
Kara menghentak kakinya sekali, giginya menggeretak, lama lama ia kesal.
Ia menutup bukunya kencang lalu segera keluar dari perpustakaan. Benar saja gadis itu mengikuti semuanya. Apapun yang dilakukan Kara ia ikuti.
"Keluar loe !" pinta Kara, gadis ini membuka earphone nya kasar.
"Gue tau loe ngikutin gue !" Kara berbalik. Astri keluar dari tempatnya bersembunyi.
Langkah Kara mendekati Astri.
"Maaf ka Caramel, bukan maksud aku bikin ka Caramel marah. Cuma...cuma..."
"Cuma apa ? mau ngikutin semua yang gue lakuin ?! biar apa ?! gue risih Astri, " jawab Kara.
"Sekali lagi maaf, " Kara yang baru saja merdeka karena bebas penjagaan dari Milo, dengan alasan tak ingin belajarnya terganggu, malah harus berurusan dengan sikap menyebalkan Astri.
"Sutt, " Raka menepuk perut Milo, tetap saja..kemanapun Kara pergi Milo pasti ada di dekatnya, radar Milo tak jauh jauh dari 5 meter.
"Ngapain sih ? apa tujuan loe As?" tanya Kara.
"Maaf ka Kara, aku cuma.." gadis ini malah menangis di depan Kara membuat Kara ilfeel sekaligus serba salah.
"Dih mewek, loe jangan mewek disini, gue ga biasa ngadepin cewek selabil loe !" ucap Kara mengusap usap punggung Astri.
"Freak," gumam Arial.
"Mil, kita liat aja Kara mau ngapain. Kalo loe kesana, loe mau apa ? kena semprot cewek loe lagi. Ntar yang ada Kara minta jauh jauh sama loe seminggu, " ujar Kean.
"Tapi itu si Astra ganggu calon bini gue !" jawab Milo.
"Merk motor kali, Astri oyyy ! nama tuh anak Astri, " jawab Erwan.
"Terserah lah ! ga penting, " jawab Milo.
"Duduk !" pinta Kara pada Astri di kursi depan perpustakaan.
"Gue mau nanya deh sama loe, loe ngapain sih ngikutin gue ?" tanya Kara.
"Aku kagum sama ka Caramel, ka Caramel itu ga gampang ditindas orang, justru ka Caramel bisa balikkin semua orang orang yang berusaha buat jatuhin kaka. Aku tau dulu kaka juga korban bullyan, kaka malah jadi pemes sekarang, kaka jadi bintang sekolah, " jawab Astri.
"Terus loe mau jadi kaya gue gitu?" tanya Kara mengangkat alisnya. Astri mengangguk.
Kara menghela nafasnya lelah. Tangannya menurunkan ikatan rambut Astri yang mengikuti gayanya.
" Jadilah diri loe sendiri, cantiknya loe sendiri, bukan jadi peniru. Maksud gue loe harus lawan, bukan berarti loe harus sama kaya gue juga ! maksud gue bales orang orang yang bully loe, bukan berarti loe mesti jadi orang lain. Cantiknya setiap perempuan berbeda, apa loe mau hidup dalam bayang bayang gue, disama samain sama gue ? percuma ! cuma bakalan datengin masalah baru yang lebih besar dari ini, terus kalo gue bok3r tiap jam apa loe juga mau ngikutin ? kalo gue ternyata tiap malam jum'at keliling berubah jadi siluman cicak mau loe ikutin juga, hah?" tanya Kara, tapi tangannya telaten membuat simpulan dari rambut Astri.
"Please Astri, loe tuh pinter udah bisa masuk SMA ini, pake otak loe buat berfikir, gue masih terlalu banyak kekurangan untuk loe jadiin panutan, coba menonjol lah karena itu emang diri loe ! ga usah denger kata orang, yang penting loe nyaman dan ga ganggu hidup orang. Done !" Kara selesai mengepang kembali rambut Astri seperti Astri yang sebenarnya, saat Kara pertama kali bertemu dengannya.
Milo tersenyum puas, "pengen meluk Kara gue jadinya, " gumamnya.
"Dih, yang harusnya di omelin si Kara tuh ni orang, yang harusnya di sadarin tuh nih buaya !" tunjuk Raka pada Milo.
Milo cs hanya duduk di undakan tangga melihat Kara dan Astri mengobrol.
