
Meylani sangat bahagia memiliki keluarga yang begitu peduli terhadapnya. Ia pun semakin bahagia karena mendapatkan mertua yang baik.
Walau Meylani dan Zaidan menolak ajakan untuk tinggal bersama dari ibu mertuanya itu, sama sekali tidak menyurutkan dan mengurangi rasa sayangnya Bu Livia dan Pak Rudiyatmo terhadap Meylani.
Dalam perjalanan pulang, keduanya tidak berhenti berbincang-bincang, banyak hal yang mereka bicarakan tapi sedikitpun tidak ada yang mengenai masalah hubungan mereka yang belum ada kejelasannya.
"Sayang mungkin sempat ada yang ingin kamu datangi atau makan mungkin? Kalau ada katakan saja pada Abang tidak perlu sungkan ataupun segan," ucapnya Zaidan seraya mengelus puncak hijabnya Meylani.
Meylani yang diperlakukan seperti itu langsung hatinya tersentuh, damai dan tentram ketika mendapatkan perlakuan kecil seperti itu dari suaminya.
Meylani menatap intens ke arah suaminya itu," entahlah Abang apa perut saya ini masih muat untuk makan siang hari ini atau enggak, soalnya sate kambing dan gudeg yang dibelikan tadi sama mama itu sudah cukup banyak yang aku makan sampai-sampai aku kekenyangan sampai sulit bernafas," candanya Meylani seraya mengelus puncak perutnya itu.
"Hahaha kamu ada-ada saja,kalau begitu kita langsung pulang ke rumah,ingat kata dokter kamu itu harus banyak istirahat, bedrest di rumah dan paling penting jangan lupa obatnya harus dikonsumsi secara teratur sesuai anjuran dokter," Zaidan tersenyum di akhir ucapannya itu.
Keduanya bersenda gurau bersama selama dalam perjalanan, seolah mereka sebelumnya tidak pernah ada pertengkaran kecil apapun itu.
"Ya Allah semoga hubungan kami berdua semakin baik seperti ini, tidak ada lagi perdebatan yang berarti, tapi entah kenapa aku semakin takut karena tidak lama lagi perjanjian kami berdua yang tersisa enam bulan lagi akan segera berakhir apakah Mey akan meninggalkanku demi hidup bersama dengan kekasihnya yang bekerja di luar negeri apakah masih ingin bersamaku menjalani pernikahan kami ini,"
Zaidan masih sedih jika harus mengingat perjanjian yang mengikat pernikahan mereka. Ia akhir-akhir ini dilanda kecemasan dan ketakutan berlebihan apalagi mengingat mereka belum pernah merasakan indahnya pernikahan seperti pasangan suami istri lainnya di luar sana.
Berselang beberapa menit kemudian, mobil mereka sudah terparkir di dalam carport rumahnya. Zaidan segera turun dari mobilnya lalu membantu Meylani untuk membuka seat belt di tubuhnya istrinya itu.
__ADS_1
"Ya Allah Abang, tidak perlu juga seperti ini Abang, saya masih bisa kok melepasnya sendiri," Meylani terkekeh melihat sikapnya Zaidan yang terlalu memperlakukannya seperti anak kecil saja.
"Kamu itu baru keluar dari rumah sakit jadi wajar saja saya sebagai suamimu bertindak seperti ini padamu sayang," tukasnya Zaydan.
"Iya yah Abang kalau saya sakitnya parah,tapi kan saya bukan pasien dengan penyakit yang parah tubuhku sudah kuat dan bertenaga lagi setelah melihat senyuman menawannya Abang Zai," ucapnya Meylani yang terkesan bercanda tetapi sebenarnya itu serius ungkapan dari dalam hatinya Meylani Ramadhani Zulkarnain.
"Apapun yang terjadi padamu kamu tetap berhak mendapatkan perhatian lebih dari Abang, kenapa karena kamu adalah istriku wanita yang paling aku sayangi, paling aku cintai dan ku hormati setelah mama Livia tentunya," ungkapnya Zaidan yang tersenyum simpul sembari menoel hidung mancung nan bangirnya Meylani.
