
Kara melihat Milo yang berubah drastis sejak bertemu dengan tante Marsya, Kara bukan gadis bodoh yang tidak mengerti apa yang terjadi, dan itu membuat Kara merasa ikut merasakan perasaan Milo.
"Ekhemm, jadi Vio ??!"
Mulut dan hatinya emang tak bisa dikontrol, Kara menutup mulutnya yang keceplosan. Keduanya sedang berhenti di sebuah taman kompleks dekat dengan rumah Milo.
"Vio bukan siapa siapa !! cuma anak temen tante Marsya," jawab Milo masih dengan raut wajah yang sama.
"Sorry, ga maksud," Kara menggigit bibir bawahnya merasa bersalah, Milo meraih kedua bahu Kara dan membawanya duduk bersama di bangku taman, suasana sore hari memang selalu indah jika harus dilewatkan hanya di dalam rumah, tanpa menikmatinya.
"Berhenti ngomongin cewek lain ataupun cowok lain jika lagi sama aku, karena aku ga suka ada dia diantara kita !!" ucap Milo.
"Oke !" Kara mengangguk sekali, lalu Milo tersenyum dan menepuk nepuk puncak kepala Kara. Raut kebencian masih ada di wajah Milo, Kara menarik Milo untuk mengikutinya.
"Ikut aku !!!"
"Kemana?"
"Pokonya jalan aja sesuai petunjukku !!"
"Oke sebutkan dulu kata ajaibnya !!" pinta Milo. Kara akan melakukan apapun yang penting Milo bisa melupakan rasa tidak sukanya pada tante Marsya dan Vio. Termasuk saat ini ia rela mengorbankan rasa gengsi dan malunya sampai jatuh ke dasar jurang hanya agar Milo senang.
"Ikut aku please, sayang,," Kara sepaket dengan wajah menggemaskannya membuat Milo mencubit pipi Kara gemas.
Keduanya lalu melaju menuju tempat yang ditunjukkan Kara, bukan mall ataupun tempat permainan lainnya, hanya sebuah bukit kecil di dekat perkampungan dekat rumah Kara, tempat biasanya anak anak menghabiskan waktu senjanya bersama layangan, namun karena ini bukan weekend makanya jika jam segini anak anak pasti sedang mengaji.
"Stop !! disitu aja !!" tunjuk Kara.
"Mau ngapain di tempat kosong begini ?" tanya Milo mengernyitkan dahinya seraya melepas helmnya.
"Yuu, " jarang sekali Kara mau mengajak dan menggenggam tangan Milo. Tangan halus itu menggenggam tangan Milo, menuju puncak bukit kecil dan berumput.
"Sini !!" Kara tiba tiba duduk di rerumputan, dan Milo mengikutinya.
Tiba tiba Kara mendorong Milo agar tertidur di rerumputan, tentu saja lelaki itu terkejut, gadis selugu Kara bisa bertindak senekat ini.
"By, ga usah macem macem dulu, kalo emang udah kebelet nikah ga disini juga, gue bisa sewa hotel !!" ucap Milo. Sontak Kara menjitak keras jidat Milo.
"Cuci tuh otak ! ga usah ngeres dulu pikirannya, bisa ga sih?"
Lalu Kara memposisikan berbaring di sebelah Milo dengan menutupi bagian roknya dengan jaket. Kini keduanya sama sama berbaring menghadap langit bebas, melihat awan awan biru bercampur jingga yang bergerak karena tertiup angin, bau bau rerumputan menyatu di hidung mereka.
__ADS_1
"Turunin emosi kamu, coba liat deh ke atas... bahkan langit dan awan aja ga marah meskipun angin mengusik awan, masih tetep ngasih suguhan pemandangan yang cantik untuk penghuni bumi kan?" ucap Kara menoleh pada Milo. Milo tertawa kecil, ia tak habis pikir gadis ini tak perlu modal sepeserpun untuk membujuknya.
" Tutup mata kamu," Kara mengusap dari kening sampai mata Milo tertutup sempurna.
"Banyak banyak bersyukur sama hidup kamu, masih punya orangtua, tidak kekurangan apapun dalam hidup, dan masih dikelilingi orang orang yang sayang sama kamu," ucap Kara.
Untuk beberapa waktu keduanya terdiam merasai angin yang berhembus membawa emosi keduanya, sampai Milo membuka matanya dan menoleh, pemandangan di sampingnya lebih indah dibanding langit sore ini.
Sadar di perhatikan Kara membuka matanya dan menoleh, hingga kini mereka saling menatap.