"Ini gue ga ada kerjaan banget liatin cewek orang sama cewek freak disini !" ujar Arial, ia kemudian turun dari tangga menyusul Raka yang sudah duluan.
"Makasih ka Caramel, " jawabnya.
"Baby," Milo menghampiri keduanya lalu duduk di samping Kara dan memegang tangannya. Pemandangan itu tak luput dari pandangan Astri.
"Ka Caramel, kalo gitu aku permisi. Makasih dan maaf banget udah bikin kaka risih, " ucap Astri.
"Lain kalo ga usah kaya gitu, bikin orang lain empet !" jawab Milo, Kara sontak membekap mulut tanpa saringan milik Milo, Astri menunduk merasa bersalah.
"Apa sih by, emang bener kan ?!" protes Milo, Astri semakin menjauh dari keduanya walaupun sesekali melirik pasangan the most ini.
"Udah ga usah berisik, ini juga gara gara orang orang kaya kamu dulu, pembully, " jawab Kara.
"Ko aku by, kalo aku bukan tukang bully, kita ga akan deket by !" jawab Milo.
__ADS_1
"Kalo kamu bukan tukang bully, bukan Armillo namanya, "jawab Kara.
"Iya lah, kalo aku tukang ceramah dari satu masjid ke masjid lain, ustadz namanya, " timpal Milo.
"Nanti pulang sekolah nonton yu ! " ajak Milo menaik turunkan alisnya.
"Bioskop? berdua doang?" tanya Kara.
"Maunya sama siapa? " tanya Milo.
" Sama yang lain, biar seru !" jawab Kara.
"Boleh, "
**********
"Asikkkk ! nonton gratis nih ? ditraktir nih ?" tanya Ica menghentikan pijitan di bahu Jihad , Kara mengangguk. Rupanya sudah seminggu ini Ica dan Ayu memijit Jihad, Kara sudah menyetok minuman untuk Jihad, sehingga ia sudah bebas tugas.
"Yang bener elah !! kalo gratis langsung seneng loe ! ini bagian deket tengkuknya Ca, " protes Jihad yang merasakan pijatan Ica terhenti.
"Iya ahh ! bentaran Ji !" Ica malah menepuk pundak Jihad keras.
"Ya udah kelarin dulu tugas loe Ca," kekeh Kara.
"Berasa punya dayang ya Ji, entar gue juga mau taruhan kaya gitu lah ! iya ngga by ?" ujar Milo menaik turunkan alisnya pada Kara.
"Itu mah maunya kamu, mau menang mau kalah tetep kamu yang untung !" jawab Kara mencubit pinggang Milo.
"Ca, yang ada tenaganya kalo mijit kenapa si? kan barusan udah makan, terus kemana larinya tuh makanan, tenaga loe lembek, kaya kue abis dicelup di kopi !" Jihad menggidikkan bahunya.
"Ck, " Ica menggertak, tangannya genas ingin menjambak rambut pemuda ini.
Milo tertawa, "wah parah Ica, Ji ! masa loe mau di terkam !"
Jihad mendongak, "Ish, ka Milo ga usah ember plus kompor deh ! dengus Ica.
"Apa? engga ngapa ngapain gue mah !" ujar Ica saat Jijad mendongak, menatap tajam
"Iya..iya...nih jurus nyincang ekor nyi Blorong !" Ica menepuk nepuk kuat dan kencang pundak Jihad, dengan tangan yang diluruskan layaknya pisau.
"Awww...sakit peakk, engga gitu juga ! mana ada jurus itu, itu mah loe yang ngadi ngadi !" jawab Jihad.
"Ada, gue yang nyiptain barusan !" jawab Ica.
"Bisa remuk tulang gue kalo mijetnya kaya gitu !" ucap Jihad.
"Biarin, biar kaya ayam tulang lunak nantinya, baru segitu dah remuk, ini tulang apa tahu !" sarkas Ica.
"Loe berdua berantem terus jodoh !" lirih Ayu.
"Aamiin, " ucap Kara dan Milo.
************
Ica lompat lompat kegirangan layaknya kelinci yang baru gede.
"Bisa diem ga loe ! malu maluin aja !" Jihad menarik tangan Ica menyuruhnya diam, sedangkan pasangan di depan lainnya tak kalah romantis, Kara selalu dipasangi apapun barang berbau Milo oleh si empunya, entah itu topi ataupun jaket. Selain dari pada tangannya yang digandeng Milo.
