
By, ikutin jejak mawar....
Sebuah kartu dengan tulisan diatas diberikan seseorang pada Kara, malam ini terasa begitu spesial untuk Kara, bukan karena ia sedang makan nasi goreng pake telor dan sosis. Tapi karena Tuhan begitu sayang padanya, ia kirimkan seseorang sebagai pelengkap hari harinya. Ia kirimkan sosok pelindung, pengisi hatinya. Tak ada gaun malam ataupun dress mahal, hanya kaos berlengan panjang dan celana panjang training, sepaket sendal hotel yang tampak kebesaran di kaki Kara. Benar kata Ayu, apa ia bawa saja sendal hotel ini, lumayan.. nyaman dan ringan untuk dipakai melangkah, tak akan bisa ia dapatkan di warung kelontong sebrang rumahnya.
Kara mengikuti jejak jejak beberapa tangkai mawar, yang sengaja di taruh Milo di beberapa titik hotel.
"Apaan sih Milo !" ucapnya, namun tak senada dengan hatinya yang merekah seperti mawar mawar yang ia pegang, Kara mengumpulkan tangkai demi tangkai. Kara masuk ke dalam lift, memencet tombol rooftop. Semoga ia tak salah memencet tombol lift dan terlihat kampungan.
Kara merapikan rambutnya, melihat pantulan dirinya lewat sisi sisi lift. Masa bod*oh dengan penampilannya, yang lebih mirip dengan peserta pesta piyama.
Ting ! bunyi lift berbunyi, pintu lift terbuka. Angin malam berhembus membuatnya kedinginan.
"Ngapain cobak ! mau bunuh diri atau suruh ngitungin mobil dibawah dari atas rooftop ?!" gumam Kara.
Kara berjalan, mengedarkan pandangannya mencari manusia yang sudah memberinya teka teki seperti di sebuah games labirin. Jangan sampai nanti ia disuruh melepaskan kue dalgona, menggunakan jarum.
Dari sini, kota memang terlihat lebih indah, apalagi malam hari. Lampu lampu bangunan terlihat berwarna warni, memberikan sentuhan artistik Tuhan yang memang sudah lebih indah.
Suara bising kendaraan, sedikit teredam karena jarak antara posisi ini dan jalanan cukup jauh, cukup untuk melakukan terjun bebas dan berakhir di pemakaman.
Kara membeku, ia menarik lengkungan bibirnya. Seseorang sedang menunggunya. Pria itu memunggungi Kara, menatap ke arah langit bebas, di sampingnya meja yang sudah di set untuk dinner romantis dua orang. Tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang Dana Aditama. Bahlan seandainya Kara meminta unicorn pun akan ia cari sampai dapat.
Pria itu berbalik, meskipun rambutnya tidak kinclong berpomade seperti visual novel si tokoh lelaki yang rambutnya klimis, Milo malah terkesan urakan, bukan jas tuxedo yang ia pakai, namun baju panjang dipadu padankan dengan jas, sepaket celana levis tadi siang yang sobek di bagian lututnya. Kara tertawa, "ngapain? " tanya nya.
"Ko ngapain??!" Milo mengangkat alisnya sebelah, apa gadis di depannya ini tak tau, jika ini adalah salah satu scene yang bisa membuat para gadis dimabuk kepayang, Milo mempelajarinya dari mbahnya guugle.
"Celana tadi siang?" tanya Kara, Milo mengangguk.
"Ga bawa celana lain by, masa iya depan kamu mau pake boxer??!" jawab Milo jujur. "Tapi kalo kamu mau, boleh ko aku ikhlas !" lanjutnya. Kara menghadiahinya dengan cubitan di pinggangnya.
Milo mendekati Kara, dengan membawa satu bucket bunga berwarna pink, Entah sudah berapa tangkai ia beli hari ini. Mungkin besok Milo akan membeli kebun mawar beserta petani petaninya sekalian, untuk persediaan.
"Daripada di cabutin gini mawarnya, mending bawa aku ke kebunnya !" jawab Kara menyesap wangi bunga simbolis sebuah perasaan.
"Boleh, apa sih yang engga buatmu!" jawab Milo.
"Makasih !" ucap Kara.
"By, kayanya di tempat lain gelap gulita deh !" ucap Milo, Kara mengernyitkan dahi, kenapa Milo tau?? apa PLN sedang mengadakan pemadaman bergilir? atau Milo sebenarnya adalah petugas PLN.
"Kenapa emangnya? ko tau?" tanya Kara.
"Soalnya semua bintang malam ini ngumpet !" jawab Milo. Kara sampai mendongak ke atas, untuk memastikan bahwa bintang bintang masih berada di tempatnya.
"Itu !!" tunjuk Kara.
Milo menggeleng, "mereka minder by, tuh liat cahayanya aja redup ! tau kenapa?" tanya Milo, Kara menggeleng polos.
__ADS_1
"Mereka minder, karena disini ada bintang yang jauh lebih bersinar...dan itu kamu !" jawab Milo.
"Hahahahaha !" bukannya merona, Kara malah tertawa.
"Ko ketawa?" tanya Milo mengerutkan dahinya.
"Kalo aku lebih bersinar dari bintang, mungkin besok besok ayah ga akan beli bola lampu kalo lampu pada mati !" jawab Kara.
"Oh ayah harus tetep beli !" jawab Milo.
"Lah kenapa?" tanya Kara.
