
Manusia mana yang tidak ingin hidup bahagia dunia akhirat. Tanpa terkecuali Meylani yang hingga kini memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh mamanya.
"Masya Allah pengantin perempuannya cantik banget deh, kakak Mey memang sejak dulu selalu saja cantik, semoga kelak jika aku menikah nanti juga seperti kak Mey kalau bisa lebih cantik," pujinya Meysa yang mengagumi kecantikannya Meylani.
"Insya Allah… kamu juga akan seperti kakakmu Nak, kalian berdua sama-sama cantiknya kebaikan kalian juga sama, hanya saja kamu masih muda untuk memikirkan pernikahan, cukup kakakmu untuk sementara waktu menikah kamu sekolah bagus fokus dengan pendidikanmu,okey," timpal Bu Annah kakak sepupunya Pak Zulkarnain.
"Subhanallah cantiknya keponakanku, Zaidan pasti akan klepek-klepek jatuh cinta padamu, memang cucunya kakek Zainul semuanya bibit unggul," puji Bu Sinta adiknya Bu Santi mamanya Meylani.
Semua orang yang masuk ke dalam kamar pengantinnya Mey, tidak ada seorang pun yang menemukan kekurangannya hampir sembilan delapan puluh persen sempurna dari segala sisi.
Bu Widya adik iparnya Bu Sinta menangkupkan kedua tangannya di dagunya Meylani, "Kami berharap pernikahanmu selalu dalam lindungan Allah SWT yang Maha Kuasa, kalian hidup hingga kakek nenek hanya maut yang memisahkan kalian," imbuhnya Bu Widya istri dari paman keduanya Meylani.
Bu Santi berjalan masuk ke dalam kamar putrinya itu, dia tersenyum mendengar begitu banyak pujian yang didapatkan oleh kedua putrinya. Terutama Meylani yang kecantikannya semakin terpancar setelah memakai riasan pengantin dan gaun pengantinnya yang sangat pas dan cocok dipakainya itu.
Bu Mira perempuan yang masih single di usianya yang sudah masuk kepala empat itu, "Entah kenapa setiap kali ada anak saudaraku yang menikah pasti aku bahagia sekaligus sedih, bahagia karena sudah menemukan calon pendamping hidupnya dan saya berharap bukan hanya di dunia jodohnya tapi hingga akhirat, dan sedihnya karena kalian mendahului Tante lagi," ucapnya berpura-pura sendu.
Bu Mira menyentuh lengannya Meylani sambil menitikkan air mata bahagianya.
"Tante Mira bukannya tidak menemukan jodohnya, hanya saja pilih-pilih dan terlalu selektif memilih calon suami jadinya sampai detik ini harus hidup seorang diri menemani kakek Zainul," guraunya Meylani yang ikut nimbrung pembicaraan mereka semua.
__ADS_1
"Andai kalian tahu sampai detik ini masih menunggunya, dengan janjinya yang akan menikahiku makanya Tante tidak akan menikah seumur hidupku, jika bukan dengan pria ity, saya sudah berjanji padanya dan janjiku adalah prinsipku," ujarnya Bu Mira sambil mengecup puncak hijab keponakan paling disayanginya itu sejak Meylani baru lahir.
Jamal dan Gunawan datang menghampiri mereka semua," saya juga terharu mendengar perkataan kalian, tapi aku berusaha tahan dulu karena pengantin laki-lakinya rombongannya sudah datang, apa kalian tidak berniat untuk menjemput kakak ipar yang gantengnya mengalahkan Jhi Chan Wook itu dengan stelan pakaian pengantinnya yang membungkus tubuh atletisnya itu dengan ketat," Jamal memuji ketampanan dari Zaidan.
"Suit… suit calon suaminya Mbak Mey sudah datang, Mbak Mey akan menjadi calon nyonya Zaidan yang terhormat sebentar lagi," sorak sorak gembira dari Gina adiknya Gunawan.
"Sudah…. bubar kalian bersiaplah diposisinya masing-masing seperti gladi resik nya kemarin, Ingat jamu keluarga calon suaminya Meylani dengan baik jangan biarkan ada kekurangan sedikitpun, ini adalah mempertaruhkan nama baiknya Tuan Zainul dan Mirwan, layani mereka sepenuh hati," ujarnya Pak Zacki adik bungsunya Pak Zainul yang baru saja bergabung dengan mereka.
