
Kara terbangun di pagi hari, menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Siang ini, jadwal babak selanjutnya, menentukan masuk apa tidaknya ia ke babak 5 besar. Ia berdo'a sangat khusyuk, mengetuk pintu langit sekencang kencangnya. Biarkan para penghuni langit kebisingan dengan ulahnya, yang jelas ia meminta pada sang pemilik kehidupan, diberikan kelancaran dan kemudahan saat berlomba.
.
.
Tok...tok..tok....
Kara menoleh, siapa yang mengetuk pagi pagi begini? bahkan matahari saja belum sepenuhnya keluar dari peraduannya, tak mungkin para house keeping sudah berkeliaran untuk membereskan kamar, ini terlalu pagi.
Kara membuka pintu kamar. Seorang karyawan hotel, memakai seragam lengkap, berdiri di hadapannya membawa sekuntum mawar merah.
"Pagi, dengan Caramel?" tanya nya, Kara mengangkat kedua alisnya, darimana pegawai hotel itu tau namanya.
"Pagi, iya benar saya," pria itu menyerahkan mawar merah yang hanya sekuntum pada Kara.
"Dari orang ganteng sejagat raya, " karyawan hotel itu mengucapkan kalimatnya seraya mengulum bibirnya, ingin tertawa sepaket malu.
"Yah??!" Kara bengong. Pagi pagi sudah disuguhi moment absurd begini, nih orang abis mabok lem kali ya, pikir Kara.
Kara menerimanya, dengan alis bertaut.
"Ga mungkin Caramel saya kan, mas?" tanya Kara.
"Caramel Violin, sama ko fotonya !" jawab karyawan itu sambil melangkahkan kakinya menjauh.
"Siapa, Ra?" tanya Titis.
"Engga tau, tiba tiba ngasih mawar, buat gue katanya !" jawab Kara masih memandangi kemana arah pria itu pergi, Titis pun melongok ke arah tatapan Kara.
"Dari siapa?" tanya Titis.
"Dari orang ganteng sejagat raya!" jawab Kara polos. Sontak Titis meledakkan tawanya.
"Hahahah, mana ada ! pengagum rahasia loe kah, Ra?" tanya nya menyisakkan tawa.
"Entah," gidikkan bahu Kara. Keduanya masuk ke dalam kamar bersiap siap untuk sarapan di cafe hotel. Mereka semua duduk, tapi tak sampai di mawar, kejadian tak terduga berikutnya juga terjadi disini. Karyawan memakai celemek layaknya koki datang menghampiri meja mereka. Tiba tiba membawakan beberapa paket sarapan ala royal kingdom.
" Meja SMA XXXXXX kan? " tanya mereka, Bu Mira dan Raka mengangguk. Mereka tiba tiba menaruh piring piring sajian itu di depan mereka.
"Aneh tau ngga!" gumam Kara pada Titis, Raka hanya mengulum bibirnya, menahan tawa melihat kebingungan Kara.
"Dan ini buat mbak Caramel Violin.." ssbuah kartu ucapan diberikan pada Kara.
Titis sampai ikut melongokkan membaca kartu itu.
"Selamat sarapan, kuharap otak dan perutmu terisi nutrisi ini biar otakmu makin encer, buat bertanding"
from orang ganteng sejagat raya.
Titis tertawa, "orang ganteng lagi, Ra ?! siapa sih?" Kara mengedarkan pandangannya, tapi tak ada orang yang mencurigakan.
"Maaf mas! ini dari siapa ya?" tanya bu Mira.
"Tenang aja bu, ini ga beracun ko, Raka dah coba ! mumpung gratisan, bu !" ucap Raka yang sudah melahap makanannya.
.
.
"Sudah siap, anak anak?" tanya bu Mira.
Titis mengangguk begitupun Kara, "tak menang, tak apa...sudah masuk 15 besar saja kami bangga !" jawab bu Mira.
