PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 34. Terpesona


__ADS_3

Meylani melakukan perawatan instan terhadap tubuhnya sendiri, dia tidak mungkin sempat dan punya waktu untuk ke salon lagi.


"Semoga saja penampilanku tidak malu-maluin lah, masa istri GM general manager tampak kusam,kumal dan dekil, setidaknya aku tampil lebih cantik dari biasanya,"


Meylani segala macam melakukan treatment perawatan pada tubuhnya sendiri mumpung masih memiliki waktu beberapa menit sebelum kedatangan suaminya itu.


Mey memulai menyiram sekujur tubuhnya dengan air hangat sebelum masuk berendam di bathtub nya itu yang sudah dipenuhi busa sabun aroma terapi yang sangat cocok untuk kondisi tubuhnya saat itu.


Mey terus teringat dengan perkataan nasehat ibunya, dia tidak ingin memiliki dosa yang semakin banyak. Tapi dia juga dilema jika menyerahkan segala kehidupannya dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri yang belum diberikan oleh Mey untuk Zaydan.


Ya Allah… apa aku harus menyerahkan segenap hidupku dan kehormatanku ini untuk Abang Zai, tapi gimana dengan janjiku bersama Mas Bisma berarti aku sudah mengkhianati dan mengingkari janji kami berdua, tapi disisi lain aku juga tidak ingin menambah dosaku lebih banyak lagi, aku harus gimana!?


Mey kebingungan, prustasi, cemas, bimbang dalam waktu bersamaan yang mendera hati dan benaknya. Sampai-sampai Mey berteriak kencang saking bingung dan sedihnya menghadapi rumah tangganya yang baru berumur jagung itu.


"Aahhh!!" Teriaknya Mey di dalam kamar mandi sembari memukul air.


Mey menghabiskan beberapa menit waktunya berendam di dalam bathtub, sampai-sampai ia tidak menyadari jika suaminya sudah kembali dari kantor.


Zaidan menyimpan sebuah paper bag ke atas ranjangnya itu yang berisi sebuah gaun pesta yang sangat spesial dan khusus dipesankan untuk istrinya tercinta lengkap dengan hijabnya yang senada dengan warna gaun itu.


Zaidan mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, sehingga dia beralih ke kamar mandi lainnya karena waktu juga sudah hampir jam enam malam. Mereka pastinya akan melaksanakan shalat magrib terlebih dahulu sebelum bersiap ke pesta.


Mey segera tersadar dari lamunannya, dia secepatnya menyelesaikan mandinya setelah melihat jarum jam yang terpasang di dinding kamar mandi. Mey sendiri yang meminta Zaidan untuk memasang jam tersebut, tujuannya untuk mengingatkan ketika sedang mandi jangan sampai keteteran dan keasyikan mandi sampai lupa waktu.


Mey memakai pakaian jubah mandinya dan berharap agar dia sudah siap, suaminya belum pulang. Tapi, harapannya Mey pupus dan kandas ketika ia membuka pintu dan melihat tas kerjanya Zaidan sudah berada di atas meja nakas ranjangnya.

__ADS_1


"Ternyata Abang sudah pulang, tapi ngomong-ngomong orangnya dimana kok cuma tasnya saja yang ada," Mey celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya ke sekeliling ruangan sudut kamarnya itu.


Mey segera ngacir dari dalam kamar mandi setelah mengetahui jika suaminya tidak ada dan kamar ternyata kosong melompong.


"Alhamdulillah Abang Zaidan mungkin berada di luar, jadi aku bisa punya banyak waktu untuk berdandan dan berganti pakaian," gumamnya Mey.


Mey terkejut melihat ada paper bag yang bertuliskan salah satu butik terkenal di Jakarta yang masuk jajaran butik yang menghasilkan pakaian yang cukup trending dengan pasaran dengan harga selangit kualitas nomor wahid.


"Ya Allah ini kan butik X desainer terkenal yang dipakai artis-artis top Indonesia kan," tebaknya Mey yang segera membuka paper bag tersebut.


