
"Loe berdua malah ngerumpiin orang meninggoy !" ucap Erwan.
"Lemes gue, liat tuh tangan gue masih gemeter Ca, " ucap Vanya.
"Gue udah keringetan ihhh, " ucap Amel.
"Masih lanjut ga nih ? masa mau stop disini ?" tanya Ayu.
"Bentaran napa Yu, gue jantungan..Ca loe kekencengan bantingnya, gue ikutan kaget !" omel Kara. Ica tertawa.
"Muka loe pada ngakak astaga, ini pocong gimana ceritanya bisa lari gini !" jawabnya melihat tampilan Arial san Erwan.
"Wah gawat nih, kita udah buang waktu 10 menit an !" ucap Amel,
"Buruan Ra, " Amel menyeret Kara untuk ke pos berikutnya.
"Balik dari sini gue jantungan ini !" ucap Kara.
Mereka terkadang berlari, dan menjerit ketakutan. Sampailah mereka di pos terakhir, kenapa momentnya pas sekali, angin bertiup kencang, suasana hening.
Ayu dan Kara menyalakan senter, dan mennyorotnya ke berbagai arah.
"Itu !" tunjuk Amel pada sebuah nisan bertuliskan Qarun, di tengah tengah. Sebuah replika makam.
"Berarti goalsnya ada di bawah sini ! hartanya si Qarun !" ujar Ica.
"Cari cangkul coba atau apa kek buat gali !" ujar Vanya, sementara Kara dan Ayu menyenteri, disaat mereka tengah sibuk, suara cangkul di seret terdengar di sekitaran mereka.
"Eh denger ngga?" tanya Kara menyuruh mereka diam.
Srettt...tranggg
Srettt.....trangg...
"Suara apa itu ?" tanya Ica sudah merapatkan badannya ke badan Kara.
"Kaya besi gitu dipukul pukul. Mamposss gue ga mau ahh takut !" jawab Kara.
"Ini gue berasa lagi di situasi beneran tau ngga !" jawab Amel.
"Pasti berkali kali lipat lebih nyeremin lah, kan ini pos final nya," ujar Ayu.
Dari sisi kanan dedaunan gantung bergerak gerak. Kara menyorotinya dengan sorot cahaya senter.
"Guys ! " sesosok zombie keluar dari sana.
"Waaaaa !!!!" pekik mereka saling memeluk.
"Allahuakbar !!! Allahuakbar !" pekik Ica.
"Aww Ca, gue jangan di cekek gini !" Kara mengaduh, Ica memeluk leher Kara dengan kuatnya. Kelimanya berhamburan, tapi bukannya berlari Ica malah menahan Kara.
"Pait pait suhhh !" usir Kara memejamkan mata.
"Be*go ! ini gue mau lari gimana, si Ica malah meluk gue !" keluh Kara. Ketiga lainnya malah menertawakan Kara,
"Ra, gue belum mau mati ! masih belum kawin gue !" ucapnya memeluk Kara.
"Ca, takut sih takut tapi bukan berarti diem ! awas gue mau lari !" si zombie sudah mendekat, Kara dengan refleks mengetuk kepala si zombie dengan senter.
"Awww ! sakit Ra !" ucapnya.
"Lah, zombie bisa manggil Ra, " ucap Ica.
Ica malah balik tertawa, ketiga lainnya kembali dengan segera mencari cari alat.
Baru saja ditakuti oleh zombie, sekarang sosok menyeramkan lainnya datang membawa cangkul.
"Aaaaa !!!" pekik mereka, aktingnya cukup meyakinkan.
"Tuh ! cangkul buat gali," tunjuk Amel pada cangkul yang sedang dipegang sosok kaka kelas.
"Gimana cara ngambilnya ?" tanya Vanya.
"Alihin aja perhatiannya !" usul Amel.
"Ngapain ribet ribet sih, rebut aja !" jawab Ica.
Mereka berkumpul dan berbisik,
"Oke !" anggukan kepala mereka. Sebagai tim, mereka harus memecahkan masalah bersama sama.
"Satu, " ucap Amel.
__ADS_1
"Dua," jawab Ica.
"Tiga !" pekik Kara.
"Hiyaaaaaa !!!" mereka berlari mengeroyok si sosok pembawa cangkul. Sosok itu jelas terkejut, jika hanya menyerang perorangan mereka memang ciut, tapi jika bersama sama mereka kuat.
