Pacar Adopsi

Pacar Adopsi
Menggoda Kara


__ADS_3

Kara sudah menghabiskan secangkir coklat panasnya, perasaannya juga sudah lebih tenang. Minuman hangat nan manis memang tak pernah gagal membuat moodnya membaik.


"Udah sore kak, pulang yuk, ga kerasa loh kita lama disini !" ajak Kara yang sudah berdiri dari duduknya dengan wajah lebih ceria seperti biasanya. Tara terlihat gusar, ia mencoba menahan Kara agar tak secepatnya pulang, ia hanya berharap Jihad berhasil membuat Milo tertidur di apartment nya.


"Emhh, non Kara..saya masih mau disini, apa non tidak keberatan menemani saya sebentar lagi ?" tanya Tara penuh harap. Tanpa curiga Kara mengiyakan.


"Saya pesankan lagi coklat panasnya ya non," Tara tersenyum sumringah, Kara memang tak pernah neko neko, entah ia yang terlalu baik dan tak pernah suudzon pada orang lain, atau memang gampang saja di tipu. Yang jelas dalam hatinya Tara berbisik, maafkan saya non.


Kurang lebih sejam Tara berhasil membuat Kara tertahan lebih lama lagi di cafe itu, meskipun Kara sudah tak nyaman dan ingin pulang, karena sedari tadi sebelum pergi, Kara belum mandi.


"Badan aku udah lengket kak, pengen cepetan mandi aja, baru inget kalo tadi pas kesini tuh lari, jadi keringetan," tawa kecil Kara.


Tara melihat jam di pergelangan tangannya, ia rasa sudah cukup waktu untuk Jihad, ia pun tak bisa menahan Kara lebih lama lagi, kalau tidak gadis ini akan curiga.


"Ka Tara, kalo mau kepasar..dari sini kita kemana ? naik apa?" tanya Kara seraya berjalan menuju arah pulang dan menunjuk pertigaan yang sedang dilewatinya.


"Bisa naik taxi, ataupun bus non, hanya beberapa blok kok, " jawab Tara mengimbangi langkah Kara.


"Oh, " Kara berohria sambil mengangguk angguk tanda mengerti.


"Oke, kapan kapan aku ikut belanja ya, " pinta Kara semangat untum mengeksplore lagi London.


Kara memijit tombol lift saat sudah di depan pintu lift. Bersama dengan Tara di sampingnya.


Ponsel Tara berbunyi, pesan dari Jihad, jika Milo sudah tertidur di kamarnya. Tara mengurut dadanya lega.


Kara melirik pintu apartment Milo sekilas, saat di depan pintu tapi seterusnya ia langsung masuk ke apartment miliknya.


Kara masuk ke dalam bathtub, menenggelamkan seluruh tubuhnya sampai ke batas leher, bahkan sesekali ia menenggelamkan sampai kepalanya. Hingga beberapa lama ia melihat kulit putihnya semakin memucat dan keriput. Saat ia menelusuri jemarinya, matanya tertuju pada cincin yang tempo hari Milo sematkan di jari manisnya. Memikirkan kembali apakah jawaban yang diberikannya adalah keputusan yang benar, sejauh ini hubungannya dan Milo sudah berjalan hampir 4 tahun. Ia seharusnya sudah tak kaget lagi dengan sifat Milo, tapi rasanya kali ini Milo sudah keterlaluan, ia sampai mendaratkan bogeman kemarahannya pada Kenzo.


Ah entahlah, rasanya memikirkan tugas kampus saja sudah pusing untuknya. Dirasa dingin sudah menembus kulit, Kara segera keluar dan memakai handuk kimononya. Tapi baru saja ia keluar dari kamar mandi, bahkan rambutnya masih basah. Milo sudah duduk di sofa, menunggunya.


"Maafin aku, " Milo tiba tiba berdiri dari sofa dan merengkuh Kara ke dalam pelukannya.


