PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 57. Kebahagiaan Orang Tua


__ADS_3

Keduanya tertawa terbahak-bahak mendengar candaan mereka sendiri. Bu Ijah yang melihat keduanya tertawa bareng becanda bersama membuatnya seolah ikut merasakan kebahagiaan dari kedua pasangan suami istri yang baru merasakan indahnya pernikahan yang sesungguhnya itu.


"Bang mau nambah lagi enggak?" Tanyanya Meylani yang melihat keadaan piringnya suaminya hampir saja kosong.


"Boleh kok sayang," sahutnya Zaidan yang sudah hampir menghabiskan dua porsi penuh makanannya itu.


Keduanya menikmati santapan siang mereka dengan sesekali bercanda dan berbincang-bincang mengenai kedatangan kedua mertuanya dan dua adik iparnya dari Sulawesi Selatan Makassar.


Zaidan yang sudah menghabiskan dua porsi lebih makanan segera meninggalkan Mey yang masih dy dalam area dapur karena ponsel pintarnya berdering sehingga ia harus meninggalkan istrinya seorang diri dari dalam meja makan.


"Ya Allah semoga saja kelak jika mas Bisma balik ke Indonesia dia bisa mengerti dengan pilihan dan jalan hidup yang aku pilih sendiri, aku tidak ingin hidup terus menunggu sesuatu yang tidak pasti, aku juga ingin meraih pahala yang banyak dari hubungan pernikahanku dengan suamiku," Meylani sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Bisma Erlangga Sucipto.


Bu Ijah ingin menggantikan Meylani pekerjaan Meylani membersihkan perlengkapan dapur dan makan yang baru saja mereka pakai. Tapi, segera dicegah oleh Meilani sendiri.


"Nyonya Mey, Anda ini baru pulang dari rumah sakit, tidak seharusnya bekerja terlalu berat, Anda cukup duduk diam saja di sana, masalah beres-beres: dan bersih-bersih itu tugasnya bibi Ijah dan Dara, kalau Nyonya yang mencuci sama saja dengan kami ini hanya makan gaji buta Nya," ucapnya Bu Ijah yang merasa tidak enak hati jika masalah cuci piring pun Meylani yang mengerjakannya.


"Tidak apa-apa kok bi Ijah, ini juga hanya sedikit kok lagian pakai mesin pencuci piring jadi tidak butuh tenaga banyak," sanggahnya Meylani.


"Kalau memang seperti itu yah sudahlah, lagian Nyonya enggak mau dengerin saya tapi kalau seperti ini ada orang yang berpangku tangan dengan seenaknya padahal sudah digaji tinggi dan mahal, saya merasa tidak adil Nyonya," keluhnya Bu Ijah dengan menatap mencemooh ke arah perempuan yang baru saja bergabung dengan mereka.


"Bu Ijah ada-ada saja deh," sahutnya Mey yang segera mengeringkan tangannya setelah menyelesaikan cuciannya.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, bel pintu rumahnya Mey pun berbunyi nyaring dari arah luar. Bi Ijah dan Meylani berbincang-bincang santai dengan membicarakan banyak hal karena ini pertama kalinya mereka berbicara santai selama irjawanti bekerja di rumahnya itu.


"Nyonya mungkin itu ayah dan ibu nyonya yang sudah tiba di rumah," ucap Bibi Ijah sambil menunjuk ke arah pintu.


"Alhamdulillah kalau mereka yang sudah sampai bi, kalau gitu sisa pekerjaan disini aku serahkan sama bibi yah, aku yang akan kedepan membuka pintu," sarannya Meylani yang tidak menunggu balasan perkataannya dari Bu Ijah yang sudah berjalan meninggalkan Dara dan bi Ijah di ruang dapur.


Dara menatap jengah melihat Meylani yang sudah meninggalkan ruangan dapur tersebut dengan perasaan yang tidak menyukai Meylani tapi, berusaha untuk menutupi kekesalannya dan kenyataan itu di depan Meylani langsung.


