
Mey masih tercengang melihat kedatangan perempuan yang baru dikenalnya, dilihatnya tapi hubungannya dengan suaminya sering membuatnya terperangah sepanjang masa santapan paginya mereka bertiga.
"Ya elah hampir saja aku lupa, untungnya mas Zai mengingatkan kalau kita akan ke kebun Binatang barengan," timpalnya Nayla.
"Apa!! Jadi kamu juga mau ikut?" Tanyanya Mey yang kaget jika akhir pekannya akan dilewatinya bersama dengan perempuan lain bersama suaminya.
"Nay!" Ucapnya Zaydan.
Nayla Latifah Hanum yang sedang makan segera menghentikan suapannya, karena mendengar seruan dari Zaidan. Meylani spontan melirik ke arah Zaidan bergantian dengan Zaidan suaminya. Zaidan mengambil sebutir nasi yang ada di pipinya Nayla.
"Ada ini di pipimu," ucapnya Zaidan sambil menunjukkan sebutir nasi yang tadinya melengket di wajah bagian kanannya Nayla.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Zaydan semakin membuat Meylani kebakaran jenggot saja, ia sangat jengkel melihat apa yang diperbuat suaminya sangat membuatnya marah. Tetapi, Mey berusaha sekuat tenaga untuk menutupi kekesalannya itu.
Mey menyendok makanannya dengan kuat hingga terdengar nyaring bunyinya dentingan sendoknya. Zaidan diam-diam memperhatikan dengan seksama gerak gerik istrinya itu.
"Saya yakin kamu sudah terbakar api cemburu,hanya saja kamu terlalu gengsi untuk menunjukkan secara terang-terangan di depan kami, tapi saya akan terus membuat kamu mengatakan langsung padaku jika kamu itu cemburu,"
Meylani berdehem untuk menetralkan perasaannya agar tidak kelihatan bodoh di depan suaminya dan perempuan yang dianggapnya akan merebut suamiya atau selingkuhan suaminya itu.
Zaidan malah mengambil inisiatif untuk menyuapi makanan untuk Nayla. Meylani kembali melototkan matanya saking terkejutnya melihat sikap lembut dan penuh romantisme didepan matanya Meylani.
"Maaf Mbak Mey tadi ngomong apa? Sepertinya ada yang ingin disampaikan mungkin," tebaknya Nayla yang memang mendengar perkataannya Meylani tapi berpura-pura tuli saja.
__ADS_1
Mey mengarahkan pandangannya ke arah Nayla, Mey segera menyimpan sendoknya lalu menggoyang kedua telapak tangannya di depan wajahnya Nayla.
"Ah …aah kamu mungkin salah dengar, saya enggak ngomong apapun kok, kamu hanya salah dengar saja kok, masa saya berbicara padahal saya sedang makan," kilahnya Meylani yang tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya di depan kedua orang itu.
"Ooh mungkin suara angin kali saja yang aku dengar," elaknya Nayla yang berusaha untuk menahan tawanya karena kakak iparnya harus berbohong untuk menutupi kekesalannya.
"Kalian cepatlah habiskan makanannya, apa kalian nggak mau ke kebun binatang?" Tanyanya Zaidan yang segera menyudahi acara makannya pagi itu.
Meylani dan Nayla mendengarkan perkataannya Zaidan. Mereka bergegas menyelesaikan segera pekerjaan mereka masing-masing. Mey membereskan peralatan makan dan masaknya terlebih dahulu sebelum bersiap untuk pergi. Sedangkan Nayla berjalan ke arah sofa yang ada di ruang tengah menunggu kakak sepupu dan istrinya selesai bersiap.
Meilani menatap tajam ke arah punggung lebar suaminya yang menaiki satu persatu undakan anak tangga, "Saya kira Abang tipe cowok yang setia,tapi ternyata sama saja dengan pria lainnya yang melihat wajah glowing, body mulus pasti akan melupakan statusnya jika punya istri," gerutunya Meylani seraya mencuci piring menggunakan mesin pencuci piringnya.
__ADS_1
Nayla segera mengirimkan chat ke nomor ponsel kakaknya Kayla ketika percakapan mereka ketika di meja makan. Nayla memang sejak dia duduk sudah merekam video apa yang terjadi di dalam dapur tanpa ada yang terlewat sedikitpun adegan akting dan sandiwaranya yang terjadi.
Nayla tertawa terbahak-bahak ketika membaca balasan pesan whatsapp dari kakaknya di group keluarga mereka yang hanya beranggotakan lima orang saja termasuk Zaidan minus Meylani sehingga mereka bebas bercuap-cuap di grup tersebut.