
Zaidan sudah tersenyum bahagia karena mengira jika khayalannya itu adalah kenyataan, padahal hanya impian semu yang entah kapan bisa terjadi lagi.
Zaidan berdehem untuk menetralkan perasaannya itu," ayo kita berangkat takutnya terkena macet," ajaknya Zai yang berjalan lebih duluan.
Mey masih mengerutkan keningnya melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Apa yang terjadi padanya yah, apa karena aku terlalu cantik sehingga ia Abang begitu terpesona melihatku, tapi memuji dan mengangumi kecantikan istri sendiri sih menurut aku sah-sah dan wajar saja kan reader,"
Keduanya berjalan keluar dari rumah mereka berdua. Rumah yang sudah ditempatinya hampir setahun pernikahannya mereka berdua.
Hubungannya lebih baik dari sebelumnya, walaupun hubungan yang lebih belum terjalin antara mereka, tapi setidaknya Mey sudah berinsiatif untuk berubah menjadi istri yang memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri sesungguhnya.
"Kita pakai mobil yang putih itu saja," ucapnya Zaidan.
Mey segera berjalan ke arah mobil yang dimaksud oleh suaminya itu. Mey memeriksa berulang kali keadaan rumahnya sebelum meninggal rumahnya itu. Termasuk kunci jendela, kamar, lemari,stok kontak listriknya, kerang air serta kompor gasnya benar-benar diperiksa dengan teliti.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, Mey memasangkan seatbelt tersebut ketubuhnya. Setelah berhasil barulah Zaidan mulai mengendarai mobilnya menuju ke jalan protokol Ibu kota Jakarta malam itu.
Mey membuka kaca jendela mobilnya itu, entah kenapa ia lebih menyukai angin alami langsung dari pada menyalakan mesin pendingin mobilnya tersebut. Kebiasaan seperti itu sudah dihafal baik oleh Zaidan.
"Malam ini malam minggu yah bang?" Tanyanya Mey yang mulai membuka percakapan diantara mereka karena beberapa menit sudah berlalu hanya suara mesin mobil yang terdengar.
"Iya malam minggu, kenapa emangnya?" Tanyanya balik Zaidan tanpa mengalihkan perhatiannya dari setir kemudi mobilnya itu.
"Bagaimana kalau besok kita keluar jalan-jalan? Mumpung libur," Usulnya Meylani.
"Hem, itu ide yang bagus juga karena kita sudah nikah lebih delapan bulan tapi belum pernah keluar bareng hangout gitu yah," pungkas Zaidan.
"Itu sih Abang saja yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, makanya kita tidak pernah meluangkan waktu untuk bersantai menikmati indahnya dunia," ujarnya Mey tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela sambil melihat begitu banyak gedung pencakar langit yang dilaluinya itu termasuk tempat mereka bekerja.
__ADS_1
Zaidan melirik sekilas ke arah istrinya yang menikmati indahnya kota Jakarta malam hari.
"Haha iya yah sih semua gara-gara Abang yang ingin mencari uang banyak agar akhir tahun nanti bisa ajak istriku ke luar negeri soalnya makanya mulai dari sekarang harus bekerja lebih keras dan giat lagi," ujarnya Zaidan diiringi dengan tawa renyahnya.
Mey refleks menatap ke arah suaminya yang tertawa lepas dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih itu.
"Masya Allah gantengnya Abang Zai kalau tersenyum seperti ini, tidak galak dan dingin seperti yang setiap hari aku lihat di kantor, mengangumi suami sendiri kan baik yah, wajahmu ganteng paripurna tapi belum mampu menggeser posisinya mas Bisma dihatiku,"
Perjalanan mereka tempuh cukup membuat kedua pasangan suami istri lebih santai, nyaman dan enjoy. Keduanya terkadang silih berganti bercanda dan mengutarakan unek-unek dan masalah yang terkadang mereka hadapi beberapa hari terakhir ini.
"Jadi besok kita berangkat ke mana menurutnya Abang tempat yang paling bagus kita datangi?" Tanyanya lagi Mey.
Keduanya belum sepakat akan mengunjungi tempat wisata apa karena keduanya sama-sama memiliki rencana tempat yang akan mereka datangi keesokan harinya.
"Kalau menurut Abang gimana kalau kita ke Zoo saja, jujur saya sudah hampir enam tahun tidak pernah lagi ke sana, itupun kalau kau setuju," ujar Zaidan yang mulai memelankan laju kendaraan roda empatnya itu.
