
Sedangkan di tempat lain, Mey masih menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya akan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya itu. Kenal saja tidak apalagi untuk jatuh cinta pada calon suaminya.
"Tidak mungkin mas Bisma datang besok, ayah pasti sengaja hanya mengulur waktu kami, apa sebaiknya aku mengajak bertemu dengan pria yang bernama Zaidan itu agar kami berbicara dan aku bisa meminta untuk membujuknya membatalkan pernikahan kami saja? Hmm sepertinya ini jalan terakhir yang bisa aku lakukan," cicitnya Mey sembari menyeka air matanya itu.
Matanya sudah bengkak, hidungnya sembab seharian sudah dia menangisi dan meratapi nasibnya. Mey berjalan ke arah kamar adik bungsunya yaitu Meysa. Ia ingin bertanya nomor hp laki-laki yang akan menikahinya dua hari lagi itu.
"Sya apa kamu belum tidur?" Ucapnya Mey dari balik pintu kamar.
Meysa melihat ke arah jarum jam yang terpasang di dinding tembok kamarnya itu.
"Sudah hampir jam dua belas malam, apa Mbak Mey belum tidur?" Cicit Meysa.
Meysa yang memang belum tidur segera membuka pintu kamarnya tanpa menjawab pertanyaan dari kakaknya itu, karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya terbangun dari tidurnya. Tanpa menunggu lama, Mey langsung ngacir ke dalam kamar adiknya itu. Meysa celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitarnya sebelum menutup pintu kamarnya itu.
"Sya apa kamu tahu nomor hpnya Zaidan? Anaknya temannya ayah," imbuhnya Mey yang tidak menunggu lama langsung mengatakan niat dan maksud kedatangannya itu.
Meysa terkekeh melihat reaksi dan sikap kakak sulungnya itu," ya Allah kakak duduk dulu kenapa, ini main langsung bertanya segala kalau bisa tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan dengan perlahan pula lalu bicara," candanya Meisya yang mengerti dengan keresahan dan ketakutan yang dirasakan oleh kakaknya itu.
Mey menepuk keningnya Meysa," adek sekarang itu bukanlah waktunya bersantai atau berleha-leha, kakak pengen ketemu dengan itu pria dan ini sangat penting, jadi bantuin kakak untuk kali ini saja," harapnya Meylani yang memohon bantuannya Meysa.
"Baiklah aku akan serius, kak apa masih ingat dengan nomor yang menelpon kakak empat hari yang lalu?" Tanyanya Sya.
Meylani segera mengingat kejadian itu," ohh itu waktu Mama menyuruhku untuk pulang kampung?" Tanyanya balik Mey.
"Yups, itu nomor hp yang dipakai mama menelpon adalah nomor hpnya calon suaminya kakak loh," jawab Sya.
__ADS_1
Meylani terkejut mendengar perkataan dari adiknya itu, ia tidak menduga jika pria yang sempat dia bandingkan wajahnya dengan Bisma adalah calon suaminya. Pria yang tanpa sengaja dikaguminya itu.
"Jadi dia pria yang bernama Zaidan itu?" Gumamnya Mey sambil mendudukkan dirinya di atas ranjang empuk adiknya itu.
"Kalau kakak mau hubungin Mas Zai ke nomor itu saja, Mas Zai itu baik loh kak,saya yakin kakak tidak akan rugi menikah dengannya," ucapnya Sya.
Meylani tanpa mengucapkan sepatah kata lagi langsung pergi dari dalam kamar adiknya itu. Mey masuk ke dalam kamarnya dan segera mencari nomor hp Zaidan yang dia beri nama handsome. Mey jadi malu karena jelas-jelas ia sudah mengakui ketampanan dari pria yang akan menjadi calon imamnya itu.
"Aku berharap setelah berbicara dengan Mas Zaidan kak Mey bisa merubah keputusan dan pendiriannya selama ini, aku hanya berharap pernikahan mereka lancar ya Allah."
