
Kara berdiri, ia menyembunyikan matanya yang sudah berembun dengan segera mengusapnya.
"Tunggu !!" Milo berdiri dari duduknya. Dengan jalannya yang terpincang, ia menolak untuk dibantu Kara, sebagai seorang laki laki ia berdiri dengan tegak meskipun sesakit apa raga dan hatinya.
Ia berjalan menghampiri Kara, meraih Kara ke dalam dekapannya, Kara tak menolak. Ini adalah pelukan hangat yang pernah ia rasakan. Milo dan Kara berharap waktu terhenti saat ini juga.
"Dimana pun kamu berada, tetaplah baik baik saja !" bisik Milo. Kara memejamkan matanya meresapi detak jantung dan hangatnya pelukan Milo, mulutnya memang berkata ingin berpisah, tapi tangannya terulur membalas pelukan Milo. Seakan tak ingin melepaskan lelaki yang sudah menyematkan namanya di tempat teratas hatinya.
"Kamu juga," suara Kara bergetar. Milo refleks mencium pucuk kepala Kara lama, meresapi aroma Kara untuk yang terakhir kalinya. Lembayung senja terasa begitu romantis untuk mengiringi perpisahan keduanya.
Tangannya mengendur, melepaskan Milo. "Aku harus pulang, sehat selalu !" ucap Kara matanya sudah benar benar tenggelam dalam genangan kekecewaan, kekecewaan untuk keadaan. Ia tak ingin berlama lama semakin larut dalam kesedihan.
Kara berlari menjauhi Milo, hingga Milo hanya bisa menatap Kara semakin menjauh dan hilang.
Kara menangis dan berlari melewati teman temannya, sontak mereka terheran.
"Guys yu pulang !!" suaranya bergetar. Ayu dan Ica terkejut langsung mendekap Kara.
"Ra, kenapa?" tak terkecuali Juwita.
"Gue baik baik aja ! yu pulang sebelum pembina OSIS tau, kita disini !" ajak Kara.
"Kalian duluan aja, nanti gue nyusul !!" jawab Juwita. Ia yakin pasti ada yang tak beres dengan Kara dan Milo. Ayu bersama Kara dan Ica duluan menuju parkiran. Setelah membayar makanan, Juwita berniat pamit pada Milo dan yang lain, tapi langkahnya terhenti saat Milo sedang bersama Raka, Milo pun tampak sendu. Jalannya memelan.
"Mil, gue balik dulu !" ucap Juwi.
"Jaga Kara, antarkan dia sampai rumah !" jawab Milo.
"Kalian kenapa sih?? loe apain tuh anak ? kenapa harus saling menyakiti sih? "
"Kara yang mutusin gue Ta ! dia yang ninggalin gue !" ucap Milo.
"Ini pasti ada yang ga bener !! ga mungkin kalo dia ga sayang sama loe ! apa loe ga niat buat kejar dia?? " tanya Juwita, sejenak hening.
"Ya udah gue balik dulu,"
"Hati hati Ta, " jawab Milo dan Raka.
Juwita hanya sesekali melirik Kara, yang terus menerus mengalirkan air matanya dengan melihat ke luar jendela mobil, sedangkan Ayu dan Ica sudah tidur di bangku belakang.
__ADS_1
"Sorry kalo gue lancang, bukan berniat ikut campur. Apapun itu masalahnya gue harap loe dan Milo bisa nemu jalan keluar yang terbaik dengan tidak saling menyakiti."
"Kita ga apa apa ka, memang dari awal hubungan kita hanya sebuah perjanjian !" jawab Kara.
"Gue hanya pungguk ka, Milo terlalu jauh untuk gue raih. Bukan karena Milo terlalu angkuh. Tapi keadaan lah yang angkuh buat hubungan kita !" jawab Kara.
"Kalau masalahnya kasta, keluarga, gue rasa semua itu bisa dipecahkan. Gue cuma mau kasih tau om Braja bukan orang yang gila kekuasaan, loe belum cukup mengenal om Braja, gue yakin om Braja bakal menerima loe !" jawab Juwi.
"Atau justru tante Marsya??" tanya Juwi, Kara langsung berdehem tak nyaman.
"Gue cuma butuh waktu aja ka, buat menyesuaikan, buat bersiap siap menanggung semua resikonya !" jawab Kara.
"Untuk tante Marsya, gue rasa loe belum mengenal Milo seutuhnya Ra, ga mungkin Milo akan membiarkan loe dan keluarga loe disakiti !" bujuk Juwi.
"Saran gue sekarang loe tenangin diri dulu, pikirkan baik baik. Gue cuma menyayangkan aja, Milo itu susah untuk jatuh cinta sama cewek. Dia pun sudah tak memiliki siapa siapa ! dia memang memiliki segalanya tapi tidak untuk kasih sayang, hanya teman teman dan gue juga om Braja yang dia miliki, itupun dia mulai kehilangan om Braja, itu sebabnya Milo menjadi lelaki yang angkuh dan menyebalkan, siapapun kepengen nimpuk dia pake batu se truk, tapi dengan loe, Milo menjadi seseorang !" jawab Juwi. Haruskah Kara menyesal dengan keputusannya.
