
Nayla segera masuk ke dalam kamarnya dengan cara mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh siapapun, jika dia pulang dalam keadaan kacau dan berantakan seperti sekarang ini.
"Alhamdulillah tidak ada orang yang menyadari kedatanganku, terutama pria bejak itu juga sudah pergi kerja,"lirihnya Nayla Latifah Hanum.
"Kenapa non Nayla berjalan seperti seorang maling saja? Terus penampilannya Non Nayla tidak seperti biasanya, hemp apa yang terjadi padanya yah?" Bu irjawanti diam-diam mengikuti kemana perginya Nayla tanpa sepengetahuan orang yang dibuntuti.
Tapi baru saja hendak memutar handle pintu kamarnya dia dikejutkan oleh suara seseorang dari arah belakang punggungnya.
"Nona Nayla, apa yang terjadi pada Nona?" Tanyanya Bi Ijah yang cukup khawatir melihat kondisinya Nayla.
Nayla terkejut saking terkejutnya sampai-sampai ia terjingkak," aahhh!!" Pekiknya Nayla sambil memegangi dadanya Nayla.
"Maaf Non Nay saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengejutkan Nona," sesalnya Bu Ijha.
"Eh ti-dak apa-apa kok Bi Ijah, saya masuk kamar dulu yah bi capek banget soalnya," kilahnya Nayla yang tidak mungkin jujur dihadapan asisten pembantu rumah tangganya Zaidan kakak sepupunya itu.
"Maafkan saya yah Non," ucapnya lagi ni Ijah.
Nayla berusaha tersenyum agar tidak ketahuan apa yang sudah dialaminya itu. Bi Ijha yang sensitif penglihatannya merasa ada yang aneh dengan adik sepupu majikannya itu.
"Kenapa saya berasa ada yang aneh dengan Non Nayla, tadi Tuan Jamal seperti orang yang mabuk dan stres sekarang non Nayla yang seperti telah melakukan perbuatan yang tidak baik saja," terkanya Bu Ijah.
Nayla merasa lega ketika sudah berada di dalam kamarnya, dia hampir saja ketahuan.
"Alhamdulillah semoga saja kedepannya tidak ada yang mengetahui apa yang sedang aku alami hari ini dan mengenai perkataan dari Jamal aku yakin itu hanya janji bualan dan omong kosong doang belaka saja,"
Nayla menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya dan tidak lupa mengunci rapat pintu kamarnya itu. Ia kemudian menumpahkan segala keluh kesahnya dengan air matanya yang terus berlinang membasahi pipinya itu.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain tepatnya di dalam lobi bandara internasional Soekarno Hatta. Kamil dibuat terkejut sekaligus tidak menduga jika diantara ketiga anggota keluarganya, masih ada tiga orang lain yang datang menjemput kedua orang tuanya dan adiknya itu. Ketiga orang itu salah satunya sangat dikenalnya.
"Kamu!" Teriaknya kedua orang itu bersamaan sambil sama-sama menunjuk ke arah satu sama lainnya.
Semua orang saling bertatapan satu sama lainnya dan tersenyum lega karena ternyata mereka sudah saling kenal.
"Alhamdulillah kalian berdua sudah saling kenal rupanya," imbuhnya Pak Zulkarnain.
"Iya ayah putra kita ini rupanya sudah mengenal Berliana Febrianti," tukasnya Bu Santi.
"Syukur alhamdulilah kalau seperti ini memudahkan langkah rencana kita untuk segera menikahkan mereka berdua," sahutnya Pak Beni Aldian papanya Berlian.
"Apa! Menikah dengan dia!"pekik keduanya lagi yang kembali bereaksi bersamaan.
"Ya Allah mereka benar-benar jodoh ayah, lihat saja kakak Kamil dengan Mbak Berliana setiap kali berbicara pasti bersamaan," cercanya Maisya yang tersenyum terpingkal-pingkal melihat reaksi raut wajahnya Kamil Pasha.
Bu Santi ingin melerai perdebatan keduanya, tapi segera dicegah oleh Bu Diana karena ibunya Kamil sungguh sangat malu melihat sikapnya putra semata wayangnya itu.
Bu Diana menggelengkan kepalanya itu," tidak perlu kok calon besan, biarkan saja mereka seperti itu, ini awal yang baik untuk mereka kok," cegahnya Bu Diana.