Amel dan Ayu meraih cangkulnya dan segera mereka kembali untuk menggali, tapi belum mereka semua kembali sosok itu meraih tangan Kara, Kara memejamkan matanya takut dengan riasan yang dipakai.
"Ra, " mereka berbalik.
Niat hati membantu, tapi akhirnya mereka urungkan, sosok ini malah memeluk Kara.
"Beuhhh, tau gue mah ini siapa ! kalo ujungnya peluk peluk Kara udah pasti pacar hantu hantuannya !" ucap Ica.
"Kamu takut by ?" tanya nya.
"Diem ihh, kesempatan banget buat peluk peluk ! modus !" sarkas Kara menoyor kepala Milo.
Akhirnya mereka berhasil menemukan kotak di dalam replika kuburan Qarun, isinya coklat, permen dan biskuit.
"Dih, apaan ! gue kira emas gitu, surat tanah !" ucap Ica.
"Capek banget gue !" Amel merebahkan tubuhnya di tenda.
"Ga apa apa lah, buat cemal cemil..biar mulut gue manis, abis teriak teriak barusan !" kembali jawab Ica mencomot sebungkus coklat di dalam kotak itu.
"Ca, gawat Ca ! bisa kalah ini mah !" ucap Ayu.
"Kenapa yu ?" Ica dan Kara beranjak.
"Kelompok Jihad cepet banget,"
"Ca, Yu...gue mau ngerjain ka Erwan sama ka Arial mau ikut ga? enak aja mereka ngerjain gue tadi !" ajak Kara berbisik. Setidaknya meskipun mereka kalah taruhan dari Jihad, mereka memiliki kepuasan tersendiri.
"Kuyyy !!!" Ica dan Ayu berseru. Kara meminta bantuan pada Juwita.
"Ka Juwi, suttt !!" panggil Kara. Kara menjelaskan maksud dan tujuannya. Karena ternyata selama mereka menjalankan misi tadi, keduanya asik merekam mereka.
Kara meminta Juwita mendandaninya, tidak terlalu berlebihan hanya seperti gadis yang sudah di aniaya, dengan luka lebam dimana mana dan noda bercak d4rah.
"Oke sip ! cuma tinggal nambahin softlens aja Ra, " jawab Juwita. Juwita menambahkan softlens mata Valak.
Ica sengaja melumuri pakaian seragam pramuka Kara dengan tanah termasuk badannya.
"Loe kebanyakan paukk !" ucap Kara melihat terlalu banyak noda merah.
"Gue ga tau !" Ica tertawa.
"Si peakkkk ! kalo ga bisa gue mesti beli lagi seragam, konah !"
Anak anak OSIS sedang berkumpul habis acara, Erwan kembali memutar video saat Kara tengah menjerit jerit, disana hampir semua anak anak OSIS berkumpul dan bersantai.
"Eh gilakk, tuh anak anak OSIS banyak, bukan cuma ka Rial sama ka Erwan doang !" ucap Ica.
"Ka Juwi, boleh minta tolong ngga,"
Juwita memanggil sebagian, hanya menyisakkan Milo cs, di ruang OSIS.
Ica mematikan lampu ruangan itu,
Pettt....
Lampu padam.
"Eh, kenapa nih ?" kelimanya celingukan termasuk Jihad yang malah ikut masuk.
"Bentar gue cek, " jawab Jihad.
Tapi sejurus kemudian Ica menjatuhkan ember di antara mereka.
"Njirrr ! kamvrettt ! kaget gue !" seru Arial.
"Apaan sih itu ?" tanya Kean.
Belum Jihad melangkah lagi, terdengar suara sesenggukan memilukan seorang gadis .
"Nah loh ! denger ga tuh ?!" tanya Raka.
"Alahhh paling orang iseng, atau emang ada yang nangis !" jawab Milo mengelap bekas make upnya meskipun tak dapat melihat karena gelap.
Tiba tiba pintu terbuka dengan sendirinya,
Brakkkk !!!!!
__ADS_1
Begitu terkejutnya mereka dari ambang pintu mendadak ada siluet sosok perempuan tersorot cahaya lampu di luar yang menunduk. Jihad saja sampai berbalik dan menghambur ke arah mereka yang tengah duduk saking kagetnya. Apalagi Arial dan Erwan, mereka sudah memekik.
