
Meylani yang baru saja siuman tanpa sengaja mendengar percakapan pria yang suaranya sangat jelas dihafal siapa pemiliknya.
Meylani berusaha untuk menajamkan pendengarannya," apa ibu dengan ayah akan datang, Kamil dan juga Meisya akan datang ke Jakarta hari kamis nanti, semoga saja aku segera sembuh total, aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku khawatir dan mencemaskan keadaanku," lirihnya Meylani.
Zaidan menyandarkan kepalanya ke headboard sofa,dia sesekali menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar.
"Astauhfirullah aladzim semoga saja kondisi kesehatan istriku cepat pulih, jika tidak bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan perbuatanku ini kepada mereka, aku yang terlalu egois sehingga terlalu gampang tersulut emosiku sendiri, coba aku lebih bersabar menghadapinya pasti musibah ini tidak akan terjadi pada istriku sendiri," cicitnya Zaidan yang selalu menyalahkan dirinya sendiri diatas penderitaan yang dialami oleh Meylani.
Meylani diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Ini bukan salahnya Abang, aku saja yang menjadi seorang istri tidak becus, seharusnya aku sejak awal menyerahkan dan memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang istri sepenuhnya, aku harap Abang Zai bisa lebih bersabar dengan pilihanku ini,"
Berselang beberapa menit kemudian, Zaidan memeriksa kondisi kesehatannya Meylani. Ia pun segera berjalan ke arah ranjang istrinya. Dia menyentuh keningnya Mey.
"Alhamdulillah sudah tidak demam, semoga saja segera siuman," cicitnya Zaidan seraya mengecup keningnya Meylani dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
__ADS_1
Meylani yang diperlakukan seperti itu hatinya langsung tersentuh dan tenteram. Entah kenapa ciumannya Zaydan mampu membuatnya tenang dan nyaman diperlakukan seperti itu.
"Ya Allah… kenapa hatiku sangat sakit jika harus kembali mengingat kejadian tadi kalau Abang ke hotel bersama perempuan lain, pasti mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak…," dugaannya terhenti karena tanpa disadarinya air matanya menetes dikala kedua kelopak matanya terpejam.
Zaidan merasakan jika ada yang basah menetes di wajahnya Mey seperti air yang mengalir. Zai reflek menatap ke arah atas plafon kamar perawatannya Mey. Dia mengira jika air itu berasal dari atas. Zaydan tertawa terbahak-bahak menertawai dirinya sendiri.
"Ya Allah aku kira air ac yang menetes, ternyata bukan tapi ngomong-ngomong apa jangan-jangan…," dugaannya berhenti dan menatap intens istrinya itu.
Zaydan terperangah melihat kesedihan dan tangisannya Mey yang disembunyikannya. Dia segera memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.
Mey yang tubuhnya digoyang terus menerus hingga dengan terpaksa harus membuka matanya itu. Dia tidak kuasa menahan terus diperlakukan seperti itu sehingga mau tidak mau terbuka juga lah kedua matanya.
Mey langsung membalas pelukannya Zaidan dan segera menangis tersedu-sedu. Ia tidak kuasa menahan laju air matanya tersebut.
"Abang maafkan Mey yah, ini semua salahnya Mey yang sudah tidak baik dan becus jadi istrinya Abang," ucapnya sendu Meylani.
__ADS_1
Zaidan tercengang mendengar penuturannya Meylani yang menyesal itu, dia menautkan kedua alisnya saking terkejutnya mendengar keluhan istrinya sendiri. Zaidan masih memeluk tubuhnya Meylani seolah dia tidak ingin melepaskan pelukannya itu.
"Ya Allah Mey, Abang yang seharusnya meminta maaf kepada kau karena gara-gara Abang yang terlalu egois dan pemarah sehingga kamu harus menderita, ini semua gara-gara Abang sayang," ratapnya Zaidan.
Keduanya masih berpelukan hingga mereka juga menangis dalam dekapan hangat kedua pasangan suami istri itu.
"Abang kamu tidak selingkuh kan dengan Nayla? Abang tidak tidur bersama perempuan itu? Abang tidak menduakan cintaku kan?" Tanyanya Mey yang reflek berbicara seperti itu di dalam pelukan suaminya tanpa disadarinya dengan baik.
Zaidan yang mendengar kejujuran Mey segera melerai pelukannya itu sembari memegangi kedua pundaknya Mey," apa benar semua yang kamu katakan sayang jika kamu takut aku menduakan cintamu?" Tanyanya Zaidan dengan penuh antusias.
Mey membelalakkan matanya kaget juga dengan pernyataannya sendiri, ia tidak menduga jika akan berbicara seperti itu di hadapan suaminya langsung.
Meylani menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang dikatakannya,"ya Allah kenapa aku sampai kelepasan bicara, pasti tanggapannya Abang akan lain-lain padaku, semoga saja tidak menganggap aku perempuan murahan lagi,"
Tapi, baru saja Mey hendak menjawab pertanyaan dari suaminya itu pintu kamar perawatannya yang memang tidak terkunci segera berderit dan terbuka lebar dari arah luar. Kedatangan kedua mertuanya membuatnya mengurungkan niatnya untuk berbicara jujur.
__ADS_1