
Zaidan tersenyum puas dan bahagia karena rencananya berhasil. Dia awalnya hanya ingin melihat sejauh mana perasaannya Meylani padanya. Tapi,apa yang terjadi Mey cukup masuk dalam jebakan sehingga Zaidan sangat bahagia.
Berselang beberapa menit kemudian, beberapa masakan sudah berhasil dimasak oleh Meylani. Harum wangi aromanya bumbu tersebut hingga tercium ke arah tangga dimana Zidan menuruni undakan anak tangga.
"Tumbenan istri manjaku masak, apa kepalanya kepentok dinding tembok atau kejedot pintu, sampai-sampai hari ini berubah, atau apa jangan-jangan gara-gara aku telponan dengan Nayla,"
Keduanya sudah duduk saling berhadapan di depan meja makan. Mey memasak beberapa jenis masakan khusus untuk Zaidan. Mey tidak ingin kalah dengan perempuan yang bernama Nayla yang semalam menemani Zaidan bertelepon bersama Zidan suaminya itu.
"Sepertinya menu pagi kita kali ini cukup sangat istimewa, apa yang terjadi padamu apa kamu melakukan semua ini karena ada niat apa itu padaku," candanya Zaidan.
Mey membelalakkan matanya mendengar perkataan dari suaminya itu," apa harus memiliki niat dan alasan khusus untuk masak dulu baru buat makanan sebanyak ini," ketusnya Mey sambil membalik piring khusus untuk suaminya itu.
"Bukan begitu tapi, biasanya Abang yang masak tapi kali ini kau menggantikan Abang masak itu sungguh luar biasa, semoga bukan hari ini saja kamu masak makanan untuk Abang, tapi Abang harapnya ini awal dari segalanya," Zaidan penuh harapan.
Mey tersenyum," insha Allah Abang, saya akan melakukan hal baik semacam ini kedepannya, saya ingin mendapatkan ridho dan pahala yang banyak jika saya penuhi kewajibanku sebagai seorang istri," pungkasnya Meylani.
Zaidan mendudukkan tubuhnya ke atas kursi," tapi gimana dengan tanggung jawab lainnya, apa kamu sudah siap?" Tanyanya Zaidan yang berharap agar Mey mengatakan ya atas pertanyaannya.
Mey kebingungan harus menjawab apa pertanyaan yang bernada permintaan itu, "Kalau masalah itu…," ucapannya Meylani terpotong.
Mey baru saja ingin menjawab pertanyaan dari suaminya itu, tapi tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi nyaring sehingga Meylani mengurungkan niatnya untuk berbicara.
Mey buru-buru meninggalkan meja makan karena tidak ingin terjebak dalam pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya itu.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Abang untuk masalah itu, karena hatiku masih utuh untuk mas Bisma seorang.
Mungkin aku sudah salah dan berdosa tapi, Aku tidak mungkin melakukan hal itu semua tanpa cinta.
Karena aku ingin melakukannya sepenuh hatiku dan setulusnya agar aku tidak terbebani kedepannya.
Langkah kakinya semakin cepat ke arah pintu karena orang yang menekan bel seperti tidak sabaran yang kebelet ingin buang air besar saja.
__ADS_1
"Ya Allah… sabar kenapa enggak bisa nungguin yang punya rumah," gerutunya Meylani yang buru-buru memutar kunci rumahnya di tempat handle pintu.
Pintu rumah berdaun dua itu bercat cokelat muda segera terbuka lebar. Mey tercengang melihat pagi-pagi sekali di rumahnya kedatangan tamu sepagi itu. Seorang gadis cantik dan masih muda dengan berpakaian dan berpenampilan modis. Celana sampai sebatas sedikit di atas lutut hingga kakinya yang jenjang putih mulus terekspos dengan bebas.
"Assalamualaikum Mbak, apa Mas Zaidan ada?" Tanyanya perempuan muda itu.
"Abang Zaidan ada kok mbak, tapi ngomong-ngomong Mbak ini siapa yah?" Tanyanya balik Meylani sambil menautkan kedua alisnya karena tidak mengenal siapa perempuan cantik tersebut.
"Hey Nayla!" Teriaknya Zaidan yang tersenyum ke arah Nayla seraya menaikkan jempolnya ke arah Nayla.
Nayla Latifah Hanum Salsabiela melihat apa yang dilakukan oleh kakak sepupunya itu segera tersenyum dan mengerti dengan kode tersebut.
Nayla segera berjalan cepat ke arah Zaidan sambil tersenyum penuh kegembiraan yang langsung berhamburan memeluk tubuhnya Zaydan.
