PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 16. Rencana Meylani


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kedua pasangan pengantin baru itu masuk ke dalam kamar pengantinnya untuk beristirahat. Walaupun di luar sana masih sangat ramai berdatangan banyaknya tamu undangan.


Hanya saja kondisinya Meylani yang sudah capek, lelah dan tidak sanggup untuk berdiri lebih lama lagi untuk menyambut banyaknya tamu undangan yang berdatangan.


"Mey Abang permisi untuk keluar yah,kamu ditemani sama anak-anak saja, nggak apa-apa kan aku keluar? Kasihan masih banyak tamu soalnya," ucapnya Zaidan yang meminta ijin kepada istrinya itu.


Mey sama sekali tidak menolehkan kepalanya ke arah suaminya itu ketika berbicara cukup lantang, "Kalau mau pergi jauh juga tidak masalah, tidak usah berpamitan kepadaku," ketusnya Mey yang sudah duduk di atas ranjangnya.


Zaidan hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulut istrinya yang cukup ketus. Baginya itu hal yang wajar terjadi, mengingat pernikahan keduanya tanpa ada rasa saling mencintai.


Untuk sementara waktu cintanya Zaidan akan bertepuk sebelah tangan. Tapi, bukan Zaidan namanya jika harus menyerah padahal baru mulai start uji nyalinya menghadapi sikapnya Meylani.


"Ya Allah sabarkanlah hatiku menghadapi sikap dan ujian dalam rumah tanggaku ini," Zai hanya melirik sepintas ke arah istrinya itu sambil meninggalkan kamarnya.


Zaidan menemani anggota keluarganya itu untuk menerima begitu banyaknya tamu undangan seperti air yang mengalir saja, tidak ada putusnya.


Waktu terus berlalu, sudah pukul lima sore Zaidan akhirnya kalah juga dengan kondisi fisiknya dalam menyambut kedatangan tamu-tamu dari pihak ayah dan Mama mertuanya. Mama dan papanya juga sudah balik ke rumahnya yang baru sekitar lima bulan lalu di belinya di daerah Makassar jika sedang berkunjung ke daerah Sulawesi Selatan.


"Zaidan kamu sana istirahat ada Mama yang menyambut mereka," usulnya Bu Santi yang kasihan melihat anak mantunya itu.


"Saya pamit dulu kalau begitu ma," ucapnya Zaidan.


Siapapun yang melihat pengantin pria nya pasti akan memuji ketampanan dan keramahannya. Dia tanpa ditemani oleh Meylani menyambut baik semua tamu undangan bersama dengan saudara-saudarinya Meylani yang bertugas sebagai pagar ayu dan pagar betis.

__ADS_1


Malam harinya, sekitar pukul sepuluh malam barulah Zaidan berpamitan kepada sepupunya Mey. Mereka berbincang-bincang santai di ruang tengah. Zaidan tidak enak hati berpamitan lebih cepat, hanya saja tubuhnya cukup sangat lelah.


"Saya pamit dulu, mau bersih-bersih dulu tubuhku sudah berkeringat," ucap Zaidan.


"Silahkan Abang Zai, pasti kak Mey sudah tidak sabar menunggu kedatangan Abang, ingat perkuat mental dan fisik untuk menyambut malam pertamanya Abang," candanya Gunawan.


"Kamu seperti sudah pernah nikah sok berikan masukan untuk Zaidan," sanggahnya Jamal Abdillah yang selalu seperti kucing dan tikus jika mereka berkumpul.


"Makanya jika kalian juga pengen seperti Zaidan makanya buruan nikah agar kalian punya pengalaman sendiri," Ujarnya Bu Sinta yang mengantarkan beberapa gelas dan satu teko teh dan kopi.


"Kasihan juga sudah seharian menemani Tante Santi untuk menyambut tamu undangan, biarkan Abang Zai istirahat," tukasnya Sherlina.


"Iya pasti dia sudah kelelahan, kita saja yang sudah terbiasa capek mengeluh juga apalagi dia yang kesehariannya hanya duduk di depan komputer," tambahnya Gina.


"Kamu sangat cantik jika tertidur seperti ini, tapi kamu akan terlihat lucu jika ngomel-ngomel," gumamnya Zaidan yang mengagumi keindahan dan kecantikannya Meylani.


Zaidan mengecup puncak keningnya Mey dengan penuh kasih sayang dan kelembutan," insya Allah aku yakin suatu saat nanti kamu akan mencintaiku bahkan melebihi cintamu pada kekasihmu yang ada di luar negri itu."


