
Bukan Kara yang cerewet ataupun merasa tak enak pada kedua orangtuanya, tapi Milo yang sedang bicara pada ayah dan ibu Kara.
"Maaf bu, pak, sudah mengajak Caramel jalan jalan sampai malam."
Milo menundukkan kepalanya hormat pada orangtua Kara. Berlabel badboy tidak menjadikan Milo menjadi anak yang kurang aj@r, ia ingat betul bahwa Rama yang memberinya contoh, se nakal nakalnya kamu, jangan sampai membuatmu tidak menghargai orangtua, dan ia selalu mengamini itu.
"Tidak apa apa nak Milo, tadi kan sore sudah minta ijin, asal anak ayah ga diculik saja !" kelakar ayah Kara, tak tau saja di sampingnya Kara sudah memasang tampang kesal.
" Maunya sih begitu pak, kalau begitu Milo pamit undur diri dulu pak,bu, sudah malam. Kalo Milo disini terus kapan Kara kangen sama Milonya, " ucap Milo membalas kelakar ayah Kara. Baru mengenal beberapa hari saja, ayahnya dan Milo sudah seperti mengenal lama, tak canggung untuk berkelakar.
"Nak Milo bisa saja, paling paling yang dirindukan Kara hanya buku pelajaran," jawab ibu Kara.
"Mana pernah anak ini rindu lelaki," senggol ibunya,
"Ibu, jangan ember deh !" omel Kara. Milo tersipu mendengarnya, itu artinya Kara masih suci belum terjamah oleh namanya cinta pertama yang suka susah buat move on.
"Kalau gitu, Milo mau minta ijin sama ibu dan bapak untuk menjadi cinta pertama Kara, " dengan terang terangan, lelaki ini meminta ijin kedua orangtua Kara langsung. Membuat Kara sukses mendaratkan sepatu yang baru saja dibukanya di pundak Milo.
"Pulang ngga !!" usirnya. Singa betina dalam diri Kara sudah keluar.
"Kara...!" ibunya menggelengkan kepalanya pada Kara, Milo tergelak.
Kara melotot pada Milo, dan orang yang dipelototinya hanya tertawa sambil meraih punggung tangan ayah dan ibu Kara lalu menempelkan dahinya dan kabur.
"Milo pamit pak, bilang anaknya jangan marah marah pak, nanti saya makin suka, assalamualaikum !!" Milo berlari menuju motornya.
"Milo !!!!" padahal Kara sudah bersiap siap dengan kepalan tangannya, ayah dan ibu Kara malah tertawa melihat sikap keduanya.
"Sejak kapan kalian dekat ?" tanya ibu Kara menggoda, sontak Kara langsung blushing dan malu, mengingat kedekatan mereka.
"Ih ibu apa sih !" Kara malu malu untuk membicarakannya.
"Ga usah malu malu, ibu dan bapak juga pernah muda. Ibu bukan orangtua yang kuno, Kara !" ibunya mengusap lembut rambut Kara.
Kara tidak mau membuat ibu dan ayahnya berharap lebih pada hubungannya dan Milo, toh mereka masih muda. Ditambah ini hanyalah hubungan sesuai perjanjian.
"Kara dan Milo hanya dekat saja bu, ayah, tidak lebih !" jawab Kara beranjak masuk ke kamar.
"Iya, ibu dan ayah hanya berpesan jangan sampai kalian melewati batas, berpacaranlah dengan sehat !" ucap ibunya.
Kara melongokkan kepalanya, " bu, Kara engga pacaran sama Milo !!" ucapnya.
"Pacaran juga ga apa apa, ayah suka sama anak itu !" goda ayah Kara
.
.
Kara berbaring telentang di ranjang, menatap bandul kalungnya yang berbentuk huruf A, untuk Armilo.
"Jangan sampe gue baper," gumam Kara, tapi beberapa detik kemudian, ia tersenyum mengingat setiap kelakar Milo. Baru saja singgah di pikiran Kara, ponsel Kara berbunyi.
Pasti lagi mikirin mas,
Enggak, jangan geer.
Bohong matanya ga ngedip loh !
Enggak ! alhamdulillah masih ngedip ko.
__ADS_1
Kara menggigit bibir bawahnya, berasa ditodong sama yang punya nama. Tau saja makhluk ini, jika Kara sedang memikirkannya.
Ya udah kalo gitu, jangan bobo malem malem, kasian bintang di langit..
kenapa sama bintang?
Kalo kamu masih bangun, sinarnya kalah sama sinar di wajahmu.
Kara tersenyum merona, "apa sih nih cowok !!!"
Have a nice dream, baby.
too, mas sayang.
Milo tersenyum melihat layar ponselnya. Ini yang namanya jatuh cinta, rasanya ia sedang berenang di kolam bunga walaupun airnya surut.
ceklek
Tanpa permisi ataupun ijin, keempat makhluk bernama teman ini masuk ke dalam kamar Milo.
"Dari mana sih loe ?? kita nungguin loe dari tadi !!" Arial membaringkan badannya di samping Milo.
"Kaya yang ga tau aja temen kita ini, dia lagi kesemsem bunga desa !!" goda Keanu.
"Gimana sukses?" tanya Raka, yang duduk di kursi meja belajar Milo.
"Wah !!! jangan sebut Armilo kalo ga bisa naklukin cewek !" ucap Erwan.
"Tapi kita lagi ngomongin Kara bruhhh, cewek yang mental sama pesona Casannova kita ini !!" sahut Raka ditertawai yang lain.
"Loe yakin Mil, kalo loe suka beneran sama si gula permen ?" tanya Kean masih belum yakin.
