
Semua orang kembali dikejutkan ketika Meylani ambruk tiba-tiba. Zaydan melepas segera pelukannya dari tubuhnya Bisma yang baru saja datang ke rumahnya memenuhi undangan dari neneknya langsung.
Bisma yang mendengar nama Meylani disebut segera berlari dan melepas pegangan tangan istrinya itu. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang karena ia cukup penasaran dan ingin memastikan apa benar perempuan yang pingsan dan tidak sadarkan diri itu adalah Meylani yang dikenalnya.
"Ya Allah kenapa semua ini bisa terjadi, kenapa meski perempuan yang sangat aku cintai menikah dengan pamanku sendiri!? Kenapa Mey tidak menungguku sampai aku pulang," Bisma Attala menggenggam erat kepalan tangannya itu.
Perempuan yang sudah menjadi kekasihnya hampir delapan tahun lamanya sampai detik ini. Karena keduanya belum memutuskan hubungannya padahal keduanya sudah sama-sama memiliki kehidupan rumah tangga sendiri.
Bisma menutup mulutnya saking terkejutnya melihat perempuan yang digendong oleh Pamannya adalah kekasihnya yang dipacarinya empat tahun lamanya sebelum meninggalkan kota Jakarta menuju Kuala Lumpur Malaysia. Hingga empat tahun kemudian tepatnya tiga hari yang lalu dia memutuskan untuk balik dari KL.
"Meylani Ramadhani Zulkarnain," cicitnya Bisma.
"Mas apa kamu sudah mengenal istrinya Paman Zaidan?" Tanyanya Tasya Ainun yang mendengar baik perkataan suaminya itu.
Pria yang sudah menikahinya sekitar dua tahun lalu itu dan memberikan dia anak laki-laki yang sungguh sangat lucu berusia sekitar setahun lebih dalam gendongan baby sitter nya.
Bisma bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya itu,ia hanya mengikuti kemana perginya orang-orang yang mengikuti Zaidan yang nampak sangat jelas terlihat rasa takut, cemas dan khawatir berlebihan.
"Ya Allah apa yang terjadi padamu sayang? Bangunlah jangan buat Abang ketakutan seperti ini," lirihnya Zidan sambil membaringkan tubuhnya Meylani ke atas ranjang king size-nya dengan sangat pelan.
"Bu Ijah tolong cepat ambilkan minyak kayu putih, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada menantuku ini," perintahnya Bu Liviana mertuanya Meylani.
"Ya Allah kenapa sudah dua kali hari ini kak Meylani pingsan,ada apa sebenarnya dengan kondisi kesehatannya? Kalau hanya hamil kenapa harus drop seperti ini," keluhnya Kamil Pasha adiknya Meylani.
__ADS_1
"Iya yah benar juga, kalau hamil itu palingan mual, muntah ngidam yang aneh-aneh, ini Mbak Mey sudah dua kali pingsan, tapi kata dokter Rahayu Purwaningsih kalau seperti ini masih wajar sih," timpalnya Nayla Latifah.
"Tolong kalian minggir sedikit jangan berkerumun agar tidak pengap ruangannya," ucapnya pak Rudiyatmo.
Bisma tubuhnya terhuyung ke belakang ketika mendengar perkataan jika Meylani hamil, ia mengusap wajahnya dengan gusar.
"Ya Allah kalau Mey hamil, berarti kesempatan aku untuk mendekati kembali Meylani gagal sudah dan rencanaku untuk menceraikan Tasya kalau seperti ini harus aku pikirkan baik-baik,"
"Zaidan apa perlu kita menghubungi nomor hpnya Dokter Rahayu Nak?" Tanyanya Pak Rudi.
Zaidan yang terus mengecup punggung tangannya Meylani itu menatap ke arah papanya.
"Sebaiknya kita langsung bawa ke rumah sakit saja, karena aku ingin mengecek kesehatan Mey keseluruhan. Karena entah kenapa aku mulai takut Pa dengan kondisi istriku dan calon bayi kami ini," balasnya Zaidan.
"Baiklah nak kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Mang Udintolong siapkan mobil secepatnya!" Perintahnya Pak Rudy dengan suara yang sedikit tinggi dan keras.
