PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 122


__ADS_3

Kamil Pasha mengakui kesalahannya sejak awal pernikahannya itu. Dia telah menyakiti hati istrinya dengan menekankan pada Berliana Febrianti untuk mengkonsumsi pil KB ternyata baru hari ini disadarinya setelah jalan tiga bulan pernikahan mereka.


Kamil Pasha memeluk tubuh istrinya setelah kegiatan malam mereka berlangsung. Ia mengecup keningnya Berlian dengan penuh kasih sayang.


Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku berharap padaMu ya Allah semoga istriku berhenti meminum pilnya sehingga bulan berikutnya kami akan mendapatkan calon baby.


Keesokan harinya, Meylani yang baru saja selesai melaksanakan shalat dzuhur, hendak bangkit dari posisi duduknya. Tetapi, tiba-tiba rasa sakit mules dari perut bagian bawahnya membuatnya meringis kesakitan.


"Argh, ahhh sakit!!" Teriaknya Meilani seraya memegangi puncak perutnya itu.


Meylani berusaha untuk bangkit dari posisi duduknya itu untuk berjalan ke arah pintu karena suaminya kebetulan berada di dalam kamar mandi.


"Abang Zai to-long!" Jeritnya Meylani yang sedikit terbata diakhir ucapannya itu.


Zaidan yang kebetulan berada di dalam kamar mandi, setelah mendengar teriakannya Meilani. Ia gegas berlari cepat untuk membuka pintu dan melihat apa yang terjadi pada istrinya itu.


"Abang Zaidan Khaizan tolong perutku sakit banget," lirih Meylani yang terduduk di atas lantai dengan meminta bantuan pada suaminya sendiri.


"Apa yang terjadi padamu istriku?" Tanyanya panik Zaidan yang hanya memakai handuk sebatas pinggangnya.


"Sepertinya aku akan melahirkan Bang," jawabnya Mey.


Zaydan tanpa banyak tanya dan pertimbangan lagi segera mengendong tubuhnya Mei ala bridal style.


"Bu Diah, tolong persiapkan pakaian perlengkapan bayi kami. Saya akan membawa istriku ke rumah sakit," teriaknya Zaidan sambil berjalan cepat ke arah pintu keluar.


Bibi Diah yang mendengar teriakannya majikannya segera meninggalkan pekerjaannya yang saat itu sedang membersihkan furniture rumah itu.


Kamil, Berlian, Gunawarman dan Jamal Abdillah yang mendengar teriakannya Zaydan dan Meylani segera keluar dari dalam kamar masing-masing.


"Apa yang terjadi dengan kak Mey?" Tanyanya Kamil.


"Iya Mas Zay, kenapa dengan Mbak Mei apa dia baik-baik saja atau jangan-jangan akan melahirkan?" Tebaknya Berlian.


"Kalian tidak perlu banyak tanya, ayo cepat kita ke rumah sakit, kasihan kakakmu jika ditunda lebih lama," balasnya Zai dengan meninggikan volume suaranya itu.


Zaydan sedikit kesal karena adik-adik iparnya bukannya cepat bertindak malah melayangkan banyak pertanyaan padanya.


"Tapi,kak lihat apa yang kakak Zai pakai dulu! Masa hanya memakai handuk saja mau ke rumah sakit!" Ucapnya Gun yang tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya suami dari kakak sepupunya itu.


Zaidan menghentikan langkahnya itu dan cukup terperangah dan terkejut melihat apa yang terjadi padanya yang hanya memakai handuk putih menutupi sebagian tubuhnya.

__ADS_1


"Astaughfirullahaladzim, Kamil cepat ke mobil untuk persiapkan mobil aku antar kakakmu ke mobil terlebih dahulu, aku juga mau ambil pakaian dulu di kamarku," titahnya Zaidan yang tersenyum tipis melihat gaya berpakaiannya yang karena baru dari dalam toilet.


Zaidan membantu istrinya masuk ke dalam mobil, semua orang pun masuk ke dalam mobil masing-masing. Mey ditemani oleh adik iparnya yaitu Berliana sedangkan Kamil sudah duduk di belakang kemudi mobilnya Zaidan.


