PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 110. Bisma Tak Kapok


__ADS_3

"Mama apa yang terjadi di dalam sini?" Tanyanya Zaskia anak sulungnya Bu Liviana.


Ibu Liviana menatap ke arah kedatangan orang-orang," kalau mau tau apa yang sedang terjadi disini! Tanyakan pada mereka berdua dan kamu Tasya Ainun apa kamu sudah mengetahui keburukan dan kebusukan dari tingkah laku suamimu ini?!" Sarkas Bu Liviana yang kecewa dengan sikap cucu sulungnya itu.


Apa jangan-jangan Mama sudah mengetahui jika Bisma memiliki dua orang istri. Ya Allah kalau seperti ini masalahnya semakin runyam saja.


Aku yang terlalu menyepelekan dan menganggap masalah mereka hanya masalah sepele saja.


Bu Zaskia menatap intens ke arah putra tunggalnya dan juga anak menantunya itu.


"Kenapa kamu terdiam? Apa kamu tidak bisa berbicara atau kamu tiba-tiba gagu dan kesulitan untuk menggerakkan bibirmu yang pintar memanipulasi keadaan!?" Cibirnya Bi Livia.


"Saya sudah mengetahui segalanya Nek sejak awal pernikahan kami, saya yang menjadi orang ketiga di dalam hubungan mereka Nek, karena mereka menikah di Jakarta dan menetap di Malaysia sekitar kurang lebih delapan tahun yang lalu, bahkan mereka menikah ketika Mas Bisma menjalin hubungan dengan…" ucapannya Tasya terhenti ketika mendengar teriakannya Bu Zaskia.


"Tasya Ainun stop! Tidak perlu repot-repot untuk melanjutkannya perkataanmu lagi dan kamu Bisma Attalarik Mama mohon bicara dan putuskan siapa yang akan kamu pilih dan lanjutkan hubungan kalian apa dengan Lisa Nandini atau dengan Tasya Ainun, tapi ingat jangan sekali-kali kalian bercerai karena Mama tidak akan pernah menganggap kalian adalah anakku lagi!" Tegasnya Bu Zaskia.


"Mbak kalau seperti itu keputusannya mbak sama saja tidak ingin mengijinkan mereka untuk bercerai satu sama lain, jadi begini saja kalian tetap menjalin hubungan seperti sebelumnya dengan akur dan damai rela berbagi suami, tidak boleh ada yang komplen kedepannya apapun yang terjadi, Tante minta kalian dewasa lah dalam bertindak dan kumohon masalah ini jangan diperbesar lagi dan untuk semua orang yang hadir didalam dapur Tante minta jangan sekali-kali ada yang berbicara ataupun berkomentar sedikitpun!" Pintanya Bu Zivania.


"Betul sekali apa yang kakak katakan, maaf bukannya kami membenarkan tindakan mendua atau berselingkuh hanya saja di dalam keluarga besar kami adalah dilarang keras untuk bercerai dalam keadaan darurat dan bentuk apapun serta apa alasannya, tidak diharuskan untuk berpisah, mungkin kamu seperti mengira hanya kamu yang seperti ini tapi di luar sana ingatlah banyak yang mengalami nasib seperti kamu,apa kalian lupa dengan istri-istrinya nabi Muhammad SAW mereka bisa akur kan," jelasnya Zarah panjang lebar.


Air matanya Lisa Nandini dan Tasya Ainun menetes membasahi pipinya itu. Mereka tidak mungkin memilih untuk berpisah apalagi mereka telah masing-masing hamil anak keduanya mereka.

__ADS_1


Meysa memeluk tubuhnya Tasya Ainun, "Astaughfirullahaladzim aku tidak tahu harus bagaimana, kenapa aku tidak bisa damai dengan memiliki suami seorang diri saja tanpa harus berbagi," cicitnya Tasya.


"Sabar yah Mbak, jangan seperti ini bersabar dan ikhlas dalam segala hal adalah jalan yang terbaik," nasehatnya anak kecil yang masih bau kencur tak tahu arti hidup yang sesungguhnya.