"Jodoh apaan! Siapa juga yang mau menikah dengan perempuan perawan tua,ihh amit-amit deh!" Cibirnya Kamil.
"Haha! Memangnya saya sudi menikah dengan pria judes dan kasar seperti kamu Kam! Ingat saya tidak akan menikah dengan pria dingin, angkuh dan jutek macam kamu ini!" Sarkasnya Berlian yang tidak ingin mengalah dengan hinaan dari Kamil.
Kamil memegangi jari telunjuknya Berlian, "Kam! Stop memanggil saya dengan sebutan Kam, memangnya saya ini kambing apa sampai-sampai kamu memanggil aku dengan sebutan itu!" Tampiknya Kamil.
Hahaha, suara tawa Meysha dan Berlian terdengar nyaring hingga memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1
Kamil menatap tajam ke arah adik satu-satunya itu," stop tertawanya jika kamu masih ingin mendapatkan uang jajan!" Ancamnya Kamil kepada adiknya itu.
Meysa segera menutup mulutnya dan berusaha untuk berhenti tertawa. Kedua orang tuanya segera meninggalkan keduanya yang masih bersitegang itu. Meysa pun mengikuti arah langkah kaki ayah dan ibunya.
"Ya Allah kalau ada pasangan seperti mereka yang resmi menikah pasti bakalan seru dunia ini akan ramai dengan pertengkaran mereka,"
Kamil berjalan ke arah Berlian," saya sangat ingin menentang keputusan dan pilihan kedua orang tuaku,tapi sudah cukup aku membuat ayah dan ibuku sedih karena ulahku," Kamil segera berjalan meninggalkan Berlian yang terdiam terpaku mendengar perkataan dari calon suaminya itu.
"Andaikan aku bisa nolak keinginan dan permintaannya papa dan mama sudah sejak minggu lalu aku menolaknya,tapi aku juga ingin melihat mereka bahagia disisa usianya yang sudah uzur itu,apa salahnya aku terima rencana perjodohan kita demi kebahagiaan mereka,"
Berlian menyeka air matanya itu yang menetes membasahi pipinya. Dia tidak menyangka jika calon suaminya adalah adik iparnya dari teman putih abu-abunya itu.
Berarti Kamil bersedia menjalani rencana pernikahan ini, tapi kalau kami tidak saling mencintai, apa gerangan yang akan terjadi nantinya dengan kehidupan rumah tangga kami kelak.
Berlian berjalan menyusul calon adik iparnya dan juga mertuanya yang sudah berjalan lebih duluan meninggalkan kedua calon suami istri itu.
Kedua orang tuanya sudah balik duluan sedangkan Berlian masih diminta untuk menemani calon suami dan mertuanya itu mumpung hari ini Berliana libur bekerja di rumah sakit Sanders.
"Ayah kita langsung pulang saja atau kita ke rumah sakit temui bang Zaidan dengan kak Meylani?" Tanyanya Kamil yang sudah duduk di balik kemudi mobilnya itu.
Pak Zulk menatap putranya itu," sebaiknya kita ke rumah sakit saja terlebih dahulu terus dari sana baru menuju rumahnya Mey kakakmu," pintanya Pak Zulkarnaen.
Berlian yang ingin duduk di belakang segera dicegah oleh Bu Santi," kamu duduknya di depan saja nak cantik, biarkan adikmu Sya saja yang menemani kami," usulnya Bu Santi yang merencanakan agar keduanya lebih dekat.
"Tapi Tante tidak apa-apa kok saya duduk di belakang saja lagian masih ada kursi yang kosong," tolaknya Berliana dengan halus dan sopan.
"Kalau enggak mau duduk di depan kenapa meski dipaksa sih Bu," gerutunya Kamil.
__ADS_1
Berlian menatap tajam ke arah Kamil Pasha," awas yah kalau kita jadi menikah aku akan balas semua perlakuan kasarmu, Berliana menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang barusan diucapkannya itu, upss ya Allah kenapa aku berharap menjadi istrinya tapi mau gimana lagi semua ini hendaknya kedua orang tuaku, tapi kalau boleh memilih dan meminta saya sama sekali tidak ingin menikah dengan pria itu ya Allah,"