Hanya perlu butuh beberapa detik saja, Zaidan sudah berpakaian lengkap hanya memakai pakaian atasan dengan kaos oblongnya bertuliskan polo dan memakai celana pendek kain chinosnya saja berwarna cokelat.


"Daeng Kamil, cepat nyalakan mesin mobilnya kita harus secepatnya ke rumah sakit, takutnya air ketubannya Mbak Mey pecah," Berlian berucap.


Kamil segera melajukan mesin mobilnya itu menuju jalan raya, padahal Zaidan belum memakai dengan baik sabuk kayu pengamannya hingga keningnya terantuk ke dasboard mobil.


"Augh!" Keluh Zaidan sambil mengelus keningnya yang terantuk.


Kamil tersenyum tipis melihat kakak iparnya yang terjedot jidatnya ke atas permukaan dasbor. Zaidan menatap jengah ke arah adik iparnya. Kamil hanya terkekeh sembari berkata.


"Sorry kak ipar saya sengaja buru-buru soalnya," imbuhnya Kamil sambil terkekeh melihat raut wajahnya Zaidan yang menahan amarahnya.


"Jangan bercanda dong daeng, kasihan Mbak Mei kesakitan sedari tadi," ketus Berlian sang pawang hatinya Kamil Pasha.


"Astaughfirullahaladzim, Allahu Akbar laailaha illallah subhanallah walhamdulillah," cicitnya Meylani yang terus mengucapkan kalimat toyiba dan tauhid untuk menenangkan hatinya.


"Mbak harus kuat demi anaknya Mbak," tuturnya Berlian yang terus berusaha untuk menenangkan diri dan hatinya Meylani.


Meilani segera dilarikan ke dalam ruang bersalin, sesuai dengan keinginan Meylani sendiri. Ia akan melahirkan putra pertamanya ke dunia ini dengan melahirkan secara normal.


"Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk calon anakku dan istriku, berapapun biayanya insha Allah akan saya bayar," ucap Zaidan yang sangat panik, cemas dan takut mengingat istrinya akan berjuang keras mempertaruhkan nyawanya untuk kelahiran anaknya.


"Anda tenang saja, insya Allah kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk istri dan calon bayinya Anda Tuan," balasnya dokter kandungan yang akan membantu persalinan kelahiran anak pertamanya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sama-sama sibuk berdoa demi keselamatan keduanya dan tak henti-hentinya berdoa dan berharap untuk keselamatan mereka semua.


Hingga suara tangisan bayi yang cukup menggema di dalam ruangan bersalin tersebut. Semua orang saling berpandangan satu sama lainnya sambil mengucap segala pujian hanya ditujukan untuk Allah SWT Sang Maha Pencipta dan Maha Penngasih.


Seluruh anggota keluarganya yang tinggal di sekitar kota Jakarta, berbondong-bondong datang untuk melihat kondisi dari Meilani dan putra sulungnya.


"Syukur alhamdulilah akhirnya anakku telah lahir ke dunia ini," ucap Zaidan seraya mengusap wajahnya dengan penuh kegembiraan dan kelegaan.


Kamil memeluk tubuh kakak iparnya," selamat kakak kamu akhirnya menjadi seorang bapak," ujarnya Kamil seraya menepuk punggungnya Zaidan.


"Selamat yah Bang, kamu sudah jadi Papa. Semoga jadi papa yang penuh tanggung jawab dan tangguh," Jamal memeluk tubuh Zaidan yang tinggi mereka hampir sama.


Zaidan tersenyum simpul penuh kegembiraan karena akhirnya dia bisa dipanggil dan disapa sebagai ayah muda. Zaidan menyeka setitik air bening nan asin membasahi pipinya itu saking terharunya mendengar suara tangisannya bayi yang baru lahir kedunia ini dengan selamat.

__ADS_1


"Pak Zaidan tolong secepatnya masuk ke dalam untuk mengadzani putra dan putrinya bapak," titahnya bidan itu yang membantu proses persalinannya Meilani.


