
Musim berganti.....
Kara dan Milo belajar, bertumbuh bersama...belajar bukan hanya sebatas akademik saja, belajar menahan ego, mengurai emosi, dan membicarakan masalah bersama dengan mengesampingkan kata menurutku atau menurutmu. Milo yang awalnya pemuda kaya angkuh, tak pernah menghargai orang lain, dan kasar, juga nakal, sulit untuk dikendalikan. Kini sudah mulai melepaskan semua perangai buruknya bersama Kara yang setia di sampingnya.
Mereka sudah hampir menyelesaikan studinya di negri Ratu Elizabeth ini. Hubungan mereka sudah berjalan 7 tahun, bukan tanpa ujian. Tapi karena komunikasi yang baik, bukan masalah yang besar untuk mereka.
Kara yang melihat Milo tengah menunggunya di taman kampus, mengendap endap dari arah belakang pemuda itu, gadis ini langsung melompat dan tanpa aba aba nemplok, seperti anak tenyom di punggung Milo, mengalungkan kedua tangannya di depan dada Milo.
Ia terkesiap, "Baby, kalo kamu jatoh gimana ?!" seru Milo lamgsung menahan berat badan Kara, memang tak terlalu berat, tapi cukup membuatnya tersentak kaget.
"Tapi engga kan ?! makanya kamu yang kuat pegang aku !"Kara terkikik. Milo berjalan dengan menggendong Kara di belakang tak peduli tatapan dari orang orang yang ada di sekelilingnya, dunia hanya milik mereka berdua.
"Udah lama?" Kara menoleh dengan memiringkan kepalanya
"Baru, baru abis kopi latte sama donat, " Kara cengengesan.
"Maaf ya, tadi abis ketemu dosen pembimbing, "
"Berat ngga?" tanya nya lagi.
"Ringan, kaya kapas....diisiin batu kali," tawa Milo puas, Kara menjewer kuping Milo seraya manyun.
"Tebak dong ! ada kabar baik nih !" seru Kara menoleh wajah Milo.
"Apa ?! kamu mau nikah sama aku besok ?!" tanya Milo.
"Cih, bukan lah !" kembali jari Kara mencubit pipi Milo.
"Terus ? karena menurut ku yang kabar baik tuh kamu mau nikah secepatnya sama aku !" jawab Milo terkekeh.
"Bukan itu, aku udah ada jadwal sidang skripsi !!!" pekik Kara merentangkan kedua tangannya.
"Kapan ?" tanya Milo.
"Minggu depan !!" jawab Kara.
"Hah ?! cepet banget ? aku masih bulan depan, curang nih pasti !" tuduh Milo.
__ADS_1
"Dih, engga ! enak aja, curang gimana, nyogok maksudnya ? pake apa, uang aja ga punya !" Kara turun dari gendongan Milo.
"Pake pesona kamu, " kekeh Milo yang sontak dihadiahi pukulan bertubi tubi dari Kara.
"Mau kemana kita sekarang ?" tanya Milo.
"Kan bukannya janjian sama Jihad di cafe perempatan sana, Jihad mau duluan balik ke Indonesia kan ?!" tanya Kara.
"Oh iya, aku sampe lupa ! si jomblo balik bentar lagi, " tawa Milo, selama 4 tahun bersama Jihad di London, tak pernah sekalipun ia melihat Jihad menjalin hubungan dengan wanita. Apa perempuan perempuan disini tak ada yang menarik perhatiannya, beberapa kali Milo melihat teman teman bule nya datang ke apartment Jihad hanya untuk sekedar memberinya makanan, tapi tak ada respon lebih dari Jihad, begitupun saat Milo mencoba menggoda Jihad untuk mencomblangkannya dengan salah satu temannya, tapi Jihad hanya tersenyum menghargai saja tanpa ada respon berlebih, kalau bahasa modernnya php.
"Husss ! Ica juga masih betah menjomblo, kayanya balik dari sini Jihad langsung kejar target, " kikik Kara, Milo langsung merangkul leher Kara dan membawanya ke dalam dekapan.
"Terus nasib kita gimana by ?" tanya Milo.
"Maksudnya ? ya engga gimana gimana, gini gini aja !" tawa Kara.