"Sok baik,sok cantik banget padahal jelek abis. aku terkadang heran dengan pak Zaidan tipe wanita modelan seperti Meylani Ramadhani Zulkarnain itu yang membuatnya tidak bisa berpaling padaku, padahal godaan yang aku berikan dan tunjukkan padanya sudah sangat maksimal tapi aku masih saja gagal, sedangkan pria-pria majikan aku dulu baru saja mendengar perkataan dan suaraku mereka sudah klepek-klepek, apa aku cari jalan lain lagi yah untuk menundukkan Tuan Zaidan,"


"Alhamdulillah ayah dan ibu sudah tiba di rumah, aku sangat bahagia mendengar berita kedatangan mereka ke Jakarta, semakin lengkap sudah kegembiraanku, makasih banyak ya Allah," gumamnya Meylani yang semakin mempercepat langkahnya walau masih sering merasakan ngilu dan perih di daerah seee laaang kaaa ngaaannya itu.


Pintu berdaun dua itu terbuka lebar, senyuman semakin mengembang dan merekah bak bunga mawar yang merekah dikuntumnya yang semakin memperindah kecantikan luar dalam yang dimiliki oleh Meylani. Memperlihatkan ke empat wajah anggota keluarganya yang hampir setahun tidak ditemuinya selama mereka menikah dan balik ke Jakarta.


"Alhamdulillah ibu masih bisa melihat kamu Nak," ucap Bu Santi yang tidak bisa menutupi rasa bahagianya setelah berjumpa dengan putri sulungnya itu.


Mey pun tersenyum menanggapi perkataannya dari perempuan yang sudah berjasa besar dalam melahirkan, mengandung dan membesarkannya serta mendidiknya.


"Alhamdulillah ibu sudah sampai dengan selamat dirumah, aku juga sangat bersyukur dan beruntung karena masih diberikan kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluargaku dari Makassar," timpalnya Meylani yang juga sangat bahagia dan tentunya gembira karena keempatnya sampai di hadapannya dengan selamat.


"Apa hanya ibu yang dipeluk,ayah tidak Nak," candanya pak Zulk yang tersipu melihat kedekatan kedua perempuan yang paling penting dalam kehidupannya.

__ADS_1


"Hehe ada ayah yang masih saja cemburu terhadap ibu kalau ibu yang duluan mendapatkan pelukan hangatnya Mey," balasnya bercanda pula dari Meylani.


"Ayah bisa saja candanya, maafkan Mey dengan A-bang Zaidan yah, kami tidak bisa langsung datang ke bandara untuk menjemput kalian," sesalnya Meilani.


"Tidak apa-apa kok Nak,kami sangat memakluminya, apalagi kalian sama-sama sibuk yang pastinya butuh istirahat yang cukup banyak kalau di rumah," sahutnya pak Zulkarnain.


"Hem, ngomong-ngomong nih yah apa hanya ayah dan ibu yang disambut kedatangannya, sedangkan kami malah dicuekin," gurauan dari Meysha adik paling bontot dan bungsunya Meylani.


Meylani dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Meysha yang malah memonyongkan bibirnya kedepan saking gemesnya melihat kakaknya itu.


"Sini kakak peluk,kamu semakin bertambah tinggi saja dek, ngomong-ngomong sudah rajin minum susu yah," canda Melani seraya memeluk tubuh adiknya yang paling kecil.


"Ish kakak Mey sebel deh mentang-mentang kakak tinggi dengan dede masih banyak kurang tingginya maklum kan masih kelas tiga SMA jadi wajar kalau masih pendek, tapi katanya teman di sekolah aku gadis paling tinggi di kelas," balas Meisha.


Meilani satu persatu mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan memeluk satu persatu adik-adiknya itu.


"Kakak kamu semakin cantik saja, tapi ngomong-ngomong Abang Zaidan dimana kok enggak nongol, apa jangan-jangan Abang pergi kerja lagi," tebaknya Kamil yang celingak-celinguk mencari keberadaan kakak iparnya itu.


"Mey mengikuti arah pandang Kamil kearah dalam rumahnya. tapi, tetap tidak menemukan kakak ipar terbaik menurutnya.


"oh Abang lagi di ruang kerja, tadi ada telpon dari teman kerjanya Mil," jawabnya Meylani.

__ADS_1


"Oh gitu yah, aku kira lagi ke luar kak karena sedari tadi kami terus menghubungi nomor kalian Tapi enggak dibalas dan diangkat juga oleh kalian berdua," ungkapnya Kamil yang berasa kesal karena telponnya dan pesan chat yang dikirimnya tidak terjawab.


"Pak Danang


__ADS_2