Pesta kejutan yang sejatinya harus berjalan lancar, meriah dan penuh rasa kekeluargaan berakhir dengan ketakutan dan kehebohan melihat apa yang terjadi pada Meylani. Satu-satunya menantu perempuan di dalam keluarga besar Rudiyatmo.
Sebagian orang menetap di dalam rumah tersebut sambil menikmati hidangan yang disajikan. Sebagian besar ikut ke rumah sakit mengantar Meylani.
"Tasya kamu tinggal bersama dengan Nayla saja, kasihan Hatem kalau ikut kami ke rumah sakit," imbuhnya Bisma Attalarik yang mencegah istrinya ikut ke rs juga bersama yang lainnya.
"Iya Mbak Tasya kau disini saja bersama kami, anak kecil kurang baik kalau ikut ke rumah sakit yang banyak ancamannya terhadap daya tahan tubuhnya Hatem sendiri," ucapnya Nayla.
__ADS_1
Dara,Bu Ijah dan beberapa tamu undangan lainnya menunggu dengan tenang di rumah saja. Mereka berharap agar kondisi kesehatannya Meylani dan calon bayinya dalam keadaan yang baik-baik saja.
Bisma sesekali mengerang keras dan prustasi sekuat-kuatnya karena tidak menduga jika kekasihnya yang belum ada kata putus diantara mereka yang berjanji akan dinikahinya telah menikah dengan pria lain.
Yang paling disesalkannya adalah kenapa harus pamannya yang menikahi pacarnya sekaligus tunangannya sendiri.
"Sial!! Ini semua gara-gara kecelakaan maut itu sehingga aku harus bertanggung jawab kepada Tasya dan harus menikahinya. Jika tidak aku tidak akan menikah dengan perempuan lain!" Geramnya Bisma Attalarik.
Bisma berulangkali memukul dan melampiaskan amarah dan kekesalannya itu di atas setir kemudi mobilnya.
Bisma sekitar dua tahun yang lalu, ia tanpa sengaja menolong seorang pria korban tabrak lari. Tapi, entah kenapa sang pria malah meminta kepada Bisma sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk menggantikan posisinya sebagai calon suaminya Tasya.
Niat hati hanya menolong seorang pria yang terjepit di dalam mobilnya agar segera mendapatkan pertolongan. Tetapi kenyataannya malah pihak keluarga dari Tasya dan korban sendiri memohon dan meminta dengan sangat untuk menggantikan pria itu sebagai calon suaminya Tasya Ainun.
Bisma tidak berfikir panjang dan jernih waktu itu dan langsung saja menyetujui permintaan dari orang-orang untuk menikahi Tasya satu minggu kemudian agar kedua orang Tasya tidak menanggung beban rasa malu karena sudah dua kali gagal menikah.
Pertama calon suaminya kabur dengan perempuan lain dan kedua kalinya gagal kembali karena calon suaminya itu meninggal dunia dalam kecelakaan.
"Haa!!! Kenapa bisa berakhir seperti ini! Meylani aku sangat mencintaimu karena kamulah aku menerima pekerjaan di Malaysia, tapi hari ini kamu sudah menjadi istri dari pamanku. Aku harus bagaimana lagi ya Allah aku tidak mungkin bisa melihat perempuan yang begitu tulus kucintai harus hidup bersanding dengan pria lain," teriaknya Bisma d dalam mobilnya yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Zaidan tak henti-hentinya menetaskan air matanya melihat kondisinya Meylani yang pucat pasi itu. Mey sudah berada di dalam ruangan unit gawat darurat dan sudah ditangani oleh tim dokter dan beberapa perawat.
"Ya Allah bagaimana ini, aku tidak akan mengerti apa yang harus aku lakukan jika melihat kamu dalam kondisi seperti ini sayang," lirihnya Zaidan Khaizan.
__ADS_1
Bu Livia mengelus punggungnya Zaidan yang terduduk di atas salah satu kursi besi panjang khusus untuk keluarga pasien.
"Kamu harus sabar nak, yakinlah jika istrimu itu dalam keadaan yang baik-baik saja, jangan sekali-kali dzuudzon dengan apa yang terjadi pada Mey," bujuk Bu Livia.