************
Setelah bertemu dengan Jihad mereka memutuskan untuk jajan di street food masih di sekitar wilayah itu.
"Sayang liat itu !" Kara mengejar burung burung merpati yang berkumpul saat musim semi, hanya untuk sekedar menikmati hangatnya sinar mentari yang menyorot taman disini, seraya mematuki jagung dan biji bijian yang diberikan para pengunjung taman.
Sampai pesanan mereka siap, Milo menaruh beberapanya di bangku taman dan segera memanggil Kara.
"Baby !!!" tunjuk Milo pada makanan yang dibungkus di tangannya, Kara mengangguk.
"Masih panas yank, " Kara mengernyit, dan kembali meniupi makanan di depannya dan mengipasi nya dengan tangannya.
"Jangan ditiup by, kan kamu sendiri yang bilang, " keduanya duduk di bangku taman.
"Lupa, ga sabar soalnya !" tawa Kara.
"Sini aku potongin dulu, " Kara dan Milo berebut sendok plastik.
"Baby, kita sekolah, tumbuh dan belajar sama sama. Sarjana juga sama sama, kamu mau janji sama aku.." ucap Milo di tengah tengah suapannya. Kara mendongak sambil menyimak, mulutnya tetap mengunyah.
"Janji apa?!"
__ADS_1
"Temani aku merangkak menuju sukses, temani aku melewati masa masa sulit dan indahku. Temani aku meraih surganya Allah..." pinta Milo. Kara menghentikan kunyahannya, mendadak hatinya mencelos obrolan ini terlalu berat dibawa saat sedang makan.
"Kamu jangan ngomong gitu dulu, nanti makanannya malah jadi ga enak !" pinta Kara, membuat Milo tertawa.
"Oke..oke..."
**********
"Ji ! " Kara berjinjit mengalungkan tangannya di leher Jihad, memeluk Jihad yang sudah siap dengan kopernya.
Yup, Jihad pulang hari ini, berbekal gelar magister yang sudah tersemat di belakang namanya.
"Loe berdua nyusul ntar kalo udah beres, hati hati disini. Jangan banyak berulah kalo ga ada gue !" ucap Jihad.
Kara sesenggukan, selama ini jika ia ada masalah dengan Milo ataupun madalah kuliah, maka Jihad lah tempatnya mengadu.
"Mil, awas kalo loe ga bisa jaga Kara, gue susul kesini buat bawa Kara balik duluan !" ancam Jihad. Milo menepuk pundak Jihad.
"Ica udah bisa dihubungi belum, Ji ?! soalnya gue hubungi ponselnya malah ga aktif."
Jihad sudah tak kaget lagi, karena sudah sejak 2 hari kemarin ia menghubungi gadis itu, namun hanya mesin operator yang menjawab. Tak tau kemana gadis itu pergi, seperti minta di culik dan disekap saja.
"Kalo ketemu, salamin buat Ica. Kangen gue sama dia !" Kara mengusap air matanya.
"Iya, ya udah ga usah mewek, ntar juga ketemu lagi. Laki loe udah kaya kepiting di asam manis tuh ! ngebul, merah, masam !" jawab Jihad menunjuk Milo dengan dagunya. Dengan memakai swetter kuning kecoklatannya Jihad menyeret koper menuju bandara.
"Hati hati Ji, " ucap Milo.
"Ga ada Jihad, ga ada tempat buat minta tolong kalo aku kelitikin !!" tau Milo yang akan melakukan apa, Kara segera ambil langkah seribu masuk ke dalam apartmentnya dan dikejar oleh Milo, padahal masih ada Tara disitu.
Tara menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah kekanakkan keduanya.
"Ka Tara tolongin gue !!"
"Kiss me baby ! sekali aja !" pekik Milo.
"No !!" jawab Kara.
__ADS_1
Hay hay gengs, maaf ya udah lompat jauh aja, maaf kalo mengecewakan tapi memang sebenarnya sudah berakhir, dan mimin sudah berada di akhir dari alur cerita, tak bisa dipaksakan lagi alias sudah mentok, khawatir ceritanya malah ngaler ngidul ga jelas, karena melenceng dari judul cerita nanti mimin tutup dengan part nikah deh...