Dari awal masuk kesini Kara belum sekalipun berkeliling hotel, apalagi ini sudah hari ketiganya berada disini. Kara memutuskan berkeliling sambil mencari kesegaran untuk otaknya.
"Butuh temen ? loe selalu sendiri loh ! kalo ilang, gue juga yang repot !" ucap Raka dari arah belakang gadis ini, Kara selalu tampak menggemaskan dengan swetter rajut pinknya, ditambah celana levis selututnya dan rambut ikal yang menggantung di ujung ia biarkan terurai, Kara menaikkan letak kacamata bulatnya.
"Gua ga akan bikin loe repot, Ka ! dipikir gue anak ayam apa, ga tau jalan balik, gue hafal jalan ! loe pikir karena hotelnya gede terus gue ga inget apa ?!" omel Kara. Raka terkekeh, memasukkan tangannya ke saku celana, lalu menyamakan langkahnya dengan Kara. Gadis ini tampak sibuk melihat lihat properti hotel.
"Katanya ga mau repot, udah sana ! gue juga ga butuh temen !" usir Kara.
"Milo titip pesen sama gue, buat jagain loe !"
"Cih, tapi dia pesen ga boleh deket deket sama loe, loe banyak virusnya, katanya !" jawab Kara.
"Si@*lan si kamvvreett ! udah minta tolong, jelek jelekkin !" Kara tertawa kecil.
"Ga usah inget nama itu Ka, bikin gue badmood !" jawab Kara.
"Baru denger nama aja dah badmood, kalo orangnya ada disini gimana?" tanya Raka.
"Gue dorong dari rooftop ! " jawab Kara.
"Mbak Caramel ??!" tanya seseorang, Kara dan Raka menoleh. Sekarang apa lagi??
"Ya??!" tanya Kara.
"Ini ada paket !" jawabnya,
"Tunggu deh mas, jangan bilang ini dari orang ganteng sejagat raya lagi ??!" tanya Kara mulai terusik. Laki laki itu menggeleng, "bukan mbak, itu dari orang tampan, " jawab pria itu, Kara melongo dibuatnya. Sedangkan Raka sudah tertawa.
Kara membuka paper bag, isinya sekotak coklat di bungkus indah dan berhiaskan pita, "biar mood mu bagus, maaf sudah bikin kamu badmood" hanya ada gambar emoticon tersenyum penuh cinta.
__ADS_1
"Siapa sih ini ??! usil banget !!" kesalnya.
Ponsel Kara bergetar, tadi subuh ayah dan ibunya menelfon menanyakan kabar, sekarang ketiga teman sablengnya. Kara berlari kecil ke taman hotel. Raka mengikuti di belakangnya seperti ekor.
"Hay guys !!!" Kara mengarahkan kamera ke arahnya yang duduk di taman.
"Caramel, my honey, bunny, sweetty, cium jauh !!!" pekik Ica.
"Geser Ca !!" ujar Ayu. Mereka sedang berada di sekolah.
" Uhh so ngartis loe, kaya seleb seleb lagi vacation !" kritik Ica.
"Iya dong, gue mah artis !! artis kampung !!" jawab Kara.
"Ra, gimana ??! beneran loe sama ka Titis masuk 15 besar ?!" tanya Ayu.
"Alhamdulillah !!!" jawab Kara
"Yeeeeee !!!" suara riuh satu kelas menyambut euforia Kara.
"Ya Allah ! kalian ga lagi belajar?" tanya Kara.
"Ga, jamkos ! pak Tio gue santet dulu biar ga masuk kelas !" jawab Ica.
"Sableng !" gumam Kara.
"Pantesan kemaren gue liat loe ke dukun !! jangan jangan gue juga loe pelet Ca ?!" ujar Jihad.
"Njirrr, sudi amat gue pelet loe, mau juga gue pelet ka Raka, ka Rial !!" jawab Ica, padahal Raka sedang ada disitu. Kara tertawa melihat Raka yang menautkan alisnya.