"A-nu a-pa maksudnya Sus, kenapa Anda mengatakan kalau anakku putra dan putri bukannya istriku hanya memiliki seorang anak saja?" Tanyanya Zaidan seperti orang linglung dan kebingungan saja.


"Alhamdulillah bayinya Anda ternyata kembar prenatal pak Zaidan, selamat yah Pak. Kalau gitu silahkan masuk sebelum kedua anak-anak kembarnya buang air kecil," perintah suster itu.


Zaydan berjalan ke arah dalam ruang bersalin itu dengan pertama kalinya melihat wajah lelah dan capeknya Meylani yang telah berjuang sepenuh hati dan tenaga.


Meylani berusaha untuk tersenyum walau rasa sakit masih terasa dirasakannya itu melihat kedatangan suaminya. Saidan mengambil salah satu anaknya itu yang berjenis kelamin perempuan anak pertamanya yang lebih duluan terlahir ke dunia ini.


"Welcome gadis sholehahku Sara Rahima Kaizhan Rudiyatmo dan selamat datang putraku Kaivan Farzani Kahizanu," ucapnya Zaydan yang menggendong secara bergantian kedua anak kembarnya.


Zaidan begitu lantang mengumandangkan adzan dan ikamat di telinga kanan dan kirinya putra putrinya yang begitu takjub dan bahagianya karena mendapatkan anak kembar yang lucu dan menggemaskan.


Suaranya terdengar begitu menenangkan, menentramkan dan nyaman lantunan adzan yang barusan dikumandangkan oleh Zaidan Kaizhan Rudiyatmo.


Meylani meneteskan air mata bahagianya karena berhasil melahirkan kedua anaknya sendiri dengan selamat ke dunia ini.


Zaidan menyeka air matanya itu setelah kembali memberikan kedua bayinya untuk segera diberikan gelang nama sesuai dengan ucapannya Zaydan dan membersihkan sekujur tubuh bayinya.


Zaidan menggenggam erat kepalan tangannya Meylani dan berulang-ulang mengecup keningnya Meylani.


"Makasih banyak sayang kamu sudah melahirkan anak kembar untukku, aku sungguh tidak menduganya, padahal waktu itu kita periksa hanya seorang yah," ujarnya Zaidan.


"Aku pun sama suamiku Allah SWT mempercayakan kepada kita dua anak padahal setahu kita kan hanya satu ini sungguh luar biasa berkah yang Allah berikan, setelah dokter mengatakan jika bayi kita ternyata kembar aku sungguh terkejut setelah mendengar kenyataan itu dan semakin bahagia karena mereka kembar sepasang memang dulu aku pernah sering merasakan keanehan pada perutku mungkin karena anak kita kembar," imbuhnya Meylani yang sudah bersiap untuk dipindahkan ke dalam kamar rawat inap.


"Kamu cepatlah pulih, kita akan segera membuatkan mereka calon adiknya," candanya Zaydan yang membuat ia mendapatkan cubitan kecil di perutnya.


"Augh," keluhnya Zaidan yang ditatap tajam oleh Meylani Aprilia Yuswandari.


"Abang enak karena hanya sekedar buat saja celup sudah jadi, sedangkan aku ngidam, hamil selama sembilan bulan penuh cobaan," ketusnya Meylani.


Seorang suster mendengar perkataan keduanya tersenyum simpul seraya menidurkan bayi mungil itu ke atas box bayi.


"Semoga putra putriku menjadi anak yang Sholeh dan Sholeha yah bang," harapnya Meilani.


Kehidupan keluarga besar mereka semakin bahagia dan lengkap setelah kelahiran cucu pertama di dalam keluarga kedua masing-masing. Kebahagiaan itu tidak terukur dari banyaknya materi yang mereka miliki tapi dari senyuman tulus dan kenyamanan pasangan itu hal yang paling penting.


Mampir Baca juga novel baru aku yah butuh banget pembaca supaya retensi naik Judulnya "Terpaksa Menjadi Orang Ketiga"


...--------TAMAT--------...

__ADS_1


__ADS_2