"Maafin aku yang selalu emosian, maaf aku lepas kontrol," gumamnya sungguh sungguh teredam di rambut Kara yang basah. Kara tak buru buru menyambut pelukan Milo, sungguh ia terkejut dengan serangan di siang menuju sore ini. Apalagi di depan Jihad.


"Maafin aku, " cicitnya lagi memeluk Kara makin erat.


"Gue keluar deh, takut ganggu," ucap Jihad, tapi tak membuat Milo melepaskan Kara. Kara yang baru ingat jika ia baru saja selesai mandi dan belum memakai apapun di balik handuk kimono itu berwarna merah muda itu segera mendorong Milo.


"Lepasin dulu, aku belum pake apapun !!" sewot Kara rusuh, tapi bukannya melepaskan, seakan b4jink4n Milo malah semakin mengeratkan pelukannya dan menempel dengan gadisnya ini.


"Milo !" Kara mencoba berontak.


"Tapi maafin dulu, " paksa Milo merengek di depan Kara.


"Iya !" sungutnya cepat.


"Udah kumaafin, tapi lepasin dulu," pinta Kara. Tercium aroma alkohol dari mulut Milo. Meskipun baru meminumnya sedikit, tetap saja aroma alkoholnya tercium menyeruak ke hidung Kara.

__ADS_1


"Kamu minum ?!!!" tanya Kara meninggikan nada suaranya.


"Maaf, " Milo menunduk, Kara menepiskan kedua lengan kekar Milo yang masih memeluknya.


"Gini cara kamu ?! nyelesain masalah ? dengan minum?" tanya Kara, yang tadinya hatinya meluluh kini kembali mengeras.


"By, ga banyak ko..cuma buat ngangetin badan aja, kan kamu udah maafin aku by, " kembali cicit Milo. Kira kira jam segini sungai Thames sedingin apa? apa cukup untuk membekukan laki laki yang ada di hadapannya.


Kara sudah siap meledakkan amarahnya,


"Awas !" usir Kara, tapi Milo malah menghalangi jalan Kara.


"Engga, sebelum kamu bilang iya, " kekehnya.


"Aku ga pake baju Miloooo ck, minggir !!!" pekik Kara sepaket dengan pelototannya. Milo mau tak mau menggeser posisinya.


Tapi sedetik kemudian pemuda itu mengekori Kara, dan menunggu Kara di depan kamarnya.


Milo mengetuk ngetuk pintu kamar, benar dugaannya Kara tak mau keluar lagi. Sudah hampir setengah jam gadis itu di dalam tapi tak kunjung keluar.


"Baby, maafin aku...aku niatnya cuma nyari angin, tapi ternyata sampe kesana, aku ngaku salah by," dengan tangan yang masih mengetuk ngetuk pintu kamar Kara, tapi Kara tak bergeming.


"Janji deh by, ga lagi lagi..." sendi jarinya kembali mengetuk pintu. Kara masih diam, kesalnya masih menggumpal dan seakan belum bisa terkikis. Ia lebih memilih menatap pemandangan luar jendela kamarnya, sore hari suhu udara bertambah dingin. Orang orang yang keluar semuanya memakai mantel tebal.


Lama lama matanya mulai mengantuk melihat orang orang berukuran kecil di bawah sana, sesekali melintas kendaraan yang semakin membuat matanya lelah. Suara dari balik pintu tak juga melemah.


"Kita obrolin baik baik,"


"By, aku ga akan pulang sampe kamu keluar, "


Kara sengaja mendiamkan Milo, percuma ia meledakkan amarahnya, Milo malah menganggapnya main main.


Kara memutuskan untuk tidur saja.


"Ntar juga cape sendiri, " gumam Kara pelan, gadis ini naik ke ranjang dan melepas sandal bulunya, menarik selimut dan memejamkan matanya.