Sosok itu berjalan terpincang, mendekati mereka.
"Itu anak pramuka bukan sih ?" tanya Kean.
"Ga ada yang jadi sosok itu di skenario !" jawab Raka.
"Terus itu siapa?" tanya Milo.
"Sat !!! gue keringetan gini !" jawab Jihad.
Kara mendongak sedikit sedikit, suaranya dibuat seserak mungkin.
"Aku mencari pacar yang sudah menghamiliku tanpa bertanggung jawab, hiks...hiks...!"
"Aku gantung diri di toilet sekolah karena aibku, " lanjutnya lagi berbisik. Kara memperlihatkan wajah dan matanya yang sudah seperti valak.
"Waaaa...aaaa...!" Arial sangat kencang berteriak. Kara dan Ica tak kuat ingin tertawa, melihat wajah Arial dan Erwan, kelak mereka akan menceritakan kisah ini pada anak cucunya.
Tak lama gadis itu malah tertawa, Keenam pemuda ini mengenali suara Kara, mereka menautkan alisnya.
"Aahhh udah ah Ca ! ka Juwi ! liat muka mereka gue pengen ketawa, " kikik Kara.
"Kamvreettt Caramel !"
"Awas kamu by, "
Keenam pemuda ini beranjak, Milo sudah mengejar Kara yang berlari,
"Mau lari kemana kamu hah? enak aja udah ngusilin malah lari !" Milo menangkap Kara dan memutarnya.
"Udah yank, pusing...iya maaf..niatnya cuma mau ngusilin ka Rial sama ka Erwan doang !" pekik Kara.
"Noh cowok yang ngamilin loe ! terus ga balik balik ! loe cekek aja dia !" pekik Arial.
"Sue anj4yyy, gue udah takut setengah mati !" ucap Erwan.
Dengan berakhirnya acara jerit malam, maka berakhir juga acara camping ini.
"Ca, Yu..Kara ! loe kalah, siap siap mijitin gue !" ujar Jihad menggidik gidikkan bahunya.
"Iya ahhh ! bawel ! ntar sambil gue bawain parem kocok ! " ketus Ica. Semuanya sudah membersihkan badan dan berganti pakaian, mereka semua berkumpul mendengarkan sepatah dua patah kata dari pembina, untuk selanjutnya bersantai di depan api unggun.
"Enaknya ngapain guys ?!" tanya Milo.
"Nyanyi aja Mil," usul Erwan.
"Nyanyi...nyanyi..nyanyi...!" pekikan yang lain.
Milo meraih gitar dan menyanyi diantara semua peserta camping, tak ada panggung ataupun podium, hanya sebuah gitar dan suaranya.
"Oke gue mau bawain lagu yang romantis, setelah tadi kita abis shock teraphy, lagu ini cocok di persembahkan untuk seseorang yang kita sayang !"
"Cieeeeee !!!!! sorakan yang lain. Sudah merah saja wajah Kara.
"Buat kamu yang di ujung sana ! semoga senyummu selalu ada untuk melukis senjaku," ucap Milo memetik senar gitarnya.
"Woahhhhhh !" kembali mereka berseru.
"Ini dia yang bikin cewek cewek sekolah pada meleleh kaya mentega panas !" bisik Amel.
"Loe ga cemburu kan Ra? " tanya Vanya, menunjuk beberapa peserta lainnya terhanyut dan memandang kagum pada pacarnya Milo.
"Engga lah, " jawab Kara.
Milo bernyanyi lagu romantis yang ia tujukan untuk Kara, matanya saja tak lepas memandang Kara.
"Ka Milo ganteng banget sih !" bisik mereka.
"Ra, loe nervous ga sih diliatin gitu ?!" tanya Ayu.
"Engga, jantung gue udah cape dari tadi acara jerit malam, " ucapnya menutupi, padahal bukan hanya itu.. nervous, blushing, terharu, senang sudah bercampur jadi satu.
"Cieeeee !!!! muka Caramel udah pinky pinky gini !!" ujar Vanya dan Amel mencolek colek Kara.
"Njirrr, loe berdua bikin malu tau ngga !" jawab Kara.
.
.
.
__ADS_1
.
.