PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab.9. Permintaan Yang Ditolak


__ADS_3

Zaidan sesekali menatap ke arah layar hpnya karena sudah sekitar dua puluh menit ia duduk di dalam kafe tempat ia janjian dengan calon istrinya.


"Apa Mey terjebak macet,atau mungkin Mey tidak jadi datang?" Banyak sudah pertanyaan yang berseliweran di dalam pikirannya.


Zaidan mulai nampak panik dan ketakutan jika Mey kabur dari rencana pernikahannya dan pergi bersama kekasihnya yang sama sekali belum pernah dilihatnya.


"Apa aku harus menelpon nomor hpnya Kamil saja, tapi kalau Kamil banyak tanya aku harus jawab apa?" Raut wajah kebingungan jelas terlihat dari raut wajahnya Zaidan anak muda ulet dan rajin itu.


Zaidan pun keluar masuk, mondar-mandir ke sana kemari menunggu kedatangan Meylani yang belum nampak batang hidungnya itu.


"Sebaiknya aku telpon atau chat saja nomor ponselnya Mey supaya aku bisa tenang," gumamnya Zaidan yang sudah meraih hpnya yang tergeletak di atas meja.


Zaidan dengan serius mencari nomor hpnya Meylani di daftar kontak telponnya saking seriusnya hingga tidak menyadari, jika sudah ada orang yang duduk di depannya langsung menyeruput minuman dingin yang kemungkinan besarnya adalah pesanan khusus untuknya.


Gluk… glukk..


Suara tegukan yang jelas terdengar dari pangkal lehernya, saking kehausannya Mey menghabiskan minumannya hingga tandas tak bersisa. Mey kembali memperdengarkan suara yang cukup merdu yaitu ia bersendawa hingga berbunyi dua kali. Suara sendawanya Mey mampu mengalihkan perhatiannya Zaidan dari layar hpnya itu.


Mey yang kedapatan bersendawa hanya tertawa cekikikan melihat reaksinya Zaidan yang melongok tidak percaya ke arahnya Mey.


"Hehehe maaf Abang tadi keceplosan mungkin karena aku terlalu menikmati minumannya yang begitu nikmat hingga aku bersendawa," kilahnya Mey yang tersenyum lebar ke arahnya Zaidan.

__ADS_1


"Ya Allah… semakin cantik wajahmu jika kamu tersenyum padaku, aku semakin jatuh cinta kalau seperti ini," gumamnya Zaidan yang mengagumi keindahan dan kecantikannya Meylani yang tanpa polesan make berlebih.


"Hem!! Maaf Abang Zai tadi ngomong apa? apa ada yang ingin dikatakan?" Tanyanya Mey yang menautkan kedua alisnya melihat reaksinya Zaidan setelah ia datang.


Zaidan menjadi salah tingkah karena kedapatan dan ketahuan memuji dan mengagumi wanita yang tersisa dua hari lagi akan sah dan halal ia sentuh dan menjadi kekasih halalnya.


Zaidan menggaruk tengkuknya lehernya yang tidak gatal itu," ehh aku tadi tidak ngomong apa-apa kok, mungkin kamu salah dengar saja," kilahnya Zai seraya menggoyang ke-dua telapak tangannya di depan wajahnya Mey.


"Ohh gitu," ucapnya Mey.


"Kamu sudah makan? Kalau belum aku pesankan yah atau mungkin masih mau tambah minumannya lagi," tawarnya Zaidan untuk mengalihkan perhatiannya Mey.


Zaidan menatap intens ke dalam dua bola matanya Mey dengan bulu matanya yang cukup lentik itu.


"Maaf jika kamu berniat untuk membatalkan pernikahan kita berdua, maaf aku jelaskan dan katakan padamu aku Zaidan Khaizan tidak akan pernah membatalkan pernikahan kita?" Tegasnya Zaidan.


Mey terbelalak mendengar perkataan dan ucapannya Zaidan," kenapa Abang tidak ingin membatalkan perjodohan kita? Ini kan kemauan dari kedua belah pihak kedua orang tua kita, jadi gampang kan untuk menolak dan membatalkan semuanya, hanya mengatakan kepada mereka jika kita berdua tidak saling mencintai,apa alasan itu tidak cukup untuk membatalkan semuanya!?" Ujarnya Mey yang berusaha untuk menekan ego dan amarahnya itu.