Zaidan berjalan ke arah kamar mandi ia ingin segera membersihkan seluruh tubuhnya yang sudah gerah, lengket dan tidak nyaman. Zaidan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, karena di rumah mertuanya itu belum ada mesin pemanas air otomatis.


"Andaikan aku bisa Mey aku ingin sekali bertemu dengan kekasihmu itu dan memintanya untuk segera menjauh dari kehidupan kita berdua, aku ini seorang lelaki yang tidak ingin berbagi cinta dengan pria manapun di dunia ini, aku mungkin egois untuk melakukan itu, tetapi aku sudah memutuskan untuk berusaha menghapus bayang-bayang dan kenangan kalian berdua untuk selamanya," Zaidan mengguyur tubuhnya itu dengan air.


Keesokan harinya, Mey duduk di depan meja makan bersama dengan suaminya itu. Mey sama sekali tidak melayani suaminya semenjak mama dan keluarganya yang lain sudah pergi dari dalam dapur. ia hanya asyik berchatigan dengan teman kerjanya yang ada di Jakarta.

__ADS_1


Lisa dan Mia, Mey mengabarkan kepada keduanya jika dia baik-baik saja dan akan balik ke Jakarta sekitar satu minggu lagi. saking asyiknya berkomunikasi lewat ponsel dengan kedua sahabat terbaiknya itu, sampai-sampai melupakan keberadaan dari Zaidan yang sedang menyantap sarapan paginya dengan tatapannya yang terus terarah ke arah Mey istrinya itu.


Mey belum siap mengatakan perihal tentang pernikahannya kepada kedua sahabat terbaiknya itu. ia hanya mengatakan jika ada acara keluarga yang harus dihadirinya selama beberapa hari waktu pulang kampung.


Zaidan tidak ingin protes ataupun berkomentar, karena apa yang akan dilakukannya nantinya akan mendapatkan balasan yang tidak mengenakkan dari Mey. Lagian untuk meluluhkan hati dan perasaannya Mey dengan cara menuruti semua perintahnya, perkataannya tanpa protes dan juga tidak boleh melarangnya, selama apa yang dilakukan oleh Mey masih baik dan wajar saja.


Saya berjanji pada diriku sendiri jika saya akan menaklukkan hatimu dan menghapus nama dan jejak pria itu dari dalam hatimu, insya Allah aku akan bersabar menunggumu.


Mungkin kamu boleh memiliki tubuhku dan ragaku ini,tapi hati dan jiwaku hanya untuk Mas Bisma seorang bukan untuk pria manapun.


"Mey satu minggu kedepannya kita balik ke Jakarta, kamu enggak keberatan kan jika kita pulang lebih awal?" Tanyanya Zaidan yang menyimpan cangkir kopinya yang masih mengepul asapnya itu.


Zaidan menatap ke arah istrinya itu yang menatapnya juga setelah mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya.


"Andaikan bisa baliknya hari ini, saya lebih suka lagi! Lagian kenapa meski nunggu lama-lama," ketusnya Mey.


"Saya juga pengennya sih balik secepatnya karena kerjaan aku yang semakin banyak numpuk maklum sudah hampir seminggu aku cuti,tapi Mama dan Papa serta ayah dan ibumu menginginkan kita di Makasar saja dulu sampai senin depan baru balik," ujarnya Zaidan yang tatapan matanya lekat terus memandangi wajah istrinya yang sama sekali belum disentuhnya itu.


Mey bangkit dari duduknya itu dan berjalan melewati Zaidan tapi sedikit membungkukkan badannya di dekat telinganya Zaidan," kalau gitu kenapa tidak cari alasan yang masuk akal saja agar kita secepatnya balik ke Jakarta, jadi tidak perlu berlama-lama bersandiwara dan berakting jika kita ini pasangan suami istri yang penuh kebahagiaan," sarkasnya Meylani yang tersenyum sinis kearahnya Zaidan.


Zaidan malah tersenyum simpul mendengar perkataan dari mulutnya Mey," kalau gitu mari kita menemui kedua orang tuamu ibu dan ayah dan menyampaikan niat kita untuk segera balik ke Jakarta, gimana menurut kamu?" Tanyanya Zaidan.


"Oke, kalau kamu sudah putuskan untuk mengikuti kemauanku,ayo kita menemui ayah dan ibu, tapi kamu harus bantuin saya untuk berbicara di depan mereka agar tidak dicurigai, karena kalau aku yang bicara pasti akan ditolak," ujarnya Meylani.

__ADS_1


__ADS_2