"Abang eh mas Zai aku kangen banget sama Abang," ucapnya Nayla sembari memeluk tubuhnya Zaidan.
Zaidan yang mendapatkan pelukan dari adik sepupunya itu segera membalas pelukannya Nayla agar akting dan sandiwara mereka lebih kelihatan alami dan natural Zaidan pun memeluk adiknya itu padahal risih berpelukan dengan wanita lain selain Mama kandungnya sendiri dan istrinya.
"Siapakah perempuan ini, kenapa mereka sangat dekat dan mesra? Apa jangan-jangan dia orang yang semalam di telpon oleh Abang yah yang begitu mesranya hingga aku kesulitan tidur mendengar pembicaraan mereka berdua,"
Mey segera menutup pintu rumahnya dan berjalan ke arah dapur karena belum menyantap makanannya sedikitpun. Tapi, sesekali diam-diam ia melirik dan menguping apa yang keduanya lakukan.
"Nayla kita sarapan pagi dulu yah, kebetulan Mey sudah buat sarapan yang enak-enak aku yakin kamu akan menyukai masakan Meylani," imbuhnya Zaidan sambil merangkul pinggangnya Nayla.
Mereka berjalan bergandengan tangan ke arah dapur, sedangkan Meylani Ramadhani Zulkarnain berjalan di belakangnya kedua pasangan palsu itu dengan memonyongkan bibirnya.
"Kalau seperti ini mereka punya hubungan istimewa, apa mereka sudah lama berpacaran, tapi kan kami suami istri apa bang Zaidan selingkuh dengan perempuan itu, jadi selama ini apa yang dikatakannya abang semuanya hanya membual saja dan kebohongan besar yang sungguh nyata,"
Meylani berjalan dengan kekesalan yang berusaha di tekan dan disembunyikan agar tidak ketahuan jika dia merasakan amarah dan cemburu buta.
"Aku yakin Mey sudah cemburu dengan apa yang aku lakukan, kalau seperti ini asyik untuk melanjutkan aktingnya."
__ADS_1
Mey semakin mempercepat langkah kakinya menuju dapur karena tidak ingin melihat kemesraan yang dipertontonkan oleh Nayla dan Zaydan.
Mereka bertiga pun duduk di depan meja makan, di hadapan makanan yang sungguh lezat dan nikmat untuk mereka santap di pagi harinya.
"Nayla kenalkan ini adalah…," Zaidan hendak mengenalkan Meylani tapi segera dicegah oleh Meylani sendiri.
Nayla dan Zaydan mengarahkan pandangannya ke arah Mey secara bersamaan.
"Saya istrinya Abang Zaidan Khaizan Rudiyatmo," ucapnya Meylani dengan penuh keyakinan.
Entah keberanian dan keyakinan dari mana sehingga Mey memperkenalkan dirinya seperti itu.
Zaydan dalam hatinya tersenyum penuh kegembiraan,ia tidak menyangka jika istrinya akan mengatakan seperti itu di depan orang lain.
"Hahaha, tumben ini anak ngomong gitu di depan orang lain yang baru dikenalnya, padahal biasanya akan menyembunyikan hubungan kami berdua,"
"Jadi Mbak istrinya mas Zaidan, saya kira adiknya atau saudarinya saja," ucapnya Nayla.
"Iya benar banget, saya istrinya abang Zai kami menikah sekitar sembilan bulan lalu," jawabnya Mey lagi.
Nayla tersenyum tipis dan berencana akan mulai bermain dengan Meylani," sepertinya Mbak Mey sejauh ini sudah memakan umpan yang kami berikan, semakin seru seperti ini,"
"Nay jangan hanya bicara saja,yuk buruan makan apa kamu lupa jika hari ini kita akan berangkat ke kebun binatang," ujarnya Zaidan sembari menyendok beberapa jenis makanan ke atas piringnya Nayla yang masih kosong.
Nayla menutup mulutnya karena berpura-pura terkejut jika dia melupakan rencana awalnya yaitu menemani Zaidan ke Zoo bersama kakak iparnya.
"Ya elah hampir saja aku lupa, untungnya mas Zai mengingatkan kalau kita akan ke kebun Binatang barengan," timpalnya Nayla.
"Apa!! Jadi kamu juga mau ikut?" Tanyanya Mey yang kaget jika akhir pekannya akan dilewatinya bersama dengan perempuan lain bersama suaminya.
Nayla dan Zaydan saling bertatapan dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya mereka berdua lalu mengarahkan pandangannya ke arah Meylani.
__ADS_1