"Pemandangan di sebelahku jauh lebih indah," ucap Milo, bagaimana tidak Tuhan begitu sempurna menciptakan Kara sepaket dengan kecantikan di dalamnya.
"Kata pak ustadz, ga boleh natap lawan jenis lama lama !" jawab Kara.
"Kenapa?" tanya Milo tersenyum, pelajaran anak tk yang ia pun sangat hafal.
"Takut zinah."
"Tapi mata ga bisa boong, "Milo berbalik menhadap langit,
"Aku suka yang indah indah, termasuk KAMU !"
Pipi pink itu semakin bersemu, Kara bangkit..Milo tertawa lalu ikut bangun, ia merapikan rambutnya dan bajunya lalu membersihkan rambut Kara yang ditempeli rerumputan.
"Mendingan tiduran disini, daripada di emperan toko, dikira gembel !!" jawab Kara, membuat Milo kembali tertawa.
Kara berdiri di gundukan bukit menghadap ke arah perkampungan.
"Gue pengen kuliah ke luar negri !!!" pekiknya membuat Milo tercengang, gadis ini berteriak.
"By, nanti dimarahin orang teriak teriak," ucap Milo.
"Aku sering ko, kalo lagi kesel atau ada sesuatu yang dipengen," jawab Kara.
"Malu by, "
"Daripada cuma disimpen di hati doang, malah jadi uneg uneg," jawab Kara, lagipula ini tidak langsung ke arah rumah warga, masih terhalang perkebunan sayur warga.
"Gue pengen beli rumah kaya Milo buat ayah sama ibu !!!" pekik Kara, Milo sontak tertawa. Hari ini tak terhitung berapa kali gadis ini berhasil membuat Milo tertawa.
"Gue pengen secepatnya membuka belangnya tante Marsya !!" pekik Milo, sontak saja Kara langsung menoleh ke laki laki di sampingnya.
__ADS_1
"Gue pengen bisa bebas kaya anak lain !!"
"Gue kangen mamah !!"
"Gue sayang sama Caramel !!" pekiknya terakhir. Kara hanya bisa membatu dan diam menatap lelaki ini. Sepertinya harus ada yang diluruskan disini.
"Ra, "Milo meraih kedua tangan Kara.
"Baru sebulan kita dekat dengan status pacar, tapi aku rasa kamu belum bisa menerima status kita, dan hanya menganggap aku sebatas orang yang memaksa kamu berpacaran,"
Tiba tiba Milo berjongkok di depan Kara, "Kamu mau kan membuka hatimu buatku, Ra ?" sudah keberapa kali Milo mengungkapkan perasaannya, ia akan terus melakukannya sampai Kara menerimanya, memang fitrahnya lelaki lah yang seharusnya mengejar perempuan, bukan seperti selama ini para gadis selalu mengejar ngejar bahkan dengan rela mengorbankan harga dirinya hanya untuk mengejarnya.
Kara bimbang, "Kita jalanin aja dulu ya, aku bakal coba tapi aku ga janji," banyak alasan yang menjadi pengganjal Kara menerima Milo.
"Makasih, dalam waktu kurang dari 5 bulan ke depan aku bakalan bikin kamu jatuh cinta sama aku, Ra !" jawab Milo. Jangankan 5 bulan ke depan hari ini pun Kara sudah menyimpan rasa. Kara hanya takut jika Milo hanya mempermainkannya.
"Mamah emangnya kemana?" tanya Kara.
"Kamu mau ketemu mamah?" tanya balik Milo membuat gadis ini mengangguk.
"Besok aja sekarang udah sore, besok kuajak ketemu mamah !" jawab Milo.
Keduanya melanjutkan pulang ke rumah Kara,
"Abis dari sini mau kemana?" tanya Kara.
"Ke rumah Raka, masuk gih !" tangan Milo terulur merapikan poni Kara,
"Mau ngapain??" tanya Kara.
"Mau minta makan sama tante Weni !" jawab Milo asal membuat Kara berdecak.
"Ya kali minta makan, keluarga Raka tuh udah kaya keluargaku sendiri !"
"Jangan sering keluyuran malem, jangan berantem lagi !!" ucap Kara.
"Iya by, "
"Sayangi diri sendiri !!"
"Iya, kamu sayang aku ngga ?" tanya Milo membalikkan, bak simalakama Kara lah yang kini terjebak dengan pernyataannya sendiri.
__ADS_1
"Udah, sana pergi !! jangan nakal !!" Kara segera menyuruh Milo untuk pergi, Milo terkekeh, sikap malu malunya ini bikin laki laki merasa tertantang.
Milo memakai helmnya, lalu pergi setelah sebelumnya menjiwir hidung Kara membuat si empunya marah marah.