PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 106. Kesedihan Nayla Latifah


__ADS_3

Nayla memajukan tubuhnya ke arah depan dimana Jamal Abdillah berada. Walau terasa pedih,perih sisa dari kegiatan kedua pasangan tidak resmi itu. Tidak menghalangi jalannya itu.


Nayla megambil majalah yang kebetulan berada di dalam mobil tersebut. Kemudian dia segera memukul punggungnya Jamal dengan semampunya saja.


Bugh!!


Plak!!


Nayla memukuli tubuhnya Jamal dengan sekuat-kuatnya. Dia tidak peduli dengan keadaannya sendiri yang tidak leluasa bergerak, tapi demi melampiaskan kekesalannya dan kemarahan serta murkanya itu.


"Brengsek loh!! Dasar pria luknut loh! Kenapa kamu tega banget melakukan ini padaku! Kenapa kamu berani merenggutnya dariku hal yang sangat aku jaga dan paling penting dalam hidupku!?" Jeritnya Nayla Latifah Hanum.


Jamal sama sekali tidak melawan ataupun menghindar. Dia tidak ingin membuat Nayla sedih dan prustasi dengan sikapnya yang melawan.


"Kamu bajingan!! Kenapa kamu melakukan hal tidak pantas terhadapku, kenapa kamu tidak punya hati sehingga merebut semuanya dariku!" Pekiknya Nayla yang menghentikan pukulannya karena capek sudah bahkan tangannya sudah pegal.


"Nayla Latifah Hanum saya akan bertanggung jawab padamu, semua ini terjadi karena… aku yang tergoda melihat kecantikanmu jadi aku mohon maafkanlah saya akan melamar kamu secepatnya," bujuknya Jamal dengan memegangi tangannya Nayla.


Nayla semakin mengeraskan suara tangisannya itu, dia tidak peduli lagi dengan imagenya yang sudah hancur di hadapannya Jamal.


"Hiks… hiks… kenapa Jamal Abdillah kenapa harus saya!?" Ratapnya Nayla yang semakin bertambah kusut rambutnya dan penampilannya hancur dan berantakan seketika.


Jamal hendak menyeka air matanya Nayla yang semakin membanjiri wajahnya yang pucat karena kurang waktu tidurnya. Tapi, tangannya segera dihalau dan dipukuli oleh Nayla.


Nayla melototkan matanya itu ke arah Jamal," stop!! Jangan pernah sentuh saya dengan tangan kotormu itu! Najis kamu sentuh tubuhku!" Geramnya Nayla.


"Nayla please saya mohon jangan seperti ini, dengarkan saya baik-baik jika saya bersedia dan siap menikahimu kalau perlu saya akan melamar kamu besok," tegasnya Jamal.


Nayla segera mencari barang bawaannya semalam, ia segera keluar dari dalam mobilnya Jamal sedan putih itu dengan tatapan matanya yang tajam penuh dengan permusuhan dan kebencian.


"Tolong jangan kejar lagi! Kubur dalam-dalam dan hentikan khayalan kamu untuk melamarku! Karena selamanya saya tidak akan sudi menikah dengan pria yang tidak saya cintai!" Kesalnya Nayla sambil menutup pintu dengan sangat kuat.


Prang!!


Brak!!


Jamal ingin mencegah kepergian Nayla tanpa memakai alas kakinya yang entah terbang kemana perginya sandal yang semalam dipakainya.

__ADS_1


"Hapus dan hilangkan niat baik Anda untuk melamarku karena saya tidak sudi dan tidak bakalan mau menjadi istri pria bejak sepertimu!!"


Dengan pakaian yang cukup berantakan, mata yang sembab, hidungnya memerah hingga air matanya sesekali menetes membasahi pipinya itu. Nayla sangat menyesali keputusannya semalam.


"Nayla, aku mohon jangan pergi dari sini kamu tidak boleh pergi dengan keadaan kacau seperti itu! Gimana kalau kedua orang tua dan saudara kamu melihatmu seperti ini!" Teriaknya Jamal yang meneluarkan suaranya yang cukup tinggi melengking untuk mencegah kepergiannya Nayla yang hanya sia-sia saja.


Nayla tidak peduli dan menghiraukan teriakannya Jamal, dia terus berjalan tak tentu arah. Baginya yang paling penting pergi dari tempat terkutuk dan luknut itu yang sudah menorehkan luka yang cukup mendalam di dalam kehidupannya Nayla.


Nayla berlari secepat mungkin walau sesekali mengeluh sakit, perih ketika telapak kaki tanpa sengaja menginjak batu-batu kerikil jalanan sepanjang perjalanan yang ditempuhnya.


Jamal hendak mengejar Naila, tapi pasti akan berakhir sia-sia dan tidak ada gunanya.


Jamal mengerang kesal saking jengkelnya dengan dirinya sendiri yang tidak berdaya untuk menghapus luka wanita muda yang sudah direnggut mahkotanya itu.


Sudah lama dia berlari di pagi buta itu, dia tidak peduli dengan tatapan menyelidik dari orang-orang yang kebetulan berlalu lalang di jalan yang dilaluinya itu. Banyak orang yang berpapasan dengannya menatapnya dengan penuh Iba.