Tak tau sudah berapa lama Kara tertidur, yang jelas ia melihat ke arah jendela yang tertutup tirai kalau langit sudah gelap.


Kara mengerjap melirik jam di nakas,


"Masih ada waktu buat maghrib kayanya," Kara segera turun dari ranjang dan membuka pintu kamar, langkahnya terhenti melihat Milo yang tertidur di depan pintu kamar Kara sambil menelungkupkan kepala di dalam lipatan tangan.


"Astaga, aku kira kamu udah pulang sayang, " tidur adalah salah satu obat lainnya untuk memperbaiki mood gadis ini, terbukti kekesalannya tak lagi mendominasi akal sehatnya. Kara ingin membangunkan Milo, tapi sebelumnya ia melaksanakan dulu shalat maghribnya.


"Kak, Milo ga pulang pulang ?" tanya Kara pada Tara yang baru keluar dari kamar mandi.


"Engga tuh, dari tadi den Milo disitu. Kasian deh non, " kekeh Tara kembali masuk ke dalam kamarnya.


Kara menghela nafasnya dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, " Kara mengguncang lengan Milo, mengusap lembut kepala Milo.


"Pindah deh, kayanya kamu butuh istirahat, ke kamar kamu sana !" Kara mengguncang guncang Milo.


Milo mulai terusik, ia mendongakkan kepalanya dan melihat Kara yang masih terbalut mukena. Milo tersenyum, padahal Kara sudah menatapnya dengan tatapan memicing sinis.


"Ini aku masih hidup kan, ko ada bidadari disini ?!" Kara memutar bola mata jengah melihat senyum genit Milo.


Gadis itu berdiri dan hendak masuk ke dalam kamar, tapi sejurus kemudian Milo malah menggendong badannya ke arah sofa dan mengungkungnya.


"Milo !" Kara memelototkan matanya, karena tangannya ditahan Milo.


"Aku nungguin kamu lama banget tau ngga," ucapnya.


"Suruh siapa nungguin, lagian ini semua salah kamu !" jawab Kara tak kalah sengit mencebik.


"Awas, aku mau buka mukena !" Kara berontak ingin bangun dan mendorong dada Milo.


"Ayo coba kalo bisa, " Milo malah menggoda Kara.


"Aku beneran marah lagi nih ya ?!" ancam Kara memicing.


"Iya. Aku lepas, tapi janji ya ga usah deket deket cowok itu lagi, ataupun cowok lainnya, " pinta Milo.


"Iya ahh, udah sii lepasin !" Kara mencoba kembali mendorong Milo.


"Kamu lucu deh by, kalo lagi kepepet gini, cemberut kamu lucu !" pemuda ini malah terkekeh melihat wajah cemberut Kara sepaket mulut manyunnya.


"Kamu janji juga, jangan marah marah, jangan posesif, bisa percaya aku kan? kalo aku ga akan macem macem, kalo aku niat selingkuh trus apa artinya ini ?" Kara menunjukkan cincin lamaran Milo.


"Kalo gitu, kita percepat pernikahannya. Gimana ?" Milo menaik turunkan alisnya.


Kara malah memajukan mulutnya dengan gerakan gigi yang menggertak ingin menggigit hidung Milo.


"Uuuu, atut !!!"


"Lepasin aku Milo !" Kara benar benar melotot, tapi pemuda ini malah tertawa diatas Kara.


"Sebentar aja kaya gini by, lagi asik mandangin calon makhrom, cantik banget masyaallah, " decak kagum Milo masih dengan posisi mengungkung tubuh Kara di sofa.


"Minggir !!!" Kara memukul dada Milo.


"Ini posisi kamu riskan tau ngga ?!" sungut Kara memicing. Tenaga Kara memang jauh kalah dari tenaga Milo, membuatnya putus asa menyingkirkan tubuh Milo.


"Jihadd !!! ka Taraaaa !!! tolongin gueeee !!" pekik Kara.


.


.

__ADS_1


__ADS_2