"Woo itu ide yang bagus banget Abang, aku juga terakhir datang sekitar tiga tahun lalu bersama.." ucapannya Mey terpotong karena tidak mungkin jujur di hadapan Zaidan jika pernah mendatangi kebun binatang bersama Bisma Akhsan Syarif Rudiyatmo.
"Aku yakin kamu kesana bersama dengan kekasihmu itu, jujur saja aku tidak suka kamu mengungkit kebersamaan kalian di depanku, tapi aku tidak boleh egois untuk melarang kamu membicarakan tentangnya karena aku harus pintar-pintar mengambil hatimu dengan cara kesabaranku menghadapi masa lalumu Meylani Ramadhani Zulkarnain,"
Aku perhatikan ada perubahan drastis dari wajahnya Abang Zaidan, aku yakin dia jengkel, marah dan cemburu ketika aku menyebut tanpa sengaja kenangan kami bersama dengan kekasihku Mas Bisma.
Tapi aku salut, Abang sangat sanggup dan mampu untuk mengontrol rasa cemburunya itu sehingga hanya nampak kelihatan samar-samar saja.
Kenapa hatimu begitu besar hingga bisa berdamai dengan kenangan aku bersama dengan pria lain. Tapi entah apa yang akan terjadi pada kehidupan rumah tanggaku setelah delapan bulan kedepannya.
Apakah benar-benar harus bercerai sesuai dengan perjanjian awal kami, atau kah malah terjebak dalam kehidupannya Abang Zaidan selamanya.
Sebelum 8 bulan datang, aku harus berjuang lebih keras lagi untuk meluluhkan hati dan perasaanmu padaku.
__ADS_1
Aku tidak ingin kalah dengan keadaan, apalagi aku belum pernah melihat pria yang menjadi rival dan sainganku selama ini.
Aku juga seorang pria, apa bedanya dengan kami lagian kemarin Mey sudah cukup cemburu dengan apa yang aku lakukan dengan dua wanita seksi tersebut.
Mungkin aku harus kembali mencoba cara seperti itu lagi agar Mey memperlihatkan rasa cemburunya padaku.
Jika itu terjadi berarti aku ada harapan walaupun hanya sedikit saja.
Suasana kembali nampak canggung dan keheningan terjadi mewarnai perjalanan mereka selanjutnya.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di gedung pelaksanaan acara pesta resepsi pernikahan adik sepupunya itu.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga," cicitnya Zaidan.
Dia segera keluar dari dalam mobilnya berjalan berputar mengelilingi mobilnya untuk membukakan pintu mobil khusus istrinya tercinta.
"Makasih banyak," ucap Mey sambil memperlihatkan senyuman termanisnya.
Mey segera mengulurkan tangannya ke arah Zaidan sambil berbicara," ingat Abang kita harus berakting bermesraan fi depan mereka sebaik dan sealami mungkin agar Papa dan Mama tidak curiga dengan pernikahan kita selama ini," bisiknya Mey.
Zaidan menyambut uluran tangannya Mey dengan penuh kasih sayang dan kelembutan," saya tidak mungkin berakting istriku, selama ini apa yang aku lakukan di depan dan di belakangmu semata-mata untuk memperlihatkan betapa tulus dan besarnya cintaku padamu dari sejak awal aku melihatmu hingga aku menutup mataku ini janjiku padamu."
Keduanya melenggang ke arah dalam melewati beberapa pagar betis dan pagar ayu yang berdiri menyambut kedatangan mereka. Senyuman terus tersungging di bibirnya keduanya.
Mereka bergandengan tangan hingga siapapun yang melihat kedekatan dan kebersamaan yang mereka pertontonkan dan perlihatkan ke khalayak umum adalah real nyata bukan sekedar berbasa-basi ataupun sandiwara belaka saja.
Kedatangannya disambut hangat oleh keluarga besar Pak Rudyatmo, terutama kedua mertuanya dan juga ketiga kakak iparnya Mey.
"Alhamdulillah akhirnya kalian sudah datang, padahal sejak tadi Mama menunggu kalian loh Nak," imbuhnya Bu Wina Adina Rudiatmo yang masih cantik dan awet muda di usianya sudah berusia 60an lebih itu.
__ADS_1
Khusus untuk pembaca teraktif dan terrajin insya Allah akhir cerita akan dapat give away kecil-kecilan dari saya.
Caranya hanya baca setiap babnya,like tentunya, komentar harus sesuai dengan isi babnya.