
Tak ada kata berlarut larut untuk Kara, ia sudah kembali memperkuat squad kelasnya berada di lapangan. Status pemain futsal amatiran?? not bad ! gadis itu menganggap kejadian kemarin hanyalah shock teraphy, anggap saja kemarin ia diajak berlibur dan menaiki wahana jet coster.
Gadis itu berlarian kesana kemari dengan lincah, membuat rambut depannya naik turun, lalu menyugarnya. Bukan hanya lelaki saja yang tampak keren saat menyugar rambutnya.
"Beuhh !!! itu bebebs gue tuh !!" ucap Ica.
"Pacar gue Ca !" gumam Milo tak mau kalah, saat mendengar teriakan Ica.
"Duo sengklek nih, " gumam Kean.
"Bebss !!!! cetak gol yang banyak bebs, kalo bisa sampe tuh gawang jebol !" pekik Ica, meskipun kakinya harus sampe diurut dan dibubuhi beras, kencur, kuning seperti orang mau masak, hanya tinggal diungkep saja, Voalah !!!
Kara memakai headband di kepalanya, headband pemberian Milo. Katanya sih biar jidat yang seluas lapangan bola ga keliatan kaya pengen dijitak orang, atau mungkin hanya akal akalan Milo saja, karena bacaan headband itu jelas jelas bertuliskan Armillo.
"Bebs !!! kamu selingkuh, headband kamu tulisannya Armillo !" pekik Ica pada Kara.
"Berisik Ca, loe kaya orang gilaak aja !" ucap temannya.
"Biar rame !!" jawab Ica.
Lawan Kara cs justru tak begitu kuat seperti sebelumnya. Masih dengan model permainan yang sama seperti sebelum sebelumnya, yaitu keroyokan. Sesekali mereka tertawa, menertawakan permainan mereka yang konyol, lebih layak disebut sebagai tawuran ibu ibu antar komplek.
"Ini gue berasa kaya mau tawuran tau ga?!" cekikikan Amel.
Dipermainan ini Kara cs memenangkan pertandingan, hingga akhirnya kelas X4 menjadi the winner futsal putri.
"Yeee !!!" Jihad refleks berlari berselebrasi memeluk kedua gadisnya yang berada di lapangan. Ditambah Kara berbadan kecil, makin ia kejepit diantara Ayu dan Jihad.
"Haaaa !!! hotel i'm coming !" teriak Ica, mendekati ketiganya, mereka heboh bukan main seperti habis memenangkan sebuah pertandingan dengan skala Internasional.
"Oyyy !! ini gue kejepit !!" seru Kara, tapi seseorang menariknya. Tak rela jika Kara nya jadi konsumsi publik.
"Kamu diem di pojokan !" ucap Milo sarat akan ancaman.
"Selebrasi yank, " Kara ingin maju mendekati lagi teman temannya tapi dihalau Milo.
"Sini peluk aku aja !" ia merentangkan kedua tangannya, tapi Kara menolaknya.
"Engga, makasih !" ia menepis tangan Milo, bukannya marah pemuda itu malah terkekeh dan makin menggoda Kara.
"Come to papa, baby !!" ucapnya.
Milo memaksa dan menarik Kara, membawanya memutar hingga Kara terkikik dan meminta berhenti.
"Udah berenti !!! malu diliatin orang !" kikik Kara. Milo menghentikannya.
"Sayang, nanti siang jadi ke kantor polisi?" tanya Kara, Milo mengangguk.
"Tante Marsya?" tanya Kara hati hati.
"Surat dari kepolisian sudah sampai ke rumah, tapi sejak mereka tertangkap tante Marsya sudah melarikan diri..tapi sebelum ia tertangkap, dia akan mendapatkan kejutan dariku !" jawab Milo menyeringai. Sebenarnya Kara tidak sejahat itu dengan membiarkan tante Marsya menderita di balik jeruji besi, tapi ulahnya sendiri yang membuatnya sengsara. Apa yang dia tanam maka itu yang ia tuai.
