
Dua bulan kemudian semenjak Kamil Pasha dan Berliana Febrianti menikah. Setiap hari pula Berlian meminum pil obat kontrasepsi yang diberikan khusus oleh suaminya itu.
Hari ini Berlian datang tamu bulanan sehingga dia tidak mengkonsumsi kembali tablet tersebut.
"Percuma juga aku minum pil kb ini, karena sudah lima hari aku masih haid sebaiknya nanti pas bersih terus aku minum kembali,daeng juga enggak bakalan marah dengan ini," cicitnya Berlian seraya menyimpan ke dalam laci obatnya itu.
Berlian mengelus perutnya itu dengan air matanya yang semakin menetes membasahi pipinya jika kembali teringat apabila sampai detik ini, suaminya belum mencintainya.
"Ya Allah aku ingin juga seperti wanita lainnya yang hamil anak pertama mereka, sedangkan aku apakah aku juga bisa hamil dan menggendong seorang bayi. Apakah aku tidak layak ya Allah untuk bahagia seperti perempuan lainnya," lirihnya Berlian yang terduduk di sudut ranjangnya.
Berlian berjalan ke arah kamar mandi, dia ingin membasuh wajahnya itu dengan air dingin. Ia tidak ingin apa yang terjadi padanya diketahui oleh orang lain terutama kakak iparnya Meylani yang sedang hamil, takutnya keadaannya akan membuat Meylani terbebani.
Tanpa sepengetahuannya, apa yang dilakukannya, apapun yang dikatakannya terdengar jelas hingga ke telinganya.
Ya Allah… ini semua salahku sendiri aku sudah meminta istriku untuk terus mengkonsumsi pil terkutuk itu. Maafkan aku tapi aku berjanji padamu, hari ini adalah hari terakhir kamu mengkonsumsi pil ini, aku yakinkan pada diriku sendiri. Aku tidak akan ijinkan kamu sedih dan kecewa.
Aku juga ingin melihat anak-anakku lahir dari rahimmu. Karena aku sudah mencintaimu. Aku sangat tidak ingin kehilanganmu, tapi aku tidak sanggup untuk berbicara langsung padamu.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, suatu malam Berliana yang hendak mengambil pilnya untuk diminumnya. Tetapi belum sempat mencari baik letak obatnya, suaminya sudah datang.
"Ya Allah, astauhfirullah aladzim kenapa pilnya ndak ada, padahal aku simpan waktu itu disini. Kok tiba-tiba menghilang?" Berlian membongkar semua isi lacinya, tetapi belum berhasil kedatangan suaminya menghentikan upayanya itu.
"Apa yang kamu cari?" Tanyanya Kamil seraya memeluk tubuh istrinya itu dari arah belakang.
"A-nu i-tu sa-ya cari obat yang sering aku konsumsi Daeng, tapi obatnya seperti menghilang entah kemana," keluhnya Berlian yang merasakan kegelian karena ulahnya Kamil.
"Kamu tidak perlu repot-repot mencarinya lagi, karena mulai malam ini kamu berhenti dan stop untuk meminumnya," tegasnya Kamil.
"Ke-na-pa seperti itu? Apa Daeng tidak marah jika aku tidak mengkonsumsinya?" Tanyanya Berlian dengan gagap karena takut jika dia melakukan kesalahan besar lagi yang berujung dia harus berteriak-teriak di atas ranjangnya.
Kamil membelai pipinya Berliana dan mengatur anak rambutnya Berlian yang menutupi sebagian keningnya itu.
"Aku memutuskan untuk mengakhiri semua kegilaan dan kebodohan yang aku lakukan padamu selama pernikahan kita,"
Kamil meraih genggaman tangannya Berlian kemudian mengecup punggung tangannya Berlian dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Berlian entah apa yang dirasakannya, ia masih bingung dengan apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
__ADS_1
"Aku ingin menjalani kehidupan rumah tangga kita dengan normal seperti layaknya rumah tangga Mbak Mey, mas Zaidan dan yang lainnya yang sudah bahagia terlebih dahulu. Gunawan dan Jamal Abdillah saja istri mereka sudah hamil, sedangkan aku yang lebih duluan nikah tapi aku belum mendapat calon baby," jelasnya Kamil.
Berlian tidak berkedip sedikitpun mendengarkan perkataan dari suaminya itu. Ia tidak tau apakah harus senang, bahagia atau sedih dan kecewa. Semua ini baginya yang terjadi dalam hidupnya sungguh terlalu cepat.
"Apakah kamu bersedia untuk membuat rumah tangga kita seperti mereka bahagia, sakinah mawadah warahmah?" Tanyanya Kamil.
Berlian langsung menganggukkan kepalanya itu tanpa banyak pikir, karena inilah yang sedari awal pernikahan keduanya sudah dia idamkan dan impikan.
Kamil berbisik di telinganya Berlian,"Kalau gitu kita buat dede bayinya yah, aku tidak ingin dikalahkan oleh kakak dan sepupuku yang lainnya." Ucap Kamil Pasha yang kedua matanya sudah menyiratkan has*at yang menggebu di dalam dada,hati dan pikirannya itu.
Berlian hanya tersenyum penuh kegembiraan karena akhirnya ia mendapat cinta yang tulus dari suaminya yang sejak awal sudah bermimpi untuk seperti itu.
Hubungan suami istri itu kembali terjalin dengan apa adanya berjalan seperti air yang mengalir dari hilir ke hulu.
Satu minggu kemudian, ketika Meylani baru saja selesai melaksanakan kewajibannya yaitu shalat dzuhur. Tiba-tiba perutnya mules tak tertahankan.
"Abang Zai! Perutku sangat sakit!" Jerit Meilani dengan peluh keringat sudah membanjiri sekujur tubuhnya itu.
__ADS_1