PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 52. The First


__ADS_3

Lingerie seksi berwarna merah itu mampu menyihir Zaidan Khaizan Rudiyatmo. Ia tidak mempercayai apa yang sedang dilihatnya sekarang. Betapa terkejutnya melihat penampilan istrinya yang kesehariannya memakai hijab.


Semakin bertambah lah kebahagiaannya Zaidan ketika dia mendengar Mey mengatakan kesiapannya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya.


"Alhamdulillah makasih banyak sayang jika malam ini kamu siap untuk menjadi sepenuhnya istriku," ucapnya Zaidan yang tidak bisa menutupi kebahagiaannya yang dirasakannya.


Meylani masih sering tersipu malu jika mengingat kembali ketika akan memutuskan memakai pakaian yang cukup terbuka bahkan transparan.


Perlahan tapi pasti Zaidan mulai satu persatu mengabsen apa yang dimiliki oleh Meylani. Matanya berbinar-binar terang ketika baru kali ini melihat dengan jelas body istrinya yang begitu menggoda haas raaatnya. Ia tidak menyangka jika istrinya yang selalu memakai pakaian tertutup itu memiliki body yang aduhai bak seperti gitar spanyol.


"Kamu harus tahan yah sayang,katanya orang ada yang saat melakukan pertama kali sangat sakit ada yang dikit saja sakitnya. Tapi kalau sakit tidak perlu sungkan untuk berteriak Abang akan langsung hentikan," ujarnya Zaidan yang masih berdiri sembari satu persatu mengecup apa yang dimiliki oleh Meylani.


Meylani hanya menganggukkan kepalanya tanpa mampu berucap sepatah kata lagi. Karena tangan dan bibirnya Zaidan mulai beraksi lagi hingga membuat matanya merem melek merasakan sensasi yang pertama kali dirasakannya dalam kehidupannya itu.


Ternyata seperti ini rasanya disentuh oleh seorang pria. Hati ini sangat bahagia jika yang melakukan itu adalah suami tercinta.


Selembar demi selembar kain dan benang merah yang menutupi seluruh tubuhnya Meylani sudah terlempar dan dibuang oleh Zaydan hingga teronggok begitu saja di atas lantai keramik kamar tidurnya.


Meylani masih berdiri sembari mengalungkan tangannya di leher jenjangnya Zaydan. Sedangkan Zai seperti tidak puas dengan di satu titik saja. Ia semakin bergerilya mengekspansi semua lekukan sudut-sudut tersembunyi yang baru kali ini dilihatnya.


Sesekali Meylani mengigit bibir bawahnya jika mengalami sensasi yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.


"Hemph… Abang a-nu a-ku," lirihnya Meylani yang semakin tak berdaya dengan perbuatannya Zaidan yang pertama kali tapi cukup lihai membuat Meylani seolah ingin berteriak keras hingga akan terbang ke langit tertinggi.


Meylani berusaha untuk menahan rasa nikmat yang ingin meledak di dalam dadanya yang sudah bergemuruh hebat. Sedangkan Zaidan seolah seperti orang yang berpengalaman saja, padahal hanya mengikuti naluri dan instingnya saja.


"Kamu benar-benar buat Abang mabuk kepayang sayang, Abang sangat mencintaimu Meylani," racaunya Zaidan yang masih dalam posisi berdiri.


Hingga Zaidan yang sudah tidak bisa menahan gaaa iii raahhh yang sudah lama terpendam di dalam dadanya segera ingin dituntaskannya apalagi melihat Meylani pun demikian halnya yang dirasakannya.

__ADS_1


Zaidan segera menggendong tubuhnya Meylani ala bridal style. Dia terus saja tersenyum melihat Meylani yang begitu penurut dengan menuruti semua keinginannya Zaidan suaminya.


Zaidan merebahkan tubuh istrinya dengan sangat pelan dan hati-hati seolah yang dia letakkan itu adalah porselen antik dengan harga jutaan saja.


"Abang akan mulai kamu bersiap yah, kalau sakit ngomong yah tidak perlu malu-malu," imbuhnya Zaidan.


Perkataan Zaidan barusan membuat Meylani kepingin tertawa seolah dia akan disuntik vaksinasi saja oleh seorang dokter. Mey pun tersenyum malu-malu seraya menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui semua perkataan suaminya itu.


Zaidan pun memulai tugasnya yang hampir setahun ini dipending dan tertunda oleh keadaan yang mendesaknya tidak mungkin melakukannya.


"Ya Allah semoga apa yang aku lakukan adalah bernilai ibadah di sisimu Sang Maha Pencipta yang Maha penyayang dan Pengasih,"


Zaidan kembali melakukan apa yang tadi diperbuatnya, sekarang lebih leluasa untuk bergerak karena dalam posisi berbaring. Meylani sesekali mengeratkan pegangannya di ujung bedcover nya ketika Zaidan memainkan bagian-bagian tertentu yang paling sensitif di daerah terlarang.


"Auh hemph abang ahh!" Teriaknya Meylani yang sudah tidak menahan gelombang bertubi-tubi yang menyerang pertahanannya.


Rambut, punggung dan seprei satu persatu dipeganginya agar bisa bertahan dari serbuan iii saaa paan liii dahnya Zaidan yang begitu lihai memainkan apapun yang dimiliki oleh Meylani.