Juwita mengusap usap pundak Kara, mencoba menenangkan gadis lugu ini, memang sangat terlihat Kara sangat lugu dan polos.
Kara akhirnya sampai di rumah, ia langsung melengos ke dalam kamar, dan menutup rapat pintu kamarnya. Ia berbaring kembali menatap nyalang langit langit, tak ada satupun cicak malam ini, memang benar kata orang kita akan merasakan bahwa kita sangat membutuhkannya dan menyayanginya setelah kehilangannya. Kenapa putus cinta segokil ini rasanya. Nafas saja terasa sesak. Pantas saja orang orang yang tak kuat iman sampai berniat bunuh diri, karena memang dunia terasa runtuh untuknya. Ibu Kara merasa aneh dengan anak gadisnya ini, tidak seperti biasanya Kara langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia memang harus sudah siap dengan Kara yang sudah beranjak dewasa. Terutama masalah hati, ia dan suami harus memberikan support, menjadi teman merupakan option yang cocok saat ini.
"Tok...tok..tok...!!"
"Caramel, ibu boleh masuk !!" ucapnya,
"Bentar bu, " berkali kali ia menghela nafas, mencoba mengatur nafas dan suara.
"Masuk bu, " Kara berusaha tersenyum, walaupun jatuhnya terlihat getir.
Ibu duduk di tepian ranjang Kara, sedangkan Kara masih diam mematung di ambang pintu, seragam yang sedari pagi dipakai belum ia lepaskan.
"Sudah lama kita tidak ngobrol berdua, mumpung ayah kerja siang !!" kekeh ibu.
"Iya bu, " jawab Kara.
"Sudah makan?" tanya ibu, Kara mengangguk, "sudah bu !"
"Sini deh duduk !" Kara menurut, ia sedikit berhati hati takut ibunya curiga kalo ia habis menangis seharian ini.
"Kamu tau ngga the power of mother ?!" tanya ibu. Kara menggeleng, apa sejenis kekuatan seperti superman.
__ADS_1
"Perempuan itu jika sudah menjadi seorang ibu, akan berubah..kesensitifan dan radar kepekaannya akan jauh berkali kali lipat lagi !! terutama saat ada yang terjadi pada anak dan suaminya !"
"Tau apa lagi?? seorang ibu bisa berubah wujud layaknya spiderman, ia bisa menjadi seorang teman, seorang ibu, seorang guru, dan seorang dokter. Apapun ia bisa !" jawab ibu lagi.
Kara hanya mengangguk, ia sudah merasakan jika sebenarnya ibunya tau, kalau Kara memang sedang ada masalah.
"Dan tau apa lagi??" Kara kembali menggeleng.
"Sekarang radar kepekaan ibu sedang menyala, kalo ayah ibu rasa tidak, soalnya barusan masih telfonan sama ibu. Dan sekarang ibu sedang ingin berubah menjadi seorang sahabat !" jawabnya, ia tau anak gadisnya ini mengerti apa maksudnya.
Kara melihat ke arah ibunya, ia melepaskan kacamatanya, lalu masuk melesak ke dekapan ibu, memang jika hati gundah gulana, dekapan ibu selalu menjadi obat terbaik. Kara menangis sejadi jadinya, mengeluarkan semua kesakitan hatinya.
"Bu, apa putus cinta sesakit ini ?" tanya nya teredam.
"Ohh anak ibu lagi putus cinta?? Milo?" tanya ibu.
"Bukan Milo yang ninggalin Kara, tapi Kara yang ninggalin Milo !" jawabnya.
"Cinta memang tak selalu manis, tapi cinta juga tak harus pahit. Cinta tak selalu mulus, ada belokan, ada jalan bergelombang, kadang juga ada jalan yang harus diputus dulu !"
"Kenapa hati Kara sakit banget bu !"
" Kara sudah ambil resiko untuk jatuh cinta maka harus siap untuk patah hati juga. Ibu yakin Kara akan kuat !"
"Bukan karena Milo atau Kara, bu !" Kara merenggangkan pelukannya. Pipinya sudah basah, begitupun daster yang dipakai ibu.
"Lalu ?"
Kara menceritakan semuanya, benar kata ibu...Sahabat paling bisa dipercaya adalah ibu sendiri, percayalah ia tak akan mengkhianati.
Ibu tersenyum, "kalian masih muda nikmati saja apa yang sudah Allah kasih, perasaan cinta itu anugerah, ga boleh ditolak. Kara denger ibu, masalah jodoh, mati, rejeki, keselamatan, takdir..itu sudah menjadi urusan Allah, mau bagaimanapun tangan manusia ikut terlibat di dalamnya, jika Allah tidak menghendaki, maka itu semua tak akan terjadi. Ibu dan ayah tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan seseorang, apalagi 2 orang. Allah cukup untuk menjaga kita semua !!" jawab ibu.
"Begitupun Kara dan Milo jika memang tak jodoh minta sama Allah dilapangkan hatinya. Sebaiknya Kara ngadu juga sama Allah, hanya Allah lah yang tau apa yang terbaik untuk umatnya !" jawab ibu lagi.
Ibu beranjak," mandi sana..anak ibu bau acemmm !!" sambil mengedip, ibu keluar dari kamar Kara.
.
.
__ADS_1
.
.