PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 93. Kesedihan Seorang Istri


__ADS_3

Meylani sejak Zaydan terbaring koma, ia menyewa dua perawat. Satu perawat pria dan wanita karena tidak mungkin membebani kepada anggota keluarganya. Walaupun mereka sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Tetapi, Meylani Ramadhani Zulkarnain tidak ingin tubuh suaminya terekspos ke hingga ke mata perempuan lain. Sehingga jika ingin membersihkan sekujur tubuhnya Zaidan maka dia sendiri yang langsung akan menangani masalah yang sangat pribadi dan sensitif.


Meylani dengan telaten dan penuh hati-hati membersihkan sekujur tubuhnya Zaidan. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


"Ya Allah Abang kenapa jenggot,kumis dan cambangnya tumbuhnya cepat banget, bukannya jumat lalu aku sudah bersihkan,"


Meylani seolah berbicara langsung dengan suaminya itu yang sama sekali tidak koma. Meylani berusaha untuk tersenyum dan tidak ingin menangis di hadapan suaminya walau kemungkinan besar suara tangisannya tidak terdengar hingga ketelinganya Zaidan yang tidak sadarkan diri.


Meylani terus melakukan kegiatannya untuk mencukur kumisnya Zaidan, "Ini panjang, ini juga sudah lebat masya Allah kumisnya kalau dibiarkan seperti ini abang ganteng juga sih, tapi lebih gantengan kalau wajahnya bersih dan rapi, jadi maafkan saya yah Abang harus mencukurnya hingga bersih,"


Meylani terus melakukan memotong rambut-rambut halus yang tumbuh di tempat-tempat tertentu. Meylani mengerjakan kegiatannya itu dengan sangat hati-hati, agar tidak melukai kulitnya Zaidan yang cukup halus dan lembut itu seperti kulit perempuan saja.


Bukan hanya kumis yang dipotong, tapi kukunya juga dipotongnya. Meylani tidak ingin suaminya terlihat berantakan meskipun belum sadar juga.


Meylani mengecup punggung tangannya Zaydan yang terpasang selang infus itu," Abang tega yah membuatku hanya seorang diri menjaga dede bayi kita ini, apa abang enggak mau menemaniku menjaganya, abang curang banget ini kan tidak adil masa sih hanya aku yang jagain anakmu ini kan anak kita bersama bang," ucapnya Meylani yang pura-pura merajuk sambil menoel hidungnya Zaydan yang selalu ia lakukan seperti kebiasaannya selama Zaydan tidak sadarkan diri.


Tanpa diketahui oleh Meylani sendiri jika ketika Meylani berakting marah, jari jemarinya Zaidan sebelah kanan yang tidak diperhatikan oleh Meylani.


Air matanya Meylani akhirnya tumpah ruah juga, semakin ia berusaha untuk menahannya semakin menetes juga. Hingga suara sesegukan pun terdengar sangat lirih dari bibir mungilnya Meylani.

__ADS_1


"Hiks… hiks.. ya Allah sampai kapan suamiku akan sadar? Kenapa harus seperti ini terus aku tidak bisa dan sanggup melihat suamiku terus tertidur ya Allah," ratapnya Meylani.


Raina Alifia yang berada di luar tanpa sengaja gorden jendela tirai kamar perawatannya Zaidan tersingkap.


"Ya Allah kasihan sekali Mbak Meylani, bukan aku yang ada diposisinya tapi aku sangat prihatin, andaikan aku yakin berada di sana mungkin aku sudah gila dan mengakhiri hubungan yang seperti ini, karena aku perempuan yang tingkat kesabaran yang sangat tipis dan rendah," Raina menyeka air matanya itu.


Beberapa jam kemudian, Meylani dan Raina pulang ke rumah.


"Abang insha Allah besok aku balik ke sini lagi, abang enggak apa-apa kan aku tinggal dulu, aku berharap besok aku balik Abang sudah bisa membuka matanya Abang jika tidak! Aku akan marah dan tidak bakalan menemani Abang aku akan balik ke Makassar," ancamnya Meylani yang sengaja berbicara seperti itu untuk memancing stimulasi agar Zaidan segera sadar.