"Loe bilang mau melet ka Raka, Ca?!" tanya Kara.
"Tuh ijin dulu sama orangnya !" tunjuk Kara, menunjukkan arah kamera ke arah Raka. Ica tergelak dan sembunyi di balik badan Jihad.
"Wah, Kara ga sohib nih !" omel Ica.
Ada yang ingin Kara tanyakan pada mereka, tapi melihat adanya Raka dan teman teman sekelasnya, mengurungkan niatannya.
"Ra, kalo gue jadi loe ada di hotel gede kaya gitu, ntar pulangnya gue bawa deh tuh, sabun, sendal, handuk hotel !" ucap Ica membuat Kara malu, pasalnya suara nya sampai membuat para pengunjung lain melihatnya.
"Ca, itu mulut bisa di kecilin dikit ga sih suaranya?! malu gue ! dipikir gue idup di hutan pake bawa yang begituan !" jawab Kara.
Ica dan yang lain tergelak, "oleh oleh Ra..oleh oleh dari hotel !" jawab Ica.
"Guys udah dulu ya, minta do'a nya aja. Gue dipanggil bu Mira !" jawab Kara mengakhiri panggilan.
Kara ingin bertanya pada lelaki di dekatnya ini, tapi gengsinya masih cukup besar menutupi penasarannya.
"Nanya apa?"
"Anu...itu...udah lah ga jadi !" Kara segera berbalik badan dan pergi meninggalkan Raka sambil berlari. Raka tertawa, Milo benar Kara adalah gadis yang memiliki gengsi setinggi langit.
.
.
Degupan jantung mulai tak seirama, kaki pun menghentak hentak kecil namun cepat. Ini adalah gejala kegugupan, wajar untuk mereka.
"Ka, kalo gue ga lolos gue harap loe lolos !" ucap Kara, tangannya memegang tangan Titis yang sama sama membeku.
"Loe juga, kalo gue ga lolos. Loe harus lolos !" keduanya tertawa bersama saling mengandalkan.
Kara dan yang lain menapaki jalanan menuju aula,
"Kalian duluan aja, gue mau ke toilet dulu bentar !" ucap Raka.
Kara dan Titis mengambil tempat duduk di tempat yang sudah disediakan, kini tempatnya lebih istimewa karena hanya 15 orang anak lah yang duduk menjadi sorotan para juri dan panelis.
Kara mensugesti dirinya untuk semangat, dari arah pintu aula, datang seorang pemuda yang pakaiannya berbeda dari yang lain, bukan seragam sekolah melainkan t-shirt dan jaket kulitnya, plus dengan celana levis yang sobek di bagian lutut. Ber name tag kan Raka. Ia kerepotan membawa papan sterofoam.
Tiba tiba pemuda ini berdiri di area yang telihat oleh Kara di bangku milik Raka.
"Caramel Violin, semangatttt !!!!!" pekiknya mengacungkan papan sterofoam bertuliskan Chaiyo !!!, sontak semua orang melihat ke arahnya.
"Astaga !" gumam Kara. Titis sudah tergelak dari tadi, ia pun terkejut dengan kedatangan Milo di tengah tengah suasana tegang pertandingan olimpiade.
"You Are the winner !!!" pekiknya lagi membawa pom pom yang biasanya dipakai pemandu sorak sambil berjoget joget ala ala cherrs, bu Mira menarik narik jaket Milo.
"Hahah, ya Allah itu Milo kan?!" tunjuk Titis.
Kara menutup wajahnya malu, apa apaan manusia dari jaman batu ini, 3 hari tak ada kabar, bahkan mengingkari janjinya, kini datang datang malah membuat gaduh, hey bung ! ini pertandingan olimpiade, yang identik berkelas tanpa keributan, bukan pertandingan basket antar sekolah.
Official sampai menegurnya untuk tak membuat keributan, tapi aksinya memancing perhatian orang orang hanya untuk Kara, membuatnya mendadak jadi artis, selain wajah tampannya.
