
Milo mengerjap beberapa kali, ia tak salah dengar kan ? lihat lah wajah gadis di depannya mengucapkan kata rindu begitu mudahnya seperti orang yang sedang membeli cilok.
"Beneran?? kamu ngerti apa itu kangen kan?" tanya Milo membeo.
Mata Kara menatap tajam Milo, "tau, aku bakalan kangen, kangen berantem sama kamu !" jawab Kara tertawa ringan, seketika wajah Milo masam, bibirnya mengerucut, pantas saja kata kangen mudah sekali meluncur dari mulut gadis yang begitu menjaga gengsinya ini, layaknya saluran irigasi.
"Bwahahahah !!" tawa Kara pecah melihat ekspresi Milo.
"Muka mu ga usah lecek gitu, kaya uang kembalian bawang !! " ucap gadis ini.
"Iya, nyangkutnya di dompetmu !!" sarkas Milo meraih sepotong martabak dan melahapnya, rasa manis martabak mengobati pahitnya kata kata Kara, Kara seperti obat, pahit...tapi baik untuknya, percayalah jika kebanyakan memakannya maka kamu akan kecanduan. Itu yang dirasakan Milo saat ini.
"Besok berangkat jam berapa?" tanya Kara.
"Ngapain nanya nanya??" ketus Milo, ia masih kesal dengan gadis ini, setelah dibuat melayang menembus plafon rumah lalu dihempaskan kembali hingga tersungkur ke lantai dan percayalah rasanya sakit.
"Cie..marah !! ga usah marah, udah jelek tambah jelek !!" ucap Kara.
"By, selama aku pergi jangan nakal ! jangan banyak lirik sana sini !" Milo memegang kedua tangan Kara membawanya ke pangkuannya di atas bantal sofa. Pesan Milo seperti ia akan pergi ke medan perang saja, bergerilya bersama para pahlawan.
"Kalo ga lirik sana sini, ntar nubruk !" jawab Kara mencelos dengan santainya, memang kata romantis, atau pacaran masih ambigu untuk seorang Kara.
Milo mencubit pipi Kara gemas."Aku tau kamu ngerti, by !"
"Iya iya paham, " jawab Kara.
"Aku pulang dulu udah malem, kelamaan disini nanti malah maunya nginep, satu kamar..satu ranjang sama kamu !!" kekeh Milo. Kara menggembungkan pipinya dan berdecih, "minta disiram pake siraman rohani ya ?"
Setelah berpamitan dengan orangtua Kara, Milo keluar dari rumah. Ia berbalik badan kembali menatap gadis yang sudah pasti ia rindukan jika sedang tidak bersamanya.
"Hati hati, jangan ngebut !" ucap Kara,
"Ahh mau ngebut ahh !! biar di khawatirin kamu," goda Milo.
"Ya udah ngebut aja, paling masuk RS !!" jawab Kara.
"Ihh do'anya !!" Milo cemberut, sebut saja Milo ini bucin sejati dan gadis ini otewe menuju bucin.
"By, aku pulang dulu !" pamitnya.
__ADS_1
"Iya, "
"Ga mau kiss bye gitu !" ucap Milo mengedip genit.
Kara mengangkat alisnya sebelah, seperti guyonan orangtua pada anak kecil. Ia melepaskan sendal jepitnya, dan mengangkatnya ke depan wajah Milo.
"Sini, mau di kiss sebelah mananya?" Milo tertawa tergelak, ada ada saja Kara, jangankan disuruh... gadis lainnya malah akan dengan senang hati dan ikhlas lillahitaala nyosor nyosor kaya soang. Memang mahalnya harga diri tidak bisa diukur dengan uang apalagi gelas takar, tapi bagaimana perempuan itu sendirilah yang menjaganya dan membuatnya menjadi mahal di mata lelaki.
"Aku bakal tau kalo kamu sampe jelalatan by, " ucapnya memakai helm lalu menutup kacanya.
"Iya tau, yang cctv nya dimana mana !!" gumam Kara. Sudah seperti toko 24 jam punya cctv, dan Kara berasa jadi maling susu formula karena diawasi terus.
Pagi itu sekolahnya sudah ramai, anggota OSIS sudah memasuki busnya, Milo dan lainnya juga sudah sibuk mengatur adik juniornya. Menjadi panitia memang tak semudah dangdutan sambil sawer biduan.
Kara hanya duduk dan mengobrol bersama Ayu, dan Ica, kelas terasa sepi tak ada Jihad, biasanya pemuda ini lah yang akan meramaikan suasana dengan teriakannya mengatur teman temannya apalagi jika saat penagihan uang kas bersama Mawar, ia sampai harus mengejar ngejar layaknya rentenir yang nagih utang panci, atau tidak dengan keabsurdannya,memanaskan pagi hari dengan gosip gosip recehannya.
"Ga ada tuh anak nyi blorong kelas sepi deh !" ucap Ica, hampir saja Kara tersedak minumnya. Julukan anak Nyi Blorong disematkan Ica untuk Jihad. Karena lidahnya pandai bersilat kaya ular.
"Loe kalo ngomong Ca, bisa di rem dikit ga atau ga disaring deh?" tanya Ayu.
"Rem gue blong !"