Meysa baru berusia delapan belas tahun dan sama sekali belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Tapi, ia selalu cukup dewasa dalam bertindak melebihi dari usianya sendiri.


Sedangkan Lisa menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya bu Santi, dia baru kali ini merasakan kesedihan yang teramat karena rahasia besarnya terungkap dan terekspos ke luar sehingga semua orang mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tangganya.


Dan sedihnya lagi, dia tidak mendapatkan pembelaan dari Bisma dia seolah sama sekali tidak memusingkan apa yang terjadi pada kedua istrinya.


Aku tidak pusing dengan memiliki dua istri sekaligus bahkan saya akan mencari istri ketiga, karena Meylani tidak mungkin aku dapatkan sepertinya cari cadangan yang lain yang lebih fresh saja.


Lisa berjalan bersama dengan Bu Santi, mereka berjalan ke arah ruang tengah. Air matanya menetes membasahi pipinya itu. Semua orang bubar dan kembali ke tempat semula untuk menikmati santapan siang mereka bersama.


Sedangkan Meylani membantu Zaydan untuk beristirahat di atas ranjangnya. Zaidan dan Meylani tidak mengetahui apa yang terjadi dibawah sana.


Ya Allah aku kira ketahuan oleh orang-orang akan memperbaiki hubunganku dengan mas Bisma dan menjadikan saya sebagai satu-satunya istrinya, tapi hal itu mustahil terjadi dan tak bakalan menjadi kenyataan.


Dulu aku merebut Bisma dari dalam pelukannya Meylani sahabatku sendiri,tapi ternyata apa yang aku lakukan itu membawaku ke dalam hubungan yang sangat rumit.


Lisa Nandini menghela nafasnya dengan cukup keras dan menatap intens ke arah Bisma.

__ADS_1


Ya Allah untungnya tadi Tasya tidak melanjutkan perkataannya sehingga semua orang tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Bisma dan Meilani istri dari pamannya sendiri.


Ini aib yang tidak boleh dibiarkan saja dengan mudahnya orang-orang mengetahui kekurangannya Bisma putraku.


Bu Zilvia duduk di atas salah satu sofa dengan tatapan matanya tertuju pada putranya bergantian dengan Lisa dan Tasya.


Mungkin jalan yang terbaik adalah hidup berdamai dengan keadaan, harus punya kesabaran ekstra dan banyak untuk menghadapi sikapnya Mas Bisma.


Selama mas Bisma tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan seorang ayah kenapa tidak.


"Abang sudah enakan berbaring seperti ini?" Tanyanya Meylani yang membantu suaminya.


Zaidan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu," Alhamdulillah sudah baik,kamu turun saja gabung dengan yang lain, tidak enak kalau kita berduaan di dalam kamar sedang dibawah banyak orang," ucapnya Zaidan yang menyuruh istrinya bergabung dengan beberapa tamu spesialnya.


"Tapi bang masa aku tinggalkan Abang seorang diri disini, jadi sebaiknya saya temani Abang sambil beristirahat, kalau Abang sudah terlelap dalam tidurnya baru lah saya akan ke lantai dua," tampiknya Meylani.


Zaidan tersenyum simpul, "Meylani Ramadhani Zulkarnain saya tidak apa-apa kok lagian saya bukan anak kecil saya sudah hampir mendapatkan seorang anak loh, terus kalau saya butuh bantuan kan ada benda pipih pintar ini, apa kamu mau orang menganggap kita lagi anu," candanya Zaidan sambil mengangkat ponselnya ke hadapannya Meylani.


Meylani pun menyerah dan tidak ingin berdebat lagi, karena berujung dengan kekalahan jika dia terus meladeni suaminya itu.


Meylani hendak memutar kenop pintu tapi, segera terhenti, "Tapi ngomong-ngomong kok sepulang dari rumah sakit, aku merasa Abang itu lebih cerewet dari biasanya," candanya Meylani yang segera menutup pintu kamarnya dengan rapat karena tidak ingin mendapatkan amukannya Zaidan.

__ADS_1


__ADS_2