"Terus nasib Nina, Moni, sama Ivan gimana?" tanya Kara, tidak bisa dipungkiri, nasib ketiganya mengusik ketenangan pikiran Kara.
"Bisakah kamu hanya duduk cantik dan menonton saja, tanpa harus memikirkan nasib orang orang jahat, baby? aku heran sama kamu, kamu tuh keliatannya kaya orang jahat ! omongan kamu selalu pedes, tapi hati kamu kaya malaikat !" ucap Milo.
"Gombal lagi?" tanya Kara malah menganggap ini adalah sebuah gombalan.
"Kalo di iyain, dapet ciuman ga?" tanya Milo. Gadis itu mengangkat alisnya sebelah.
"Grekkk !!"
"Makan tuh ciuman !" Kara malah menginjak kaki Milo hingga Milo mengaduh, lalu pergi berlari. Sebelum si singa jantan menangkapnya.
"Loe berdua mau adegan di culik culik ga ajak ajak gue ?!" ketus Ica, saat tau jika Kara dan Ayu akan pergi ke kantor polisi memberikan keterangan.
"Dih, aneh ! kalo bisa milih juga gue ga mau ! loe aja sana yang ngalamin. Mendingan gue mah tidur siang !" jawab Kara.
"Loe udah kaya di film Yakuza tau ga?! bedanya kalo Yakuza korbannya mewek kalo ga di bunuh, lah loe mah malah ngelawak, jadi jatohnya kaya Yakuza nyulik SUsu kedeLE !" ucap Ica.
"Sat !! gue dikatain pelawak !"
"Baru kali ini tau ngga, gue denger orang diculik nawar !" jawab Ica.
"Alahh !! kalo itu di posisi loe juga pasti lebih parah !" jawab Kara, seperti biasa kedua gadis ini selalu berdebat.
"Kenapa loe ga minta gantinya aja kalo disuruh ninggalin cowok ganteng kaya ka Milo ?!" tanya Ica.
"Siapa?? "
"Lee Min Ho misal ?!" ketiga gadis ini tertawa sambil berjalan dari kantin ke kelas.
"Loe pikir, si ka Nina sempet sempetnya datengin dulu Lee Min Ho?!" tanya Ayu.
"Itu mah maunya loe, Ca !" Kara mengusap kasar wajah Ica.
"Gue ga suka bapak bapak !" decih Kara.
"Njirrr !! bapak bapak, sue ! masih muda oyy !" Ica tak terima idolanya dikatai bapak bapak.
"Ya kan dia udah jauh lebih tua dari gue ?! orang orang aja manggilnya oppa, malahan ! " jawab Kara polos, diantara ketiga gadis ini hanya Kara yang tak tersentuh virus drakor. Menurutnya virus drakor, hanya akan mengganggu kinerja otak untuk lebih kencang berkhayal. Ia lebih suka kartun si tikus lucu bernama Mickey daripada harus melihat oppa oppa secantik boneka porselen.
__ADS_1
Ica dan Ayu tergelak, teman super pintarnya ini oon nya kebangetan,
"Oppa tuh bukan opa opa sebenernya Ra, tapi panggilan kesayangan buat cowok korea, ibarat kalo di kita itu kaka tapi buat cowok !" jawab Ayu.
"Kaya oppa Milo, " goda Ica, sontak Kara bergidik.
"Dih, jijik gue !" ucap Kara. Ica dan Ayu tertawa makin puas.
"Sarangheo oppa Milo, " goda Ica kembali saat sudah masuk kelas.
"Rame bener, kaya emak emak nawar daleman ! lagi ngomongin apa sih ?" tanya Vanya.
"Sarang burung !" sarkas Kara.
.
.
Di parkiran Ica sudah bersiap dengan helm bogo nya, naik ke atas motor Jihad.
"Udah berasa bantuin nenek gue, " ucap Kara membantu Ica naik.