Langkahnya terhenti ketika melihat ada sebuah taman yang masih sepi dikunjungi oleh beberapa warga masyarakat karena memang masih sangat pagi.


Nayla berjalan perlahan menuju taman itu dan berniat untuk duduk di salah satu kursi besi panjang bercat putih itu.


Bagaikan kaset kusut yang diputar di dalam kepalanya itu, ia menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya itu ketika baru menyadari, jika semalam dialah sendiri yang memulai untuk menggoda Jamal, bahkan ia sendiri yang meminta Jamal Abdillah untuk membuatnya bahagia dalam semalam suntuk.


Astaughfirullahaladzim ya Allah kenapa bisa aku senakal dan seliar itu! Aku tidak menduga jika diriku bertindak di luar kendali hingga aku sulit untuk mengontrol diriku dan membuat Jamal tak berdaya. Kami pun melakukannya.


Rasa sesal semakin membuat dadanya semakin menghimpit dadanya yang kesulitan untuk bernafas. Air matanya tumpah ruah hingga bagaikan beranak sungai.


Nayla Latifah duduk di atas kursi yang ada di dalam taman. Air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya itu.


Astaughfirullahaladzim, kenapa hidupku seperti ini ya Allah… kenapa? Apa salahku sehimhhy harus diberikan cobaan yang begitu besar dalam hidupku!?"


Argh!!!


Nayla memukul kursi sekuat-kuatnya dan berteriak kencang dan histeris, saking besarnya volume suaranya sampai burung-burung yang bertengger di atas pohon serta kupu-kupu yang berterbangan berlalu lalang segera terbang tinggi membumbung tinggi ke atas langit saking takutnya mendengar amarah dari Nayla.


Jamal segera mencari keberadaan dari Nayla Latifah,tapi hingga beberapa menit akhirnya ia menyerah juga karena tidak berhasil menemukan Nayla.


Sepertinya Nayla sudah balik ke rumahnya, aku akan segera menghubungi ayah dan bunda di kampung untuk segera ke Jakarta melamar Nayla.

__ADS_1


Jamal sudah memutuskan untuk melamar Nayla,mau atau tidak, dia tetap akan melakukan apa yang dia inginkan sebelum ada orang lain yang mengetahui apa yang terjadi pada mereka berdua.


Nayla segera balik ke rumah kakak sepupunya yaitu Zaidan, karena hanya rumah itu yang paling mengerti dan memahami dirinya sendiri.


Kamil Pasha, Gunawarman Haerul, mereka pasti sudah berangkat kerja. Kalau masalah bi Ijah dan mang Jono mereka pasangan suami istri yang tidak banyak pusing dengan kehidupan dan masalah orang lain.


Beberapa jam kemudian, Kamil yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya untuk menjemput ayah dan ibunya yang hari ini datang dari Makassar Sulawesi Selatan. Ia sudah berada di jalan menuju bandara internasional Soekarno Hatta.


Ya Allah kenapa ayah dan ibu sama sekali tidak menyerah untuk menjodohkan aku dengan perempuan pilihan mereka.


bugh!!


brak!!


Kamil memukul setir mobilnya saking tidak terima dirinya dituntut segera menikah dengan calon jodoh sesuai dengan orang tuanya.


Kamil semakin menambah kecepatan laju mobilnya itu hingga dia sudah tidak sadar jika ia mengemudikan kecepatan mobilnya itu.


Aku tidak ingin menjadi anak durhaka ya Allah... aku ingin berbakti kepada kedua orang tuaku, tapi aku juga tidak bisa menerima rencana pernikahan ini.


Kamil segera memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran khusus mobil. Kamil menundukkan kepalanya saking enggan dan sungkan untuk bertemu dengan calon istrinya. Hari ini dijadwalkan untuk datang menjemput kedua orang tuanya bersamaan dengan calon istrinya itu.


Semoga saja hari ini gadis itu tidak datang, aku yakin dia pasti tidak akan datang karena dia sibuk bekerja.


Harapanku semoga wanita itu tidak datang dan kabur dari penjara pertunangan ini, aku tidak sanggup untuk melihatnya. Tapi entah kenapa aku merasa perempuan ini sangat berbeda dengan calon jodohku yang seperti dulu.


Aku berasa perempuan ini berbeda, entahlah apa ini hanya pikiran semata saja atau memang aku akan ditakdirkan oleh Allah SWT untuk menikah dengan perempuan itu.


Kamil terus berjalan ke arah dalam bandara internasional tersebut siang itu. Kamil terus berjalan dan melihat kedua orang tuanya dan juga adiknya yang berdiri menunggu kedatangannya.


"Meysa," teriaknya Kamil.


Perempuan yang berdiri membelakangi kedatangan Kamil itu segera berbalik badan menghadap kepada sumber suara yang terdengar begitu nyaring dan memekikkan telinga saking besarnya volume suaranya Kamil.


Kamil reflek terhenti ketika melihat siapa orang yang berdiri di depannya yang hanya memperlihatkan punggungnya itu.


"Ini tidak mungkin! Kenapa dia juga ada disini?"

__ADS_1


__ADS_2