"Soalnya bintang ini bakalan ku minta hanya untuk diriku sendiri ! bintang yang satu ini hanya boleh menerangi hatiku !" Kara mengulum bibirnya.
"Ngaco !" Kara mengacak rambut Milo,
"Bolehkah aku ikut kemanapun kamu pergi by ?" tanya Milo.
"Emang aku mau kemana?" tanya Kara bingung.
" Kemanapun kamu pergi !" jawab Milo.
"Mau ngapain??!" seru Kara.
"Soalnya yang kutau mimpi itu harus dikejar !" jawab Milo. Kara sudah benar benar mati kutu digombali buaya campuran kupu kupu ini.
"Ke toilet mau ikut juga??!" tanya Kara terkekeh.
"Sebut aku egois by, " ucapnya pelan. Kara menatap mata Milo, yang jaraknya hanya setipis kulit ari.
"Kenapa?! kamu baik kok !" jawab gadis ini, sepolos kertas HVS.
"Aku berdo'a pada Tuhan siang dan malam, agar kamu tidak menang dalam olimpiade yang sedang kamu ikuti sekarang." Kara menjauhkan keningnya, menautkan kedua alisnya bingung.
"Tuhan mungkin iba, entah ia merasa terganggu dengan suara bisingku, yang terus menerus mengetuk pintu langit. Jika kamu menang, terlalu jauh untukku menyusulmu. Meskipun, kemanapun kamu pergi, walau ke ujung dunia sekalipun, akan ku ikuti. Jika kamu menang, kamu akan pergi lebih lama lagi dari sisiku !" jelas Milo menatap dalam, menembus retina mata Kara.
Kara sudah meleleh dibuatnya. Gadis yang biasa mendebat ini dibuat membeku kali ini. Ia memeluk Milo dan menyenderkan kepalanya di dada Milo.
"Tuhan sudah menciptakan Milo for Caramel," ucap Milo.
Untuk malam ini saja, Kara berharap tak ingin waktu cepat berlalu. Mungkin makanan yang mereka pesan sudah dingin, tapi suasana disini begitu hangat.
"Kamu ga mau kasih aku jaket?" tanya Kara.
"Kamu kedinginan by?" tanya Milo, mendapat anggukan dari Kara.
"Kamu ga perlu jaket !" jawab Milo, membuat Kara cemberut.
__ADS_1
"Tega,"
"Karena akan selalu ada pelukan hangat buatmu !!!" Milo mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Kara, membuat gadis ini tertawa.
Milo mengambil jaket tebal dari samping pagar pembatas, dan memakaikannya pada gadisnya ini.
"Makan dulu, sayang makanannya keburu dingin ! udah dibayar !" ucap Kara.
.
.
Di meja sudah tak tersisa makanan, Milo merogoh ponselnya, ia memutar musik klasik romantis, menaruh ponselnya di meja. Milo menarik tangan Kara untuk berdiri.
Tangannya membawa tangan Kara memegang lehernya, sedangkan yang satu ia genggam, tangan Milo pun memegang pinggang ramping Kara.
"Aku ga bisa dansa !" jawab Kara, mana pernah ia datang ke pesta pesta dansa, yang biasa diadakan kaum hedon. Paling bagus juga dangdutan di acara kawinan tetangga. Yang jika biduannya seksi, para bapak bapak auto nyiapin duit sawerannya, sepaket goyangan seadanya. Tak ada hitungan ataupun aturan gerakan, yang penting happy.
"Aku tuntun !" jawab Milo, beberapa kali kaki Milo terinjak Kara, untung saja Kara hanya memakai sandal hotel, bukan high heels lancip yang bisa melubangi sepatu mahal Milo.
"Upps !! sorry !!" Kara meringis saat kakinya kembali menginjak kaki Milo.
Bukannya kesakitan Milo malah menyuruh Kara menaikkan kakinya ke atas kaki Milo.
"Naikkin kakimu ke kakiku, biar tau langkah langkahnya!" pinta Milo,
"Hah??!" Kara membeo.
"Ck, ga usah kaget gitu !"
"Aku berat loh ! nanti kaki kamu kesemutan !" lirih Kara.
"Seberat beratnya kamu ga akan seberat sayangku sama kamu !" jawab Milo malah mengalungkan tangan Kara di lehernya, tangannya pun beralih memeluk pinggang Kara di kedua sisi, membuat gadis itu sedikit terkejut dengan posisi sein*ti*m ini.
"Ga usah khawatir, kalo sampe terjadi sesuatu, aku bakal tanggung jawab !" kekeh Milo menggoda gadis manis ini.
"Kalo ngomong ga disaring dulu ! ucapan adalah do'a !" Kara mendorong jidat Milo pelan dan mengetuk tengkorak kepala Milo, sebenarnya di dalamnya ini ada isinya apa tidak?
"Aku amin kan !" jawab Milo malah semakin gencar menggoda Kara.
Kara dengan sengaja menginjak kedua kaki Milo dengan tenaga, tapi tak membuat pemuda ini kesakitan, ia malah tergelak, definisi otot baja, tulang kawat !!!!
Milo melangkahkan kakinya maju dan mundur, "ga usah grogi ! apalin langkah kakiku !" ucap Milo, membuyarkan kegugupan Kara, tau saja jika Kara tengah grogi, jangankan menghafal langkah kaki Milo, mungkin sekarang jika ditanya namanya saja Kara lupa.
.
.
__ADS_1
.
.