Semua bubar berjalan ke arah pintu depan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Mey mulai deg degan menunggu prosesi acara akad nikahnya. Mey sesekali melihat foto seorang pria yang selalu ada di dalam layar hpnya itu.
Mey mengelus wajah orang itu dengan penuh kelembutan,ia berusaha untuk menahan air matanya itu jika harus kembali mengingat kebersamaannya bersama mantan kekasihnya Bisma Aksa Abimanyu.
"Assalamualaikum Alaikum besan, jauh-jauh kami dari Ibu kota Jakarta hanya untuk menikahkan anak kami dengan calon istrinya yang cantik jelita itu," ucapnya Pak Rudiyatmo calon papa mertuanya Meylani.
Pria yang nampak segar bugar diusianya yang sudah kepala enam itu yang mantan anggota TNI. Pak Zulkarnain memeluk tubuh sahabat masa mudanya itu dengan senyuman sumringahnya dengan menepuk-nepuk pundaknya Pak Rudi.
"Kami sebagai tuan rumah di Makassar sejak beberapa hari belakangan ini mempersiapkan penyambutan khusus kepada kalian semoga berkenan dengan persembahan kami," tuturnya Pak Zulkarnain.
"Kamu semakin ganteng saja Rud, bahkan kamu menyaingi kemtampanannya Zaidan calon mantuku itu," kelakarnya Pak Zulkarnain.
__ADS_1
"Hahaha kamu bisa saja, itu harus jangan mau kalah dengan yang muda bang, kita ini masih sanggup dan mampu bersaing dengan mereka yang muda-muda," timpalnya dengan berkelakar pula.
Bu Santi dan besannya para ibu-ibu juga saling berjabat tangan dan cipika cipiki. Keakraban terlihat begitu jelas diantara mereka.
"Akhirnya aku bisa menjadikan putrimu menantuku,apa kamu tau Mbak Santi saya tidak bisa tenang dan tidur nyenyak jika putrimu tidak sah menjadi anak menantuku, Alhamdulillah hari ini jadi kenyataan sudah," terangnya Bu Liviana ibundanya Zaidan.
"Iya Mbak, saya sangat senang dan gembira karena Meylani akhirnya menerima pernikahannya ini, tanpa banyak komentar dari perlawanan, awalnya sangat menentang, bahkan Mas Zulk sudah membuatku ketakutan dan sangat khawatir, ketika mas memberikan waktu untuk mengijinkan kekasihnya Mey yang menjadi TKI di luar negri," ungkapnya Bu Santi.
"Terus apa yang terjadi selanjutnya?" tanyanya Bu Livia dengan penasaran.
Mereka saling bergandengan tangan sambil memasuki pelataran tempat perhelatan pernikahan kedua anak mereka.
"Alhamdulillah sampai keesokan harinya, pria itu tidak muncul memperlihatkan batang hidungnya itu, aku mungkin sudah bersalah dan dosa jika aku berdoa agar laki-laki itu tidak muncul untuk selamanya," tutur Bu Santi.
"Itu wajar Mbak lakukan, karena itu adalah jalan untuk menggagalkan rencana pernikahannya mereka yang berdua, tapi saya yakin Mas Zul punya pertimbangan dan pemikiran khusus sehingga memberikan kesempatan kepada Mey untuk membuktikan keseriusan pria itu," jelasnya Bu Livia lagi.
"Tapi selepas itu semua saya bisa bernafas lega dan pikiranku baru saja bisa tenang setelah hari ini Mbak," imbuh Bu Santi lagi.
"Apa Mbak lupa jika sejak mereka masih dalam perutku mereka itu sudah saling berhubungan, sewaktu Mbak datang ke rumahku untuk mengikuti aqiqahannya Zaidan, aku sudah memegangi perutmu yang buncit itu jika anakmu adalah seorang putri yang cantik dan kelak akan menjadi istri dari putraku itu, alhamdulilah semuanya sudah tercapai, aman terkendali dan impian kita berdua sudah menjadi kenyataan yang ada," karena acara akad nikah tidak lama lagi akan kita selenggarakan, khusus untuk hubungan mereka berdua,"
__ADS_1