Zaidan tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Mey sudah pasrah dengan keadaan yang dikontrol oleh Zaidan.


"Gimana sayang apa kamu sudah siap!?" Tanyanya Meylani yang tidak berani menatap langsung kedalam bola matanya Zaidan saking malunya sendiri dengan reaksi dan balasan dari tubuhnya yang sering kali tidak terkontrol.


Zaidan seolah tidak puas di setiap titik-titik yang dilewatinya. Bahkan berulang kali dia menjelajahi semua sudut itu yang sudah dilaluinya.


"Abang ah ja-ngan, ah auh hemmph," racaunya Meylani ketika Zaidan masih bermain di area daerah bagian inti pusatnya Mey.


Hingga Zaidan pun tidak mampu mengontrol lagi pergerakannya karena sudah ada perubahan dan desakan dari arah paling bawahnya sehingga ia pun bersiap untuk berangkat menuju alam kebahagiaan yang tidak terkira.


Tetapi,baru bagian paling terluar dijajakinya, Meylani sudah mengeluarkan peluh keringat dingin. Sekujur tubuhnya mengkilap terkena sinar lampu malam itu.

__ADS_1


"Saaa kitt Bang," keluhnya Mey.


Zaidan yang sudah terbakar api haaa sss raaat yang terus bergelora di dalam dadanya tidak menghiraukan suara-suara rintihan yang dikeluarkan oleh bibir mungilnya Meylani.


Sedangkan Meylani hanya mampu berteriak-teriak kecil saja tanpa bisa mencegah kemauan suaminya itu. Dia hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk suaminya. Walaupun rasa sakit perih seperti rooo beee kan halus Du bagian intinya semakin sakit ketika Zaidan sudah mampu membobol gawang lawan.


"Sebut namaku sayang jika kamu ingin berteriak," pintanya Zai yang seperti tidak ada rasa lelahnya.


Zaidan sama sekali tidak peduli dengan rintihan, keluhan dari Meylani. Ia malahan semakin tertantang dan termotivasi dengan kelakuannya Meylani yang menurutnya sangat lucu terdengar mendayu-dayu di indera pendengarannya.


"Ah Abang Zaidan Khaizan Rudiyatmo saaa kiiit!!" Jeritnya Mey yang tak tertahankan.


Berulang kali Zaidan melakukan hal-hal yang sama tapi dengan gaya dan pola cara yang berbeda. Hingga dia tidak mampu menahan sesuatu yang ingin lepas dari sarangnya. Membuat Zaidan semakin mempercepat proses kegiatannya hingga akhirnya lava panas menyembur membasahi bagian paling terdalam milik istrinya itu.


"Lagi istriku sebut namaku lagi!" Teriak Zaidan yang terus melakukan kegiatan naik gunung turun gunung melewati perbukitan dengan lembah yang cukup curam itu dengan ditumbuhi oleh pepohonan yang cukup rindang.


"Suamiku!! Zaidan Khaizan Rudiyatmo!!" Pekiknya Melani yang tersenyum tipis ketika selesai menyebut nama suaminya sembari memegangi kuat untuk lehernya Zaidan.


"Meylani Ramadhani Zulkarnain aku sangat mencintaimu!" Pekik Zaidan sebelum sesuatu yang sedari tadi tertahan akhirnya mengalir deras juga.


Hingga Zaidan pun terkulai lemas dan tak berdaya di sampingnya Meylani yang berusaha mengatur nafasnya yang tersengal dan ngos-ngosan. Hanya nafas memburu yang terdengar di dalam kamar berukuran cukup luas itu dengan dipenuhi perabot furniture yang cukup mewah dan bergaya modern.


Tempo dan durasi permainan raan jaaang mereka semakin bertambah seiring waktu berjalan. keduanya seperti seolah-olah tidak ada yang mau mengalah hingga keduanya sesekali tersenyum simpul menanggapi sikapnya mereka masing-masing.


Zaidan tersenyum penuh kegembiraan karena berhasil belah duren juga. Ia tidak menyangka sensasinya seperti ini. Padahal awalnya banyak yang menyebut dan mencap dirinya adalah penyuka sesama terong Belanda bahkan Mey pun sempat menanggapinya dengan menganggap Zaidan adalah penyuka sesama jenis pisang Ambon.


Aku mengakui apa yang dimiliki Meylani sungguh membuat hatiku semakin bahagia dan gembira.


Aku bersyukur karena istriku walaupun awalnya mencintai pria lain,tapi semua yang aku rasakan ini buka baru masih tersegel rapi tanpa ada jejak sedikitpun dari pria lain.

__ADS_1


Istriku memang pintar menjaga kesuciannya dari laki-laki manapun, walau hatinya masih belum aku miliki seutuhnya. Tapi, satu kesyukuran dan kebahagiaan adalah aku orang pertama yang memetik keindahannya itu.


Zaidan dan Mey kedua-duanya berusaha mengatur nafasnya mereka yang semakin memburu setelah melewati permainan yang cukup melelahkan. Hingga jam satu dini hari barulah mereka selesai. padahal setting waktu pertama mereka adalah di jam sepuluh malam.


__ADS_2