Meylani bangkit dari duduknya itu saking terkejutnya mendengar penolakan dari Zaidan, "Mak-sud-nya a-pa? Kenapa tidak mau membatalkan pernikahan kita? Apa!?" Teriaknya Meylani yang sudah mulai terpancing emosinya itu.


Awalnya Mey menganggap enteng dan remeh pertemuannya. Ia beranggapan Zaidan adalah pria yang mudah untuk diajak kompromi dan bekerja sama, tapi tahu-tahunya kalau Zaidan adalah tipe orang yang kuat pada pendiriannya dan tidak mudah dipengaruhi.

__ADS_1


Zaidan sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan dan kekesalan yang ditunjukkan oleh Meylani. Ia malah menyadarkannya punggungnya ke sandaran kursi.


"Zaidan Khaizan Rudiyatmo yang terhormat kenapa Anda tidak menyetujui permintaanmu yang sangat mudah ini? Apa susahnya untuk mengatakan bahwa kamu menolak dan membatalkan pernikahan kita ini, lagian ini hanya perjodohan yang jelas-jelas saya sama sekali tidak mencintaimu sedikitpun,apa aku harus berteriak disini dan mengumumkan bahwa aku tidak ingin menikah dan menjadi istrimu apapun yang terjadi?" Geramnya Mey.


Zaidan kembali terdiam dan menunggu Mey sampai tidak berbicara sepatah katapun lagi hingga ia cukup tenang.


Mey menatap mencemooh ke arahnya Zaidan, "Apa jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta pada pesonaku sehingga kamu tidak bisa membatalkan pernikahan kita ini atau kamu sudah jatuh cinta padaku lagi!?" Tebaknya Meylani yang raut wajahnya sudah nampak jelas terlihat disana ada rasa kesal yang membuncah di dada dan pikirannya.


"Jika semua yang kamu katakan adalah benar, kira-kira apa yang akan kau perbuat?" Tanyanya balik Zaidan dengan santainya.


Mey tertawa terbahak-bahak mendengar penuturannya Zaidan, "Hahaha!! jangan harap dan jangan mimpi jika kelak kita jadi menikah aku tak bakalan mencintaimu, karena di dalam hatiku hanya mencintai satu pria saja untuk selamanya bahkan sampai aku mati jadi kamu jangan bermimpi untuk mendapatkan hatiku!"


"Meylani Aileen Zulkarnain aku akan sabar menunggumu sampai kamu mengatakan cinta padaku karena batas kesabaran ku itu seluas samudera dan setinggi langit, aku akan buktikan padamu jika aku pantas dan layak jadi suamimu bukan pria lain," tegas Zaidan yang duduk dengan tenangnya dan tidak terprovokasi, dengan perkataannya Mey.


Apa yang mereka berdua perdebatkan sudah direkam oleh Gunawan dan Jamal Abdillah sebagai mata-mata yang diutus oleh Pak Zulkarnain. Gunawan malah mengirimkan video siaran langsung ke nomor pamannya itu agar mereka menjadi saksi langsung pertengkaran calon pengantin itu.


"Semoga saja tengsi dan tekanan darahnya paman tidak naik jika tidak aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi kedepannya," bisiknya Gunawan yang terus menerus mengambil rekaman gambarnya.


"Betul yang kamu katakan, Mbak Mey memang sifatnya seperti paman saja tegas dan keras kepala, kalau aku diposisinya Mey kalau perempuannya cantik,baik hati dan punya pekerjaan yang bagus walaupun aku tidak menyukai perempuan itu pasti aku akan menerima dengan tangan terbuka perjodohan kami," pungkas Jamal sepupu dari pihak mamanya Meylani anak dari adiknya Bu Santi.


Mey memajukan wajahnya ke arah Zaidan yang sejak tadi berdiri hingga kedua tangannya bertumpu di atas meja, "Heran deh, kamu dengan mudahnya ngomong seperti itu, padahal kamu itu belum tahu siapa Meylani tapi, aku harap kamu tidak akan pernah menyesali semua keputusanmu hari ini, aku akan buat pernikahan kita melebihi dari neraka sehingga kamu dengan sendirinya kamu akan meminta cerai padaku kelak!" gertaknya Mey.

__ADS_1


__ADS_2