
Jamal Abdillah tidak menyangka jika niatnya ke Jakarta hanya untuk mencari pekerjaan di perusahaan kakak iparnya berujung dengan pertemuannya dengan sang mantan kekasih.
"Mas aku mohon lepaskan aku," bujuknya Dara dengan memelas.
Jamal sama sekali tidak mengindahkan perkataan dan permintaan dari Dara perempuan yang sudah berada di bawah kunkungannya itu.
Jamal tersenyum smirk," saya tidak akan biarkan kamu lolos dari tanganku, dulu kamu dengan teganya meninggalkan hidupku tanpa pesan sedikitpun, hari ini saya akan buktikan bagaimana Jamal Abdillah akan mengajarkan kepadamu arti mencintai yang sesungguhnya," ujarnya Jamal sambil mengikat kedua tangannya Dara agar tidak berontak.
Dara masih menatap mengibah ke arahnya Jamal yang berharap agar Jamal melepaskan dirinya itu.
"Tapi mas Jamal gimana kalau bi Ijah tahu apa yang sedang kita lakukan sekarang, bisa-bisa aku dipecat mas," mohonnya Dara lagi.
Jamal sama tidak bisa mendengarkan dan tidak mungkin peduli dengan suara permintaannya Dara.
Jamal malah semakin menjadi setelah berhasil mengikat kedua tangannya Dara dan kakinya juga Jamal malah meninggalkan Dara dalam keadaan terlentang dengan kedua tangan dan kaki yang terikat.
Jamal berjalan ke arah dapur karena kehausan. Dia tidak lupa mengunci pintu kamarnya rapat-rapat agar apa yang mereka perbuat tidak ketahuan oleh siapapun.
Jamal terduduk di salah satu kursi meja makan,ia meneguk air mineral yang dingin dari dalam kulkas.
Gluk… gluukk…
Suara air yang masuk ke dalam mulutnya Jamal melalui tenggorokannya itu. Ia kemudian terduduk dengan senyuman penuh artinya.
"Alhamdulillah akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan Dara, tapi perasaanku mengatakan Dara mengalami banyak perubahan yang sangat jauh berbeda dari tiga tahun lalu," Jamal menerawang jauh ke beberapa tahun silam ketika mereka masih kumpul kebo hidup bersama tanpa ikatan apapun.
__ADS_1
Hubungan mereka terjalin awalnya suka sama suka hingga memutuskan untuk satu atap hingga beberapa bulan terakhir. Tapi, ketika Dara ketahuan oleh orang tuanya sehingga Dara memutuskan untuk mengakhiri hubungannya tanpa sepatah katapun.
Padahal saat itu Dara dalam keadaan hamil. Sejujurnya Dara ketika itu bukan karena ketahuan saja dengan orang tuanya tapi, termakan bukukan dari salah satu temannya untuk bekerja di ibu kota Jakarta.
Sehingga waktu itu Dara sama sekali tidak ingin Jamal mengetahui jika ia akan ke Jakarta untuk bekerja. Secara diam-diam Dara meninggalkan Jamal seorang diri di kosannya dan pergi ke Jakarta.
Dara termakan bujukan dari salah seorang temannya yang mengatakan Dara akan bekerja di salah satu perusahaan. Tapi, sesampainya di ibu kota malah hanya menjadi pembantu saja.
Singkat cerita dari situlah hubungan mereka putus dan tidak ada lagi komunikasi diantara mereka hingga sehari sebelum pertemuannya kembali.
Jamal menggenggamnya erat gelas yang masih berisi air mineral itu," saya tidak akan mengijinkan kamu pergi lagi dari sisiku Dara,kamu harus selamanya menjadi milikku, saya sudah cukup tersiksa dengan kepergian mu kala itu,"
Bi irjawanti diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jamal," hemmph, maaf mas Jamal apa kamu melihat Dara?" Tanyanya Bi Ijah yang baru masuk ke dalam dapur.
Jamal segera mengalihkan pandangannya ke arah kedatangan Bu Ijah," Dara sepertinya tadi aku lihat masuk ke dalam kamarnya Bi Ijah, mungkin Dara kecapean jadi beristirahat," elaknya Jamal.
Jamal hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari Bu Ijah kemudian segera meninggalkan ruangan dapur dengan menggenggam sebotol air mineral dalam genggaman tangannya.