Meylani meee luuu maat bibirnya Zaidan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Sama sekali tidak ada rasa nafsu sedikitpun di dalamnya. Hanya ada kesedihan yang terus-menerus menyertai setiap ucapannya Meylani.


"Assalamualaikum abang, aku pamit pulang dulu, i love you forever Zaidan Khaizan Rudiyatmo, aku dan bayi kita akan selalu menunggu abang segera sadar dan melihat kami seperti dulu, sudah sebulan loh bang,"


Raina menyentuh tangannya Meylani," Mbak kamu baik-baik saja kan?"


Meylani langsung memeluk tubuhnya Raina," saya sangat dalam keadaan tidak baik-baik saja, saya sangat sedih sekaligus kecewa karena abang sama sekali tidak ingin membuka matanya, padahal saya sangat ingin bercanda dengannya, tadi saya pikir suamiku akan bangun setelah mendengar keluh kesahku tapi,ia sama sekali tidak kasihan padaku Raina apa abang masih kesal padaku karena aku bertemu dengan mantanku di belakangnya," ucapnya Meylani panjang lebar yang air matanya semakin menetes tanpa henti-hentinya.


Meylani segera menarik tubuhnya dari tubuhnya Raina,ia cukup malu dan sungkan telah menangis tersedu-sedu dalam pelukan sahabat adik sepupunya itu.


"Maaf kamu sudah mendengar curhatanku, seharusnya saya tidak seperti ini," ucapnya Meylani yang malu dengan sikapnya sendiri yang memperlihatkan kondisi terpuruknya di depan orang lain.

__ADS_1


Raina menyeka air matanya Meylani yang menetes membasahi pipinya itu, "Tidak apa-apa kok Mbak, saya sangat mengerti dengan keadaannya Mbak, siapapun wanita yang berada di posisinya Mbak pasti akan sangat sedih, saya malah salut sama Mbak karena sungguh tabah dan tegar menghadapi kerasnya dan besarnya cobaan yang Mbak hadapi," Raina menjeda perkataannya dan mengambil tissue untuk menghapus air matanya Meylani.


Meylani berusaha untuk tersenyum walau dalam hatinya sangat sedih. Hatinya boleh sedih dan kesepian tapi ia tidak ingin dukanya itu dengan orang lain. Cukup ia yang mengalami kejadian seperti ini. Meylani berdoa dan berharap agar cukup dia yang mengalami cobaan seperti ini di dunia ini.


"Satu hal yang paling penting Mbak itu berbeda dengan orang lain jujur saja kalau aku berada di posisinya Mbak entah apa yang akan aku perbuat, karena saya salut Mbak itu sangat kuat dan tabah banget sampai tingkat kesabaran Mbak sungguh sangat besar." Pujinya Raina.


Berselang beberapa menit kemudian, mobil sedan putih itu sudah berada di dalam carport rumahnya.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga, kenapa yah di Jakarta setiap hari kemacetannya semakin lama semakin parah saja," gerutunya Raina yang segera turun dari mobilnya.


"Kamu yah baru gitu sudah mengeluh," candanya Meylani.


Keduanya segera berjalan ke arah dalam rumahnya Meylani dengan sebuah rasa yang berbeda dari sebelumnya. Hingga suara seseorang membuat keduanya saling bertatapan satu sama lainnya.


"Ijha kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Mang Jono suaminya.


Ijah menghela nafasnya dengan cukup keras," saya tidak menyangka jika tuan Dimas itu pernah pacaran dengan Nyonya Meylani dan paling parahnya adalah Lisa sabatnya yang sudah dua minggu nginap di rumah ternyata adalah istri sahnya juga tuan muda Bisma loh suamiku," jelasnya Ijha.


"Apa!! Ini tidak mungkin pasti kamu salah dengar saja sayang," reaksinya Mamang Jono luar dugaannya ia berdiri dari posisi duduknya itu.


"Hush!! Jangan ribut entar ada yang dengar mas, kalau harus berteriak seperti itu," cegahnya Bi Ijha.

__ADS_1


"Emangnya apa yang tidak boleh kami dengar!?"


Mang Jono dan bibi irjawanti segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan keduanya wajahnya sangat panik dan pucat pasi saking takutnya melihat siapa yang berdiri di belakang mereka.


__ADS_2