
Meylani segera pulang dari kantornya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang terakhir. Awalnya mereka hendak pulang bareng dengan suaminya, tapi tiba-tiba Zaidan harus rapat penting di luar kantor sehingga Mey harus pulang lebih duluan.
Mey membuka pintu mobilnya itu dengan tergesa-gesa, karena ia sudah ingin balik ke rumahnya.
"Hari ini banyak banget yang terjadi tak terduga, seperti pernyataan cintanya Abang padaku, tapi aku heran dengan Abang bisa-bisanya bertahan dengan pernikahan kami ini yang tanpa ada rasa cinta sedikitpun, bahkan dia sama sekali tidak memperlihatkan rasa tidak sukanya terhadap apa yang aku katakan tentang Mas Bisma, terbuat dari apa sih hatimu Bang,"
Mey segera menyalakan stok kontak kunci mobilnya itu, dia melajukan mobilnya menuju jalan protokol Ibu kota Jakarta sore hari menjelang maghrib.
Meylani buru-buru pulang ke rumahnya karena malam nanti akan mendatangi salah satu acara pesta resepsi pernikahan adik sepupunya Zaidan,adik kandungnya Kayla.
__ADS_1
"Andaikan masih banyak waktu luang aku sempatkan ke salon tapi, karena sudah mepet jadi aku pakai perawatan tubuh dan wajah ala-ala Mey saja," gumamnya yang tersenyum simpul diakhir ucapannya itu.
Mey mengemudikan mobilnya yang berwarna biru itu bergabung dengan pengendara roda empat lainnya. Mey hanya sesekali menatap ke arah luar jendela mobilnya jika memang dalam keadaan macet atau terjebak dibawah lampu merah.
"Ya Allah… aku sangat merindukan Abang Bisma semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja, tadi pagi aku coba hubungi nomornya tapi masih belum aktif juga,tapi kata temannya sih dia baik-baik saja dan fokus dengan kerjaannya,tapi entahlah apa itu benar atau tidak, hanya Allah SWT yang maha mengetahui atas segala yang terjadi di muka bumi ini."
"Nak Ingat baik-baik surganya seorang istri itu bukan lagi di bawah telapak kaki kedua orang tuanya tapi berada sama suaminya nak, ibu minta berbaktilah dengan sepenuh dan setulus hati agar hidupmu lebih berkah, cinta dan kasih sayang itu bisa timbul dan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu," pesannya Bu Ratih ibunya Meylani dari Makassar.
Pesan moral dan nasehat ibunya masih terngiang-ngiang di telinganya Mey," ya Allah mungkin selama pernikahanku yang hampir setahun ini aku sudah keliru dan salah jalan, tapi aku sudah berusaha untuk mencintai Abang Zai tapi bayang-bayang kenangan masa laluku bersama dengan mas Bisma hingga detik ini belum bisa aku lupakan, akan selalu hadir menari-nari di ujung pelupuk mataku,"
__ADS_1
Mey mengendarai mobilnya hingga ke dalam carport rumahnya, Mey mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut tapi mobil yang dipakai oleh suaminya belum ada. Hanya mobil yang sering dipakainya hangout bareng yang ada.
"Aku juga telah lalai menjalankan tugas dan kewajibanku sebagai seorang istri, apa aku harus memenuhi tanggung jawabku itu sebelum kami bercerai, tapi apakah mas Bisma juga menerima status jandaku kelak jika dia mengetahui aku sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Abang Zaidan," Meylani pusing memikirkan semua itu sehingga ia menyandarkan kepalanya ke setir kemudi mobilnya itu.
Sedangkan Zaidan Khaizan Rudyatmo masih sibuk meeting bersama dengan CEO perusahaannya bersama dengan relasi bisnisnya yang dari Jepang Tokyo itu. Mereka berdiskusi dengan beberapa rencana kerjasama kedua perusahaan cukup besar dy negeri masing-masing.
Mey mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang saja, dia masih kepikiran dengan semua perkataan dan ucapan dari perempuan yang telah berjasa besar melahirkannya kedunia ini.
Ya Allah... apa yang harus aku perbuat, kalau seperti ini aku semakin kesulitan untuk mengambil langkah apa yang sebaiknya aku tempuh, aku tidak ingin menodai kepercayaan dari mas Bisma, aku juga tidak ingin dicap istri durhaka kepada suaminya apalagi membayangkan siksa dunia dan kubur karena sudah durhaka kepada suamiku, tidak bisa aku bayangkan betapa pedihnya siksaan itu.
__ADS_1