" Sat ! tuh oppa loe, udah nunggu !" jawabnya. Jelas saja Milo mengernyit tak mengerti. Kara menggidikan bahunya.
"Wah, kayanya Kara harus kita treat nontonin drakor Ca, " ajak Ayu.
"Wokeh !!!"
"Ogah !! mendingan gue nontonin bebek bertelor, daripada harus sampe mewek mewek nonton kaya begituan, apalagi kalo ceweknya udah mewek, bikin ilfeel !" jawab Kara, ia lebih senang menonton film dimana pemeran utama perempuannya tangguh.
"Dih, ni anak ! kita culik Yu," ajak Ica
"Wah kalo itu gue ga berani !" jawab Ayu melirik Milo.
"Berisik loe pada ! gue gantung satu satu di pohon kacang ijo !" bukannya takut ketiga gadis ini malah tergelak.
"Jangan daddy, gantung gue di pohon uang loe aja, gue ikhlas !" ucap Ica memeluk Jihad dari belakang.
"Kamvrettt ! loe sugar baby gue yang paling matre ! gue yang ga ikhlas, " sarkas Jihad.
Suara deru mesin mobil Milo terdengar,
"Masuk by, Ayu.." pinta Milo.
"Iya yank, " Kara dan Ayu masuk ke dalam mobil.
******************
Mereka masuk ke dalam kantor polisi, memberikan sejumlah keterangan.
"Yu, gue anter ke cafe, langsung anter Kara ke rumah Cia, " ucap Milo.
"By, nanti pulangnya dijemput Rial ya, aku ada urusan sedikit," Kara mengangguk.
Milo langsung tancap gas menuju rumahnya, berganti pakaian dan meminta ijin pada papahnya.
"Pah, maaf bukannya kasih papah kabar baik malah bikin papah makin sakit," ucap Milo pada papahnya.
Laki laki paruh baya ini menarik senyuman hangatnya, "papah sudah menduga ini akan terjadi Mil, maaf papah jadi merepotkanmu. Di usia muda yang seharusnya kamu hanya belajar dan menikmati masa mudamu, tapi kamu malah menghadapi masalah masalah seperti ini, semua ini juga gara gara papah," ucapnya menyesal, ialah yang memasukkan ular ke dalam rumahnya sendiri.
"Ga apa apa pah, jadi pembelajaran buat Milo !" jawab Milo, ia beranjak. Bukan stelan jas atau tuxedo yang ia pakai, tapi stelan berandalannya yang ia pakai.
Ia menggelar rapat pemegang saham dan para petinggi perusahaan. Langkahnya masuk ke dalam gedung Aditama Corporation. Disana ada Jihad dan ayahnya, ada pula Raka dan ayahnya.
Hari itu juga, tante Marsya resmi dikeluarkan dari perusahaan, ia pun termasuk buronan polisi. Milo juga membuka bor*oknya perusahaan pak Ridwan, ayahnya Vio dan menggiringnya ke sel tahanan, karena sudah melakukan korupsi dan mencurangi sejumlah partner bisnis termasuk perusahaannya.
Betapa terkejutnya pak Ridwan saat layar putih yang tersorot cahaya projector, menampilkan bukti bukti hasil korupsi yang masuk ke rekening pribadinya, kecurangan selama ia menjalankan tender dan usaha selama 2 tahun belakangan ini.
"Tapi tunggu !! saya tidak melakukan semua itu !!" pekik pak Ridwan. Beberapa polisi masuk ke dalam ruangan, sebagian orang orang disini terkejut bercampur marah.
"Tapi bukti ini yang menunjukkan pak, " jawab om Adi, sedangkan Milo hanya melihat tikus kantor ini, memohon mohon agar tidak dibawa ke kantor polisi.
"Seharusnya om memikirkan ini sebelum melakukannya, " jawab Milo.
"Si@*lan !!!" ucapnya pada Milo.
"Terimakasih om, atas julukannya !" jawab Milo tersenyum, perlahan lahan ia sudah menyingkirkan satu persatu masalah kantor dan juga keluarganya. Tapi masih ada yang mengganjal di pikirannya. Om Adi bilang kematian ibunya tak wajar.
