PamanMu Adalah JodohKu

PamanMu Adalah JodohKu
Bab. 109. Diam Solusinya


__ADS_3

Zaidan segera berjalan kembali ke UGD setelah menyelesaikan administrasi istrinya. Tapi, sesampainya di sana,dia tidak menemukan keberadaan istrinya itu.


Zaydan berjalan ke arah seorang perawat yang kebetulan merapikan bangkar ranjang suaminya itu.


"Malam Sus, ngomong-ngomong pasien yang bernama Meylani Ramadhani Khaizan yang sebelumnya berada di atas sini ada dimana yah Sus?" Tanyanya Zaidan yang mulai kembali panik dan mencemaskan kondisi dari istrinya itu.


Perawat itu segera menghentikan sejenak aktifitasnya," kalau pasien yang semula berada di sini sudah dipindahkan ke kamar rawat perawatan ruang VVIP room plamboyan Pak," jawab suster itu.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, saya permisi suster dan terima kasih banyak atas informasinya dan bantuannya juga," ucapnya Zaydan yang segera berjalan meninggalkan area unit gawat darurat.


"Sama-sama Pak, tidak perlu sungkan untuk berterima kasih kepadaku, karena ini sudah menjadi tanggung jawabku," pungkasnya perawat itu.


Zaidan kembali melangkahkan kakinya sambil menenteng sebuah kantong plastik kresek berwarna putih itu. Ia mempercepat langkahnya menuju kamar perawatan, karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya itu.


Ya Allah ini semua terjadi karena keegoisan ku, andaikan aku tidak mendiamkan istriku pasti tidak bakalan terjadi masalah seperti ini.


Berselang beberapa menit kemudian, Zaidan sudah berada tepat depan pintu. Tapi ketika memutar kenop pintu itu, ia sedikit terkejut mendengar suara ribut dari dalam kamar perawatannya Meylani.


Zaidan segera memutar kenop pintu kamarnya secepat mungkin, karena dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu. Tetapi, ketika melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Dia terperangah melihat sudah banyak orang yang mengelilingi Meylani yang berbincang-bincang santai.


Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah pintu ketika pintu bercat putih itu terbuka lebar. Meylani yang melihat kedatangan suaminya segera mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


"Ya Allah putraku ini, istrinya sakit malah ditinggal pergi lagi," ketusnya Bu Liviana yang menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu.


"Aku dari urus administrasinya dengan nebus obatnya juga ma," jelas Zaidan.


"Dek ini istrimu sedang hamil tidak boleh terlalu capek, apalagi banyak pikiran. Ngomong-ngomong kenapa bisa Mey jatuh sakit seperti ini sih?! Jujur saja Mbak malu dengan mertuamu dan Mey karena kamu jadi suami enggak becus menjaga adik ipar dan calon keponakan kami," dengusnya Zilvia kakak nomor keduanya Zaidan.


"Maksudnya Mey banyak pikiran sehingga dia pingsan!?" Teriaknya Zivania yang melototkan matanya ke arahnya Zaidan adik bungsunya itu.

__ADS_1


"Astaughfirullahaladzim Zi, kamu itu kalau bereaksi bisa dikira-kira enggak! Tidak perlu berteriak segala kali," gerutunya Zaskia ibundanya Bisma.


Tasya Ainun dan Lisa Nandini hanya tersenyum tipis menanggapi sikap dan Tante dan ibu mertuanya itu.


"Sebaiknya kita balik, karena suaminya pasien sudah datang, sudah tengah malam juga kasihan Mey harus perbanyak istirahat," imbuhnya Bu Livia yang tidak ingin mengusik dan menganggu ketenangan istirahatnya Meylani.


"Iya Mey, insha Allah besok kami baru balik ke sini lagi, kamu jaga kesehatan dan calon ponakanku dengan baik, kalau papanya nakal marahin saja," ujarnya Bu Zaskia seraya cipika cipiki dengan adik ipar satu-satunya perempuan di dalam anggota keluarganya itu.


"Hati-hati Mbak, makasih banyak sudah datang ke sini menemaniku," imbuhnya Meylani yang berusaha tersenyum karena hatinya masih sakit dan kecewa dengan sikap suaminya padanya.