"Truk gandeng aja ada masa bongkar muatan, " desis Arial.
" Yaa, yang jomblo iri !" ledek Erwan.
"Loe juga jomblo sat !" toyor Arial pada Erwan.
"Tapi gue ga ngenes kaya loe !" jawab Erwan.
"Nih berdua juga berantem mulu," omel Raka.
"Wah ! jodoh tuh !" ujar Kean.
__ADS_1
"Njirrr, najis ! gue masih suka sama yang berbuah dad4 !" jawab Arial.
"Gue juga masih suka yang cantik, " timpal Erwan.
Mereka masuk ke dalam gedung bioskop, lalu saling bertukar pikiran untuk menentukan judul film apa yang akan mereka tonton.
"Mil, gue beli pop corn nya dulu !" Jihad melengos ditemani Ica.
"Ka Kean, ini gue ga apa apa telat terus loh, ke tempat kerja ?!" tanya Ayu.
"Santai aja kali Yu, " jawab Kean.
"Sayang aku mau nonton komedi romantis !" usul Kara.
"Mending horor aja Ra, biar serem serem nikm4t !" jawab Arial.
"Dih, kaya yang iya aja ! apa kabar sama pas camping ?!" ledek Kara.
"Gue bukan takut Ra, cuma kaget !" kilah Arial.
"Kalo horor ini gimana by ?!" tunjuk Milo pada dinding sebelah kanan. Kara membaca dan melihat cover judulnya, menimang nimang lalu mengangguk.
"Jangan romantis, nih disini pada jomblo semua !" jawab Kean.
"Ya udah boleh deh, " ucap Kara. Milo memesan tiket sesuai jumlah orang.
Suara dari speaker terdengar jika pintu studio tempat Kara dan yang lain akan masuki sudah dibuka. Mereka masuk.
"Ini kenapa jadi milih film horor sih Ji, ntar gue ga bisa tidur !" bisik Ica tak lepas mendekap lengan Nyi Blorongnya ini.
"Makanya do'a dulu kalo mau tidur ! loe nya aja yang lebay !" jawab Jihad.
"Ish, namanya juga takut Ji, mau do'a sampe setengah Al qur'an juga tetep aja takut !" jawab Ica, mereka mengambil tempat duduk di barisan tengah tengah.
"Srupuuuttt !" Ica menyeruput minumannya.
"Belum apa apa dah sibuk banget sama makanan, ntar di tengah film loe kebelet Ca !" ucap Ayu.
"Gue gugup Yu, takut !"
"Ngumpet aja dalem kaos daddy, Ca !" usul Kara melongokkan kepalanya ke arah kursi Ica.
"Ogah ahh pengap di dalem ga ada ventilasinya, ga ada tukang nasi uduk pula," jawab Ica.
"Hahaha, saravvvv..." gumam Arial.
Film sudah dimulai, Kara meringis ringis ngeri, tak salah mereka memilih film horor, Milo menang banyak disini. Kara sesekali menyembunyikan wajahnya di lengan Milo, tentu saja tak disia sia kan oleh pemuda ini untuk mencium aroma strawberry dari rambut Kara yang memabukkan. Ica bukan lagi, ia benar benar nyempil di ketek Jihad.
"Ji, kalo si hantunya udah pergi, kasih tau gue !" ucap Ica.
"Terus loe mau nonton apa kesini ? kalo mau ngumpet gini, buat apa ngikut nonton !" jawab Jihad.
"Gue bukan takut, tapi musiknya itu suka ngagetin, "
"Ca, hantunya dah ga ada, " bisik Jihad.
Ica memalingkan wajahnya ke arah layar di depan. Tapi tak lama Ica teriak, saat tiba tiba sosok si hantu hadir begitu saja mengejutkan.
"B4ngk3 !!!! loe boong Ji !" pekikan Ica terdengar oleh yang lainnya. Sedangkan Jihad tergelak puas.
"Sutttt !!!" mereka menempelkan telunjuknya di bibir.
.
.
.
.
__ADS_1
Mungkin beberapa bab lagi MiloKara bakal memasuki chapter chapter Final ya guys !! Kalo kalian rindu berat dengan pasangan ini dan ingin tau kehidupannya di jenjang berikutnya mimin bakalan kasih, tapi mungkin nyempil nyempil di lapak Ica sama Jihad.