Sebelum ia berbuat yang lebih nekat lagi, bu Mira membawa Milo keluar dari aula.
"Baby, semangat !!!" pekiknya sebelum bu Mira membawanya keluar dari pintu aula. Percayalah, saat ini senang sekaligus malu mengalahkan rasa gugupnya. Karena kini mata para peserta sudah menyorotnya, terang saja name tag yang menggantung di lehernya bernamakan Caramel Violin. Mereka tertawa, melihat Kara.
"Caramel, itu pacarmu??!" tanya salah satu peserta dari sekolah lain. Kara mengangguk sambil meringis.
"Uhhh so sweet, rela sampai segitunya !" ucapnya memuji.
Mana ada so sweet, yang ada bikin malu dan gaduh. Pembawa acara sudah membuka acaranya, semua kembali duduk ke tempatnya semula, bu Mira kembali bersama Raka.
__ADS_1
Pertanyaan dan soal soal sudah diberikan, mereka harus dengan cepat menyelesaikannya dengan benar. Selain ketepatan dan keakuratan, waktu pun menjadi penilaian. Satu persatu memencet bel yang ada di depannya.
Kara tersenyum, ia selesai dan memencet bel. Sedangkan Titis kepayahan di soal ke 5 yang diberikan panitia. Jumlah 15 merosot jadi 5 besar. Beberapa nama diumumkan. Bu Mira, Raka, dan Firman bersorak senang, saat nama Caramel disebutkan panelis.
"Yee, ka Titis gue masuk !!!" Kara memeluk Titis seraya menangis terharu, tapi sampai nama kelima tak ada nama Titis disebutkan. Kedua peserta ini kembali pada timnya menyambut antara suka dan duka.
"Ga apa apa Tis, kamu sudah berusaha ! kamu sudah melakukan yang terbaik, tapi memang rejekinya hanya sampai sini saja !" bu Mira memeluk Titis.
"Selamat Caramel !!" bu Mira tersenyum kegirangan.
"Babak selanjutnya akan jauh lebih susah, bersiaplah nak ! peserta diberi istirahat satu jam !" jawab bu Mira. Kara melihat mengangkat alisnya pada Raka.
"Ada yang mau dijelaskan, ka?" tanya Kara.
"Gue juga ga tau kalo dia bakal bikin rusuh !" jawabnya. Kara keluar dari aula. Dilihatnya lelaki tadi sedang menunggunya sambil terduduk di bawah, mirip gelandangan.
Kara berdiri di depannya, ia mendongak.
"By, selamat !!" ia merentangkan kedua tangannya. Tapi gadis ini menatap tajam tak suka, sambil melipat kedua tangannya.
"Maaf by, mendadak ada urusan yang ga bisa kutinggal, maaf !" jawabnya membujuk Kara.
"Udah gitu aja? ga mau jelasin gitu urusan apa??" tanya Kara. Milo tersenyum, tak mungkin ia bilang kalau ia baru saja bermalam di kantor polisi gara gara balapan liar.
"Maaf, aku belum bisa bilang, by.. " sesalnya.
Kara menghela nafasnya lelah, "jahat tau ga !" Kara berbalik berjalan menuju luar hotel meninggalkan Milo. Milo mengekor, baru sampai lobby, Milo menarik tangan Kara.
"By," Milo memeluk gadisnya.
"Sorry, aku emang salah by, maaf ! hari ini pun aku langgar janjiku lagi, buat ga nyusul kamu kesini ! tapi aku belum ngucapin selamat berjuang buatmu !" senyumnya lebar.
"Cihh, jelek !!" sarkas Kara. Milo mengacak rambut Kara, "selamat ya by, aku ada disini buat kasih support !" jawabnya, masih berkangen kangen ria, Firman menyusul Kara.
"Ra, udah waktunya balik !"
"Ahh loe Man, ga tau apa, gue kangen !" jawab Milo.