"Om Kean, aman?" tanya Milo di ujung telfon.
"Aman, mau kesini jam berapa mas bos?" tanya Kean.
"Otewe !" jawab Milo.
"Rapat saya tutup, selamat siang !" ucap Milo. Sementara pak Ridwan sudah digeret polisi ditemani om Adi dan beberapa bukti.
"Terimakasih om, om masih percaya pada perusahaan papah," ucap Milo tunduk hormat pada ayah Raka.
"Kalau bukan Raka yang memberitahu, om mungkin akan salah paham, pada mas Braja !" ucapnya.
"Pah, Raka dan Jihad ikut Milo. Ada masalah sedikit di luar !" ijinnya pada ayahnya.
__ADS_1
"Iya, "
"Om Riza, terimakasih atas bantuannya. Oh iya, nama pak Ridwan sudah ditarik dari donatur sekolah itu?" tanya Milo pada ayah Jihad.
"Sudah Mil, mungkin nanti siang om kasih laporannya sekaligus menjenguk papahmu," ucapnya.
"Boleh om, papah memang membutuhkan teman, " jawab Milo.
Raka, Milo dan Jihad meluncur menuju rumah kontrakan Helmi, dimana disitu ada Marsya.
Mobil Milo sampai di deretan rumah bergaya elite, ia langsung masuk dan duduk di kursi sofa, menatap sepasang kekasih gelap di hadapannya.
"Lancang kamu !!! jadi selama ini kamu sekap Helmi di rumahnya sendiri??!!" teriak Marsya pada Milo.
"Tante yang sudah bermain main dengan Milo, Milo hanya meladeni permainan tante !" jawab Milo.
Kini tak ada kepura puraan di wajah Marsya, ia tampak angkuh di depan Milo.
"Rupanya inilah wajah asli tante !" ucap Milo menyenderkan punggungnya di sofa.
"Anak kurang aj@*r !" ucapnya.
Milo mendengus, "bukankah dari dulu saya sudah seperti ini?"
"Polisi sudah kemari, dan papah juga sudah menggugat cerai anda !" ucap Milo.
Ia tertawa, " memang sudah lama saya ingin bercerai, hanya menunggu mengkeruk harta ayahmu yang bo*doh itu !" ucapnya, Milo mengepalkan tangannya kuat. Kesabarannya mulai diuji coba seperti vaksin covid.
"Tapi saya jamin tidak ada harta yang akan kamu bawa, sepeser pun, selain baju yang kamu pakai ! karena sejak beberapa tahun sebelumnya papah sudah memindah tangankan semua asetnya atas nama mamah dan saya, bahkan sebelum mamah meninggal !" jawab Milo, Marsya begitu terkejut, sejak kapan suami kaya nya itu memindah tangankan semua hartanya.
"Sejak tau kelakuan busuk kamu !" jawab Milo. Karpet bulu di ruangan ini diinjak Milo tanpa membuka alas kakinya. Rasanya semua barang disini, haram untuk ia sentuh secara langsung.
"Sudah cukup anda menikmati uang papah untuk dihamburkan bersama laki laki si@*lan ini !" ucap Milo menunjuk Helmi yang diam seribu bahasa.
"Jaga mulutmu ! apa dulu ibumu tak pernah mengajarkanmu tata krama ?!" bentak Marsya,
Bughhhh !!!!
Marsya menutup matanya saking terkejut, jantungnya bahkan hampir saja menggelinding, bukan wajahnya yang menjadi samsak Milo, tapi tembok di sampingnya.
"Jaga mulutmu, nama ibu saya terlalu suci untuk diucapkan oleh seorang j4*l4ng sepertimu !!" mata Milo sudah memerah karena marah.