"Ga ada, maunya sih disebut Sehun Exo !"
"Uhukkk," kini Ayu yang tersedak dan terbatuk. Jihad memang cukup keren, dan tegas jika pada saatnya. Tapi yang benar saja, mana ada Sehun tukang nyinyir, mana ada Sehun nyablak. Lebih tepatnya Jihad itu seperti biangnya Lambe Turah.
Sungguh perbedaan yang sangat jauh seperti dari Jakarta ke Arab, dari nyai blorong ke Sehun. Tanah Jawa ke negri Ginseng.
Ica benar, sekolah mendadak sepi, sebagian orang orang orang asik memang masuk anggota OSIS. Gadis ini kesal, Milo bahkan tidak mengucapkan say goodbye sebelum pergi, bahkan melihatnya saja tidak.
"Ka Milo ga pamitan Ra?" tanya Ayu.
"Ga, eh..ada deh semalem ke rumah bawa martabak !" jawab Kara.
"Emm, so sweet udah kaya pacaran tempo dulu ya bawa martabak !" jawab Ica.
"Iyalah ka Milo kan tau, cewek spesies modelan Kara lebih doyan makan ketimbang dikasih gombalan atau uang !" jawab Ayu. Apa tak ada kata yang lebih halus selain spesies, kata katanya itu teracuni toxic Ica dan Jihad. kasar...kaya tangan ibu ibu abis cuci baju pake sabun colek.
Bagai sayur tanpa garam, bagai makan tanpa sambal dan kerupuk. Sekolah sepi kaya kamar mayat. Berulang kali Kara melihat layar ponsel, tak ada satupun pesan untuknya. Hanya dari orangtua anak yang les padanya, bertanya mengenai jadwal les. Ia membuka story whatsapp milik Jihad, bahkan Jihad saja masih sempat sempatnya membuat story dan berbalas pesan dengannya. Tapi lelaki itu, Kara berdesis..ia berjalan bersama Ica dan Ayu di koridor menuju gerbang, sudah waktunya untuk pulang dan mengajar les.
__ADS_1
"Ra, yu...sadar ga sih dari tadi pas istirahat itu cowok ngikutin terus ! apa ga ada kerjaan lain apa? kan gue jadi insecure !" Ica berbisik di antara Kara san Ayu. Keduanya menoleh ke belakang.
"Elah, Ca itu kan Ka Iwan ! so so insecure, jangan kepedean !" jawab Ayu melirik Ica yang bersikap berlebihan, menganggap ka Iwan seperti seorang stalker berbahaya.
Kara menghela nafas, "Siapa lagi lah kalo bukan buat ngikutin kanjeng putri !" goda Ayu.
"Berasa jadi tuan putri ya, Ra !" seru Ica.
"Bukan tuan putri, tapi tahanan kota ! sedikit melenceng dari aturan, Milo pasti tau, maka hukuman siap menanti."
Kedua temannya ini malah tertawa diatas penderitaannya, sungguh teman sejati sampai mati.
Ka Iwan, menyalakan motor trailnya, mirip motor Milo sewaktu latihan di gunung. Mungkin itu hobby keduanya. Hobby anak anak hedon ya ngabisin uang, beda dengan dirinya dan anak kampungnya, cetak cetak kelereng atau bermain tanah yang di lu*dahi cukup menghibur hati. Mengejar layangan yang tak seberapa sampai terjatuh jatuh memberi kepuasan tersendiri.
"Ra, " Ka Iwan menyerahkan helm pada Kara, ingin Kara menolak ajakan ka Iwan. Tapi ia tau menolak artinya penderitaan seumur hidup. Menolak ajakan ka Iwan sama artinya mencari masalah.
"Disuruh lagi?" tanya Kara pada Iwan yang tengah menstaterkan motornya.
"Bukan disuruh, dimintai tolong !" jawab ka Iwan.
"Minta tolongnya ngancem?" tanya Kara kembali, tak cukup hanya oke saja, Kara selalu penasaran jika sehari tidak mendebat orang.
"Engga juga !" jawabnya, apa makanan lelaki ini papan triplek, datar banget....batin Kara.
"Tapi permintaan seorang yang sudah berjasa ! cepetan naik ga usah banyak tanya !" ucapnya, lelaki dengan anting hitam di telinganya ini tak kalah jutek dari Milo saat awal masuk sekolah, ia setahun lebih tua dari Milo tapi sepertinya ia patuh sekali pada Milo yang statusnya adik kelasnya.
"Kalo gue masih banyak ngomong, loe mau apa ?" tanya Kara memegang jaket ka Iwan saat motor itu melaju.
"Gue laporin Milo, kalo loe bandel !" jawab ka Iwan.
"Lah gue bandel abis ngapain??" Kara bingung.
"Karena loe udah so akrab sama cowok !" jawabnya lagi. Kara mengangkat kedua alisnya, bagaimana bisa disebut akrab, ngobrol saja jawabnya singkat singkat kaya pake pulsa perkarakter, gimana bisa akrab, cowok yang di depannya saja jutek kaya emak tirinya Cinderella. Milo ini lebay, masa iya ngobrol doang sama cowok aja dibilang so akrab, lagipula lelaki yang di bilang so akrab itu ya temannya sendiri.
.
.
.
__ADS_1