
Zaidan berbelok kanan berpapasan dengan Bisma di lorong koridor rumah sakit. Tapi, karena Bisma memakai jaket tebal dan topi untuk melindungi wajah dan penyamarannya ia harus memakai pakaian seperti itu.
"Paman kita lihat saja kedepannya, siapa yang akan dipilih oleh Meylani, jika hari itu telah tiba aku akan meninggalkan Tasya Ainun demi hidup bersamamu Mey, aku tidak peduli dengan kehidupan aku Sebelumnya asalkan bisa bersama lagi dengan Mey seperti dulu aku akan berkorban apapun,"
Bisma mempercepat langkahnya sambil sesekali memegangi topinya agar tidak ketahuan jika dia diam-diam menyusup masuk ke dalam kamar perawatan istri dari pamannya sendiri.
Zaidan membuka kenop pintu dan sedikit terheran-heran karena tadi ia sempat mengunci dari luar pintu tersebut. Tetapi, setelah datang kenapa pintunya sudah tidak terkunci.
"Siapa yang masuk, apa suster atau dokter yang jaga malam ini yang memeriksa kondisinya Mey, ataukah Mey yang sudah siuman dan berjalan keluar mencari angin segar,"
Berbagai dugaan berseliweran di dalam kepalanya Zaidan.
"Ya Allah semoga saja Mey tidak kenapa-kenapa setelah aku tinggal pergi beberapa menit yang lalu," gumamnya Zaydan.
Zaidan bisa bernafas lega ketika melihat Meylani tertidur pulas di atas ranjangnya masih dalam kondisi yang seperti sebelum ia pergi.
"Alhamdulillah kamu baik-baik saja sayang? Padahal aku sudah kebanyakan berfikir yang aneh-aneh,"
Zaidan menaruh beberapa belanjaannya ke atas meja nakas sedangkan yang obat dan vitamin ditaruhnya disisi tempat tidurnya Meylani.
__ADS_1
"Astaughfirullahaladzim mungkin apa yang sudah aku perbuat adalah salah besar, tapi aku tidak bisa menahan dan mengontrol diriku sendiri ketika melihat pria yang hampir delapan tahun aku cintai, tidak mungkin semudah itu aku melupakannya, aku begitu rapuh hingga tak sanggup tidak memeluk tubuh pria yang seharusnya tidak aku sentuh," air matanya menetes membasahi pipinya.
Meylani segera menyeka air matanya itu agar tidak ketahuan oleh suaminya sendiri.
"Hahaha, aku yakin aku lah yang akan keluar menjadi pemenang dari pertempuran cinta segitiga kami, bukannya aku sombong atau percaya diri yang berlebihan, tapi buktinya tadi Melani menumpahkan segala keluh kesah dan kerinduannya bahkan katanya tidak mampu hidup tanpaku,"
Bisma tertawa terbahak-bahak dengan suasana yang terjadi bersama Meylani perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Tasya Ainun mungkin hubungan kita harus segera diakhiri, aku tidak ingin berlama-lama hidup dengan perempuan yang sama sekali tidak menarik dan aku cintai sedikitpun, terserah dia mau bawa pergi anaknya aku sama sekali tidak peduli, persetan dengan Hatem yang lahir bukan karena keinginanku tapi karena pengaruh minuman beralkohol waktu itu."
Zaidan mengecup kepalan tangannya Meylani itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, "Sayang apa kamu sudah bangun? Apa kamu enggak capek harus tidur mulu, Abang takut banget terjadi sesuatu padamu dan juga calon anak kita, orang-orang di rumah juga sangat merindukan kamu dan khawatir dengan keadaannya kamu sayang," Lirihnya Zaidan.
"Astauhfirullah aladzim maafkan aku yah Allah atas segala salah,dosa dan khilafku,"
Mey kemudian membuka kelopak matanya dan berpura-pura baru saja hendak terbangun dari tidurnya itu.
"Abang Zai," cicitnya Meylani yang berusaha tersenyum walau hatinya sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Alhamdulillah istriku, sayangku kau sudah siuman, Abang sangat mengkhawatirkan kamu loh," terangnya Zaidan yang langsung memeluk tubuh istrinya itu dan tak henti-hentinya mengecup tubuhnya Meylani.
__ADS_1
Meylani tidak mencegah atau melarang apa yang dilakukan oleh Zaidan di atas tubuhnya. Karena itu memang haknya sebagai seorang suami sahnya.
Meylani langsung memeluk tubuhnya Zaidan," maafin saya yah bang, saya sudah salah padamu," ucapnya sendu Meylani yang menyesal atas kelakuannya tadi.
"Ya Allah betapa bodohnya aku saking bahagianya aku melihat mas Bisma sehingga aku melupakan statusku dan suamiku, ya Allah ampunilah aku yang sudah bersalah pada suamiku," Meylani menitikkan matanya saking sedihnya dan penyesalan yang sangat dirasakannya.
Meylani terisak sehingga Zaidan pun mengetahui apa yang terjadi pada istrinya itu.
"Sayang kenapa kamu menangis, apa yang terjadi padamu? Apa Abang terlalu memelukmu dengan erat sehingga kamu dan anak kita kesakitan," tebaknya Zaidan yang mulai khawatir dengan keadaannya Meylani.
Zaidan melepaskan pelukannya dari tubuhnya Mey dan menatap dalam-dalam istrinya itu. Zaidan segera menangkupkan kedua tangannya di dagu lancipnya Meylani yang tertutupi sedikit hijabnya.
"Abang aku pengen pulang ke rumah saja, saya tidak suka bau rumah sakit," elaknya Meylani yang hanya mencari alasan saja untuk menutupi kenyataan yang ada.
Meylani tidak mungkin mengatakan bahwa kekasihnya dimasa lalunya sudah muncul kembali di dalam kehidupannya.
"Sabar sayang, besok pagi kamu bisa pulang karena dokter juga sudah mengijinkan kamu untuk balik ke rumah. apalagi besok adalah hari akad nikahnya Dara Inayah dan Jamal adikmu. Tetapi kau harus makan sedikit dulu terus minum obat dan vitamin dulu yah agar bunda dan debay sehat selalu," tuturnya Zaidan yang membujuk istrinya itu.
Mey hanya tersenyum lebar mendengarkan perkataannya Zaydan," ya Allah begitu mulia hatimu dan sekalipun tidak pernah mengeluh menjagaku dan memenuhi semua keinginanku ini, aku sungguh bodoh melakukan hal yang tidak patut aku lakukan,"
__ADS_1