Kean memberikan amplop coklat pada Milo, lalu mendengus menertawakan kebo*dohan tante Marsya selama ini, ia hanya dibutakan oleh cinta butanya pada Helmi, lelaki pemabuk yang justru memanfaatkannya. Wanita yang sengaja membuat rambutnya ikal ini, menerima amplop coklat dari Milo.
"Buka dan jangan terkejut !" pinta Milo.
"Sayang jangan percaya mereka," ucap Helmi, ditertawai Jihad.
"Pecund4nk !" guman Jihad.
Tante Marsya semakin penasaran. Tangan tangan lembutnya, hasil perawatan salon dengan gerakan cepat membuka amplop coklat ditangannya. Betapa terkejutnya ia, mendapati beberapa foto Helmi dengan wanita lain, belum lagi struk belanjanya untuk wanita lainnya. Milo juga memutar rekaman saat Helmi mengungkapkan bahwa ia hanya memanfaatkan Marsya saja demi kepentingan pribadinya semata.
"Br3nks3k !!!" Marsya menampar Helmi keras.
"Plakkk !!!"
"Oh iya, hanya sekedar memperingatkan..jangan berani berani menyentuh keluarga dan orang orang sekitarku, termasuk Caramel !" ucap Milo. Mobil polisi mendatangi rumah ini, sontak Helmi dan Marsya terkejut.
"Selamat siang saudara Helmi, anda ditangkap akibat penyalah gunaan narkoba dan pencucian uang. Dan saudari Marsya, anda ditangkap atas tuduhan korupsi, dan penggelapan uang perusahaan, juga...." belum polisi meneruskan, Marsya terkekeh, sebenarnya ia geram tapi beberapa detik kemudian ia tertawa,
"Setidaknya ibumu sudah pergi duluan !" ucap Marsya, menahan langkah Milo.
"Apa sampai sekarang kamu belum tau apa penyebab kematian ibumu? atau hanya tau karena sakit?" tanya Marsya.
Tapi Milo kembali menyunggingkan senyumnya, tak ada yang ia tak tau. Bahkan agar tak memukul dan melenyapkan wanita ular dihadapannya saja, Milo sampai harus diminta berjanji oleh papahnya, dan Raka.
"Well, karena anda sudah membawa kasus ini, maka bersiaplah dipenjara seumur hidup ! tadinya saya tidak akan membongkar semuanya disini, biar jadi kejutan, tapi ternyata anda sadar akan dosa besar anda !"
Milo berbalik, rahangnya mengeras, sadar Milo yang akan mrngeluarkan lava kemarahannya, Jihad dan Raka menahan bahu Milo.
"Dasar wanita s3t*4n !!! loe yang sudah bunuh mamah !!!" Milo hampir saja memecahkan air matanya.
"Loe bakal membusuk di penjara, ga akan bisa lari dan keluar dari sana !!! " bentak Milo di depan wajah Marsya.
"Loe pikir gue ga tau ??!!! loe sudah memasukkan racun di infusan mamah, karena papah yang ingin mengajukan rujuk kembali??!!" Milo sudah kesetanan, bahkan ketiga orang temannya saja kepayahan menahannya. Polisi menengahi Milo dan Marsya, agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Nak Milo sabar, biar semuanya menjadi urusan kami selanjutnya !" ucap salah satu polisi.
Polisi segera membawa kedua orang tersangka ini. Milo sudah berusaha menahan emosi dan amarahnya, hingga ke bawah titik beku. Tapi rupanya kematian ibunya yang diracun Marsya, sangat sangat membuat rasa sabar dan kebaikan Milo melebur hingga jadi arang.
"Bakal gue ancurin loe dan keluarga loe hingga ke akarnya !!" gumam Milo.
"Mil, tahan Mil...jangan sampai emosi mematikan akal sehatmu !" ucap Raka dan Jihad.
"Yang berlalu biarkan berlalu, biar dia menerima ganjarannya, " ucap Kean.
"Dia sudah menghancurkan keluarga gue ??!" mata nya memerah, aura kebencian dan kemarahan begitu menyelimuti Milo.
.
.
__ADS_1
.
.