"Ya Allah Abang sudah siang masih saja ngegombal, coba agak pagi gitu gombalnya," balasnya Meylani yang ikut bercanda bersama suaminya padahal maksudnya adalah sengaja mengatakan seperti itu karena memang kenyataan dalam hatinya seperti itu keadaannya yang dialaminya.
"Apa kamu siap kalau setiap saat aku gombal?" Tanyanya Zaidan yang kembali memelankan laju mobilnya.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Tapi, kedua pasutri itu terkejut melihat begitu ramainya rumahnya didatangi oleh beberapa rekan kerjanya termasuk Nayla Latifah Hanum Salsabiela di antara mereka.
"Abang kenapa mereka bisa hadir di rumah kita, apa jangan-jangan mereka sudah mengetahui status kita sebenarnya," sangkanya Meylani menatap intens ke arah suaminya itu.
Berbagai macam parcel dan karangan bunga sudah berjejer di depan pintu menyambut kedatangan Meylani setelah dua hari dirawat di rumah sakit. Awalnya Meylani sangat bahagia, tapi setelah sudut netra hitamnya melihat seorang perempuan yang membuatnya harus sakit dan kehujan-hujanan ada diantara beberapa rekan kerjanya.
"Kenapa perempuan itu juga muncul di sini, apa dia ingin cari gara-gara lagi," gerutunya Meylani yang segera turun dari dalam mobilnya.
Meylani memperlihatkan wajah kesalnya awalnya, tapi karena banyak rekan kerjanya serta anggota keluarga suaminya ia segera mengurungkan niatnya itu.
__ADS_1
Meylani berusaha sekuat mungkin menyembunyikan perasaan jengkelnya itu di hadapan orang lain. Apalagi mengingat suaminya adalah general manager di perusahaan tempat ia juga bekerja.
Hingga teriakan dari Nayla tiba-tiba berhamburan memeluk tubuhnya Zaidan semakin membuat Meylani tercengang dibuatnya. Kayla hanya tersenyum simpul menanggapi sikapnya adik bungsunya itu dengan kakak sepupunya sendiri.
Nayla memeluk tubuh kakak sepupunya seolah mereka itu saudara kandung saja, mereka memang seperti itu sedari dulu sikap keduanya. Dulu sejak Zaidan masih kecil, kedua orang tuanya sering kali meminta kepada kedua orang tuanya Zaydan katanya sebagai alat pancingan untuk mendapatkan keturunan.
Hanya butuh waktu setahun saja di pernikahan kedua saudaranya pak Rudiyatmo yang kelima itu akhirnya Riska Aprilia kakak sulungnya pak Rudi akhirnya hamil juga anak pertamanya yaitu Kayla Paramita.
"Abang kangen nih," ucapnya Nayla yang sengaja melakukan hal tersebut untuk mengetes apakah Meylani cemburu atau tidak.
"Ish… ish Nayla apa kamu ingin melihat istri dari kakak sepupu kita ini cemburu yang menyebabkan dia sakit lagi gimana? Apa kamu mau tanggung resiko jika Mbak Mey sakit karena terlalu cemburu," kelakarnya Roy adik sepupunya Zaidan dari ibunya yang kebetulan mereka satu perusahaan tempat bekerja hanya beda divisi saja.
Meylani menajamkan pendengarannya mendengarkan perkataannya Roy," apa adik sepupu!" Beonya Meylani yang menautkan kedua alisnya itu.
"Hahaha iya Abang Zaidan adalah kakak sepupu saya dengan semua orang yang hadir disini," jawabnya Nayla sembari menunjuk ke arah satu persatu orang-orang yang memadati depan rumahnya yang berjumlah hampir sepuluh orang.
Meylani mengikuti arah jari telunjuknya Nayla, ia kembali dibuat kaget karena ternyata semua rekan kerjanya adalah adik dan kakak sepupunya dari suaminya sendiri.
"Jadi kalian sudah mengetahui jika kami ini sudah menikah dan pasangan suami istri?" tanyanya Meylani semakin keheranan saja.
"Sudahi acara berbincang-bincangnya dulu, lanjutnya berbicara di dalam saja kasihan istriku baru keluar dari rumah sakit belum sembuh total soalnya," tampiknya Zaidan yang segera menggandeng pinggang rampingnya Melani kearah dalam kediamannya itu.
__ADS_1