jawab Milo, mendapat anggukan dari keduanya.
Milo menelfon pihak sekolah dan ijin, ia akan menyusul Kara ke Bogor. Tapi sebelumnya, Milo pulang ke rumahnya, agar bi Asih dan papahnya tidak khawatir.
"Den Milo !!" seru bi Asih.
"Bi, " Milo meraih punggung tangan bi Asih.
"Aden tak apa apa kan? sudah makan?" tanya bi Asih yang khawatir.
"Alhamdulillah Milo baik baik aja bi, maaf sudah membuat khawatir," jawab Milo.
"Ya sudah aden, bersih bersih dulu, lalu makan dan istirahat."
Milo berlalu ke lantai atas, ia masuk ke kamar dan membersihkan dirinya. Air dari shower mengguyur otaknya yang ruwet. Kata kata Kara semalam terngiang di pikirannya. Kata bagaimana dan apa yang akan terjadi, tertulis besar layaknya baligho besar di pinggir pinggir jalan.
Ia keluar dengan setengah handuk melilit bagian bawahnya, tubuh atletis menandakan pemuda ini memang senang berolahraga dan merawat bentuk tubuhnya, definisi model susu pria berotot, menurut Kara. Ia meraih ponselnya,
"Om Adi, gue minta reservasi hotel di Bogor !" ucapnya.
(..)
"Star Rofftop !" jawabnya kembali.
Milo membaringkan badannya di ranjang king sizenya. Tak lama ponselnya kembali bergetar,
"Ya?"
"Bu Marsya memanggil pak Agung ke kantor, " ucap seseorang dari ujung telfon.
"Ya, terimakasih, pantau terus !" jawab Milo.
"Tante Marsya sudah berani main main sama gue ! loe sampe usik ayah Kara, loe berhadapan sama gue !" gumam Milo, melemparkan ponselnya ke ranjang.
Ia segera beranjak mengambil pakaian di lemari.
Di sisi lain, ayah Kara sedang menghadapi bosnya,
"Iya " jawabnya angkuh.
"Bapak saya pindahkan ke bagian, pembuangan limbah pabrik !" jawabnya. Ayah Kara mengernyitkan dahi, tak angin tak ada hujan, tiba tiba ia dipindahkan bagian, ke bagian yang paling di enggani oleh sebagian banyak karyawan, karena bau busuknya.
"Tapi kenapa bu?? apa disana kekurangan tenaga? lalu bagaimana pekerjaan yang sedang saya kerjakan?" ada rasa tak terima, namun itulah konsekuensinya jadi karyawan, harus mau bekerja dimana saja, kapan saja sesuai telunjuk atasan, orang kecil sepertinya hanya pion yang harus siap dengan semuanya jika sewaktu waktu sang penguasa mengatur jalannya skenario nasibnya. Ayah Kara menarik senyuman ikhlas.
"Biar pekerjaanmu saat ini, karyawan lain yang mengerjakan ! tapi gajihmu tetap seperti saat ini, tak ada penambahan !" jawabnya lagi.
Ayah Kara menautkan dahi semakin tak mengerti, bukankah setaunya bagian itu, adalah bagian yang gajinya cukup tinggi diantara bagian lainnya, sesuai resiko pekerjaan.
"Bukankah setau saya peraturan pabrik...." belum ayah Kara bicara, tante Marsya memotongnya.
"Peraturan sudah saya rubah, berhubung bapak baru di bagian itu, maka gajih bapak akan tetap. Sampai waktu yang saya tentukan !" jawab tante Marsya.
Ayah Kara meraup nafas banyak banyak, ia mencium bau ketidak adilan disini, tapi ia tak ingin berburuk sangka, dia hanya bisa ikhlas dan tersenyum.
"Saya tak tau apa yang terjadi bu, tapi baiklah saya ikuti. Dimanapun pekerjaan dan apapun itu yang penting nafkah yang saya berikan cukup halal untuk anak dan istri saya makan, " ayah Kara pamit undur diri.
Ia mengusap wajahnya lemah, salah seorang temannya bertanya, dan ayah Kara menjelaskannya.
"Wahhh !! tidak bisa begitu pak ! itu namanya dia sudah menginjak injak harga diri karyawan, dia melanggar peraturan SPN !" jawab temannya, ayah Kara tau, jika itu ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan Kara dan istrinya tempo hari. Selepas kembalinya ayah Kara, tante Marsya menelfon Vio.
"Maafin Milo atas kejadian lalu ya sayang, tante janji setelah ini Milo tidak akan menolakmu lagi !" ucapnya.
.
.
Kara bersiap siap bersama Titis, gurat kegugupan tampak dari wajah manisnya.
"Ra, gue gugup nih !" ucap Titis.
"Gue juga sama ka !" jawab Kara.
__ADS_1
"Semangat girls, gue yakin kalian bisa !" ucap Firman pada kedua gadis ini. Mereka sedang berada di koridor hotel, bersiap siap memasuki aula .
"Ini name tag kalian, good luck sayang..bawa harum nama sekolah kita ! kalah menang bukan masalah!" ucap bu Mira tersenyum hangat.
"Ra, Tis. Gue yakin kalian berdua bisa mengalahkan mereka. Semangat girls !!" ucap Raka.
Kara memasang name tagnya, ia ingin melupakan sejenak masalahnya dengan Milo, dan fokus pada olimpiadenya.