Mey segera mengutak-atik layar hpnya dan mencari nomor hpnya Zaidan, Mey melihat nomor whatshapnya Zaidan masih aktif.
"Sudah hampir jam satu malam nomor hpnya pria ini masih aktif, padahal sudah tengah malam apa mungkin lagi berkomunikasi dengan kekasihnya yang kemungkinannya juga meminta untuk membatalkan pernikahan kami," tebaknya asal Mey.
"Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh," ucapnya pria dari seberang telepon dengan suara khas baritonnya seolah menggelitik telinganya Mey.
Meylani yang mendengar seruan salam dari seberang telepon langsung terdiam menghayati perkataannya Zaidan yang hanya mengucapkan salam itu.
"Suaranya mampu menghipnotisku hingga aku tak tahu mau ngomong apa," lirihnya Mey.
"Hello… halo… Mey kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya dari seberang telepon.
Saking merdu dan tegasnya suara dari Zaidan membuat Meylani seolah sungkan dan segan untuk berbicara.
"Waalaikum salam," balasnya Mey yang tergagap.
__ADS_1
Pria yang disapa Zaidan Khaizan Rudiyatmo itu tersenyum bahagia, karena untuk pertama kalinya ia mendengar suara calon istrinya yang berbicara lama langsung di telinganya. Walaupun sebelumnya sudah pernah tapi,hanya melalui loud speaker saja.
Sudut bibirnya terangkat ke atas saking senang hatinya Mey yang berinisiatif menelponnya terlebih dahulu.
"Mas Zai,apa boleh kita bertemu besok di kafe Popsa?" Tanyanya Mey yang berhari-hari berbicara.
"Boleh,jam berapa dek kita ketemunya?" Tanyanya balik Zaidan.
Zaidan adalah pria yang sejak pertama kali melihat Mey langsung menyukainya dan jatuh cinta pada pandangan pertamanya. Hingga Zaidan sudah mengikrarkan sumpah pada dirinya jika Mey harus menjadi pendamping hidupnya kelak.
"Badda dzuhur kita ketemunya Mas, kalau gitu aku tutup dulu telponnya sudah larut malam soalnya enggak baik juga tidur terlalu larut malam apalagi harus begadang," ujarnya Meysa sebelum menutup sambungan teleponnya.
Zaidan tersenyum sumringah mendengar perkataan yang seolah Mey sangat peduli dan perhatian padanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," cicitnya Mey sebelum mematikan sambungan teleponnya itu.
Mey berdiri di balkon kamarnya seraya memperhatikan lalu lalang kendaraan Dy bawah sana. Arah pandangannya tertuju pada beberapa pengendara mobil, tapi isi pikirannya melalang buana ke sana kemari hingga ke Kuala Lumpur Malaysia.
Semoga saja pertemuanku besok bisa membuat dan meyakinkan Abang Zai untuk segera memutuskan perjodohan kami. Sungguh aku tak sanggup yah Allah jika aku harus menikah dengan pria lain, tetapi aku juga tidak mampu dan tidak mau untuk menjadi anak durhaka yang membangkang keinginan dan kehendak kedua orang tuaku.
Sedangkan di tempat lain, seseorang pria yang hanya memakai pakaian baju kaos oblong polos berwarna hitam itu berdiri di depan jendela kamarnya sambil tersenyum penuh arti.
Saya yakin jika kamu meminta bertemu denganku karena ingin memutuskan hubungan perjodohan kita, saya yakin akan hal itu. Tetapi, saya tidak mungkin menyetujui hal itu karena saya sangat mencintaimu. Tidak ada perempuan yang lebih cantik dan melebihi darimu sekalipun yang mampu mengubah rasa ini padamu.
Meylani Ramadhani ingatlah sekali saya maju untuk menghalalkanmu, saya tidak akan pernah mundur kiamat datang pun saya tidak akan mundur. Bahkan saya bertekad akan membuatmu jatuh cinta padaku suatu saat nanti, tapi ngomong-ngomong siapa pria yang telah dicintainya, kenapa saya sulit sekali untuk mengetahuinya?
__ADS_1