Mey mengangkat gaun pesta itu yang berwarna gold shoft yang membuat matanya membelalakkan saking kagumnya dengan model gaun itu.


"Wow ini kan gaun limited edition kalau enggak salah yang aku lihat tadi pagi di internet,ya Allah Abang Zai suamiku tersayang benar-benar tau banget jika aku menyukai gaun ini dan hendak membelinya kalau gajian, tapi karena sudah ada yah tidak jadi uangnya aku tabung lebih baik rupanya," cicitnya Mey sembari memutar-mutar pakaian yang dibeli untuknya hadiah dari Zaidan.


"Apa Abang dengar semua doa-doaku selama ini yah," cicitnya Mey yang segera memakai gaun tersebut secepatnya sebelum terlambat agar tidak kelihatan oleh Zaidan karena Mey memakai pakaiannya bukan di dalam kamar ganti khusus paksain.


Zai sengaja berlama-lama dalam kamar sebelah karena mengetahui, jika Mey pasti belum selesai berpakaian. Sehingga ia memakai pakaiannya dengan di sebelah.


Mey memoles dirinya secantik mungkin, dia tidak ingin membuat malu suaminya dan juga dirinya sendiri. Mey berulang kali memperhatikan dengan seksama penampilannya.


"Perfeck," cicit Mey.


Mey hendak memutar kenop pintu kamarnya itu, tapi Zaidan lebih duluan membukanya. Zaidan sampai-sampai tidak berkedip melihat penampilan wajah istrinya yang begitu cantik dan ayu jelita dipandangnya.


Tanpa berkedip sedikitpun, Zai memperhatikan dengan seksama penampilan dari istrinya itu. Ia tidak percaya jika Mey sanggup merias dirinya sendiri secantik dan serasi dengan pakaian yang dipakainya.

__ADS_1


Bahkan Mey terlihat nampak lebih muda dari usianya saat itu yang baru 25 tahun. Zaidan melangkahkan kakinya menuju Mey yang berdiri mematung. Zai secepat kilat memegangi pinggang ramping istrinya.


Jakungnya Zai naik turun saking tergodanya melihat bibir merah merona bak buah delima itu. Zai kesusahan menelan air liurnya sendiri saking tidak bisanya mengontrol dirinya sendiri.


Zaidan segera memegangi tengkuk leher jenjangnya Mey yang tertutup hijab, Zaidan tanpa ragu langsung mee luuu maaat bibir seksi nan mungilnya Mey tanpa aba-aba terlebih dahulu.


Mey melototkan matanya dengan serangan yang diperbuat oleh suaminya. Dia tidak mampu menahan atau mencegah apa yang dilakukan oleh Zai di atas puncak bibirnya itu.


Keduanya sama-sama menikmati dan menghayati apa yang mereka sedang kerjakan di malam itu.


Nafas keduanya memburu hingga terdengar deru nafas mereka yang saling memburu dan ngos-ngosan. Mey mengalungkan kedua tangannya di punggung lebarnya Zaidan.


Kedua pasangan suami istri itu melakukan apa yang seharusnya sudah terjadi sekitar tujuh bulan lalu. Walau hanya masih sekedar ciuman saja.


andaikan tidak saling bertautan pasti sdi sudut bibirnya Zaidan Khaizan Rudiyatmo akan nampak terlihat jelas dari arah manapun.


Hingga tepukan di pundaknya Zaydan membuatnya segera dan tepaksa mengakhiri kegiatannya yang sudah membuatnya nyaman.


plak!!


Tepukan tangan yang hanya sekali saja mampu menyadarkan Zaidan yang sudah berfantasi liar dan berharap terjadi sesuatu.


Mey mengerutkan keningnya melihat tingkah lakunya Zaidan, dia keheranan melihat sikap Zaidan yang tiba-tiba mematung dengan tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang kerasukan.


"Abang apa sudah melaksanakan shalat magrib? Karena sepertinya Abang kerasukan sesuatu yang halus deh,"cibirnya Mey.

__ADS_1


__ADS_2