Dengan langkah pasti kelima orang itu masuk ke dalam aula hotel, melihat banyaknya peserta dari berbagai sekolah, seketika menguapkan setengah keberaniannya ke angkasa, terbawa angin dan hilang.
"Aduh Ra, gue makin gemeter !" ucap Titis.
"Yakin aja ka, masa kalah sebelum berperang, kan ga lucu ! udah cape capek nyampe sini !" jawab Kara. Tak tau saja di luar ia tegar dan menguatkan Titis padahal aslinya, ia pun sudah ciut mengkerut seperti kismis.
Kara dan Titis duduk di kursi peserta di depan, sedangkan bu Mira, Firman dan Raka berada di bangku penonton, bersama para pembimbing dari sekolah lain.
Waktu bergulir tanpa terasa, soal pertama diberikan, Kara dan Titis yang berbeda nomer peserta saling beradu otak dan kecepatan dengan siswa lainnya. Satu persatu anak gugur, karena soal semakin kesini semakin sulit. Tidak menutup kemungkinan, mereka pun akan menjadi rival dan bersaing nantinya.
Dari sekian puluh peserta, hanya tersisa lima belas orang saja.
"Alhamdulillah !!" Kara bersama Titis berpelukan, mereka lulus sampai ke babak 15 besar.
"Yeee !!!!!" ketiga orang lainnya yang menjadi penonton bersorak gembira, Kara dan Titis membawa nama sekolahnya harum di kancah olimpiade bertaraf Nasional ini.
"Sekolah bangga pada kalian !" ucap bu Mira.
"Ya sudah, otak kalian sudah ngebul. Sebaiknya di refresh. Hotel ini punya banyak fasilitas, kalian bisa gunakan !" pinta bu Mira.
Titis sudah bersorak kegirangan, dari dulu ia ingin sekali mencoba kolam renang hotel, "Ra, berenang yu, seumur umur gue belum pernah nyobain kolam renang di dalem hotel, paling paling empang tetangga yang gue masukin !" ajak Titis. Kara tertawa, jika ada Ica, pasti gadis itu pun akan sama seperti Titis.
"Duluan aja deh ka, gue ga bisa berenang ! " jawab Kara.
"Ayo dong, Ra..masa gue sendiri !" rajuknya.
"Tapi gue cuma nemenin doang ya kak, engga nyemplung. Gue ga bawa baju renang sama baju lebih juga soalnya," Kara nyengir.
"Okeh Ra !" jawab Titis.
.
.
Milo bersiap siap dengan tas kecil yang di gendongnya,
"Mau kemana lagi kamu ?!" tanya papahnya menggelengkan kepala, dengan semua ulah Milo. Jika dijabarkan, mungkin daftarnya bisa mengisi jalan pejalan kaki sepanjang taman kota.
"Milo mau ijin ke Bogor pah, mau kasih support buat Caramel !" jawabnya.
"Mil, papah mau bicara sebentar denganmu !" jawab papahnya.
"Pah, bukan Milo yang nabrak warga, oke Milo akui Milo salah, sudah mengikuti balapan liar itu lagi. Kalo ga gara gara nolong orang juga, mungkin Milo aman aman aja !" jawabnya bangga.
"Bukan masalah aman atau tidaknya ! sampai kapan kamu mau begini?!" tanya papahnya, ia sudah mengenalkan Milo sebagai penerusnya, tapi kelakuan anaknya ini masih saja berandalan. Sebenarnya pak Braja melihat cerminan dirinya di diri Milo.
"Milo balapan cuma lagi suntuk aja pah, main biliard, taekwondo atau trail ga ada tantangannya ! " jawab Milo yang sudah beres dengan persiapannya.
Papahnya duduk di tepian ranjang Milo.
"Dengar ! papah pun mengalami masa muda yang sama denganmu ! papah tak akan melarangmu untuk melakukan apapun kecuali mabuk dan n@rkotik@. Papah juga yakin kamu tidak akan sampai pada tahap itu, papah percaya ! dan kejar cintamu pada Kara, jangan biarkan gadis cantik itu sampai lolos ! atau kalau tidak, papah yang akan mengejarnya !" goda papahnya.
Milo menyunggingkan senyumnya, ia tau papahnya, meskipun terkadang keras dan memerintah, tapi ia tetap papahnya dengan sejuta kejutan recehnya yang tak terduga.
"Makasih pah, sudah menerima Kara. "
"Papah ingat, dulu papah pun bukan siapa siapa, tapi ayahnya mamahmu menerima papah, dan yakin jika papah akan bisa menafkahi anaknya, bukan hanya nasi dan garam saja !" kekehnya.Tapi sesaat kemudian, ia menyesali kejadian berikutnya, sudah mengkhianati wanita hebat dalam hidupnya dan Milo, memang lelaki diuji saat ia sudah berada di atas angin, harta dan tahta ia dapatkan dengan keringat dan perjuangan, tapi saat wanita muda bergelar sekertaris datang dan merayunya, seketika imannya runtuh.
Nasi sudah menjadi bubur, Marsya sudah dinikahinya. Penyesalan seumur hidup kini bergantung di hati dan pikirannya. Hanya bisa menerima dan mencintai yang ia miliki.
"Papah ga tau, kelakuan busuk istri muda papah, di belakang papah dia layaknya se*tan berwajah bidadari !" benak Milo.
.
.
__ADS_1
.
.