"Adik sepupunya Nyonya Mey ganteng-ganteng yah, ada yang mirip oppa Korea Selatan ada yang mirip orang Arab, andaikan saya masih punya adik bisa saja saya jodohkan mereka," gumam Bi Ijah yang terkekeh mendengar perkataannya sendiri.
Jamal segera masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa mengunci kamarnya dengan benar. Ia tersenyum melihat Dara yang sudah pasrah dengan keadaannya. Sedangkan Jamal sudah bertekad dan berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah melepaskan Dara seperti dulu lagi.
"Bagaimana sayang apa kamu sudah mengerti dan memahami apa saja yang saya akan lakukan padamu?" Tanyanya Jamal yang sudah membuka semua benang yang membungkus tubuh atletisnya itu dan merangkak ke atas ranjangnya.
Dara berusaha untuk beringsut menghindar dari sentuhannya Jamal di wajahnya itu. Dara pun mulai ketakutan ketika melihat seringai licik muncul di sudut bibirnya Jamal.
__ADS_1
"Aku mohon lepaskan aku mas Jamal, aku mengakui salah jika dulu meninggalkan kamu seorang diri tanpa meminta izin padamu terlebih dahulu," ratap Dara yang terus memperlihatkan wajah memelasnya.
"Dara mas tidak akan melepaskan kau,saya tidak ingin terjadi kembali seperti dulu ketika kamu dengan teganya meninggalkan dan mencampakkan hidupku hanya untuk bekerja dan mendapatkan uang!" Balasnya Jamal.
Perlahan tapi pasti tangannya Jamal sudah bergerilya menjalar kemana-mana. Tubuhnya Dara pun sudah sama persis dengan kondisinya Jamal tanpa sehelai kain pun yang menutupi kemolekan dan keindahan bodynya.
Jamal hanya membalas perkataannya Dara dengan seringai liciknya," jangan harap Dara bahkan saya akan setiap hari meminta hal semacam ini padamu, jadi kamu cukup patuh dan menuruti apapun yang saya inginkan kamu akan hidup enak sambil bekerja disini agar kita tidak terpisah lagi,"
Dara pun nyalinya menciut karena percuma membujuk dan merayu pria yang menjadi cinta pertamanya dalam hidupnya.
Jamal memainkan liii daah nyaa di atas kulit yang begitu putih mulus. Dia sama sekali tidak mempedulikan lenguhan atau pun riiin tiiii han dari Dara sendiri yang sudah tidak mampu menahan kelincahan jari jemarinya Jamal yang begitu lihai memainkan semua aset terpentingnya dalam hidupnya itu.
"Apa kah aku harus mengubur dalam-dalam mimpiku untuk mendapatkan Tuan Kamil Pasha, karena kesempatan itu semakin sulit ketika mas Jamal datang ke rumah ini, aku tidak sanggup untuk menolak apa pun yang dilakukan oleh mas Jamal di atas tubuhku ini,"
Dara akhirnya terima nasibnya saja, pasrah dan dia tidak memungkiri jika pelayanan yang diberikan oleh Jamal terbaik dari semua tiga pria yang pernah mencicipi indahnya madu alami miliknya.
Dara malah meminta lebih dan lagi hingga kegiatan malam mereka berakhir di tengah malam buta. Dara tidak mampu berucap sepatah katapun lagi,ia begitu lemas, loyo, lunglai dan seolah tenaganya terkuras habis karena mengimbangi perkembangan permainannya Jamal.
"Dara mas mohon katakan sejujurnya, apakah saat itu kamu hamil anakku?" Tanyanya Jamal ketika berhasil menanamkan bee nihhh ke dalam rahimnya Dara tanpa memakai pengaman itu.
Dara sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan dari Jamal, malahan ia baru teringat jika belum ke puskesmas untuk melakukan suntikan KB tiap tiga bulan sekali.
Raut wajahnya langsung berubah pucat pasi ia mulai ketakutan jika ia harus kembali hamil. Tapi, tidak mungkin Dara akan mengatakan secara blak-blakan Du hadapan pria yang mencintainya dengan tulus itu.
"Gawat, seharusnya dua hari yang lalu aku ke puskesmas kalau seperti ini bisa-bisa aku hamil untuk kedua kalinya dari Jamal,"
__ADS_1
Sedangkan di kamar lain, Meylani dan Zaidan hanya asyik bekerja dibalik layar komputernya. Pasangan suami istri itu terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing sampai-sampai melupakan kewajiban mereka setiap malamnya.