"Jangan sampai loe maenin tuh hati Kara, Mil. Gue yakin si Kara cewek baik baik," lirih Raka.
Milo bangun dan duduk bersila di ranjangnya, ia mengeluarkan kalung berbandul huruf C, for Caramel.
"Idihhh alay banget pake yang begituan !!" ledek Arial melihatnya.
"Loe ga tau apa, jatuh cinta emang sealay itu!" jawab Erwan.
"Kaya yang loe pernah aja !" sarkas Raka.
"Pernah sekali !" jawaban Erwan membuat teman temannya terkejut.
"Siapa wan?? siapa cewek yang udah buat jomblo akut ini falling in love?" tanya Arial penasaran.
"Paling tetangganya yang mahasiswa itu !!" jawab Milo.
"Mbak Riska maksud loe!" tebak Kean. Diangguki Milo.
"So tau loe !! setau gue mbak Riska dah tunangan !" jawab Arial.
"Ya loe aja pada ga tau, dia minggat ke villa gue di puncak gara gara mbak Riska tunangan !" Milo membocorkan sebuah fakta baru tentang Erwan.
"Kamvrettt !! loe ember banget Mil !" Erwan menggaruk belakang kupingnya tak gatal.
"Satt !! jadi yang waktu itu loe bilang lagi pengen liburan, karena loe lagi patah hati ?" tanya Arial.
Milo berdiri memasang kalung dilehernya sambil melihat di cermin, ia mengangguk menjawab pertanyaan Arial.
__ADS_1
"Njirrr !!! sueee sad boy !!" ledek Kean dan Raka.
"Masa lalu bruhhh, gue dah move on !" jawab Erwan,
"Liat aja, ntar... ditinggal Kara, baru tau loe !!" sumpah Erwan, si sad boy yang terdzolimi.
"Ga ! Kara ga akan pernah ninggalin gue, gue pastikan itu !!" jawab Milo pasti sambil tersenyum melihat kalung itu begitu cocok di lehernya.
"Nih, jika seorang Armilo sudah bicara, maka siapapun akan tunduk !!" ledek Raka.
.
.
Kara berlari menyetop angkutan kota, hari ini Milo terlambat menjemput Kara, hingga Kara harus berangkat sendiri, semalam teman temannya mengajak ke tempat base camp mereka, club anak anak borjuis biasanya bermain billiard.
.
.
"Gue mulai hari ini dengan bismillah !!" gumam Kara, beberapa hari ini Kara lebih senang menggerai rambutnya, namanya pun di sekolah sedikit sedikit mulai naik, bukan hanya karena pacar seorang Armilo, namun ia terkenal sebagai murid junior pintar diantara teman se angkatan yang lain. Walaupun image cupu masih melekat di dirinya karena kacamata bulat, dan seragamnya yang terlampau rapi.
"Fiuhhhh, untung ga telat !!" gumamnya. Ia segera masuk ke kelas.
"Hay yu ," sapa Kara.
"Hay Ra, tumben ga dianterin, biasanya digandeng nyampe kelas ? kaya nene nene jompo," Ayu celingukan. Kara menggeleng.
"Ka Milo telat yu, makanya ga jemput gue !" Kara menyimpan tasnya,
Pikiran Kara gelisah, sepanjang pelajaran ia tak fokus, otaknya memikirkan lelaki itu, sedari pagi tadi belum melihatnya. Kara mengetuk ngetuk jidatnya.
"Argghhhh !!!" pekiknya tak sadar, membuat seisi kelas meliriknya.
Kara melongo, "maaf bu, saya....ijin ke toilet dulu," ijin Kara.
"Oh..silahkan !" jawab bu Denta.
Kara berjalan keluar kelas sambil merutuki dirinya, bisa bisanya otaknya ini memikirkan hal yang tidak seharusnya.
"Bo*do ! bo*do ! bo *do !" ucapnya. Dari arah lapangan upacara, Kara melihat Milo dan ketiga lainnya dihukum, sedangkan Raka untungnya tidak seterlambat mereka.
"Cihhh stupid !!" gumam Kara berdecih, tapi hatinya lega karena orang yang dipikirkannya sudah ada di depan mata.
Mata mereka bertemu, Milo tersenyum tanpa menurunkan tangan di pelipisnya, ia menautkan jari tangan yang satunya membentuk love ditujukkan pada Kara.
"Saranghaeo !!" bibirnya bergumam, namun masih dimengerti Kara. Seakan hukuman bukanlah penghalang kegilaannya, hukuman memang sudah menjadi makanan keempat laki laki ini.
"Parah gillak ini anak !" desis Kean. Bukan Kara yang berteriak histeris mengagumi Milo, namun beberapa siswi yang tengah belajar di dalam kelas tapi perhatian mereka pada keempat laki laki the most di sekolahnya ini.
Jam istirahat Kara sangat malas ke kantin, ia lebih memilih diam di kelas dan mengobrol bersama Ayu.
"Di luar kelas ada apa sih?" tanya Ayu mendengar kehebohan teman temannya.
Kara menggidikkan bahunya. Milo masuk ke dalam kelas Kara, ia berjalan menuju bangku Kara. Sudah dipastikan keriuhan di luar karena lelaki ini.
Lelaki tampan bergaya urakan ini menghampiri Kara, ia mengambil bangku di depan Kara.
"Apa harus di jemput dulu baru mau makan bareng?" tanya nya. Milo selalu sukses membuat Kara mati kutu dibuatnya. Ada yang membuat Kara gagal fokus, bekas keunguan di sudut bibir Milo.
__ADS_1
"Mas, bibir kamu kenapa?" tanya Kara menyentuh bibir Milo.