"Kangennya tahan dulu, Mil..ntar aja setelah acara !" jawab Firman hendak menarik Kara.
"Ga usah megang megang, biar gue aja yang anterin cewek gue ke depan aula, jodoh gue ga perlu dititip titip orang dulu, gue bisa jaga jodoh gue sendiri!" jawab Milo.
"Dih !!" Kara menoyor kepala Milo, kayanya kelamaan rendem di air es, otaknya jadi beku.
"Otak kamu tuh, di titip di pegadaian, makanya suudzon mulu sama orang !" omel Kara, seraya berjalan mengikuti Milo yang memegang tangannya.
Kara duduk bersama ke 4 peserta lainnya, inilah penentuan nasib mereka. Kara menghela nafas berulang ulang, mengusir kegugupannya. Otaknya harus seencer coklat panas.
Panelis dan panitia sudah memberikan soal soal, begitupun soal rebutan. Kara mengetuk ngetuk otaknya.
"Astaga !!" dia bingung dengan jawaban soal nomer 3, akhirnya ia menjawab sebisanya, waktu berjalan satu jam. Panelis meminta penjelasan atas jawaban mereka. Tepukan tangan mengiringi persaingan mereka. Para peserta tak bisa diam menunggu keputusan juri dan panelis.
Skor akhirnya keluar, dan Kara berada di posisi Runner up. Ada sedikit rasa kecewa, karena tak bisa menyabet juara 1.
"Alhamdulillah !!!" seru bu Mira,
"Ibu, " Kara meringsek masuk ke dalam pelukan bu Mira, suasana jadi riuh semua pemenang sudah diumumkan, Kara menyendu.
"Maaf ya bu, semua ! Kara ga bisa bawa nama sekolah lebih jauh lagi !" ucap Kara.
"Ya Allah ga apa apa sayang, ini sudah merupakan kado terindah buat sekolah !" Kara juga gagal mendapatkan kursi mengikuti olimpiade tingkat Internasional. Tapi bersyukurlah, ia berhasil mendapatkan kursi beasiswa kuliah ke luar negeri selulus SMA nanti.
"Ra, kita yang ngucapin makasih sama loe, usaha loe ga sia sia, Ra !! sekolah bangga sama loe dan Titis !" ucap Raka.
Kara berdiri bersama ke 5 lainnya, memegang beberapa hadiah secara simbolis piala olimpiade, dan sertifikat juga beasiswa kuliah selulus SMA nanti. Menatap masa depan cerah di depannya nanti, ia tak perlu bersusah payah mencari uang untuk kuliah, bahkan ke luar negeri.
Milo dengan refleks memeluk dan mengangkat Kara, memutar tubuh Kara di udara, "selamat by !!!" pekiknya membuat Kara tergelak sekaligus memukul mukul pundaknya meminta turun.
"Turunin !!" ucapnya.
"Milo !!! " bu Mira menjewer kuping Milo sampai lelaki ini mengaduh. Semuanya masuk ke kantin untuk makan siang.
" Ngapain juga kamu harus menyusul kesini Armilo ?!" kesal bu Mira.
"Liat kan bu, ini berkat adanya saya, bu ! makanya Caramel jadi runner up, support seseorang yang disayangi itu penting bu !" dalihnya.
"Maaf ya semua, gagal bawa piala juara 1 !" jawab Kara masih menyesal. Bu Mira menggeleng.
"Bukan maaf, justru kami mau bilang makasih buatmu Caramel !" ucap bu Mira memegang tangan Kara.
"Ibu permisi sebentar, pak Kepsek menelfon !" ucapnya lagi.
"Hey, by... ga usah sedih. Kalo kamu mau ke luar negri besok, kuajak ! sekalian foto pre weed !" ujar Kara, membuat Firman dan Titis hampir saja tersedak.
"Tuk !!" Raka mengetuk kepala pemuda satu ini menggunakan sendok,
"Jangan mau sama cowok absurd gini, Ra !" ucapnya.
.
.
.
__ADS_1