"Jaga diri baik-baik Nak, papa dan yang lainnya pamit pulang dulu, assalamualaikum," ucap Pak Rudiyatmo Iskandar.


"Waalaikum salam," jawab serentak yang lainnya.


Bisma hanya duduk saja sambil melihat apa yang mereka perbuat, tanpa berniat untuk menimpali percakapan mereka. Bisma Attalarik tidak ingin gara-gara ucapannya membuat pamannya semakin marah padanya.


"Kamu jangan banyak pikiran, kau itu hamil anak pertamamu loh, apapun yang terjadi jangan sampai menyimpan rasa yang akan berpengaruh pada kesehatan kamu dan calon anakmu," nasehatnya Lisa sambil cupika cipiki dengan Tante mudanya itu.


"Trims sudah sempatkan waktu untuk mengunjungiku," ucapnya Meylani yang tersenyum melepas kepergian sahabatnya itu sekaligus istri dari keponakan suaminya.


Meylani menghela nafasnya dengan cukup keras, ia tidak ingin menjadi istri yang terlalu lemah dan lembek. Baginya jika suaminya mendiamkannya seperti itu, dia akan diam pula. Kecuali kalau sangat lah penting, barulah ia berbicara.


"Kamu jaga baik-baik, selow jangan banyak pikiran insya Allah calon anakmu pasti akan baik-baik saja,"


Lisa berpamitan kepada Meylani, semua kakak iparnya, kedua orang tua dari suaminya dan juga keponakan suaminya sudah balik ke rumah masing-masing.


Meylani memperbaiki posisi duduknya yang bersandar ke headboard ranjang. Ia sama sekali tidak menemani suaminya untuk berbicara sepatah katapun.


Zaidan duduk di samping kanannya Meylani seraya meraih segelas air putih dan dua butir obat serta vitamin khusus untuk ibu hamil.

__ADS_1


"Kamu harus minum obat sebelum tidur," ucapnya Zaidan.


Meylani segera meraih obat dan vitamin mineral dari dalam genggaman tangannya Zaidan.


"Makasih banyak," ucapnya Meylani dengan raut wajahnya yang dingin dan sulit terbaca.


"Kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku, kamu kan istriku dan anak yang ada di dalam perutmu adalah calon anakku," imbuh Zaidan.


Meylani setelah meminum obat dan vitamin khusus bumil,ia segera merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia tidak ingin berlama-lama berduaan dengan suaminya itu.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" Tanya Zidan.


Meylani hanya menatap intens ke arah Zaidan dan segera memejamkan matanya dan membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya yang baru saja hendak duduk di atas kursi plastik yang kebetulan ada di samping bangkar.


Meylani memejamkan matanya itu dan sama sekali tidak berniat sedikitpun untuk menggubris perkataannya Zaydan.


"Kenapa kamu diam saja? kamu kalau diam seperti ini Abang enggak mengetahui apa yang terjadi padamu, ingat kamu itu wanita hamil jadi katakan pada Abang apa yang kamu rasakan saat ini," ujarnya Zaidan yang mengerutkan keningnya melihat tingkah lakunya Meylani.


Zaidan melupakan apa yang terjadi pada dirinya sendiri beberapa minggu yang lalu. jika dia pernah diposisinya Meylani, sungguh egois seorang pria berusia tiga puluh tahun itu.


"Kalau kamu diam seperti ini Abang enggak ngerti dengan apa yang kamu rasakan, apa yang kamu alami, padahal saya sudah capek-capek berbicara sama kamu, tapi kamu diam membisu," sungutnya Zaidan.


Zaydan masih kebingungan dengan kesalahan apa yang telah diperbuatnya itu sehingga istrinya tidak mau berbicara. Padahal sudah banyak kali dia mengeluarkan kata-kata untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya pada istrinya itu.


Hingga suara dengkuran halus mampu ditangkap jelas oleh telinganya Zaidan. Dia memeriksa kondisi istrinya yang tertidur pulas, padahal dia sudah ribut mengajak istrinya untuk berbicara.


Astauhfirullah aladzim,saya sudah capek-capek bertanya sama kamu, ternyata kamu malah ketiduran.


Apa suaraku seperti orang yang mendongeng dan membacakan nina bobo apa! Sungutnya ZaidanĀ 

__ADS_1


__ADS_2